Bara membuka laci meja belajarnya, mengambil sebuah kotak berwarna biru muda dan membukanya. Sebelah tangannya mengambil sebuah STNK mobil pemberian ayahnya. STNK dan kunci mobil yang bahkan tidak pernah ia sentuh sesaat setelah menjadi miliknya. Kunci mobil itu dipegang oleh tukang kebunnya untuk dipanaskan karena tak pernah ia pakai. Sebuah sedan legam yang takkan pernah menarik perhatiannya. Benda yang sudah lama ia tenggelamkan di antara barang- barangnya yang lain kini dengan sangat terpaksa harus keluar dari tempatnya.
Ia menarik napas panjang. Ini bukan acara damai. Ia memakai mobil ini bukan karena ia menyerah, tapi karena ia benar- benar membutuhkannya.
"Mobil udah dibersihin, Mang?" tanyanya pada mang Jajang, tukang kebun di rumahnya.
"Sudah, Mas, sudah siap dipakai." Katanya sambil mengacungkan dua jempolnya. Bara masuk ke garasi dan melihat mobilnya yang sudah bersih. Ia memang sengaja menyuruh mang Jajang untuk membersihkan mobil itu karena tahu pasti debu bersenti- senti sudah menempel di mobil yang sudah bertahun- tahun tidak dipakai itu.
Sedan legam itu membelah jalanan ibukota yang tampak padat. Ini salah satu alasan kenapa dia paling malas naik mobil. Jalanan Jakarta sudah terlalu sempit dengan berbagai acara perbaikan jalan, galian lubang dan segala macam yang bikin mobil sport semahal apapun harus jalan seperti keong.
Jam enam kurang lima belas menit, mobil itu berhenti di depan gerbang rumah Ayra. Kali ini tidak perlu menunggu yang punya rumah keluar atau kirim pesan pada Ayra yang tidak pernah ada tanggapan, ia memberanikan diri untuk langsung masuk ke dalam gerbang.
"Ayra-nya ada mbak?" tanyanya pada seorang wanita yang membukakan pintu.
"Ada. Masuk, Mas. Non Ayra lagi sarapan sama pak Wijaya." Katanya sambil mempersilahkan Bara duduk di ruang tamu.
Bara menunggu hingga tiba- tiba terdengar suara, "Kak Bara." Ayra terkejut mendapati Bara tersenyum di ruang tamunya. Ia kira Bi Imah bercanda waktu bilang kalau orang yang motornya dititip kemarin, sekarang ada di ruang tamu.
"Hai. Sudah selesai sarapannya?" tanyanya dengan ramah. Ayra terpaku. Selalu seperti ini. Kenapa laki- laki itu bisa berbeda saat di rumahnya dan di sekolah? Benar- benar aneh. Benar- benar pandai berakting. Benar- benar berbakat jadi aktor.
"Ehm... sudah sih." Jawabnya ragu.
"Papa kamu mana?"
"Ha?"
"Papa kamu mana?"
"Oh... Papa..." ia sedikit berteriak hingga akhirnya Wijaya hadir diantara mereka.
"Pagi, Om. Saya mau ajak Ayra berangkat bareng, Om." Ia mengutarakan tujuannya bertandang pagi- pagi ke rumah itu.
"Kan saya sudah bilang, saya nggak bisa biarin Ayra naik motor." Katanya.
"Saya hari ini bawa mobil kok, Om. Jadi Om bisa tenang."
Ayra dan Wijaya saling bertatapan lalu tersadar kalau sebuah sedan hitam sudah terparkir di depan rumahnya. Wijaya menatap Bara yang tampak meyakinkan lalu menghela napas. "Yaudah, kalian mau berangkat sekarang?" Bara mengangguk sementara Ayra masih terdiam.
"Hati- hati ya, sayang. Nanti kalau sudah sampai sekolah kasih kabar ke papa." Wijaya menyentak Ayra yang masih terbengong- bengong. Ia kembali ke ruang makan untuk mengambil tasnya dan merasa kalau mimpi buruk sepertinya datang lebih pagi hari ini.
Bara membukakan pintu samping untuk Ayra lalu memutari mobil untuk duduk di belakang kemudi. Laki- laki itu membunyikan klakson dan melihat Wijaya menatap mobil itu hingga hilang di tikungan komplek.
Ayra mengarahkan pandangan keluar jendela. Mengabaikan Bara yang bersenandung kecil mengikuti I'm yours milik Jason Mraz yang mengalun lembut.
"Kok ngelewatin sekolah, Kak?" tanya Ayra heran saat melihat mobil itu melewati gerbang sekolah mereka.
"Lo lupa atau nggak tahu? Kepsek kan nggak ngebolehin murid bawa mobil. Jadi kita harus parkir di masjid samping." Jelasnya. Ayra hanya membulatkan mulutnya.
Bara sudah membuka pintu samping saat melihat Ayra sibuk mengaduk- aduk isi tasnya. Wajahnya terlihat panik dan tergesa- gesa. "Kenapa, Ay?"
"Saya lupa bawa topi, Kak. Hari ini kan upacara. Aduh, kenapa bisa lupa gini sih." Keluhnya pada diri sendiri. Ayra sudah mengucapkan sumpah serapah dalam hati. Menyesali kecerobohannya kali ini. Bagaimana bisa ia lupa hal sefatal ini. Ini mimpi buruk.
"Yaudah ayo masuk aja. Memang diam di sini bisa bikin topi itu muncul tiba- tiba." Bara berusaha menarik tangan Ayra keluar dari mobil dan merasakan tangan itu sudah dingin. Ia mengandeng tangan itu santai, tidak menyadari wajah Ayra yang sudah memucat.
Genggaman itu memasuki gerbang tepat setelah bel berdering. Semua anak sudah mulai berbondong- bondong menuruni tangga dengan rasa malas yang sudah menggunung. Upacara bagi murid itu sebagian dari bencana. Percayalah, tidak ada siswa yang dengan ikhlas ikut upacara, dijemur dibawah sinar matahari pagi- yang kata orang sih sehat- dan dengerin ceramah panjang lebar yang membahas hal yang itu- itu aja.
Tidak ada waktu untuk menaruh tas di kelas sehingga Bara menarik tangan Ayra ke depan ruang serbaguna dan melempar tasnya ke kursi di depannya. Ayra masih terlihat ragu sehingga ia butuh waktu lama untuk melepas tas dalam gendongannya.
"Tenang aja. Lo paling cuma dipajang di depan mimbar. Nggak buruk kok. Kembaran lo aja udah pernah dan dia baik- baik aja kan." Bara terkikik melihat Ayra yang wajahnya sudah pucat pasi. Ia mengambil topi dalam tasnya lalu menggandeng Ayra ke barisan kelasnya. Anak-anak sudah mulai memadati lapangan dan mulai berbaris. Ayra tidak masalah dapat hukuman apapun asalkan jangan dipajang di depan mimbar karena itu akan sangat memalukan.
Bara mendekat saat barisan sudah rapi. Ia menarik Ayra dan membawanya ke barisan paling depan. Teman- teman sekelas Ayra menatap keduanya bingung.
Mati gue. Desis Ayra. Dia belakang saja dia sudah pasti ketahuan, apalagi di depan. Tapi laki- laki di depannya tampak tenang dan memang mungkin inilah rencana Bara. Dia hanya perlu bermain sedikit hingga akhirnya membuat perhitungan pada Ayra. Meskipun ini memang kesalahannya.
"Karena lo pendek, jadi lo harus di depan." Katanya saat menempatkan Ayra di barisan paling depan. Bara menghadapkan tubuh Ayra ke depan. Memaksanya menatap mimbar yang tepat ada di depannya. Ayra mengigit bibirnya panik hingga akhirnya merasakan sesuatu di atas kepalanya. Ia menoleh dan melihat Bara melambai sambil menjauh. Tangannya memegang kepalanya, menyadari bahwa topi milik Bara kini bertengger di atas kepalanya. Tubuh tegap itu menghilang ditelan barisan kelasnya dan ia merasakan wajahnya memanas.
***
Bara terpaksa bersembunyi di kantin sementara anak- anak lain mengikuti upacara. Alasannya? Selain karena topinya sudah ia hibahkan pada Ayra, juga karena ia sedang tak ingin jadi tontonan. Ia menyantap bubur ayamnya dengan backsound suara lantang pembina yang tengah membacakan pancasila. Bukan backsound yang enak di dengar, tapi ia tak punya pilihan lain.
Ia meraih ponsel dalam sakunya lalu mengirim pesan kepada Wijaya. Iya, Wijaya. Punya nyali juga dia. Karena memang sudah tidak ada waktu untuk mundur, ibarat kata, sudah terlanjur basah.
***
Pagi ini benar- benar terik. Peluh menghiasi kening setiap anak. Terutama barisan depan. Barisan yang paling potensial untuk merasakan panasnya sinar matahari yang sebenarnya sama seperti matahari di Bali. Tapi kalau di Jakarta, sama sekali tidak ada nikmat- nikmatnya. Mereka berusaha menurunkan topi mereka sebisa mungkin atau mungkin menunduk demi menghalau sinar matahari ke wajahnya.
Mahesa yang berada di barisan paling belakang sangat- sangat mengerti apa yang di rasakan kaum- kaum minimalis yang terpaksa harus berdiri di depan. Memang kalau mau selamat dari upacara itu harus tinggi. Karena yang tinggi tidak akan mungkin disuruh baris di depan. Bisa bebas ngobrol sepuasnya. Akses mudah, baris belakangan, kabur duluan.
Ia mencolek orang di depannya. "Ke belakang." perintahnya. Laki- laki di depannya mundur sementara ia melangkah maju. Terus sampai ia berada di barisan agak depan. Mengambil posisi agar bisa sedikit menghalagi Ciara dari panas yang semakin terik. Ia tersenyum pada Ciara yang langsung menatapnya. Menyadari bahwa sosok menjulang yang baru saja maju itu ternyata menyelamatkannya dari terik yang sudah serasa membakar kulitnya sejak tadi.
Mahesa menatap ke depan. Posisi istirahat di tempat dan memperhatikan pembina yang sedang memberikan ceramah. Tidak menyadari bahwa kulit putih muridnya sudah memerah sementara kulit hitam muridnya yang sudah semakin gosong.
"Lihat tuh, Mud. Bener kan gue bilang. Mahesa tuh ada rasa sama Ciara." Kata Aldi dan tindakan Mahesa mengudang berbagai pertanyaan di bagian belakang. Mereka tidak lagi memperhatikan pembina di depan melainkan membicarakan apa yang terjadi dengan Mahesa dan apa yang membuat laki- laki yang biasa cuek itu mendadak baik kepada Ciara.
"Ayo taruhan, kita lihat sampai pertengahan semester. Mereka jadian atau nggak?" kata Doni yang langsung disambut setuju teman- temannya yang lain.
"Kita lihat, Mahesa beneran naksir atau cuma PHP-in Ciara." Jelasnya. Dan semua anak langsung sibuk berspekulasi.
"Kasih jawabannya besok jam pulang ya. Pikirin baik- baik deh tuh." kata Doni si bandar judi. Teman- temannya mengangguk. Sibuk mengartikan semua yang dilakukan Mahesa. Bahkan sekarang, saat upacara masih berlangsung, mereka semua menatap satu fokus yang sama. MAHESA. Mengartikan gerak- gerik laki- laki itu sampai senyum yang dilempar Mahesa kepada Ciara. Mereka seperti g4y yang sedang memperebutkan mangsa.
Keanehan Mahesa tentu disadari oleh teman-temannya yang lain. Semenjak dipaksa duduk di samping Ciara, laki- laki itu jarang terlambat, jarang bolos, dan jarang berulah, meski masih suka menggoda guru- guru. Yang jelas, kemajuan pesat terlihat dari sosok Mahesa.
Seperti istirahat kali ini, ia lebih memilih menolak ajakan Iras ke kantin demi mengulang pelajaran bersama Ciara.
“Otak juga perlu istirahat, Sa. Kalau Ciara mah sudah kebal. Nah elu, bisa berasap tuh kepala kalau diforsir terus." Seru Iras yang mengundang gelak tawa dari temannya yang lain.
"Berisik lo, ah. Tar istirahat kedua juga gue ke kantin." Jawabnya lalu melihat ke arah Diana yang masih duduk di bangkunya.
"Di, antarin Iras ke kantin gih." Diana langsung mendengus.
"Dih, rugi banget gue buang- buang tenaga nganterin dia."
"Lagian siapa juga yang mau dianterin sama lo. Mending juga minta anterin Mayang." Ia menoleh ke arah Mayang lalu tersenyum pada gadis itu. "Mayang, anterin abang Iras ke kantin yuk." Gadis itu mengangguk dan langsung berdiri.
"Dasar cewek gatel." Keluh Diana saat melihat dua orang itu keluar dari kelas. Ia bangkit dari kursi lalu duduk di depan Ciara.
"Aduh, lo ngapain sih, Di. Ganggu gue lagi belajar aja." Mahesa menaruh pulpennya dan melihat tampang kesal Diana.
"Ih, apaan sih. Orang gue cuma duduk doang. Ngomong juga nggak. Ganggu dari segi mananya coba." Keluh Diana.
"Aura lo terasa. Mengganggu konsentrasi gue banget." Jawaban polosnya membuat Ciara mengulum senyum. Setelah puas misuh- misuh, Diana keluar dari kelas. Meninggalkan Mahesa yang masih terus tertawa.
“Lo jangan jahat apa jadi orang.” Protes Ciara. Mahesa menoleh dan menatap Ciara lekat- lekat.
“Jahat gimana?” tanyanya.
“Ya omongan lo itu.” Ciara memperjelas.
“Nggak jahat, ah. Biasa aja.” Mahesa membela diri. Ia masih menatap Ciara yang sudah mengalihkan tatapan darinya. Gadis itu menatap buku cetak di depannya dan menuliskannya sesuatu pada buku latihannya.
Mahesa tersenyum, ia tidak tahu sudah sejak kapan ia menyukai melihat Ciara dari dekat. Rambut panjang gadis itu yang selalu terurai rapi melewati bahu, kulit kuning langsat, mata kecil yang dibingkai bulu mata lentik juga senyum kecil yang membuatnya terpesona.
Ia tidak menyangka bahwa ia sudah mengenal gadis itu selama dua tahun lebih. Ia bingung apa yang sudah ia lakukan sebelumnya sampai tidak pernah memerhatikan gadis itu. Ia sepertinya telah menyia- nyiakan banyak waktunya selama sekolah di sana.
Mahesa kembali menatap buku di depannya dan menyalin catatan Ciara. Laki- laki itu bertanya apa saja yang tidak ia mengerti dan Ciara menjawabnya dengan sabar.
Dua orang guru yang lewat di depan kelas berhenti saat melihat Mahesa masih duduk manis di bangkunya saat jam istirahat.
“Harusnya daridulu kita pindahin Mahesa ke depan.” Kata bu Ami pada bu Yeni yang ada di sebelahnya.
“Iya, ya. Harusnya kita dari awal minta dia duduk di samping Ciara.” Bu Yeni menatap anak badung yang sudah kebal dengan semua hukumannya itu baik- baik. Laki- laki itu tengah berkutat dengan pulpen dan buku tulis di atas meja.
Kedua guru itu saling pandang lalu tersenyum dan kembali melanjutkan perjalanan mereka ke ruang guru yang ada di lantai paling bawah.
“Kalau gue nanti bisa lulus UN, gue janji bakal traktir lo makan enak.” Kata Mahesa.
Ciara tersenyum lalu menggeleng, “nggak perlu.” Jawabnya. “lo lulus aja gue udah senang.” Kata Ciara. Dan saat menerima tatapan menyelidik dari Mahesa, ia menyesal mengatakan itu.
“Maksud gue, kita kan masuk bareng- bareng, alangkah baiknya kalau lulus bareng- bareng juga.” Ciara meralat ucapannya sebelum Mahesa salah mengartikannya.
Mahesa tersenyum lalu bertanya, “Setelah lulus mau ke mana?”
Ciara tampak berpikir sejenak lalu menjawab, “Gue mau cari beasiswa untuk masuk fakultas kedokteran.” Ia tersenyum melihat Mahesa membelalakan matanya.
“Fakultas kedokteran?” Mahesa mengulang lalu melihat Ciara mengangguk mantap. Mahesa akhirnya tersadar bahwa dengan otaknya, Ciara bisa menjadi apapun yang ia mau.
“Gue doain jalannya lancar.” Kata Mahesa.
“Thank you. Lo sendiri mau ke mana setelah lulus?” Ciara balik bertanya pada Mahesa yang langsung mengangkat bahu tak acuh.
“Belum kepikiran.” Jawabnya singkat.
“Ish, gimana sih, nanti biar gue bantuin belajar untuk masuk ke kampus yang lo mau.” Ciara menawarkan namun lagi- lagi Mahesa menggeleng singkat.
“Gue belum kepikiran mau kuliah atau nggak.” Jawab Mahesa.
“Lo punya orangtua yang masih bisa bayarin kuliah lo, kenapa nggak lo manfaatin, sih.” Kata Ciara, “lo nggak tahu berapa orang yang mati- matian pengin kuliah tapi terpaksa mengubur mimpi mereka karena keterbatasan biaya.”
Mahesa mengangkat bahu dengan tak acuh. Ia tidak pernah sibuk berpikir akan menjadi seperti apa ia nantinya. Ia hanya ingin menjalankan hidupnya seperti biasa dan tanpa beban. Dan kembali berkutat dengan semua mata pelajaran di kampus seprtinya bukan pilihan yang baik.
TBC
LalunaKia