Bab 9. Kekesalan Dendra

1271 Words
Ya, Rendra bersedia menikahi Antika untuk menjaga nama baik keluarganya. Akan tetapi Rendra mengajukan syarat untuk itu, dan syaratnya adalah Antika harus menurut dan bersama Rendra apapun yang terjadi untuk selamanya. Karena tidak ingin membuat malu dan sedih orang tuanya, Antika terpaksa menyetujui syarat dari Rendra. Dia menikah meski tanpa cinta. "Wah selamat ya, Maila. Aku baru saja pergi sehari semalam, pulang-pulang kamu malah sudah menikah," teriak Nana girang sembari memeluk Maila dengan melompat-lompat kecil. Keduanya terlihat sangat akrab. Dalam hati Dendra bersyukur, jika Nana sudah pulang berarti nanti malam dia tidak akan tidur bersama bocah itu lagi. Nana akan kembali menjaga kakek, sementara dia akan mengajak Maila pergi dari rumah ini agar tidak harus berpura-pura menjadi suami yang baik di hadapan kakek. "Kamu juga. Kemaren kabur dari pernikahan, eh ... malah melanjutkan pernikahan di sini." Nana memukul perut Dendra dengan gemas. "Cerita dong, kenapa kalian bisa tiba-tiba menikah, padahal setahuku Maila kan di jodohkan sama Rendra." "Apa yang mau di ceritain. Aku saja baru tahu kalau Rendra dan Maila di jodohkan," jawab Dendra sekenanya. Sekilas Dendra melirik Antika yang baru saja duduk di samping Mama Yola. Dia yang memakai hijab lebih panjang dari biasanya hanya diam dengan ekor matanya yang juga melirik sendu. Sesaat mereka bertemu pandang membuat perih terasa di d**a Dendra. "Jadi dia wanita yang kamu cintai, Wanita yang kamu tinggalkan kemarin di hari ijab kabulnya?" bisik Maila penuh selidik. "Kalau iya memangnya kenapa?" jawab Dendra ketus. "Heran saja, kenapa kamu malah meninggalkan wanita sesempurna dia." Maila terus saja membicarakan Antika membuat Dendra kesal. Dendra melotot tidak suka dengan penilaian Maila, dia menilai dari fisik Antika yang cantik dan berjilbab tapi dia tidak melihat bagaimana Antika begitu ganasnya saat berbagi keringat dengan lelaki yang ada di dalam video. Dendra juga sebenarnya penasaran dengan Rendra, mengapa dia mau saja menerima Antika yang sudah jelas seorang w************n dan menolak dijodohkan dengan Maila. Ya, meskipun masih bocah, dia lebih cantik dan segar dibandingkan dengan Antika. Rambutnya yang sebahu di ikat asal, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan dagunya yang lancip. Belum lagi bibir tipis, alis tebal alami dan matanya yang tajam membuat dia terlihat ... "Cantik." Dendra jadi memperhatikan penampilan Maila dan memujinya di dalam hati. "Apa? Ah, tidak, tidak! Kenapa aku jadi memujinya? Bocah itu masih bau kencur." "Oh ya, Antika, Nina, Rendra, kenalkan itu Maila istrinya Dendra. Mereka baru menikah kemarin sama seperti kalian." Mama memperkenalkan Maila. Tak disangka bocah itu mendekat dan mengulurkan tangan pada Antika. "Aku Maila, Mbak." Dengan ramah yang tanpa di buat-buat dia memeluk Antika dan Nina secara bergantian. Sedangkan Rendra yang memang pada dasarnya playboy kelas A langsung menatap Maila dengan nilai positif di matanya. Dendra kesal saat melihat dia melototi Maila padahal Antika berada tepat di depan matanya. "Mah, Mbak saya permisi kebelakang." Maila menunduk sopan. "Nana, yuk ke belakang. Bantuin aku bikin kopi." Dia menarik tangan Nana. "Eh, kok manggil aku enggak pake Mbak, sih?" protes Nana sambil berjalan mengikuti langkah Maila. "Eh, sekarang aku ini istri kakakmu, loh," seru Malia pura-pura galak. "Jadi, sekarang kamu lah yang harus manggil aku Mbak." "Ah, iya juga ya," sahut Nana. Mereka tertawa sambil berjalan. Dendra hanya tersenyum kecil melihat tingkah keduanya, mereka terlihat sangat akrab. Apa lagi Maila terlihat sangat berbeda, dia yang bersikap dingin kepada Dendra ternyata begitu hangat dan cerewet pada Nana. Dendra kembali menatap orang-orang di sekitarnya. Di ruangan sederhana ini tanpa sengaja keluarga dari pihak Mama Yola berkumpul, meski kurang Tante Marni dan Nani putri bungsunya. Terakhir mereka berkumpul secara lengkap saat lebaran dan itu sudah hampir setahun yang lalu. Pak Gunawan yang berbincang serius dengan Kakek sementara Mama Yola sepertinya sedang menguatkan dan memberikan wejangan pada Antika. Dendra mengalihkan pandanganya pada Rendra yang menatap layar ponsel dan Nina ... dia menunduk memainkan jemarinya. Sejak tadi dia diam tanpa berani membalas tatapan mata Dendra. "Aneh, ada apa dengan Nina. Biasanya Nina akan paling heboh jika terjadi sesuatu padaku," gumam Dendra dengan tetap memperhatikan sepupu sekaligus sahabatnya itu. Apa lagi dengan pernikahan Dendra yang bertukar pasangan, biasanya Nina pasti akan heboh berkomentar dengan ekspresi melototnya yang paling Dendra suka. "Nanti akan kutanyakan ada apa dengan Nina, saat ini aku ingin menatap wajah yang sangat kucintai. Wajah yang dibayangi mendung akibat ulahku kemarin. Ah, bukan karena aku, tapi itu karena ulahnya sendiri. Seandainya dia jujur dan mengakui lebih awal kalau dia sudah pernah tidur dengan lelaki lain, mungkin aku akan memaafkan dan menerima apa adanya. Ya, seperti apa yang dikatakan Rendra kemarin, aku akan membimbingnya ke jalan yang benar." Dendra menghela napas menyesali takdirnya. "Tapi sayang, semua sudah terlambat. Dia sudah menjadi istri saudara kembarku, sedangkan aku pun sudah menikah. Hah, sebaiknya aku melupakannya." Dendra menutup mata lalu mengusap wajahnya dengan perlahan. Saat membuka matanya dia melihat Rendra yang menggigit bibirnya menatap ke satu arah tanpa berkedip, Dendra mengikuti arah pandangannya. "Sial! Dasar otak m***m!" Dendra mengumpat di dalam hati ketika mengetahui pandangan saudara kembarnya itu tertuju pada Maila yang menghidangkan minuman dan makanan di atas meja, dia yang menundukkan badannya sehingga sedikit terlihat belahan dadanya. "Maila!" Dendra memanggil Maila dengan suara yang cukup keras sehingga semuanya menoleh serentak bersamaan dengan istri kecilnya yang juga menatapnya heran. Maila menegakkan badannya. "Kenapa, Mas. Mau kopi?" "Iya, sini!" perintah Dendra yang langsung dituruti oleh Maila yang terlihat bingung. Maila membawakan secangkir kopi dan sepiring kecil bolu kukus untuk Dendra, sedangkan kopi di nampan masih tersisa dan belum disuguhkan untuk Dendra dan Antika. "Duduk!" titah Dendra saat melihat Maila hendak kembali menyuguhkan kopi yang masih ada di nampan. Maila menurut lalu duduk di samping Dendra. "Mas, kenapa?" tanya Malia lembut. Sangat nyaman di telinga. "Ah, kenapa saat berdua saja dia tidak seperti ini?" pikir Dendra yang sedang saling tatap dengan istri kecilnya. "Mas?" Malia kembali memanggil dengan mengusap pundak Dendra. Dia sebenarnya merasa tidak nyaman harus berpura-pura menjadi istri yang baik seperti ini, tapi dia harus melakukannya demi untuk menjaga kehormatan suaminya. "Mas, tidak apa-apa, Sayang," ucap Dendra lembut sembari mengusap kepalanya. Sedetik kemudian dia melirik Antika yang memalingkan wajahnya, sepertinya dia tidak menyukai Dendra berlaku mesra pada Maila. "Hem, kalau begitu aku akan membuatnya sakit dengan memperlihatkan kemesraan bersama istri kecilku. Ini sebagai balasan karena dia telah membohongiku." Dendra tersenyum samar. "Em, bolu kukusnya enak. Beli di mana?" puji Pak Gunawan dengan mulut penuh. "Iya, enak banget. Mama sudah habis dua ini." Mama Yola memasukkan potongan terakhir ke mulutnya. "Ini yang bikin Maila, Tante, Om." Nana mengangkat sepotong balu kukus di tangannya mengarah pada Mama Yola dan Pak Gunawan secara bergantian. "Selain pinter masak, menantu Tante itu sangatlah berani. Waktu itu ada uler di bawah rumah. Eh, sama dia langsung diangkat dan dibuang. Keren kan, Om." Semua terlihat melongo mendengar Nana bercerita, kemudian mereka menatap Maila dengan rasa tak percaya. Melihat Maila yang masih terbilang masih remaja dengan badan tergolong kecil rasanya tidak mungkin dia akan memiliki keberanian sebesar itu. "U-ular?" Mama Yola tergagap dan bergidik ngeri . "Iya, segede ini. Eh, sedikit lebih besar lagi malah." Nana mengangkat jari jempolnya, memperkirakan besarnya ular yang diceritakannya. "Waw, keren," puji Rendra kagum dengan pandangannya tak lepas dari Maila. Dendra meradang saat mendengar Rendra memuji istrinya, bukan karena cemburu tetapi dia lebih tidak suka saat menyadari kelakuan saudara kembarnya itu akan menyakiti perasaan Antika. "b******k! Apa dia tidak sadar kalau ada istrinya di sini. Apa dia tidak berpikir kalau dia menyakiti hati Antika. Cukup kemarin aku yang membuatnya sakit hati dan malu, kenapa malah hari ini Rendra menambah kesedihannya dengan memuji wanita lain tepat di hadapannya." Dendra merasa heran, bukannya Rendra sudah menolak perjodohan ini sehingga dia yang terpaksa menggantikan pria buaya darat kelas A itu. Lalu, mengapa sekarang dia malah terkesan menyukai Maila? Aneh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD