CHAPTER LIMA BELAS

2063 Words
            Genderang perang benar- benar ditabuh. Harusnya Lara sadar kalau hidupnya tidak akan tenang untuk selanjutnya. Setelah merasakan ketenangan sepanjang pagi, ia tidak sadar kalau Bara sudah bertindak sebelum ia sampai di sekolah.             "Kantin, yuk." katanya sesaat setelah bel berbunyi. Ia berdiri, membuat Kamal langsung kembali menarik tangannya agar terduduk.             "Aduh, kenapa sih?" keluhnya sambil menatap Kamal bingung.             "Rok, lo." bisik Kamal tepat di telinga Lara. Mata Lara melebar, ia mengangkat sedikit tubuhnya dan melihat bagian belakang roknya. Matanya makin melotot. Bagian belakang roknya sudah penuh dengan... cat warna merah.             "Sialaan." desisnya. Ia lalu menepuk pundak Amir, anak yang duduk di depannya. "Tadi Bara ke sini?" tanyanya.             "Iya, duduk di bangku lo, sama temannya. Dia bilang sih mau nungguin elo. Tapi sebelum bel dia udah keluar duluan." kata Amir lalu berdiri dan beranjak keluar kelas.             "Sialaan, gerak cepat banget tuh orang." keluhnya. Kamal tersenyum lebar lalu mengambil jaket yang ia sampirkan di punggung bangku dan menyuruh Lara berdiri karena kelas sudah benar- benar kosong. Ia menempelkan jaketnya menutupi bagian belakang rok Lara dan mengikat kedua bagian tangannya di depan. Setelah itu, ia mengambil tisu dari tas Lara dan melapisi permukaan bangku dengan tisu itu.             "Nah, beres, yuk ke kantin. Dia pasti berpikir lo nggak akan berani ke mana- mana gara-gara noda cat itu." kata Kamal. Lara tersenyum lebar lalu menarik tangan Kamal keluar dari kelas. "Buktiin kalau kita nggak takut." seru Kamal, Lara mengangguk setuju. Ia sudah tak punya pilihan untuk mundur. Yang bisa lakukan adalah bertahan dan melawan.             Bara agak terkejut melihat Lara memasuki kantin dengan senyum sumringah bersama Kamal. Ia pikir, ia tidak akan melihat gadis itu hari ini karena terlalu malu dengan noda di roknya. Tapi, ia salah. Lara sepertinya sudah sangat terlatih untuk hal kecil seperti ini.             Tatapan mereka bersirobok, Tapi Lara tidak juga melepas senyum manisnya. Ia tetap bersisian dengan Kamal hingga menjatuhkan diri di sebuah bangku kosong.             "Mau makan apa?"             "Mie ayam sama es teh manis, ya." jawab Lara lalu mengucapkan terima kasih.             Suasana kios- kios penjual makanan yang ramai itu langsung membuat Kamal lenyap dari pandangan Lara. Sekali lagi, diliriknya Bara yang ternyata sedang menatapnya secara terang- terangan. Lara mengangkat dagunya tinggi. Berusaha tidak terintimidasi oleh tatapan mematikan itu.             Tak lama, Kamal kembali dan menaruh dua buah mangkuk di atas meja, tepat di depan Lara. Mereka menyantap makanan dengan khusyuk. Menganggap hari ini hari yang indah dan menganggap insiden cat itu tidak pernah terjadi.             Keduanya menghentikan makannya saat mendengar Bara memanggil seseorang. Keduanya menengadah dan melihat Ayra masuk ke dalam kantin.             "Ayra." Teriaknya sekali lagi, ia bahkan melambai pada gadis yang justru langsung menunduk saat mendengar namanya dipanggil.             Semua pasang mata yang ada di sana langusng menghujam Ayra dan sisil yang masih berdiri mematung.             "Mampus gue, balik, Sil." bisik Ayra. Mereka berdua siap berbalik. Tapi belum sempat melangkah, seseorang menjulang tinggi di depan mereka.             "Kenapa balik?" mereka berdua mendongak dan melihat Kiki tersenyum ke arah mereka.             "Eh... itu Kak... saya mendadak kenyang." jawabnya gugup. Sisil langsung mengangguk, membenarkan kata- kata sahabatnya. "Lo dipanggil Bara, kan?" Ayra menoleh takut- takut, ia melihat Bara tersenyum manis. Kantin mendadak hening. Ayra dan Sisil dengan sangat terpaksa mendekat ke arah Bara. Bara menatap Kiki seraya mengucapkan terima kasih.             "Gue nggak usah ikut ya, Ay." bisik Sisil yang langsung dijawab dengan gelengan keras. Gadis itu meminta Sisil tetap ada di sampingnya.             "Jangan, temenin gue. Gue suka mati kutu kalau di depan dia."             Bara menunjuk bangku di depannya. Tapi belum sempat Ayra duduk, ia langsung menyela. "Lo duduk sini, Ay." Bara menepuk tempat kosong di sampingnya. Ayra berjalan pelan dan duduk di samping laki- laki itu.             Suasana kantin sudah kembali normal. Tapi beberapa pasang mata masih terus menguntit pergerakan mereka. Kamal yang jelas mulai terlihat kesal.             "Mau makan apa?" tanya Bara dengan nada dingin. Ia menundukkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Ayra. Gadis itu melirik ke arah Sisil yang langsung mengangkat bahu. Bod0h, kenapa gue jadi bod0h gini sih? Rutuk Ayra dalam hati.             "Bakso, Kak." jawabnya dengan nada tenang. Ia sudah mengangkat wajahnya dan matanya bertumbukan dengan mata Kamal yang menegang. Ia mencoba tersenyum sumir. Mengisyaratkan kalau ia baik- baik saja, atau setidaknya masih baik- baik saja. Karena ia sadar, sekali saja ia menyalakan sinyal bahaya, kantin ini akan dipastikan berubah menjadi arena pertarungan.             "Lo?" kali ini ia menatap Sisil yang takut- takut.             "Sama, Kak." jawabnya cepat. Sudah tidak ada waktu untuk berpikir mau makan apa. Benar kata Ayra, tatapan Bara begitu mengintimidasi dan membuatnya ketakutan.             Seperti biasa, Bara menyuruh salah satu anak kelas sepuluh yang terdekat untuk membelikan pesanan mereka. Dan dua mangkuk bakso itu muncul kurang dari tiga menit. Rekor memang kalau pesan makanan mengatasnamakan Bara, semua antrean akan langsung menyingkir. Semua yang mengantre akan mengalah kalau tidak mau berurusan dengan Bara.             "Ayra sama Bara ada hubungan apa sih?" tanya Kamal heran. Lara hanya mengangkat bahu tak acuh. Selain tidak tahu, dia juga sama sekali tidak mau tahu apalagi mencari tahu.             Lara langsung mencekal tangan Kamal yang hendak berdiri. "Lo mau ke mana?" kali ini Lara yang heran.             "Nyelametin Ayra." Lara terkekeh mendengar jawaban sahabatnya.             "Dia nggak nunjukin sinyal bahaya, kok. Santai aja." Kamal sekali lagi melirik Ayra yang wajah tegangnya mulai memudar. Mereka terlihat tertawa kecil, entah apa yang sedang mereka bicarakan.             Ketegangan Ayra dan Sisil perlahan mengendur. Bara mulai bersikap seperti biasa, dan tatapannya juga bukan tatapan mengintimidasi seperti biasanya. Keduanya menyantap bakso yang ada di depannya.             "Nanti ikut kegiatan LDKS, kan?" tanya Bara sambil memakan kacang rebusnya. Sisil langsung mengangguk, sementara Ayra tampak berfikir sebentar. "Lo? Ikut kan?" pertanyaannya langsung terarah pada Ayra.             "Saya belum bilang sama papa." kedua alis tebal Bara nyaris bertaut.              "Perlu bilang bokap lo dulu?"             "Iyalah, kalau papa nggak ngizinin ya nggak bakal pergi, meskipun itu wajib dari sekolah." Bara mengaruk- garuk kepalanya sementara Sisil menahan senyum.             "Memang bakal ada kemungkinan nggak diizinin?" Ayra mengangguk. Dia tahu, jangankan untuk acara sekolah yang mengharuskan menginap dua hari. Ayra telat pulang saja, dia sudah bisa dipastikan harus pidato panjang untuk meyakinkan papanya kalau dia telat bukan karena hal yang aneh- aneh.             Bara hanya bisa geleng- geleng kepala. Menyadari masih saja ada orangtua posesif buat anaknya yang sudah SMA, sekali lagi... SMA. Di mana anak- anak sudah merasa dewasa karena seragam putih abu- abunya, ia bisa memastikan bahwa Ayra masih sangat- sangat polos. Bahkan mungkin semua kegiatannya masih diatur dalam jadwal harian. Bukan mirip anak SMP, tapi mirip anak SD.             "Tenang aja, gue akan bikin lo ikut." kata Bara datar. Ayra dan Sisil saling menatap bingung.   ***               Bel pulang berbunyi. Bau kebebasan sudah tercium. Anak- anak yang tadinya sibuk menahan kantuk kini langsung membelalakkan mata seketika. Anak- anak mulai tersedot oleh atmosfer di luar kelas. Salah satunya bahkan sebelum sang guru keluar dari kelas.             "Bu, saya duluan ya, Bu. Ada urusan penting." Mahesa langsung menghampiri meja guru dan mencium punggung telapak tangan gurunya, lalu ngeloyor sebelum guru berhasil membuka mulut.             "g****k dasar." kata Aldi.             "Gue bilang apa. Itu anak pantatnya panas kalau kelamaan duduk di kelas." Mahmud menimpali.             Mahesa menjadi satu- satunya anak yang sudah berjalan di koridor. Sementara anak kelas lain masih sibuk dengan ritualnya.             Mahesa berjalan menuju kantin. Membayangkan es buah untuk mendinginkan otaknya. Bayangkan, hari ini dilalui Mahesa tanpa bolos satu pelajaran pun. Bagaimana otaknya tidak langsung terbakar. Kalau seperti itu, Mahesa dijamin bukan makin pintar, malah otaknya akan konslet.             Sengaja, di lima menit sebelum bel, dia sudah beres- beres. Ia masukan buku- bukunya ke dalam tas satu persatu dengan perlahan dan terpaksa meminjam buku Ciara untuk berkamuflase.             "Pinjam buku lo." Mahesa menarik tangan Ciara agar mundur lalu mengambil salah satu buku dari kolong meja gadis itu.             "Lah, buku lo kenapa udah dimasukin?" Ciara berbisik dengan heran.             Mahesa tidak menjawab, hanya memberikan seulas senyum tipis yang sama sekali tidak bisa diartikan Ciara. Tapi senyum itu terjawab saat bel berbunyi. Tanpa aba- aba apapun, Mahesa langsung berdiri dan pamit. Tidak lupa cium tangan guru, biar bandel harus tetep sopan.             "k*****t lo. Dengar bel pulang kayak dengar terompet sangkakala, main kabur aja." Iras datang dan langsung duduk di depan Mahesa yang tengah asik menyantap es buahnya.             "Pusing gue. Otak gue kalau bisa ngomong pasti udah jerit- jerit karena kepanasan." jawabnya polos sambil meraup es batu dengan sendok dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Iras tertawa pelan sambil mengambil minum dari lemari pendingin tak jauh dari tempatnya duduk.             "Katanya dekat Ciara dingin, bikin adem. Gimana sih lo?" Sendok yang hendak masuk ke mulut Mahesa melayang di udara. Ia menatap Iras lalu menaruh sendoknya di mangkuk.             "Iya sih memang. Tapi kan kadang- kadang, setan lebih kuat daripada malaikat."             Mereka berdua tertawa.             "Basket dulu nggak? Atau mau ke ruang musik? Atau mau langsung pulang?" tanya Iras langsung. Walau ia tahu, kalau pilihan terakhir tidak akan di pilih sahabatnya.             "Gue... langsung balik aja deh. Capek." Iras ternganga, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.             "Lo abis sekolah kayak abis perang. Cemen banget."             "Gue mending suruh perang lawan penjajah daripada suruh belajar." sahutnya asal.             Iras terkekeh lalu melirik Mahesa yang masih sibuk dengan mangkok yang isinya tersisa setengah.             “Anak- anak pada ngira lo suka sama Ciara. Emang benar?” tanya Iras. Ia melihat wajah di depannya mengadah lalu menatapnya sambil tersenyum.             Iras berdecak saat melihat Mahesa hanya mengulas senyum dan tak menjawab pertanyaannya.             “Jadi beneran?” Iras mengambil kesimpulan sendiri karena Mahesa tampak tak ingin memberitahu bagaimana perasannya pada gadis itu.             Setelah menghabiskan mangkok berisi es buahnya, Mahesa dan Iras berjalan menyusuri lorong menuju gerbang sekolah.             Langkah kaki Mahesa berhenti di depan ruang OSIS yang pintunya terbuka. Ia mendekat dan melihat Ciara dan tiga orang lainnya ada di ruangan itu. Iras yang sudah mendahuluinya berhenti dan membalik badan. Ia melihat Mahesa di berhenti di depan ruang OSIS dan mengisyaratkan agar dirinya pulang lebih dahulu dengan sebelah tangannya. Iras menghela napas lalu melanjutkan perjalanannya menuju parkiran sekolah.             “Belum pulang?”             Keempat orang yang ada di ruangan itu menoleh ke asal suara dan cukup terkejut melihat wajah Mahesa menyembul di balik pintu yang terbuka. Ketiga anak itu saling pandang hingga akhirnya Ciara menjawab, “belum.” Laki- laki itu mengangguk lalu menghilang dari pandangan ke empatnya.             Ciara dan beberapa anggota OSiS itu tengah menyelesaikan proposal LDKS yang akan segera mereka laksanakan bersama anak kelas sepuluh. Ciara mengambil lembaran yang sudah diperbaiki dari anggota OSIS lainnya. Ia mengecek lembaran- lembaran itu dengan teliti.             “Oke, nih. Besok langsung print terus dijilid ya. Bikin beberapa rangkap.” Kata Ciara. Tiga orang yang ada di sana mengangguk. “sama selebaran yang untuk dibagiin ke siswa jangan lupa disiapin juga.”             Setelah menyelesaikan urusannya, keempatnya membereskan barang- barangnya dan keluar dari ruang OSIS. Ciara terkejut melihat Mahesa duduk di bangku di depan ruang OSIS. Ciara mengisyaratkan kepada ketiga anggota OSIS lainnya agar pulang lebih dulu.             “Udah selesai?” tanya Mahesa saat melihat ketiga punggung anggota OSIS lainnya mulai menjauh.             “Udah. Lo ngapain masih di sini?” tanyanya.             Mahesa tampak berpikir sejenak lalu berujar, “Nungguin lo.”             Dahi Ciara berkerut dalam. “Ngapain nungguin gue?” tanyanya dengan nada bingung.             “Memang harus ada alasan kalau mau nungguin lo?” Mahesa berdiri hingga ia berhadapan dengan Ciara yang semakin kebingungan.             Ciara berdecak lalu berjalan mendahului Mahesa. Laki- laki itu tersenyum lalu berjalan cepat agar bisa mensejajarkan langkahnya dengan gadis itu.     ***               "SIAL4N." runtuk Bara saat mendapati ban motornya kempes. Ia melirik sekeliling dan tidak mendapati siapapun. Bel pulang sudah berbunyi lima belas menit yang lalu dan kini parkiran itu tampak sepi, meskipun masih ada beberapa motor terparkir di sana.             "Lo belum balik?" Kiki menepuk pundak Bara yang langsung menoleh.             "Ada yang ngisengin motor gue." ia menunjuk ban motornya. Mulut Kiki terbuka lebar. Selama ia mengenal Bara, belum pernah ada yang berani melakukan itu pada sahabatnya.             "Si Lara?" tanya Kiki, dan Bara tidak punya alasan untuk tidak mengangguk. Siapa lagi kalau bukan adik kelas kurang ajar itu, pikirnya.             Beberapa ratus meter dari parkiran, Lara tangah berlari menuju halte dan menemukan Kamal yang sudah menunggunya. "Ayo balik." ia menepuk bahu Kamal yang sedang terduduk di atas motor di tepi trotoar.             "Lo abis ngapain sih? Lama banget." keluh Kamal saat Lara sudah duduk di atas jok motornya. Gadis itu terlihat mengatur napasnya yang terengah- engah.             "Abis ngempesin ban motor Bara." bisiknya. Kamal yang sudah hendak menyalakan motor kembali memutar kontaknya lalu menoleh dan melihat mata Lara tersenyum.             "Gila lo. Cari masalah aja."             "Makanya ayo buruan jalan. Keburu dia ngejar." Lara menepuk pundak Kamal dua kali dan sepasang roda itu berputar menggerus aspal. TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD