Bab 10. Keputusan Sepihak

1087 Words
Rendra tidak memperdulikan istrinya, bahkan saat Antika menegurnya, Rendra tetap saja tak acuh padanya. Dia lebih fokus pada remaja yang kini menjadi istri saudaranya. Terlihat nyata rasa sesal di wajahnya karena lebih memilih Antika, padahal Maila lebih segar dan mengundang selera. Karena berkali-kali Dendra memergoki Rendra mencuri pandang pada istrinya, membuat Dendra merasa tak tega melihat Antika diperlakukan seburuk itu. Meskipun saat ini dia sangat membenci wanita itu, tapi cinta pada Antika tak serta-merta hilang begitu saja. Akan tetapi detik itu juga Dendra tersadar dengan kelakuan Antika yang telah membuat dia sakit hati. Hati pria itu kembali memanas ketika mengingat tubuh polos Antika yang dijamah oleh lelaki yang tidak diketahuinya siapa. Sehingga dia berpendapat, perempuan murahan memang cocok bersama lelaki b******n. Sementara di samping Rendra, Nina tetap diam tapi kali ini dia mengangkat wajahnya menatap Antika dengan sorot mata merasa bersalah. Dendra yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Nina. "Nin, kamu kok diem terus sih dari tadi?" tegur Dendra penuh selidik. Dia heran dengan sepupu sekaligus sahabatnya itu, biasanya dia sangat cerewet dan suka sekali bercanda. Wanita yang ditegur itu terlihat gelagapan, hanya sesaat menatap Dendra kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya. Dendra menatapnya dan menggeleng keheranan. Dia berpikir sepertinya ada yang tidak beres dengan Nina. Tapi apa? Apa dia marah karena Dendra tidak mengabarinya saat akan menikah? Apa karena dia tidak setuju Dendra menikah dengan Maila? Atau dia marah karena Dendra membatalkan pernikahannya dengan Antika? Masih banyak dugaan lainnya yang berkelebat di kepala Dendra, tapi tak satupun yang mampu ia nyatakan sebagai alasan perubahan sikap dari sahabatnya itu. Tiba-tiba ingatan Dendra kembali pada kejadian kemarin. Ya, Kemarin Nina lah yang mengirimkan video panas Antika. Apa mungkin dia merasa bersalah telah mengirimkan video itu? Ah, Entahlah! Dendra lelah menerka-nerka. Toh, sekarang dia sudah tidak perduli. Baginya wanita jalang yang bernama Antika itu sudah tak pantas mendapatkan cintanya lagi. Tapi yang berbahaya kini adalah Rendra, dia tak lepas memandang Maila. Dendra jadi berpikir untuk melindungi Maila, meskipun dia tidak mencintainya, dia tetaplah istri kecilnya. Sungguh, dia tidak sudi jika playboy kelas A ini mendekatinya. "Hari mulai siang, sebaiknya kita masak bersama buat makan siang. Sekalian kita belajar masak sama Mbak Maila, gimana?" celetuk Nana dengan semangat. Ternyata dia serius dengan memanggil bocah itu dengan sebutan "Mbak". "Ayo," Mama Yola pun ikut bersemangat. "Hari ini Tante senang sekali karena bisa masak bersama dengan dua menantu baru." Semua wanita serentak berdiri lalu berjalan menuju dapur. Tinggal Dendra, Rendra, Kakek Damiri dan Pak Gunawan. "Gun, coba kamu ambil file di dalam lemari," perintah kakek Damiri pada Pak Gunawan. Pak Gunawan langsung berdiri melaksanakan perintah kakek, sementara kedua pria yang rupanya sangat mirip itu duduk dengan menjaga jarak di antara mereka. Tak lama Pak Gunawan datang, dia membawa file berwarna kuning. Setelah dia duduk dia menyerahkan file tersebut kepada kakek, tapi kakek bukannya menerima malah meminta Pak Gunawan untuk membacanya. Pak Gunawan yang duduk di depan Dendra terlihat serius membuka file dan membacanya sebentar lalu mengangkat wajahnya untuk menatap Dendra, kemudian membalik kertas dan terus membaca hingga selesai. "Ndra." panggil papa pelan setelah menutup file yang sudah selesai dibacanya. "Papa yakin, perkebunan dan pabrik kopi ini pasti akan berkembang bila di tangan kamu." Papa menepuk-nepuk file di pangkuannya. "Kamu hanya perlu mengambil hati penduduk desa agar mereka bisa bersemangat dalam mengurus kebun. Bila hasil kebun oke, pasti kopi yang diproduksi pun akan oke." Dendra mengangguk pasrah, mengingat janjinya pada kakek, dia ikhlas menerima takdirnya saat ini. Meneruskan mengelola usaha kakek dan menjaga Maila, istri kecilnya. Dia melakukan semua ini bukan semata karena keinginan kakek, tapi setidaknya dia bisa memulai kehidupan baru yang diharapkannya akan lebih baik dari kehidupannya semula. Dendra melirik ke arah Kakek yang hanya mendengarkan menantunya menasehati cucunya. Lelaki yang sudah seharusnya beristirahat dan menikmati masa tuanya ini harus tetap mempertahankan semuanya karena belum menemukan pewaris yang pas untuk menggantikannya. Anak dan cucunya sudah punya kehidupan masing-masing yang lebih baik di kota, mereka pikir tidak ada gunanya menghabiskan waktu untuk mengurus perkebunan di sebuah desa terpencil yang jauh dari keramaian. Jikapun terpaksa, Mama dan Tante Marni sepakat akan menerimanya tapi setelah kakek meninggal mereka akan menjualnya. Hal ini membuat kakek Damiri terpaksa terus mengurusnya hingga saat ini. "Aku janji, Kek. Akan menjaga dan meneruskan apa yang telah kau usahakan selama ini," batin Dendra. "Kapan kamu resign?" tanya Papa lebih terdengar seperti sebuah perintah. "Resign? Kenapa aku harus resign, Pah? Aku telah bersusah payah untuk mendapatkan posisi sekarang ini. Aku tidak mau melepaskannya begitu saja." Dendra terperanjat ketika papanya meminta dia untuk berhenti dari pekerjaannya saat ini. Tentu saja dia tidak akan melepaskannya, posisi CEO adalah impiannya selama ini. Dendra telah bekerja keras untuk meraihnya, dan selama dua tahun ini dia yang memegang kendali, sehingga perusahaan maju dengan pesat. Jadi mana mungkin dia akan membiarkan pencapaian tertinggi dalam hidupnya lepas begitu saja. "Fokuslah di sini, biar Rendra nanti yang akan menggantikan posisi kamu," tegas papa seolah tidak bisa dibantah. "Apa? Rendra?" Dendra tidak suka dengan Papa yang seenaknya menentukan kehendaknya. Dia yang berusaha mati-matian untuk menduduki posisi sebagai CEO malah harus digantikan dengan Rendra yang tak pernah berusaha sama sekali. Dendra menoleh ke arah Rendra yang ternyata sudah tidak ada di sampingnya. Lelaki berhidung mancung ini tersentak kaget karena baru menyadari kalau lelaki yang lahirnya bersamaan dengannya itu sudah tidak ada di di tempat duduknya. "Gawat, kemana dia!" gumam Dendra gelisah. Akan tetapi mengingat ucapan papanya barusan, Dendra kembali mengeluarkan isi hatinya menolak posisinya digantikan oleh kembarannya. "Dia bisa menghancurkan perusahaan, Pa. Kerjaannya yang tidak pernah serius dan selalu berpetualang dengan banyak wanita. Mana mungkin dia bisa menggantikanku!" dengus Dendra kesal. "Itu dulu. Sekarang kan berbeda, dia sudah menikah. Pasti dia akan lebih serius bekerja. Dan papa juga yakin, dia pasti akan menjadi lelaki yang setia." "Tapi, Pah. Posisiku sekarang adalah impianku dan hasil ketekunanku selama ini. Papa tau kan bagaimana aku berusaha selama ini, masa papa tega memintaku resign." Dendra merasa kecewa dengan keputusan papanya yang secara sepihak. "Ini demi kebaikan kamu," sela kakek berusaha menengahi. "Jika kamu fokus di sini, maka posisimu akan lebih baik di sini dari pada di perusahaan papamu itu." Dendra berdecak kesal, dia menyandarkan tubuhnya di kursi dengan wajah yang memerah. Dia marah dengan dua lelaki yang duduk di hadapannya. "Ndra, di sini semuanya milikmu. Kamu lah atasan tunggal yang tertinggi, sama seperti papa. Jika kamu bisa mengelola dengan baik, maka kamu akan mendapatkan hasil berkali-kali lipat dari pada jadi CEO di perusahaan orang lain." Pak Gunawan menegaskan posisi Dendra saat ini. "Dendra tau itu, Pa. Tapi ..." Dendra menggantungkan kalimatnya yang penuh dengan keraguan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD