Kiki melangkah masuk ke dalam kelas dan bingung melihat Bara sudah ada di bangkunya. "Lho, Gue nggak lihat motor lo di parkiran. Lo naik apa?" tanyanya. Bara memang punya parkiran khusus untuk motornya dan tak akan ada yang berani menempatinya.
Bara mengangkat wajahnya dari ponsel. Belum sempat ia menjawab, Kiki sudah melanjutkan. "Jangan bilang lo kapok gara- gara kemarin ban motor lo dikempesin sama si Lara." Kiki tertawa sementara Bara teringat, ia belum membalas ulah Lara kemarin.
"Motor gue ada di rumah Ayra." jawabnya pelan dan membuat Kiki memandangnya bingung.
Bara akhirnya menceritakan apa yang terjadi pagi ini dan sukses membuat Kiki terpingkal- pingkal. "Itu seriusan?" tanya Kiki, berusaha meyakinkan diri bahwa cerita itu benar- benar terjadi.
"Gila nggak? Tahun 2016 masih ada orangtua overprotective gitu sama anaknya." Bara menggeleng- gelengkan kepalanya.
"Lagian, kenapa lo bisa tiba- tiba nongol di depan rumahnya? Lo beneran ada rasa sama dia?" Kiki bertanya heran. Tapi Bara tidak menjawab, ia hanya tersenyum sumir. Senyum yang tidak bisa Kiki artikan. Dan ia memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut. Semua yang melihat kedekatan Bara dan Ayra punya banyak pemikiran mengenai apa yang terjadi dengan keduanya. Ada yang berpikir bahwa Bara memang menyukai Ayra, namun ada juga yang berpikir bahwa Bara mencoba mencari kelemahan Lara melalui Ayra, ada juga yang berpikir bahwa Bara hanya memanfaatkan Ayra atas semua masalahnya dengan Lara. Tak ada yang tahu dengan pasti apa yang direncanakan Bara untuk Ayra.
Bara berpikir kalau ia harus memutar otak untuk menembus barikade yang dibuat Wijaya, bukan, ia sepertinya harus menjungkir balikkan otaknya untuk berpikir. Kondisi ini sama sekali belum pernah ia temui sepanjang hidupnya. Ia tidak membayangkan betapa membosankannya hidup gadis itu. Terjerat, terkungkung, terpenjara.
***
Mahesa masuk ke kelasnya dengan santai. Sebagian anak sudah bergerombol di meja belakang sementara Ciara duduk manis di mejanya.
"Udah ngerjain PR fisika?" tanya Ciara sesaat setelah Mahesa duduk di sebelahnya.
"Aduh, lupa gue." ia melirik ke belakang. Tadinya ia pikir anak bergerombol itu sedang bergosip, karena di kelasnya, kegiatan bergosip itu bukan cuma milik anak perempuan, tapi juga anak laki- laki. Tapi, meski ingat pun, Mahesa belum tentu tergerak hatinya untuk mengerjakan. Karena mengerjakan PR di rumah itu bagi dia sama sekali kegiatan yang tidak ada faedahnya. Sudah cukup ia lebih dari delapan jam berada di sekolah, di luar sekolah ya, waktunya main. Dan mengerjakan PR di sekolah lebih ada manfaatnya karena bisa meningkatkan kecepatan menulis.
"Gue mau ikut, ah." Mahesa buru- buru mengambil buku tulisnya.
"Nih." Mahesa baru hendak berdiri saat Ciara mengulurkan bukunya. Mata Mahesa kontan berbinar. Ia senang karena itu berarti ia tidak perlu berdesak- desakan untuk menyalin PR itu.
"Wah, baik banget lo, Ra." ia mengambil buku itu dan duduk kembali. Tapi saat ia membuka buku itu, wajahnya tiba- tiba berubah. Buku PR Ciara... bukan, ini bukan buku PR Ciara, tapi buku coret- coretan gadis itu.
Mahesa menatap Ciara yang tersenyum. "Ini ada rumus sama perhitungannya. Lebih lengkap daripada yang gue tulis di buku PR." Ia melirik gerombolan anak di belakang. Mahesa mendesah. Dia kan mau nyalin, judulnya saja nyalin, mepet lagi waktunya, jelas tidak penting perhitungannya, yang penting itu jawaban bisa tersalin di bukunya. Beres.
"Gue salin rumus sama jawabannya aja." kata Mahesa sambil mulai mencatat.
"Tapi lo juga harus tahu itu dapatnya dari mana- mana aja." kata Ciara. Mahesa mengangguk.
"Iya, iya, nanti lo ajarin gue aja. Gue nggak ada waktu buat mikir. Sebentar lagi bel."
Mahesa mengeluarkan salah satu keahliannya. Kecepatan dalam mencatat, tidak peduli kalau tulisannya bahkan lebih jelek daripada ceker ayam. Toh, orang yang naksir dia juga lihat wajahnya, bukan tulisannya.
"Bu Astri datang, woy." Mahmud yang mendapat tugas berjaga di depan langsung masuk dan membuat gerombolan itu memecah, kembali ke bangkunya masih- masing dan langsung dengan posisi siap tempur.
Pelajaran fisika kali ini selesai dengan khidmat. Tidak terpotong karena ada yang terlambat, tidak terpotong karena ada yang tertidur di kelas ataupun menginterupsi guru dengan pertanyaan absurd seperti, "Bu, ibu nggak capek ngomong mulu? Nih, minum dulu bu." Sambil menaruh segelas air mineral di atas meja guru. Baik sih memang Mahesa ini, tapi jelas kalau tujuannya pasti agar jam pelajaran terulur. Dan untuk tindakan- tindakan semacam ini, semua anak pasti mendukung dan akan sangat berterimakasih pada Mahesa, terutama kaum laki- laki.
"Minggu besok kita ulangan harian ya anak- anak. Materinya tentang gelombang yang kita pelajarin sampai hari ini." Kata guru fisika itu diakhir jam pelajarannya. Hampir semua anak mendesah.
"Mau belajar bareng?" tanya Ciara saat guru itu sudah keluar dari kelas.
"Ha?" Mahesa menatap heran. Belajar bareng? Main bareng kali maksudnya.
"Belajar bareng. Buat ulangan fisikan minggu besok." Jelasnya. Membuat Mahesa sadar bahwa Ciara memang benar- benar mengajaknya belajar.
Mahesa menggaruk- garuk tengkuknya bingung. Ia berpikir sebentar lalu menjawab. "Lo bisanya kapan?"
"Kalau nggak sabtu ya minggu?"
Mata Mahesa membulat. Sabtu- minggu masih ada jadwal belajar? Ciara tuh makan apa sih? Tanyanya pada diri sendiri. Setelah berkutat dengan pertanyaan untuk dirinya sendiri, ia akhirnya menjawab. "Sabtu sore aja gimana, atau malam. Nanti gue kabarin lagi ya." Kata Mahesa bertepatan dengan guru kimia masuk. Mahesa berdecak sebal, terlewat lagi peluang untuk bolos.
***
Bara menahan geram saat memasuki kantin. Di sana, di bangku pojok, di meja yang sudah di klaim menjadi miliknya, dan sudah diketahui semua orang, duduk sepasang anak yang sudah tidak asing lagi buatnya. Lara dan Kamal. Sementara Bara menatap tajam ke arah mereka, keduanya tampak tidak sadar sedang menjadi objek tatapan tajam Bara.
Bara melangkah lebar- lebar menuju pojok. Kerumunan di kantin langsung membelah memberinya jalan.
"Siapa yang nyuruh kalian duduk di sini?" katanya saat sampai di depan mereka berdua yang tengah asyik menyantap sepiring batagor.
"Lho, meja ini kan kosong." Jawab Lara dengan nada yang biasa.
"Ini udah gue klaim sebagai meja gue. Haram didudukin sama orang lain. Apalagi juniorr kayak lo." Bara menaruh telapak tangannya di meja dan menunduk tepat di depan Lara.
Tatapan Lara menyapu meja di depannya. Meliti. Mencari jejak. "Nggak tulisan 'dilarang duduk', apalagi tulisan 'meja milik Bara'." Jawabnya lagi, membuat Bara nyaris kehilangan kesabarannya.
Bara menarik napas dalam- dalam. "Lo mau angkat kaki nggak? Gue lagi malas cari ribut." Ia sudah berdiri tegak namun tatapannya masih terarah pada Lara yang melihatnya tanpa dosa.
Mata Lara menatap suasana kantin yang ramailalu berujar, "Lo cari aja meja lain. Gue udah nyaman, nggak mau pindah." Tegas Lara yang membuat amarah Bara kian membara.
Orang di sekelilingnya tercekat. Mereka saling pandang dengan orang yang ada di depan mereka. Mereka semua tak menyangka bahwa kalimat itu yang akan keluar dari mulut Lara. Sepertinya gadis itu memang sengaja duduk di sana untuk memprovokasi kakak kelasnya itu. Mereka semua yakin bahwa sebentar lagi akan ada perang antar angkatan, tapi mungkin tidak akan ada yang seberani Lara. Yang lain pasti memilih menjadi penonton sambil ngemil kacang rebus.
"Lo memang ngga bisa dibaikin ya?" Kilatan amarah di mata Bara mulai terlihat. Jelas, sangat jelas.
Lara dan Kamal masih duduk di tempatnya, tidak memedulikan Bara yang mungkin bisa melakukan hal di luar bayanganya.
"Lo dengar, ya. Tempat ini udah gue klaim sebagai milik gue." Ia memberi jeda, membuat semua penonton menahan napas, menunggu kata- kata selanjutnya.
"Dan nggak pernah ada anak kurang ajar yang berani nempatin bangku milik gue." Bara mundur selangkah. Membuat bangku panjang yang ada di belakangnya terjatuh dan menimbulkan bunyi berdebam keras.
"Prinsipnya, gue nggak suka milik gue dipakai orang lain." Bara boleh salut melihat Lara masih menatapnya dengan tatapan biasa. Gadis itu sepertinya tidak merasa terintimidasi sedikitpun.
"Jadi kalau gue nggak bisa nempati meja ini, yang lain juga nggak bisa." Tepat saat kata- kata terakhir terlontar, tangan bara sudah memegang tepi meja dan menjungkirbalikkan meja itu. Membuat dua piring yang berada di atasnya terjatuh dan pecah lalu isinya berserakan. Bunyi berdebam keras dan bunyi piring membentur lantai menggema di tengah- tengah suasana kantin yang mendadak hening. Sebagian orang ternganga dan sebagian lain menutup mulutnya tidak percaya.
Mata Lara dan kamal membulat. Mereka berdua refleks berdiri dan mundur, melangkahi bangku panjang yang semula mereka duduki saat melihat bara mendekat.
"Dengar kan. Kalau nggak gue, yang lain juga nggak boleh." Sekali lagi, bangku panjang yang menjadi pembatas itu ia singkirkan dengan mudah. Bara terfokus pada Lara. Ia memegang rahangnya, Kamal tersentak lalu mencengkeram tangan Bara. Bara tersenyum sinis. Efek domino, kalau ia mengeraskan cengkramannya pada Lara, cengkraman di lengannya juga pasti mengeras.
"Jangan kira gue takut cuma gara- gara lo cewek." Ia menggerakkan wajah Lara ke kiri dan ke kanan. Meneliti setiap inci wajah dalam tangannya. Lara ingin membalas, tapi mulutnya tidak memunginkan untuk berbicara sehingga ia hanya menatap Bara dengan tatapan tajam. Berusaha menunjukkan kalau dirinya tidak takut.
"Brengsekk." Kata Bara saat merasakan kepalanya ditimpuk dengan kacang. Tanpa melepaskan cengramannya, ia menoleh dan terkejut melihat Mahesa duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri dan orang- orang sudah mundur jauh, sebagian bahkan berdiri di luar kantin. Selain ketiga orang itu, Mahesa kini juga jadi perhatian. Ia menyelonjorkan kakinya di atas meja dan asik mengunyah kacang rebus.
"Kalau mau bikin tontonan jangan slow motion gitu dong. Memang enak apa nonton cuma tatap- tatapan gitu." Katanya santai. Cengraman di rahang Lara mengendur hingga akhirnya terlepas, begitu juga dengan cengkraman di tangan Bara.
"Sudah? cuma kayak gitu aja? Ini banyak yang nonton, lho. Siapa tahu nanti ada produser lewat terus salah satu di antara kalian ada yang diajak jadi pemain film." Kata Mahesa datar. Rahang Bara mengeras. Mahesa tersenyum sinis. Ia menurunkan kakinya yang sejak tadi bertengger di atas meja lalu mendekat. Ia menatap ke arah Lara lalu tersenyum. "Adik kecil, mending sekarang lo kembali ke kelas, ya. Sebentar lagi bel." Tangan Mahesa terulur untuk mengusap kepala Lara. Semua gadis yang melihat menahan napas dan semua perempuan di sana menjerit dalam hati. Tidak ada yang seberuntung Lara.
Lara masih terhipnotis. Senyum Mahesa mematikan semua fungsi dalam tubuhnya. Kamal yang sudah menyenggol Lara berapa kali akhirnya menarik paksa tangan Lara dan membelah kerumunan untuk kembali ke kelasnya.
"Lo hobi banget, ya, nyampurin urusan gue." Kata Bara dengan sinis.
"Suruh semuanya bubar, Ras." Terianya pada Iras dan laki- laki itu melakukan tugasnya. Membersihkan kantin sampai benar- benar bersih sehingga yang tersisa hanya dirinya, Bara dan para penjual di kantin.
"Gue nggak nyampurin urusan lo. Gue cuma..." Mahesa mencari- cari kata yang tepat. "Kebetulan lewat aja. Kalau lo nggak mau gue campurin urusan lo, pastikan lo nggak terjangkau sama gue." Mahesa tersenyum lalu menepuk pundak Bara, membalik badan dan menjauh hingga menghilang dari pandangan. Bara menggeram lalu menendang kursi karena kesal.
Bara menghampiri kulkas terdekat dan mengambil satu botol air mineral dari sana. Tangannya membuka penutup botol lalu meneguk isinya pelan. Ia menatap meja, kursi juga piring yang sudah berserakan karena ulahnya. Ia tahu bahwa ia tak pandai menahan emosinya dan berani- beraninya gadis itu menantangnya secara terang- terangan.
Otaknya mengingat bagaimana Mahesa yang selalu saja muncul kala ia tengah bersitegang dengan Lara. Setelah dulu laki- laki itu kerap menjauh darinya, kini laki- laki itu mulai berani mencampuri urusannya. Ia bersumpah tak akan lagi berbaik hati pada laki- laki itu. Kali ini, ia tidak akan lagi menahan- naham dirinya. Ia akan membuat laki- laki itu berpikir unutk menjauh darinya dan tak mencampuri urusannya.
Bel menggema, menyadarkan Bara dari lamunannya. Ia mengambil dua lembar uang seratus ribuan, menaruhnya di atas meja kantin yang kosong dan menaruh botol air mineral di atasnya. Ia melihat seorang pria salah satu penjual makanan di sana tengah membereskan kekacauan yang ia buat. Tanpa sepatah katapun, ia melangkah dari kantin itu dan kembali ke kelasnya.
***
Lara termenung di kelasnya. Semua yang baru saja terjadi di kantin berputar- putar di otaknya seperti sebuah roll film. Ia sadar bahwa kali ini ia berhadap dengan orang tak biasa. Bara tak pernah bisa ditebak dan sekarang ia tahu bahwa laki- laki itu sanggup melakukan apapun yang ia inginkan.
Laki- laki itu akan melakukan apapun yang bisa melampiaskan semua kekesalannya dan sepertinya mengunakan k*******n pada perempuan tak menjadi pengecualian. Ia berpikir, jika tadi Mahesa tak ada di sana, ia tidak tahu akan seperti apa akhirnya. Mungkin Bara dan Kamal akan kembali terlibat baku hantam, atau mungkin Bara akan melayangkan satu pukulan setelah ia mencengkeram rahangnya. Ia tidak tahu, haruskah ia berterima kasih atas kehadiran Mahesa di sana.
TBC
LalunaKia