Bab 7. Malam pertama

1445 Words
Saat malam tiba, Dendra bingung mau tidur di mana. Selain kamar kakek, hanya ada satu kamar yang ditempati oleh Nana dan dia yakin saat ini kini ada Maila di sana. "Hah ... Malam ini, seharusnya menjadi malam pertamaku dengan Antika. Yang ada kini dia malah melalui malam pertamanya dengan Rendra. Malangnya aku yang terlantar di ruang tamu rumah Kakek bersama puluhan nyamuk yang menyoraki nasibku yang malang," keluh Dendra sambil meringkuk di kursi yang lebih pendek dari tubuhnya. "Kamu kenapa masih di sini?" tegur kakek yang langsung duduk di hadapan cucunya. "Belum ngantuk, Kek. Lagian ini baru jam delapan, aku terbiasa tidur lewat dari jam sembilan malam," jawab Dendra asal. Dia bingung mau jawab apa. "Masa aku harus bilang pada kakek kalau aku bingung mau tidur di mana. Bisa-bisa kepalaku diketok pake asbak itu," ujar Dendra di dalam hati. "Ini malam pertamamu, tunaikanlah kewajibanmu menafkahi istrimu lahir dan batin. Nikmatilah masa indah bersama tulang rusukmu, yang akan melengkapi kebahagiaanmu agar bisa memberikanku beberapa orang cicit yang lucu-lucu," nasihat kakek membuat Rendra berdebar. "Jika ingin memberikan cicit untuk kakek berarti aku harus menyentuhnya dong. Oh, tidak! Selain tidak mencintainya, dia terlalu kecil untuk kus*tubuhi. Astaga, mengapa aku merasa jadi seperti seorang p***********k. Tidak! Aku tidak mungkin melakukannya." Dendra melotot dengan masih berbicara di dalam hati. "Sudah sana masuk ke kamar, habiskan malam pertamamu dengan wanita halalmu." Kakek mengusir Dendra dengan menggerakkan dagunya menuju kamar yang berbatasan dengan dapur. "Astaga kakek, yang benar saja. Kuakui dia memang sudah pernah melewatkan malam pertama, tapi tidak begitu juga menyuruhku melakukan aksi sepertinya saat ini. Ah, sebaiknya kutanyakan padanya, apakah dulu dia menghabiskan malam pertamanya untuk bertempur dengan nenek." Dendra lagi-lagi berbicara di dalam hati. "Kek, waktu it-" belum juga selesai bicara kakek telah memotongnya. "Masuk!" perintah kakek dengan meninggikan suara dan itu artinya ucapannya tak bisa dibantah. Dengan malas Dendra melangkah, tak sanggup ia membayangkan apa yang terjadi nanti. Karena sudah setua itu dia belum pernah tidur sekamar bersama perempuan. Saat berada di depan pintu, Dendra merasa ragu untuk membukanya. Dia takut saat membuka pintu, bocah itu tengah telanjang seperti Antika yang ada dalam video tadi. "Ehkem!" deham kakek mengisyaratkan untuk Dendra agar cepat masuk ke dalam kamar. Dendra mengetuk dua kali sebelum membuka pintu, ia berharap semoga saja bocah itu sudah tertidur pulas agar tidak harus merasakan kecanggungan ketika berhadapan dengannya. Hah, ternyata dia belum tidur. Saat pintu terbuka Dendra melihat dia duduk di ujung tempat tidur menyambut dengan tatapan datar. Dendra merasa kikuk, tak tahu harus berbicara apa atau bersikap bagaimana padanya. Sementara Maila juga merasakan ketegangan yang luar biasa, tapi dia berusaha bersikap dingin agar kegugupannya tidak terlihat. "Apakah kau menginginkannya di malam pertama ini?" tanya Maila berusaha menahan degup jantungnya, dia berusaha membuat seakan hanga Dendra yang menginginkan hubungan suami istri ini. Dendra agak gugup ketika melihat Maila berdiri, meski dengan baju daster dia terlihat segar dengan rambut basahnya yang terurai sebatas bahu. Bibir mungilnya yang tanpa lipstik tersenyum miring, yang tak dapat disimpulkan apakah arti senyum itu untuk mengejek atau menantang Dendra. "Ah, bocah ini begitu santai menghadapiku. Bahkan sikapnya yang tenang dan sorot matanya yang tajam seakan menekanku untuk tunduk padanya." umpat Dendra kesal. "Jika kau mau, silahkan. Kamu mau aku membuka sendiri atau kamu yang akan membuka pakaianku." Maila menatap Dendra dengan pandangan yang berbeda dengan ucapannya. Dia berkata seolah bersedia untuk disentuh, akan tetapi sorot matanya seakan mengatakan, 'Jangan kau sentuh aku, jika tidak ingin kubunuh!' Dendra hanya mampu menghela napas tanpa sanggup membalas tatapan mata Maila, ia mengalihkan pandangannya ke tempat tidur yang muat dua orang tapi dengan posisi berdekatan. "Sepertinya aku lebih baik tidur di lantai beralaskan tikar, bukannya takut bersentuhan dengannya. Aku cuma tidak mau jika dia berpikir kalau aku memanfaatkan kesempatan untuk menyentuhnya," pikir Dendra dengan matanya terarah pada lantai. "Memang sih, Mas. kamu sudah sangat dewasa dan juga berpengalaman. Jadi tidak mungkin kamu mau sama aku anak ingusan yang badannya saja belum terbentuk sempurna. Tapi tidak apa-apa, jika kamu menginginkannya bersama wanita lain, silahkan. Akan tetapi kamu harus merahasiakannya, jangan sampai ada yang tahu kalau kamu meniduri wanita lain." Dendra berdecak kesal dan berkata di dalam hati. "Dia pikir aku ini lelaki apaan. Gampang sekali dia berbicara seakan aku ini lelaki b***t yang bisa tidur dengan semua perempuan di sekitarku. Andai dia tahu kalau malam ini adalah malam pertamaku sekamar dengan wanita, pastinya dia tidak akan berbicara seperti itu, atau mungkin dia malah akan menertawakanku. Ah, bodo amat lah." Tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, Dendra langsung berbaring di tempat tidur dengan menghadap ke dinding. Dia tidak ingin berbicara dengan Maila, karena jika sepatah saja ia berbicara, dia takut bocah ini akan berbicara lebih panjang lebar lagi. Padahal saat ini Dendra sedang malas berbicara. Maila ikut merebahkan tubuhnya di belakang Dendra. Beberapa saat hening, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. "Kamu sudah tidur?" tanya Maila tanpa merubah posisi, masih memunggungi Dendra. "Belum," jawab Dendra dengan helaan nafas yang terdengar berat. Dendra bingung mau berbicara apa lagi, dia kembali diam dengan menahan kesal. "Ini malam pertamaku, tidak seperti yang ku harapkan. Aku menghayalkan akan menghabiskan malam pertama penuh cinta yang membara. Akan tetapi aku malah terjebak di sini, bersama bocah yang baru saja kujadikan istri." Mereka berdiam diri dengan suasana yang kaku, mungkin karena baru kenal beberapa jam yang lalu. Jadi mereka belum bisa menyesuaikan diri satu sama lain. "Aku yakin besok pasti kami bisa lebih santai dan akrab. Menjadikan bocah ini sebagai teman aku rasa bukanlah hal yang sulit untukku. Untuk sekarang sebaiknya aku istirahat dulu, jiwaku sangat lelah dengan kenyataan hari ini." Dendra memejamkan matanya dan ikut menutup rapat-rapat mulutnya. "Oh, iya. Apakah kamu membaca berkas yang kita tanda tangani tadi?" Maila kembali bersuara. Dendra menghembuskan napas kasar dan berkata tanpa suara. "Sepertinya dia belum mengantuk dan masih ingin berbicara padaku. Terserahlah, kubiarkan dia berbicara pada dirinya sendiri, aku mau tidur." "Di sana juga tertulis, kalau kita tidak boleh bercerai," ucapnya datar. "Kita juga harus memberikan cicit buat kakek secepatnya." "Apa?" seru Dendra langsung berbalik. Deg! Jantungnya seakan berhenti berdetak karena posisinya kini tepat berhadapan dengan Maila. Mungkin hanya sejengkal jarak wajah mereka, sehingga Dendra bisa melihat jelas wajah cantik di hadapannya. Bulu matanya yang lentik, pipinya yang kemerahan dan bibirnya yang mungil membuatnya menelan ludah dengan susah payah. "Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi selain Paman Sikun dan Kakek. Aku telah berjanji pada mereka, untuk menikah dengan cucu kakek Damiri." Maila berkata dengan tenang padahal hatinya bergejolak ketika berada begitu dekat dengan seorang lelaki yang menatapnya penuh hasrat. Dia ingin membalikkan tubuhnya kembali membelakangi lelaki yang kini telah menjadi suaminya itu, tapi dia tidak melakukannya karena hal itu akan membuat dia terlihat lemah dihadapan pria dewasa dihadapannya ini. "Kenapa kamu tinggal dengan kakek bukannya di rumah Paman Sikun?" tanya Dendra dengan suara parau. Karena belum sepenuhnya bisa menguasai diri, matanya masih saja menjelajahi wajah cantik Maila. "Rumah Paman Sikun kecil sehingga aku tidak bisa tinggal di sana. Jadi kakek memintaku untuk tinggal di sini bersama Mbak Nana." "Kenapa kamu mau saja dijodohkan denganku?" tanya Dendra ingin tahu. "Karena aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi," jawabnya dengan suara bergetar menyiratkan kemarahan dan kesedihan yang mendalam. Matanya yang tajam tiba-tiba dipenuhi dengan linangan air mata yang langsung diusap sebelum sempat terjatuh ke pipinya. Dia kembali tersenyum menyembunyikan kesedihannya, membuat Dendra kagum sekaligus iba padanya. Dia pasti gadis yang kuat, karena bisa menahan air matanya sedemikian rupa. "Memangnya, orang tuamu kemana?" tanya Dendra penasaran. "Mereka, meninggal dua bulan yang lalu karena kecelakaan," jawabnya dengan suara tercekat. Matanya kembali berembun membuat Dendra merasa bersalah karena telah mengungkit kembali kesedihannya. Maila menghela napas panjang lalu kembali berkata, "Saat Paman Sikun akan pulang, aku meminta ikut dengannya. Aku tidak sanggup hidup sendirian dengan segala kesedihan dan kenangan bersama keluargaku." "Apakah kamu yakin akan bahagia dengan menikah denganku?" tanya Dendra mulai lancar berbicara. "Entahlah, aku hanya akan ikhlas menjalani apapun takdirku. Yang penting saat ini aku harus memenuhi keinginan orang yang telah menolongku." "Maksudnya?" Dendra kurang paham dengan maksud keinginan orang yang menolongnya. Memangnya orang itu sudah menolong apa sampai dia rela dijodohkan dengan orang yang tak dikenalinya sama sekali. "Paman dan Kakek Damiri selalu ada untukku sehingga aku bisa bertahan hingga sekarang. Jika tidak ada mereka mungkin aku sudah mati ... Bunuh diri." Dia sesaat memejamkan matanya lalu kembali menatap Dendra tajam, "Aku mohon, bantu aku untuk memenuhi keinginan paman dan kakek." "Ma-maksud kamu?" Dendra tergagap. Dia tahu betul apa keinginan kakek, dia menginginkan seorang cicit. Maila mengangkat tangannya dan mengarah ke wajah Dendra. "Mas, bisakah kamu ..." "Astaga, apa yang akan bocah ini lakukan?" Seketika mata Dendra terpejam dengan rapat, meskipun dia seorang bocah, tetap saja dia seorang wanita, yang pasti akan membuatnya tergoda jika dia menyerahkan dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD