Kelas sepuluh empat tengah memenuhi lapangan pada jam olahraga selepas istirahat pertama. Anak- anak perempuan diadu untuk basket sementara anak laki- laki bermain volly. Jika lima perempuan memainkan bola oranye itu secara asal- asalan dan mengundang tawa, lain halnya dengan Lara. Gadis itu cukup mumpuni dalam permainan itu. Ia beberapa kali mencetak gol dan membuat teman- temannya menatap heran sementara anak laki- laki menatapnya kagum.
Tapi satu banding lima bukan hal mudah. Lara harus berulang kali berteriak karena baik teman satu tim ataupun lawannya melanggar peraturan. Lima orang yang buta bakset itu dengan seenak jidat memeluk bola hasil rebutannya dan mendekat ke arah ring dan melemparnya, yang bahkan dalam jarak dekat-pun bola itu malah meleset ke mana- mana.
Bukan sekali dua kali Lara harus menjelaskan peraturan singkat permainan basket, yang sebenarnya tugas Pak Budi, guru olahraganya, tapi ia terlalu gatal untuk mengomentari permainan basket dari anak yang biasanya cuma main lipgloss dan cat kuku.
"Oy, ini buka sepak bola. Jangan ditendang."
"Kenapa bolanya dikekepin sih.”
Lara sudah bosan meneriaki lebih dari selusin pelanggaran yang hanya disambut bingung oleh lawan dan teman satu timnya.
"Dia ngomong apaan sih?" kata Nana, tim lawan.
"Nggak ngerti gue juga."
Lara menjatuhkan diri di pinggir lapangan. Dia bukan lelah karena bermain basket, tapi karena lelah meneriaki teman- temannya yang main dengan amburadul, tidak terarah dan sepertinya tidak bisa diarahkan.
Teman- temannya yang lain ikut menjatuhkan diri di samping Lara. "Lo tadi neriakin apaan sih, Ra?" tanya Dini yang sedari tadi kebingungnan.
"Gila, gue teriak daritadi kalian nggak ngerti apa yang gue teriakin?" Lara terperangah melihat teman- temannya menggeleng.
"Itu pelanggaran yang lo semua lakuin."
"HAH?"
"Basket itu juga ada peraturannya kali. Nggak seenaknya nangkep bola dan masukin ke ring."
"Oh. Yailah, kan juga cuma main- mainan, Ra". Lara menggeleng. Basket memang sepertinya bukan olahraga yang cocok buat anak yang biasa menghapal nama- nama artis korea.
"Butuh lawan?" Bola oranye itu di driblle di depan Lara. Gadis itu mengangkat wajahnya dan menemukan Bara berdiri di depannya. Lara langsung berdiri dan menatap Bara yang tampak percaya diri.
"One on one." Lara merebut bola itu dan langsung membawanya ke tengah lapangan. Bara tersenyum sinis.
Pertandingan itu langsung menjadi pusat perhatian. Sebelumnya tidak ada yang tahu kemampuan Lara dalam mengoperasikan bola oranye itu, tapi kini, mereka semua boleh mengacungkan empat jempol mereka untuk mengakui kemampuan Lara.
Pertandingan itu berlangsung sengit. Bara tidak menyangka bahwa Lara bisa dibilang mahir dalam hal ini. Gerakannya luwes dan sangat terarah, tampak tenang dan teratur, tembakannya selalu tepat sasaran sehingga tidak sulit untuk gadis itu menyamakan posisi Bara.
Lima- lima. Tujuh menit berlalu dan tidak ada yang kembali mencetak skor. Mereka berdua sibuk mendriblle dan merebut bola dari lawan. Mendekati ring lalu bola kembali direbut, begitu seterusnya. Semua anak sudah bersorai, anak kelas sepuluh tentu menyemangati Lara dan berharap kalau gadis itu paling tidak menyamakan kedudukan meskipun tidak unggul. Sedangkan beberapa anak yang menonton dari tepi koridor hanya berharap salah satu dari mereka ada yang kalah karena mereka sadar, perlawanan kali ini sebanding. Keduanya sama- sama kuat, sama- sama berbakat dan sama- sama tidak mau mengalah.
Skor lima- lima tidak bertambah lagi bahkan saat Kamal meneriakkan bahwa waktu sudah habis. Mereka berdua terengah- engah. Saling berhadapan, Lara tersenyum jumawa meskipun ia tidak menang, sementara Bara menatapnya datar.
"Kita coba lagi lain kali." kata Lara sambil menuju ke pinggir lapangan dan menerima botol air mineral yang diangsurkan Kamal.
***
Rapat OSIS kali ini lengkap dengan kehadiran Bara. Mereka semua tengah membahas persiapan akhir untuk kegiatan LDKS yang akan dilaksanakan minggu ini.
Transportasi, OK. Konsumsi, OK. Kerjasama, OK dan segala perintilan lainnya sudah OK.
"Mohon kerjsamanya, ya. Terutama untuk kelas dua belas karena ini terakhir kali kita ikutan kegiatan ini. Pertengahan semester kita harus lepas jabatan untuk persiapan ujian." Kata Ciara, mengingatkan teman- teman angkatannya bahwa masa kejayaan mereka akan segera berakhir.
"H-1 nanti kita follow up buat yang terakhir kalinya." Semua orang mengangguk.
Rapat itu dibubarkan langsung oleh si ketua OSIS. Mereka membereskan berkas- berkas mereka dan keluar dari ruangan satu persatu.
"Gue antar balik ya, Ra." Tawar Bara. Ciara langsung menggeleng cepat.
"Nggak apa- apa. Kita searah kan?"
"Nggak usah, gue bisa balik sendiri." kata Ciara saat keluar dari ruang OSIS.
"Udah sore, nanti lo kemaleman aja." Bara menarik tangan Ciara yang sudah mulai berjalan agar berhenti.
"Nggak usah, ih. Gue udah biasa balik sendiri." Ia berusaha melepas genggaman itu tapi tidak juga terlepas. Bara tetap mencekal tangan Ciara yang mulai berusaha meronta. Ia tersenyum dalam diam, karena tahu ada seseorang yang tengah memerhatikannya, orang di tengah lapangan itu menatap Bara dengan tajam. Berusaha menahan diri untuk tidak mendekat dan menghajar Bara saat itu juga.
"Yaudah deh kalau gitu. Hati- hati, ya." Dan sekali lagi, ia mengusap kepala Ciara dan langsung mendapat tatapan bingung dari gadis itu.
"Dasar aneh." Sungutnya sambil berjalan menjauh.
Mahesa tahu apa yang ada dipikiran Bara. Dia tahu apa rencana Bara dan dia tahu, sudah tidak ada gunanya menjaga jarak dari Ciara. Yang harus ia lakukan justru menjaga gadis itu dan tidak memberikan celah bagi Bara sedikitpun.
***
Lara hanya menyukai tiga hal di dunia ini. Sanggar, basket dan Kamal. Tiga hal yang selalu setia bersamanya. Lapangan basket di komplek itu hanya berisi mereka berdua. Kamal yang sudah berpeluh terduduk di pinggir lapangan sementara Lara masih mendriblle bola dan memasukkannya ke dalam ring. Kamal membuka air mineral dan meneguknya hingga tersisa setengah. Ia mengambil ponsel dan melihat jam yang tertera. Pukul 20.13. Matanya kembali beralih ke arah Lara yang tampak tidak merasa lelah. Ia masih begitu bersemangat meski tubuhnya sudah banjir keringat.
"Istirahat dulu, Ra. Nggak capek apa?" teriaknya bertepatan dengan satu tembakan yang kembali tepat sasaran. Lara menghela napas kasar lalu mengatur napasnya yang terengah- engah. Ia berbalik dan berjalan menghampiri Kamal di pinggir lapangan.
"Lurusin kaki lo." titah Lara sambil meminum air dari botolnya. Kamal menurut. Ia menyelonjorkan kedua kakinya yang sedari tadi ditekuk. Lara duduk lalu menaruh kepalanya di kaki laki- laki itu lalu memejamkan matanya. Kamal tersenyum, ia mengelus dahi Lara yang berkeringat. Meminggirkan anak- anak rambut yang menutupi dahi gadis itu.
"Sampai kapan mau kayak gini terus?" tanyanya pada Lara yang masih memejamkan matanya.
"Gini gimana?" sahutnya tanpa membuka kelopak matanya.
"Ya, elo?"
"Gue kenapa?"
Kamal menghela napas. Percuma memang membahas masalah ini pada Lara karena gadis itu jago ngelesnya setara sama abang bajay.
"Jangan tidur di sini, ih. Ayo balik." Kamal mewanti- wanti saat melihat napas Lara yang mulai teratur. Dia kapok membiarkan Lara tertidur di lapangan. Pasalnya, anak itu kalau sudah tidur seperti orang pingsan. Tidak akan bangun kalau tidak diguyur pakai air seember. Dulu, ia terpaksa menitipkan sepedanya di salah satu pos satpam dan menggendong Lara sampai rumah. Dan Rasanya? Luar biasa, Lara biar kurus ternyata berat juga.
"Gendong ya. Gue capek banget nih." Pintanya sambil membuka mata dan tersenyum. Kamal langsung melotot sambil menggeleng.
"Lo berat, Ra. Sumpah." Kalau biasanya cewek paling sensitif ngomongin berat badan, lain halnya dengan Lara. Dia tidak akan tersinggung kalau membicarakan hal- hal sensitif yang biasanya membuat cewek lain uring- uringan.
"Gue sudah kurusan tahu, Mal. Lo nggak tahu kan? Makanya gendong gue. Biar lo percaya kalau gue sudah kurusan." Lara menunjukkan raut wajah memelas sekaligus harap- harap cemas.
"Nggak mau." Kekeuhnya.
"Gitu banget." Lara mendesis.
"Bodo."
"Yaudah, gue nggak mau pulang." Lara bangun dan melipat tangannya di depan d**a. Melancaran aksi merajuk yang membuat Kamal mati kutu.
"Yaudah ayo. Terus sepedanya gimana?"
"Titipin di pos depan aja." Katanya girang.
Setelah menitipkan sepedanya, mereka berdua -atau Kamal lebih tepatnya-, berjalan menyusuri komplek menuju rumah Lara. Lara sendiri sibuk melihat langit yang tampak lebih indah malam ini. "Langitnya lagi bagus banget, Mal. Banyak bintangnya." Lara menujuk ke atas, sementara sebelah tangannya melingkari leher Kamal.
"Nggak usah kode. Besok masih sekolah." Sungut Kamal. Dia tahu, kalau Lara sudah bilang "Langitnya lagi bagus banget, Mal. Banyak bintangnya." Itu kode kalau Lara mau buka tenda di taman belakang rumahnya. Tidur beralaskan matras sambil melihat bintang. Kalau besoknya libur sih tidak masalah, tapi Kamal tidak berani kalau masih hari sekolah karena mereka pasti akan begadang. Lara bakal minta dimainin gitar sampai tengah malam, terus minta di dongenging setelahnnya agar bisa tidur dan ujungnya, mereka bakal tidur lewat dari jam tiga pagi.
Lara tertawa lalu mencubit pipi Kamal dengan gemas. "Lo tuh memang tahu banget gue ya.”
***
Mahesa menatap gerbang merah marun di depannya. Gerbang rumah sederhana dan tampak sepi dari luar. Setelah menimang sebentar, ia akhirnya memberanikan diri turun dari mobilnya dan mendekat ke dalam gerbang. Ia menatap gerbang yang terbuka setengah lalu mendekat ke pintu.
Sebelah tangannya terayun untuk mengetuk pintu itu beberapa kali. Tak lama, pintu terbuka dan menampilkan sosok Dewi di baliknya.
“Malam, Tan.” Sapanya ramah sambil mencium punggung tangan wanita itu.
“Malam. Mau ketemu Ciara, ya?” tanyanya.
“Iya, Tan.”
“Masuk dulu, Cianya lagi ke minimarket sebentar.” Kata Dewi.
“Oh, saya nunggu di sini aja, Tan.” Jawab Mahesa.
“Yaudah kalau gitu.” Dewi kembali masuk ke dalam rumah sementara Mahesa duduk di bangku yang tersedia di beranda rumah. Ia melirik jamnya tepat saat sebuah sepeda motor masuk ke dalam pekarangan rumah. Ciara terkejut melihat Mahesa duduk di teras rumahnya.
Gadis itu turun dari motor lalu mengambil barang belanjaannya dan membawanya mendekati Mahesa.
“Lo kok di sini?” tanyanya. Ia duduk di kursi kosong, di pisahkan oleh meja bundar di tengah- tengah. “kita nggak ada janji kan?” Ciara tampak mengingat- ingat dan merasa tak membuat janji apapun pada laki- laki itu malam ini.
“Nggak ada. Gue mau main aja.” Katanya.
Ciara mengambil minuman kaleng dari kantong plastiknya dan menaruhnya di atas meja.
“Main? Nggak bosen lo, udah setengah hari ketemu gue di sekolah.” Kata Ciara yang langsung membuat Mahesa terkekeh.
“Gue abis ke rumah Iras, tapi anaknya nggak ada. Jadi gue ke sini, deh.” Kata Mahesa.
“Yailah, memang teman lo Iras doang apa.” Ciara tak habis pikir kenapa laki- laki itu memilih untuk datang ke rumahnya dibanding ke rumah anak laki- laki lain yang ada di kelasnya.
“Iya, kan teman gue memang cuma Iras.” Kata Mahesa, “sama elo.” Lanjutnya. Ciara berdecak melihat Mahesa terkekeh pelan. “Memangnya lo pernah ngelihat gue main sama anak lain selain Iras?” tanya Mahesa.
Ciara menggeleng pelan. Ia tahu, hanya Iras yang selalu ada di samping laki- laki itu. Ia tak tahu apa memang hanya Iras yang cocok dengannya, atau memang ia tidak ingin bergaul dengan anak lain selain Iras.
“Lo udah makan belum? Makan di luar, yuk.” Ajak Mahesa.
“Udah… gua udah makan.” Jawab Ciara.
“Yah, gue belum makan, nih. Temenin makan, yuk.” Pinta Mahesa.
“Nggak mau, ah.” Tolak Ciara. “lo balik aja sana. Makan di rumah. Memang nggak ada yang nyariin apa, udah malam gini masih keluyuran.” Lanjutnya.
“Rumah gue sepi kayak kuburan. Pulang juga percuma, pasti gue tetap makan sendiri.” Ciara menatap wajah Mahesa yang tersenyum kaku. Ciara tahu ada yang tidak beres dari keluarga laki- laki itu. Ia tahu laki- laki itu kerap menghabiskan banyak waktunya di luar rumah. Ciara tak berani bertanya lebih lanjut. Ia tak ingin membuat laki- laki itu tak nyaman dengan mengorek privacynya.
“Lo mau makan apa?” tanya Ciara akhirnya.
Mahesa tampak berpikir sebentar, “yang enak dekat sini apa?” tanyanya.
Ciara akhirnya mengajak Mahesa pergi ke depan taman perumahannya. Tempat di mana para penjual berkumpul dan ramai saat malam. Ia berpamitan pada ibunya dan menyuruh Mahesa agar memakai motornya saja karena jarak yang dekat.
Mahesa menurut lalu mengambil kunci yang diulurkan Ciara. Ia menaiki motor matik itu dan memutar kunci saat memastikan Ciara sudah duduk di belakangnya. Ia menarik gas dan melajukan motor itu menuju tempat yang ditunjuk Ciara.
Mahesa merubah sedikit posisi spion agar bisa melihat Ciara yang duduk di belakangnya. Ia fokus pada jalanan namun sesekali melirik ke spion. Rambut panjang gadis itu di kuncir dan anak- anak rambutnya tertiup angin. Ia tersenyum tanpa sadar, entah sejak kapan wajah gadis itu terasa seperti candu buatnya.
Mahesa menghentikan sepeda motor itu di parkiran yang telah di sediakan. Ia lalu menatap warung- warung bertenda yang ada di sana. Ciara sudah turun dari motor dan melihat Mahesa yang tampak meneliti tenda di sekitarnya satu persatu.
“Yang enak yang mana, Ra?” tanyanya pada Ciara.
“Cari aja yang ramai.” Jawab Ciara asal.
Mahesa terkekeh lalu turun dari motor dan menghampiri penjual ayam bakar. Ciara mengekor di belakangnya dan ikut duduk saat Mahesa memilih satu meja yang kosong. Mereka lesehan di tempat itu, dipisahkan oleh meja panjang berbahan kayu.
Mahesa memesan seporsi ayam geprek beserta minum sementara Ciara hanya memesan segelas es teh manis. Tak lama, pesanan mereka berdua disajikan. Ciara menatap Mahesa yang makan dengan lahap.
Ciara tak mengerti kenapa ia dan Mahesa bisa begitu dekat padahal sebelumnya, keduanya tak pernah saling berhubungan, bahkan mengobrolpun jarang. Ia dan Mahesa berada di dunia yang berbeda. Ciara sibuk dengan kegiatan belajarnya sedangkan Mahesa sibuk membolos. Ia tidak tahu apa yang membuat laki- laki itu mendekat tanpa canggung bahkan saat keduanya tak pernah terlibat hubungan sebelumnya. Laki- laki itu seperti kawan lama yang kini bertemu kembali.
TBC
LalunaKia