CHAPTER DELAPAN BELAS

2314 Words
            Sisil memandang Ayra dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin teman sebangkunya yang terlihat kalem ini ternyata punya saudara kembar yang benar- benar berbeda. Mereka berdua menyaksikan kegiatan di kantin tadi. Di mana Lara menantang dengan pongahnya dan Bara yang kehilangan kesabarannya, hingga akhirnya Mahesa datang dan berhasil membuat Lara dan Kamal lolos dari Bara.             "Kok dia bisa punya keberanian kayak gitu sih, Ay?" Bukan hanya Sisil, tapi nyaris semua teman sekelasnya bertanya seperti itu. Ayra menolak membuka suara sehingga Sisil berusaha mati- matian mengusir gerombolan anak yang sudah menyemut di bangkunya.             Lara memang lebih berani daripada Ayra. Salah satu sifat yang disukai Ayra. Kalau biasanya Ayra bisa dibilang selalu menjadi penurut, ia terkadang ingin menjadi Lara yang bisa dengan mudah mengatakan TIDAK, untuk sesuatu yang tidak dia inginkan.             Ia ingin bisa mengambil keputusan atas apa yang ia inginkan ataupun tidak. Ia ingin punya power dan kendali atas dirinya sendiri. Tapi ia sadar bahwa ia tidak punya keberanian seperti itu. Ia tahu sekeras apapun ia mencoba, ia tidak akan bisa seberani saudara kembarnya, Lara.   ***               Bara bersandar pada dinding tangga di lantainya, menunggu seseorang. "Belum balik?" tanya Kiki saat melihat Bara masih ada di lantai tiga dekat tangga.             "Belum, gue ada perlu sama Ciara." Jawabnya.             "Perlu gue temenin?" tawar Kiki. Tapi laki- laki itu menggeleng dan mengisyaratkan temannya untuk menjauh dengan sebelah tangannya. Sepuluh menit berlalu saat sosok Ciara tidak juga muncul dari atas. Ia menahan diri mati- matian untuk tidak menginjakkan kaki di lantai empat.             "Ciara." Ciara yang sedang berjalan beriringan dengan Mahesa terkejut melihat Bara berdiri di ujung tangga lantai tiga. "Gue mau ngomong sesuatu." Tanpa tending aling- aling, Bara mendekat dan menarik tangan Ciara menjauh dari Mahesa yang mengernyitkan dahi.             Bara menempelkan punggung Ciara di tembok dan mengurungnya dengan kedua tangannya. Wajahnya mendekat, membuat Ciara menempelkan kepalanya ke belakang. "Gue mau pinjam proposal LDKS." Bisiknya di telinga Ciara, tidak menyadari tangan Mahesa yang terkepal melihat kelakuannya.             "Minta sama Siska aja, gih. Tadi abis minta tanda tangan kepsek, gue kasih dia. Mungkin udah ditaruh di lemari ruang OSIS." katanya sambil menurunkan kedua tangan Bara yang mengurungnya. Bara tersenyum.             "Lo aja deh yang ngambilin. Gue butuh sekarang. Ribet kalau harus nyari Siska lagi." pintanya dengan nada memelas.             "Yaudah ayo." Ciara kembali mendekati Mahesa dan bilang, "Gue ke ruang OSIS dulu ya." katanya sambil berjalan sementara Bara dan Mahesa mengikuti dari belakang. Mereka berdua hanya berjalan sambil menatap punggung Ciara. Tidak ada yang berani saling melirik atau bahkan menoleh, mereka merasa seolah- olah orang di sampingnya tidak ada.             Mereka sampai di ruang OSIS. Ciara langsung masuk dan membuka salah satu lemari sementara Bara dan Mahesa menunggu di luar.             "Nih, besok pulang sekolah ada rapat OSIS buat ngomongin persiapan LDKS. Jangan lupa datang." Katanya pada Bara sambil mengulurkan satu bendel copy proposal itu. Bara tersenyum lalu mengangguk.             "SIAP BOS. Udah copyan kan nih? Nggak perlu gue copy lagi." tanyanya. "Makasih ya." Katanya sambil mengusap kepala Ciara lalu berlari menjauh.             "Itu anak kenapa sih? Jadi aneh gitu." Kata Ciara dan melihat Mahesa mengangkat bahu.             "Tadi itu apa?" tanya Mahesa saat mereka berjalan beriringan.             "Proposal LDKS buat anak kelas sepuluh minggu depan."   ***               "Gue duluan ya, Ay." Kata Sisil saat melihat bus yang akan ia tumpangi terlihat di ujung jalan. Ayra mengangguk lalu melambaikan tangan saat Sisil melangkah menaiki bus kota itu.             Ayra berkali- kali melirik ke arah sekolahnya. Memastikan bahwa Bara tidak berniat ikut pulang bersamanya. Meskipun bisa dibilang bukan salah laki-laki itu, tapi tetap saja ia merasa tidak nyaman satu mobil dengannya, apalagi setelah kejadian yang ia lakukan kepada Lara dan kamal.             Suasana ramai itu mengaburkan sosok Bara yang ternyata sudah mendekat ke arah halte.             "Hai." Sapanya. Ayra tersentak hingga minggir beberapa langkah. "Belum dijemput?" tanyanya. Ayra menggeleng sambil menelan ludah.             "Bokap lo, biasa pulang jam berapa?" tanyanya. Bara melihat gadis di depannya tampak berpikir sejenak.             "Hm... nggak tentu sih, paling cepat jam delapan, kadang hampir tengah malam."             "Kalau malam ini kira- kira balik jam berapa?"             "Nggak tahu, nggak bisa diprediksi."             "Yaudah, nanti malam gue ke rumah lo, ya. Ambil motor." Ayra mengangguk dan tidak lama mobil jemputannya berhenti di depannya. Bara mendekat ke mobil dan membukakan pintu penumpang untuk Ayra. Ayra tersenyum sebagai ucapan terima kasih. "Hati- hati di jalan, ya." Katanya. Ia menatap mobil itu itu sampai benar- benar menghilang dari pandangannya.             Ayra masih bisa melihat Bara yang melambaikan tangannya dari kaca spion. Laki- laki itu tersenyum. Senyum yang sangat hangat. Ayra sampai harus meyakinkan diri bahwa Bara yang tersenyum itu sama dengan Bara yang membuat keributan di kantin tadi siang. Karena mereka terlihat benar- benar berbeda.   ***               Bara benar- benar menepati janjinya malam ini. Pukul setengah tujuh, ia sampai di rumah Ayra dan disambut oleh asisten rumah tangganya.             "Ayra ada?" tanyanya pada wanita paruh baya itu.             "Non Ayra sudah tidur, mas." Jawabnya pelan, membuat Bara langsung memandangnya tidak percaya. Ia melirik jam tangannya, mengisyaratkan pada wanita di depannya bahwa terlalu dini untuk tidur.             "Tadi dia habis belajar terus ketiduran." Jelas wanita paruh baya itu. Bara menaikkan alisnya. Tapi ia tidak akan mungkin menerobos masuk ke kamar gadis itu, sehingga tak ada pilihan selain percaya pada kata- kata asisten rumah tangga itu.             Ia melirik garasi dan saat menyadari camry putih itu tak ada di sana, ia tahu bahwa Wijaya belum sampai di rumah. Ia tampak menimang sebentara lalu memutuskan untuk kembali lain kali.             Saat ia hendak pamit, ia menoleh dan melihat gerbang dibuka lebar hingga akhirnya mobil putih itu masuk ke dalam garasi. Tak lama sosok Wijaya terlihat mendekati pintu utama. Tempat di mana Bara masih berdiri.             "Lho, Bara. Mau ambil motor, ya?" tanya pria itu. Bara tersenyum lalu menjabat tangan Wijaya.             "Ini... saya mau kasih proposal LDKS yang Om minta." Ia mengulurkan proposal di tangannya.             "Oh, ayo duduk dulu." Katanya sambil mempersilakan Bara masuk dan menjatuhkan diri di sofa ruang tamu setelah menyuruh pembantunya membuatkan minum.             Mereka berbicara santai. Tapi bagi Bara, ini lebih membuat grogi daripada ujian nasional yang pernah ia ikuti. Wijaya memang baik, walau terkesan tidak akan pernah bisa percaya pada orang lain selain Kamal, yah, nama Kamal disebut beberapa kali. Dan sukses membuat Bara kesal setengah mati.             Wijaya membaca kegiatan dalam proposal itu dan bertanya mengenai eksekusinya kepada Bara yang dengan senang hati menjelaskannya. Pokoknya misi Bara adalah bagaimana caranya Ayra bisa ikut kegiatan itu.             "Eh, Om udah pulang." Kamal tiba- tiba keluar dari dalam rumah dan langsung mencium punggung telapak tangan Wijaya.             "Iya, Ayra udah tidur ya?"             Kamal melirik Bara sekilas lalu menjawab. "Udah, Om, tadi abis ngerjain tugas geografi sama Kamal." Suara tenang itu ternyata ampuh membuat sebelah tangan Bara mengepal.             "Terus sekarang kamu mau ke mana?"             "Mau ke sanggar dulu, Om. Jemput Lara.             "Oh, yaudah. Hati- hati ya."             Bara kesal setengah mati. Mendengar nama juniorr songong itu saja sudah membuat darahnya mendidih, ditambah melihat bocah itu berkeliaran di rumah Ayra.             Setelah hampir satu jam ia meladeni begitu banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Wijaya, Bara pamit pulang. Menahan kecewa karena tak sempat bertemu dengan Ayra. "Yaudah, saya permisi dulu, Om." Pamitnya.             "Hati- hati, ya." Bara mengangguk lalu keluar dari rumah.             Ia menghampiri motor besarnya yang terparkir di dalam garasi. Ia meneliti dan memastikan tidak ada yang lecet dengan body motornya. Hingga akhirnya ia sadar, helmnya tidak tergantung di spion seperti terakhir ia meninggalkannya. Ia melongok ke kanan kiri. Ke dua buah mobil yang jadi penghuni garasi itu. Nihil, helmya tidak ada. Ia akhirnya menghampiri satpam di pos depan.             "Misi pak, mau tanya, liat helm saya nggak? Saya taruh dispion waktu ninggalin motor tadi." tanyanya ramah. Pria yang nampak terusik itu lalu melihat ke salah satu pohon di taman kecil di depan halaman rumah itu.             "Yang itu bukan?" tunjuknya. Mata Bara membulat saat melihat helmnya sudah tergantung di salah satu dahan pohon. s****n. Rutuknya dalam hati.             "Kata Non Lara, itu helmnya udah nggak terpakai, makanya ditaruh di atas buat tempat jambu yang nanti matang." Jelasnya pria berseragam putih itu. "Tapi agak aneh juga sih, masa helm buat tempat jambu." Pria itu garuk- garuk kepala sementara Bara sudah menerjang pohon jambu itu dan memanjat sambil mengeluarkan sumpah serapah dalam hati.   ***               Meja ruang tamu rumah sederhana itu berantakan oleh buku- buku yang sudah tersebar di atasnya.             "Lo yakin Mahesa bakal datang, Ra?" tanya Diana, Ciara hanya mengangkat bahu. Mahesa datang atau tidak juga tidak ada ruginya buat Ciara. Dia hanya menawarkan bantuan dan tak terlalu berharap laki- laki itu akan menerima tawarannya.             Diana sudah mulai mengerjakan soal- soal yang diberikan Ciara. Ia menutup buku cetaknya lalu terfokus pada lembaran putih di depannya dengan pensil yang terus tarayun.             "Rumus itu dimengerti, bukan dihapal." Kata Ciara, membuat Diana langsung mendelik.             "Iya... iya, lo sudah seratus kali bilang itu ke gue." Diana terpaksa membuka kembali buku paketnya dan melihat rumus. Ciara tertawa.             "Kenapa sih harus ada pelajaran fisika? Benci banget gue, sumpah." Keluh Diana sambil mencoret- coret kertas latihannya. Ciara hanya tertawa melihat tampang kesal Diana yang tidak henti- hentinya menggerutu.             Suara deru mobil yang berheti di depan rumah Ciara membuat mereka berdua saling pandang.             "Mahesa, Ra?" Ciara hanya mengangkat bahu dan tidak berniat melihat keluar.             "Assalamualaikum." Suara itu menggema sekaligus menampilkan sosok orang di ambang pintu yang setengah terbuka. Ciara tersenyum sementara Diana langsung memandang sinis.             "Kok lo nggak bilang sih, Sa, kalau ada nenek lampir ini?" Iras yang melihat keberadaan Diana langsung meminta pertanggung jawaban pada sahabatnya.             "Sembarangan. Lo yang ngapain di sini? Gue mah memang sudah biasa kali belajar di sini." Seru Diana dengan sinis. Ciara dan Mahesa geleng- geleng kepala.             "Udah- udah. Ayo masuk. Nggak bosen apa kalian berantem mulu." Kata Ciara sambil mempersilakan Mahesa dan Iras duduk.             Kali pertama Mahesa dan Iras bertandang ke rumah Ciara, mereka terkagum- kagum, bukan karena rumah itu mewah. Rumah itu terbilang sangat- sangat sederhana, namun yang membuat mereka kagum adalah dua lemari kaca besar yang menyimpan begitu banyak piala dan piagam milik gadis itu.             "Dia cucu Einstein kali, Ya." Kata Iras, sementara Mahesa mengangguk setuju.             "Lo berdua aja yang kebangetan beg0." Sahut Diana. Iras memandang sebal sementara Mahesa mengulum senyum.             Ciara kembali dengan nampan berisi sirup dan beberapa toples kue. Belajar kali ini menjadi yang terburuk buat Ciara. Bagaimana tidak, Diana dan Iras tidak henti- hentinya bertengkar hanya karena masalah sepale.             "Lo nggapain sih nyenggol gue." Bentak Diana saat merasakan sikunya tersenggol oleh Iras.             "Yaelah, gue nggak sengaja kali. Makanya sana jauh- jauh dari gue kalau nggak mau kesenggol- senggol." Sahut Iras.             "Dih... kan gue yang datang duluan. Lo aja sana yang pindah. Kenapa jadi nyuruh- nyuruh gue." Dan pertengkaran itu terus berlanjut. Ciara memijit pelipisnya karena tiba- tiba merasa pusing.             "Pindah keluar aja yuk, Ra." ajak Mahesa yang juga mulai pusing mendengar pertengkaran mereka yang sebenarnya tidak berdasar. Ciara mengangguk lalu membawa bukunya ke teras.             Mahesa bertanya apa yang kurang jelas dari rumus- rumus fisika itu dan selalu sukses dijawab oleh Ciara tanpa membuka buku cetak. Mahesa mulai mengerti sedikit demi sedikit. Dan belajar dengan gadis cantik pasti lebih mudah dimengerti daripada belajar dengan wanita paruh baya yang terus menerus melotot sambil mengacungkan penggaris besi ke arahnya.             "Rumus itu dimengerti, bukan dihapal." Kata- kata sakti Ciara kepada semua temannya. Baginya, kalau rumus itu dihapal, suatu saat akan terlupakan. Tapi kalau rumus itu dimengerti, orang tidak akan pernah lupa. Soal serumit apapun pasti akan terpecahkan kalau rumus itu sudah terolah di otak.             "Iya, Bu guru." Kata Mahesa sambil tertawa dan suara riuh di dalam masih belum berhenti.             "Gue besok- besok ogah nemenin Mahesa kalau tahu ada elo." Suara Iras melengking nyaring.             "Dih, siapa juga yang minta lo ke sini. Harusnya lo sudah pergi waktu lihat gue di sini." Diana menyahut dengan nada ketus.             "Oia, nyokap- bokap lo ke mana?" tanya Mahesa saat menyadari rumah Ciara sangat sepi.             "Nyokap gue belum balik. Bokap gue udah nggak ada."             "Sorry." Mahesa menatap Ciara dengan tatapan tidak enak.             "Nggak apa- apa." Jawabnya. Ciara memang hanya tinggal dengan ibunya. Ayahnya, entah ada di mana, yang jelas ibunya selalu tutup mulut tiap kali Ciara bertanya di mana keberadaan ayahnya. Dan sejak melihat ibunya menangis karena Ciara mendesak ibunya, Ciara tidak pernah bertanya lagi. Toh, tidak ada gunanya. Ia sudah cukup bahagia tinggal bersama orangtua tunggalnya.             "Assalamualaikum." Seorang wanita memasuki gerbang itu dan menghampiri mereka berdua.             "Ah, lagi rame ya?" katanya. Ciara berdiri lalu mencium punggung telapak tangan ibunya.             "Lagi belajar bareng, Bu. Ibu kok tumben jam segini baru pulang?" tanya Ciara.             "Tadi materinya Melan agak susah, jadi harus ngejelasin berulang- ulang dulu." Jawabnya lalu melirik ke arah Mahesa.             "Ini Mahesa, Bu, temen sekelas Ciara." Mahesa mengulurkan tangannya dan mencium punggung telapak tangan itu sambil memperkenalkan diri.             "Eh, di dalam ada yang ribut?" tanyanya saat mendengar suara riuh dari dalam.             "Ras, ibunya Ciara nih, lo jangan berisik. Malu- maluin." Sedetik kemudian dua orang itu keluar dan tersenyum kaku ke arah Dewi- orangtua tunggal Ciara.             "Maaf ya tante Dewi, ini ada monyet di sini, makanya jadi berisik." Kata Diana sambil melirik Iras yang berdiri di sebelahnya. Sementara Ciara dan Mahesa menahan tawa, Dewi malah menatap heran.             "Kamu tuh, Di, orang ganteng gini kok dibilang monyet."             "Dia kebiasaan main di Ragunan, Tante. Jadi nggak bisa bedain orang ganteng sama monyet." Kali ini Iras tersenyum jumawa sementara Diana merengut kesal.             "Yaudah, lanjutin lagi belajarnya. Tante ke dalam dulu ya."             Saat Dewi sudah menghilang dari pandangan mereka berempat, Iras langsung melancarkan protes. "Ayo balik, Sa. Sudah capek gue ribut sama ini nenek sihir." Iras kembali ke dalam dan membereskan buku- bukunya.             "Tapi gue belum selesai, Ras." Keluh Mahesa.             "Lanjut besok- besok aja nggak apa- apa, Sa. Kasihan juga lihat mereka berdua berantem mulu." Kata Ciara dan Mahesa mengangguk lalu membereskan buku- bukunya.             "Makasih ya, Ra, Di." Mereka berdua mengangguk. Keduanya berjalan menajuh hingga akhirnya menghilang di balik gerbang.              "Gue sumpahin si Iras nggak selamat sampai rumah."             "Hust.. kok lo ngomongnya gitu sih."             "Habisnya itu anak suka banget nyari ribut sama gue."             Ciara tertawa pelan. "Hati- hati. Benci sama cinta bedanya tipis, lho." Kata Ciara sambil masuk ke dalam rumah.             "Dih, amit- amit lah gue ama dia."  TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD