"Mas," panggil Maila agak menyentak sehingga Dendra membuka mata dengan perlahan.
"Bisakah kamu memberikan selimut itu padaku." Maila menatap ke bawah kepala Dendra.
Dendra segera mengangkat kepala dan melihat selimut di bawah bantal. "Sial ternyata tadi mau mengambil selimut ini, aku malah berpikir dia akan membelai wajahku. Hah, memalukan. Malam pertama dengan bocah malah membuatku jadi salah tingkah."
***
Keesokan harinya Pak Gunawan dan Mama Yola datang, mereka sangat kaget ketika mengetahui kalau anak lelakinya sudah menikah. Dendra tidak tahu siapa yang telah memberitahu mereka, Mungkin Kakek atau mungkin juga si Aji.
"Ya, Allah. Bagaimana bisa kamu menikah tanpa memberi tahu kami sebagai orang tuamu. Tau begini, sekalian saja kemaren kalian nikahnya barengan." Mama memukul pangkal lengan Dendra dengan perasaan kesal bercampur bahagia. "Lagian kamu mau nikah dengan wanita lain saja malah bikin drama dulu, pake acara ngebatalin pernikahan pas mau ijab lagi. Kan bikin emosi," omel mama dengan napas ngos-ngosan.
"Aku juga tidak tahu kalau akan menikah, Mah. Aku tidak bisa menolak kemauan kakek, dari pada kesehatan kakek akan drop jadi terpaksa aku menuruti keinginannya." Dendra membela diri dengan menyandarkan kepalanya ke bahu Mama Yola.
"Seharusnya kamu menelpon atau mengirimkan pesan. Meskipun tidak bisa datang, setidaknya kami tahu kalau kamu baik-baik saja dan akan menikah." Omel mama lagi.
Sebenarnya dia sangat marah pada putranya, kemarin dia seenaknya membatalkan pernikahan lalu pergi. Pagi ini dia malah mendapatkan kabar kalau putranya tersebut telah menikah. Tentu saja dia bahagia, tapi tetap saja dia marah.
Dia bahagia karena dua orang putranya yang bujang tua itu telah menikah, tapi disisi lain dia khawatir karena anak-anaknya menikah dengan bertukar pasangan. Dia takut hal ini akan membuat mereka tidak bahagia dan akan terjadi perselingkuhan di antara mereka.
"Mana sempat aku mengabari Mama, bernapas saja aku kesulitan karena kakek melakukan gerak cepat untuk menikahkan kami saat itu juga." Dendra mengangkat kepalanya dari bahu Mama Yola dengan wajah kusut.
"Sudah jangan debat terus, sebaiknya kita mengobrol dengan mantu saja." Papa menepuk tangan mama.
Mama Yola yang tadi melotot ke arah Dendra mengalihkan pandangannya pada Maila dengan tatapan lembut dan senyum cerah di wajahnya. Perubahan yang sangat drastis, membuat Dendra menggaruk kepala sambil meringis.
"Kenapa ekspresi Mama bisa cepat berubah seratus delapan puluh derajat? Dari raut kusut saat melihatku berubah menjadi cerah ceria saat menatap Maila," gerutu Dendra tapi diabaikan oleh wanita yang telah melahirkannya itu.
"Jadi, sudah berapa lama kamu mengenal Dendra?" tanya Pak Gunawan pada Maila.
"Baru kemaren, Om," jawab Maila sopan.
"Panggil saja saya papa, kamu kan istri anak saya. Oh, iya. Kalian beneran baru saling kenal kemarin? Lalu bagaimana kamu bisa yakin mau menikahi bujang lapuk ini? Apa kamu tidak takut dia akan membuatmu kecewa?" tanya Pak Gunawan beruntun kemudian menatap Dendra dan Maila secara bergantian.
Maila tersenyum manis tapi tidak berlebihan. "Aku percaya dengan Kakek, Pah," jawab Maila singkat. Dia tidak tau harus menjawab apa untuk semua pertanyaan dari mertuanya itu.
"Aku yang menjodohkan mereka," sahut kakek yang masuk dari pintu dapur dan sepertinya beliau baru selesai mandi.
Inilah hal yang paling tidak disukai oleh Dendra kalau hidup di desa. Karena bentuk rumah panggung maka jika mau ke air, mereka harus ke bawah terlebih dahulu karena kamar mandi terletak di bawah rumah.
"Tapi mengapa tiba-tiba sekali, Yah," protes Mama Yola dengan wajah masam. "Aku ini mamahnya loh, yang melahirkan dan membesarkannya. Masa aku tidak melihat saat dia menikah?"
"Jika tidak seperti itu, maka Dendra tidak akan menikah. Apa itu yang kalian inginkan?"
Mama terkejut dengan apa yang kakek katakan, bukan hanya Mama saja tetapi juga Pak Gunawan. Bola mata mereka bergerak mengikuti kakek yang mendekat.
"Keadaannya mendesak, lagian jika aku menunggu kalian, aku takut Dendra akan kabur dan akan terus menjadi bujang lapuk untuk selamanya. Kamu mau itu terjadi?" tanya kakek sambil duduk di hadapan keempat orang itu.
"Astaga kakek! Kenapa bujang lapuk terus dihubungkan denganku?" sungut Dendra. Dia bertambah kesal saat menoleh pada Maila yang mengulum senyum menahan tawanya.
"Ya, tapi tidak begini juga caranya, Pah." Mama tetap saja protes.
"Kenapa? Kamu tidak percaya sama pilihan papa?" Kakek mendengus kesal.
"Ini bukan masalah percaya atau tidak percaya, tapi kami ingin menyaksikan pernikahan Dendra, Pah," sahut Mama mulai emosi.
"Sudah-sudah, tidak baik terus berdebat. Yang penting sekarang Dendra sudah menikah dan tidak menjadi bujang lapuk lagi," lerai Pak Gunawan mencoba menenangkan Mama, tapi kini malah Dendra yang meradang dibuatnya.
Bujang lapuk seharusnya sudah tidak lagi disematkan pada dirinya, sekarang sia sudah bukan bujang lagi, dia sudah menikah. Ya, meski masih perjaka, sih.
"Nak Maila, sudah lama kenal dengan kakek?" tanya Pak Gunawan mencoba mengakrabkan diri pada menantunya.
Maila menggeleng. "Baru dua bulan, Om."
"Om, lagi. Kan tadi sudah dibilang jangan panggil Om, panggil Papa, Nak." Pak Gunawan tersenyum lembut pada istri kecil Dendra.
"Iya, Pah." Maila tersenyum senang.
Pak Gunawan terlihat cukup ramah, berbeda dengan Mama Yola yang belum berucap sepatah kata pun pada Maila. Kelihatannya Mama masih shock dan belum bisa mempercayai kalau putranya sudah menikah.
Dari bawah terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah di susul dengan suara langkah menaiki tangga.
"Assalamualaikum." Empat orang masuk secara beriringan. Nana, Nina, Rendra dan ... Antika yang tangannya digenggam oleh Rendra.
Dendra tidak suka melihat mereka bergandengan tangan, dengan pandangan protes dia menatap manik mata yang kini diselimuti kabut yang kian menebal hingga jatuh setetes air mata di pipinya. Sungguh ingin Dendra menghapus air mata itu, tapi pipinya sudah kembali kering karena jari lentiknya sudah menghapus air mata itu.
Rendra melingkarkan tangannya di pundak Antika berjalan mendekati kakek. Terang saja Dendra memalingkan wajah, sakit rasanya melihat wanita yang sangat dicintainya kini bersama lelaki lain.
"Kakek." Rendra mencium tangan lalu mereka berpelukan. "Oya, Kek. Kenalkan ini istri Rendra, namanya Antika. Cantik kan, Kek?"
Rendra mendekatkan Antika yang kemudian mencium tangan kakek dengan takzim.
Sementara Dendra memandangnya dengan nelangsa, dia hanya mampu memendam rasa cinta dan benci yang bergejolak di hatinya. "Ah, seharusnya akulah yang memperkenalkan Antika sebagai istriku," lirih dia berbisik tanpa suara.
Antika hanya menunduk tanpa berani mengangkat kepalanya, karena tidak sanggup bertatapan langsung dengan lelaki yang dia benci dan juga sangat dia cintai. Andai saja Dendra lebih bijak dalam menghadapi masalah, pasti saat ini dia tidak akan menikah dan terlibat perjanjian dengan Rendra.
Perjanjian yang akan menyiksa Antika untuk selamanya.