CHAPTER ENAM BELAS

2099 Words
            Ayra mondar- mandir di depan meja belajarnya. Ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Suara dering ponsel masih menggema, dan nomor pemanggil masih sama. Nomor yang sama dengan yang meneleponnya kemarin, nomor Bara.             Ia mengigir bibirnya hingga tiba- tiba pintunya terbuka pelan. Sosok Kamal muncul di balik pintu dan langsung menatap Ayra heran. "Kenapa nggak diangkat, Ay? Berisik, kedengeran sampai ke sebelah." katanya sambil menunjuk ke kamar Lara yang tepat berada di sebelahnya.             "Ehm... Males ah, sorry ya, nanti kalau panggilan itu udah mati, langsung gue matiin deh HP gue." katanya. Kamal mendekat dan melihat nomor baru di layar touchscreen itu. Keningnya berkerut dalam.             "Siapa, Ay?" tanya Kamal sekali lagi dan Ayra tergagap sehingga yang keluar dari mulutnya hanya gumaman tidak jelas. Kamal yang tidak sabar langsung menyambar ponsel itu. ia menslide layar dan menjawabnya.             "Halo." Suara bass di ujung sambungan menyambut. Dahi Kamal kembali berkerut dan akhirnya ia tahu suara siapa yang ada di seberang. Seulas senyum muncul di bibirnya.             "Halo." jawabnya tenang. Tidak tahu bahwa suaranya membuat orang di seberang terperangah.             "Ini Siapa?" suara diujung kembali terdengar.             "Kamal. Lo nyari siapa?" tanyanya tenang.             "Ayra-nya mana?" Bara berusaha mati- matian untuk tidak memaki orang yang menjawab panggilannya.             "Oh, Ayra lagi tidur. Karena berisik, jadi gue masuk aja ke kamarnya, terus gue angkat deh. Kasian, takut ganggu dia." Kata Kamal dengan nada pelan. Supaya orang di seberang tidak melewatkan satu katapun dalam ucapannya.             "Kenapa lo nggak sopan banget angkat- angkat telepon dia?" Kamal tersenyum lalu melihat Ayra yang mengigit bibir bawahnya dengan cemas.             "Abis gimana, gue sama dia udah nggak ada privacy sih. Wilayah dia ya wilayah gue, wilayah gue ya wilayah dia. Jadi kalau cuma angkat- angkat telepon sih, sudah biasa." Kamal bisa membayangkan raut wajah jengkel Bara di ujung sambungan. Bara tidak bersuara lagi, panggilan itu langsung ditutup.              Kamal mengulurkan benda persegi itu ke arah Ayra. "Lo ada hubungan apa sih sama Bara?" tanyanya dan Ayra langsung menggeleng. Dia sendiri bingung kenapa kakak kelasnya itu selalu muncul di depannya.             Kamal masih berdiri di depan Ayra lalu memegang kedua pundak gadis itu. "Lo hati- hati ya, maksud gue, kalau ada apa- apa langsung kasih tahu gue. Gue takut permusuhan dia sama Lara berdampak sama lo." lanjut Kamal. Ayra menganguk. Sejujurnya, itu juga terlintas dipikirannya. Bagaimanapun ia dan Lara adalah saudara kembar. Identik. Orang mungkin berpikir ia memiliki kontak batin yang cukup kuat. Kalau Bara sudah bosan mengerjai Lara, Ayra bisa jadi pilihan lainnya.             "Dia ngomong apa?" tanya Ayra.             "Cuma nanya lo ke mana." jawab Kamal. Ia melirik meja belajar Ayra yang berantakan.             "Yaudah, lo lanjutin belajar gih. Jangan tidur malam- malam ya." Kamal mengusap kepala Ayra dan tersenyum lalu keluar dari kamal itu. Meninggalkan Ayra yang masih mematung di tempat.   ***               Mahesa keluar dari kamar saat jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Pulang sekolah, dia benar- benar langsung tertidur di kamarnya. Ia bahkan tidak sempat makan dan sekarang, perutnya keroncongan.             "Yuda udah pulang, Bi?" tanyanya pada Bi Lilis yang sedang menonton televisi di ruang tamu.             "Sudah, Mas, tadi sekitar jam setengah tujuh."             "Udah makan?" tanya Mahesa sambil melirik televisi yang tengah menampilkan acara dangdut.             "Belum keluar- keluar kamar sejak pulang Mas." Jawab wanita itu. Mahesa menghela napas panjang.             "Tolong bawain makan ke kamarnya ya, Bi. Takut dia belum makan. Nggak dimakan nggak apa-apa, yang penting anterin ke kamarnya aja." kata Mahesa sambil berlalu menuju meja makan. Wanita itu mengangguk lalu mengekori Mahesa menuju meja makan.             Mahesa menyendokkan nasi ke piringnya. Bi Lilis melakukan hal serupa. Setelah piringnya penuh, wanita itu menaruhnya di atas nampan dan membawanya beserta segelas air.             Mahesa makan dalam diam. Dan memang selalu seperti ini setiap hari. Rumah megah itu mungkin lebih sepi dari kuburan. Tidak ada hawa kehidupan sama sekali. Yang setiap hari Mahesa lihat hanya bibi. Wanita itu mungkin berpikir ini sudah seperti rumahnya sendiri saking jarang tersentuh penghuninya.   ***               Perasaan Ayra pagi ini tidak seperti biasa. Perasaannya tidak enak. Ia tahu kalau kejadian semalam pasti akan berdampak hari ini, dan ia sudah harus menyiapkan diri.             "Pagi, sayang." Wijaya menyapanya di meja makan.             "Pagi, Pa. Papa belum berangkat?" Ayra duduk dan langsung mengambil setangkup roti isi di atas meja.             "Kita berangkat bareng, ya." Ajak Wijaya. Ayra mengangguk sambil terus mengunyah.             "Lara belum bangun?" tanya Wijaya ragu. Ayra mengangkat bahu.             "Itu anak mau jadi apa sih." Wijaya menggelengkan kepalanya. Ia sudah bingung bagaimana harus menghadapi anaknya yang satu itu.             Ini topik paling sensitif sehingga Ayra tidak berani menanggapi. Ia hanya akan berbicara seperlunya. Dan kalau diam yang terbaik, dia akan diam. Menjawab dengan bahasa tubuh sekenanya.             "Pa, Ayra ada acara LDSK minggu besok." Ayra membuka pembicaraan. Atau lebih tepatnya mengalihkan pembicaraan dari sosok kembarannya.             "LDKS?" ulang Wijaya.             "Iya, Pa, latihan dasar kepemimpinan siswa." terangnya.             "Di mana?"             "Di daerah Bogor."             "Jauh, nggak usah ikut ya. Waktu SMP kamu nggak ikut juga kan? Papa nggak tenang kalau biarin kamu pergi jauh- jauh."             Ayra mendesah. Ia sudah menduga akan seperti ini. Ayahnya tak pernah membiarkan ia melakukan perjalan jauh, jika pihak sekolah mewajibkan, ayahnya akan langusng menemui wali kelas dan memita izin agar Ayra tidak ikut kegiatan- kegiatan seperti itu.             "Tapi kan, perginya sama guru dan OSIS, Pa."             "Perbandingan OSIS dan guru sama satu angkatan kamu, bisa satu banding sepuluh."             Ayra mengangguk, membenarkan perkataan ayahnya.             "Kan ada Kamal yang bisa jagain Ayra, Pa."             "Kamal pasti juga sibuk sama kegiatan di sana. Mana sempat kamu minta jagain dia."             Ayra tidak punya nyali untuk menentang lebih jauh sehingga yang ia lakukan hanya pasrah. Topik beralih menjadi kegiatan Ayra sehari- hari. Hingga akhirnya sarapan selesai.             "Lho, Ay, kamu di jemput teman kamu?" Wijaya menatap Ayra yang sudah membuka pintu mobil. Arya menatap papanya bingung hingga akhirnya mengikuti arah pandang pria itu.             "Pagi, Om." Ayra terkejut melihat senyum Bara di depan gerbangnya. Laki- laki itu menyapa lalu membuka gerbang dan menghampiri keduanya.             "Kamu sudah lama di sana? Kenapa nggak masuk?" Wijaya menatap Bara yang lagi- lagi tersenyum. Mengeluarkan semua pesona anak baik- baiknya.             "Abis Ayra di sms-in nggak balas, Om." jawabnya. Ayra buru- buru merogoh tasnya dan mengambil ponselnya. Ada satu pesan di terima.             0815141516xxx : Gue udah di depan rumah lo.             "Kalau boleh, saya mau berangkat bareng sama Ayra, Om." pintanya dengan sopan. Wijaya melihat motor besar Bara yang terparkir di depan gerbangnya.             "Kamu bawa motor?" tanya Wijaya. Bara mengangguk sementara Ayra harap- harap cemas. Ia berharap ayahnya tidak mengijinkan.             "Hm... gimana ya. Om nggak pernah izinin Ayra naik motor, kecuali sama Kamal."             Senyum Bara menghilang. Ini protectnya benar- benar berlebihan. Desisnya dalam hati.             "Saya jamin Ayra selamat sampai tujuan, Om." Bara mencoba meyakinkan.             Wijaya menatap Bara ragu. "Hm... gimana ya, saya kan belum kenal kamu. Saya nggak bisa percayain anak saya sama orang sembarang, meskipun kalian satu sekolah."             Gila, ribet amat nih birokrasinya. Bara berdecak dalam hati. Ia melirik Ayra yang menatapnya dengan tatapan tidak terbaca.             "Gimana kalau saya minta nomor ponsel, Om. Nanti saya kabarin kalau sudah sampai sekolah. Biar Om juga tenang." kata Bara. Sebut saja dia bodoh, tapi dia tidak menemukan cara lain. Yang harus ia lakukan adalah meyakinkan Wijaya bahwa ia bisa dipercaya.             "Gimana, Ay?" kali ini, Wijaya menoleh pada putrinya.             "Gimana ya, Pa. Ayra takut naik motor kalau bukan sama Kamal." katanya hati- hati. Ayra menatap Bara yang kini menatapnya dengan tatapan dingin.             Kamal lagi, Kamal lagi, ia bersumpah akan menendang orang itu saat sampai di sekolah nanti.             Sekali lagi, Wijaya tampak berfikir keras. "Gimana kalau motor kamu ditinggal di sini. Kamu ikut kita aja. Saya mau ketemu klien yang searah sama sekolah kalian. Nanti pulangnya biar di jemput supir sekalian kamu ambil motor."             Bara meruntuk dalam hati, lalu terpaksa menerima tawaran Wijaya karena ia tidak punya pilihan lain.             Akhirnya Bara ikut masuk ke dalam mobil itu. duduk di sebelah WIjaya. Bara tidak menyangka kalau keadaannya akan seperti ini. Ayra seperti boneka porselen bagi Wijaya. Jangankan ada yang menyentuh, sepertinya kalau ada yang berani menatap secara terang- terangan, Wijaya tak akan segan mencolok mata laki- laki itu.             "Oia, Om. Saya sekalian mau kasih tahu kalau sekolah kita akan buat kegiatan LDKS. Berangkat jumat sore, pulangnya minggu sore." jelasnya. Anggap saja sudah terlanjur basah. Besok- besok Bara belum tentu punya keberanian bertemu Wijaya kalau tahu akan seperti ini sikap pria itu.             "Barusan juga Ayra sudah bilang. Tapi, saya nggak kasih izin. Saya nggak bisa biarin dia jauh dari pengawasan saya. Apalagi kegiatan seperti itu pasti berat." kata Wijaya sambil melirik ke Ayra yang duduk di belakang.             "Kebetulan saya juga anggota OSIS, Om. Jadi saya bisa awasin Ayra kalau terjadi apa-apa."             Mata Ayra membulat. Tidak menyangka Bara akan seberani itu. Dia pikir, sikap protect ayahnya akan membuat nyali laki- laki itu menciut. Tapi ternyata, laki- laki itu tampak tak berpikir untuk mundur sedikitpun.             "Sebenarnya saya bisa percaya sama Kamal. Tapi karena dia juga peserta, takutnya dia juga sibuk dan nggak ada yang ngawasin Ayra."             Bara melirik Ayra dari spion tengah. Wajah gadis itu tampak bingung.             "Ada saya, Om. Tenang saja. Saya jamin saya bisa awasin Ayra." katanya meyakinkan.             "Boleh Om liat proposal kegiatannya dulu? Takutnya latihannya terlalu berat, nanti Ayra malah sakit lagi."             Bara tersenyum kecut lalu mengangguk. "Siap, Om. Nanti saya titipin ke Ayra."   ***               Bara menghela napas lega saat turun di halte deket sekolahnya. Setelah melepas camry putih itu, ia langsung menghadap ke Ayra. Menatapnya dalam, tatapan mengintimidasi seperti biasa.             "Bokap lo, parah banget sumpah." Bara mendengus lalu bertolak pinggang di depan Ayra. Ayra yang biasanya merasa terintimidasi kini malah mengulum senyum. Tidak menanggapi kata- kata Bara, ia berjalan menuju sekolahnya, karena bel akan berbunyi sepuluh menit lagi.             Bara berjalan sejajar dengan Ayra yang tampak fokus pada jalanan. Tapi ia tahu kalau gadis itu berusaha mati- matian menahan tawanya.             "Kalau mau ketawa, ketawa aja." katanya akhirnya. Ayra langsung mengatupkan rahangnya rapat- rapat. Bara tersenyum dan saat selangkah menuju gerbang. Ia menggenggam tangan gadis di sebelahnya, membuat Ayra yang kaget refleks menarik tangannya dari genggaman Bara.             Bara tidak pernah menerima penolakan. Karena gadis di sampingnya tidak mau di genggam, ia akhirnya merangkul pundak Ayra. Gadis itu terkesiap. Gadis itu berusaha menggerakkan pundaknya agar rangkulan itu terlepas, tapi yang ia rasakan bahwa setengah pelukan itu semakin terasa posesif.             "DIAM." bisik Bara di telinga Ayra. Dan lagi- lagi, nyali Ayra menciut. Ia yang tadinya ingin membuka mulut kembali mengatupkan mulutnya. Bara tersenyum saat bahu dalam rangkulannya melemas. Mereka berjalan beriringan dan Ayra terus menerus menunduk saking malunya menjadi pusat perhatian.             Bara mengantar Ayra sampai ke kelasnya. Semua mata di dalam kelas langsung menghujam keduanya saat keduanya masuk ke dalam kelas. Setengah pelukan itu sudah terurai saat mereka menaiki tangga. Ayra menelan ludah dan melirik seisi kelas yang menatapnya dengan tatapan kebingungan. Ia duduk di kusinya dan tanpa disuruh, anak yang menduduki bangku di depannya menyingkir dan mempersilakan Bara duduk di tempatnya.             Bara duduk menghadap Ayra yang mulai kebingungan. Ia melirik bangku di sebelahnya yang masih kosong. Orang- orang mulai kembali ke kegiatannya masing- masing. Mulai memberikan privasi pada Ayra dan Bara. Lagipula, sekeras apapun mereka memperhatikan keduanya, mereka tak akan pernah mendapat jawaban yang pasti mengenai hubungan apa yang dibangun keduanya. Ayra selalu bersikeras bahwa ia dan Bara tak ada hubungan apapun meski mereka semua melihat bahwa Bara memperlakukan teman sekelas mereka secara spesial.   ***               Kamal nyaris tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Lara. Mereka sudah berjalan di koridor dan sepanjang jalan Lara tidak henti- hentinya tertawa.             "Bara tahu darimana alamat rumah lo?" tanya Kamal saat ia sudah sampai di mejanya. Lara mengangkat bahu.             "Lo harus lihat gimana ekspresinya waktu papa malah nyuruh dia ikut naik mobil." Lara tertawa, membuat Kamal mau tidak mau membayangkan dan ikut terkekeh. Lara memang mengintip dari balik jendela ruang tamu pagi tadi, membuatnya harus menahan tawa melihat wajah Bara yang biasanya seperti singa menjadi selembut kucing.             "Lagian, mau perang tapi nggak nyari tahu medan perangnya kayak gimana. Mati kutu kan dia." kata Lara.             "Nekat juga dia." Pikir Kamal.             "Seperti gue bilang, dia pikir Ayra sama kayak cewek- cewek lain. Dia nggak tahu kalau Ayra itu baby porselen bokap gue."             Lara meringis sinis. Menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Ayra si baby porselen sedangkan dirinya, dirinya tak ubahnya bayangan bagi Ayra Renata Darmawan, abu-abu, selalu di belakang, dan tidak pernah terlihat.             Semua yang ada dihidup ayahnya hanya Ayra. Lara bahkan sangsi kalau papanya sadar kalau Ayra itu punya kembaran. Sejak dulu, Lara memang tidak pernah akur dengan ayahnya, karena Lara tipe pemberontak dan tidak pernah bisa diatur. Tapi dulu, Lara masih punya mama yang dalam keadaan apapun akan membelanya dan memberinya perhatian tanpa membeda-bedakan. Tapi, sejak kematian mamanya, semuanya tidak pernah sama lagi. Lara membentengi diri bahkan dari keluarga sendiri. Hanya Kamal yang ia biarkan menembus dinding kokoh itu.  TBC LalunKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD