"Mau ke kantin ya, Ra. Ikut dong." Ciara yang sudah berdiri terpaksa kembali menoleh ke arah Mahesa yang sedang menaruh bukunya di kolong meja.
"Eh, gue mau ke perpus." Jawabnya.
Mahesa terdiam lalu nyengir. "Yaudah, gue ikut kalau gitu."
Ciara memandang sarkastis. "Mau ngapain ikut ke perpus?"
"Mau godain Mei." Jawabnya asal. Ciara membulatkan mulutnya lalu mulai berjalan. Saat baru sampai ambang pintu, ia menoleh mendengar suaranya dipanggil.
"Mau ke mana, Ra?" tanya Diana sambil berjalan cepat menghampirinya dan memandang sinis ke arah Mahesa yang akhir- akhir ini sering banget mengikuti Ciara pergi ke manapun.
"Mau ke perpus."
"Gue ikut deh." Kata Diana.
"Ih, ngapain sih lo ikut- ikut?" tanya Mahesa dengan nada menantang. Sebelah alis Diana terangkat.
"Lha, kenapa emang? Masalah banget buat lo?" jawabnya tak kalah galak.
Mahesa melirik ke Iras yang duduk tak jauh dari tempatnya dan memberikan sebuah isyarat. Iras yang selalu kebagian getahnya hanya bisa menghela napas kasar lalu berjalan menghampiri mereka.
"Lo, ikut gue." Katanya pada Diana dan langsung menggandeng tangan gadis itu ke arah kantin. Tidak memedulikan Diana yang meronta di belakangnya.
"Eh, itu Diana nggak apa- apa?" Ciara hampir saja mengejar Iras kalau saja tangannya tidak ditahan oleh Mahesa.
"Tenang aja. Diana nggak bakal diapa- apain kok. Yang ada, Iras yang bakal diapa- apain sama Diana." Ia terkekeh lalu menarik tangan Ciara ke arah berlawanan. Ke tangga yang lebih dekat untuk menuju perpustakaan di lantai satu.
Mei menatap heran Mahesa yang datang ke perpus tidak bersama guru. Biasanya Mahesa ke perpus karena dapat hukuman dari guru, tapi sekarang...
"Ngelihatinnya biasa aja. Ngeliat gue masuk perpus kayak ngeliat setan masuk masjid." Sentak Mahesa saat melihat Mei menganga sementara Ciara terkekeh pelan.
Sosok mungil Ciara langsung tertelan rak- rak yang menjulang tinggi. Mahesa mengikuti di belakangnya. "Lho, lo katanya mau godain mbak Mei?" tanya Ciara heran saat melihat Mahesa justru mengekorinya.
"Tadinya, tapi ternyata magnetnya ada di elo. Gue jadi ketarik lo mulu deh." Mahesa nyengir kuda sementara Ciara menatapnya dengan raut wajah bingung. Tidak berniat menanggapi omongan Mahesa yang baginya tidak bermakna, ia melanjutkan pencariannya. Meneliti satu persatu buku- buku di rak di depannya. Pilihannya jatuh ke salah satu buku fisika yang tebalnya membuat Mahesa tiba- tiba merasa ingin muntah.
"Buat apa?" tanya Mahesa saat Ciara menyerahkan buku itu pada Mei untuk dicatat dalam buku peminjaman.
"Mau ada lomba fisika." Setelah mengucapkan terima kasih pada Mei, ia keluar dari perpustakaan, masih dengan Mahesa yang setia mengikuti di belakangnya.
"Mau ke kantin dulu?" tanya Mahesa.
"Boleh deh, gue mau beli minum." Mereka berdua memutuskan untuk ke kantin kelas sepuluh dan kelas sebelas karena kantin itu yang paling dekat. Suasana kantin itu lebih ramai dari kantin kelas dua belas karena dihuni oleh dua angkatan.
"Adik, permisi ya, gue mau duduk di sini." Kata Mahesa pada salah satu anak yang tengah menghuni satu meja panjang yang ada di sana. Adik kelas itu tidak butuh waktu untuk berpikir, mereka mengangguk lalu angkat kaki. Ciara menggeleng pelan.
"Harus ya ngusir orang gitu." Keluh Ciara.
"Percuma jadi senior kalau ke kantin juniorr masih harus repot- repot nyari bangku kosong." Jawabnya sambil memanggil salah satu adik kelas yang terdekat. "Minta tolong beliin Jus alpukat ya. Lo mau minum apa, Ra?" Gadis itu tampak berfikir sejenak lalu menjawab.
"Jus jeruk aja." Setelah mendapat selembar uang dari Mahesa, anak laki- laki itu menghilang di antara kerumunan orang yang masih menuntut makan dari para penjual.
Mahesa menatap sekeliling hingga matanya menangkap Bara yang duduk di pojok, yang juga tengah menatapnya. Dua pasang mata itu saling membiaskan banyak rasa yang terlalu angkuh untuk diutarakan. Mahesa lalu beralih ke seorang gadis di depan Bara, yang duduk membelakanginya. Tidak perlu menebak karena Mahesa langsung tahu siapa gadis itu. Ayra, kembaran gadis musuk bebuyutan Bara
Mahesa yang pertama kali memutuskan kontak mata itu. Ia kembali menatap Ciara yang sudah menyesap jusnya sedangkan miliknya sudah tergeletak di depannya.
"Jusnya kemanisan nih." Keluh Mahesa.
"Masa?"
"Eh, mungkin karena gue minumnya sambil ngeliatin elo kali, ya." Mahesa tertawa garing sementara Ciara menatapnya datar. Sangat datar. Nyaris tanpa ekspresi. Menganggap Mahesa seperti baru saja berbicara dalam bahasa asing yang begitu sulit dimengerti.
"Bara...!!!" Suara itu menggelegar, sebelum Mahesa sempat protes pada raut wajah Ciara yang begitu polos. Ia menoleh ke asal suara. Di ambang pintu, Lara berdiri dan matanya langsung dengan jeli menatap Bara yang berada di pojok kantin. Ia melangkah lebar- lebar menuju Bara dan tidak terkejut melihat saudara kembarnya ada di sana.
Ia berdiri di depan laki- laki itu dan melempar kotak yang sedari tadi dibawanya. Semua anak menjerit saat begitu banyak cacing keluar dari kotak yang baru saja dilempar Lara. Ayra langsung berdiri dan beringsut menjauh saat hewan menggelikan itu mendominasi meja di depannya.
"Lo pikir gue takut sama cacing?" kata Lara. "Kalau iya, lo salah." Lara maju dan mengambil cacing itu dengan tangannya, membuat semua anak terperangah. Ada yang salut, ada juga yang mengeryit jijik.
"Gue aja nggak yakin kalau ini hasil tangkapan lo." Lara memainkan binatang itu di telapak tangannya.
"Kalau mau nakutin gue. Pake reptile, kalau perlu pakai anaconda sekalian." Katanya sambil melempar kembali cacing dalam telapak tangannya ke atas meja, berkumpul dengan teman- temannya yang lain. Bara tersenyum sinis. Ia menatap cacing- cacing yang kini menggeliat di atas mejanya.
"Lo ganguin orang makan aja, deh." Katanya sambil berdiri. "Beresin sekarang." Sentaknya. Ia menujuk binatang itu dengan dagunya.
Lara mendengus. "Lo beresin aja sendiri. Itu kan punya lo." Lara melirik Ayra yang berada tak jauh di sampingnya, yang juga tengah menatapnya takut- takut. Lara tidak sadar kalau Bara sudah mendekat dan berdiri di depannya.
"Lo yang gangguin acara makan gue. Lo juga yang harus tanggung jawab." Matanya menyalang tajam menatap Lara yang tampak dingin. Bel masuk menggema di seantero penjuru sekolah. Tapi kenyataannya, semua anak di sana masih saja bergeming. Mereka tidak ingin melewatkan tontonan yang menarik itu.
Bara mengambil segumpal hewan itu dan menyerahkannya kepada Lara. Lara menelan ludah dengan susah payah. "Ambil dan beresin yang ada di meja." katanya. Lara mendengus lalu menggeleng dengan mantap.
"Pada tuli ya semua. Nggak dengar bel?" suara melengking Mahesa menampar semua anak- anak yang ada di sana. "Buruan masuk kelas." para penonton bubar jalan sambil mendesah pelan. Bara mendesis, menyadari bahwa lagi- lagi Mahesa menganggunya.
Mahesa mendekat ke arah Lara. "Kamu, kamu, kamu. Juga balik ke kelas." ia menunjuk Lara, Kamal dan Ayra dengan telunjuknya. Mereka bertiga balik badan dan suara Bara kembali terdengar.
"Ayra berhenti." dan bukan hanya yang dipanggil yang menghentikan langkahnya, tapi Lara dan Kamal juga, mereka langsung berbalik menatap Bara.
"Balik lagi ke sini." katanya. Selama beberapa detik, Ayra hanya menatap Mahesa dan Bara bergantian. "Buruan balik ke sini. Dengar nggak?" suara keras itu menyalaknya. Ia kembali mendekat tapi tangannya dicekal oleh Mahesa.
"Sialan." desis Bara saat melihat Mahesa berani- beraninya menyentuh Ayra. Ia maju dan langsung memberikan pukulan ke wajah Mahesa hingga sentuhan itu terlepas. Ciara yang masih ada di sana menjerit kaget dan membantu Mahesa yang tubuhnya hampir limbung. Ayra, Lara dan Kamal menatapnya tidak percaya.
Bara menarik tangan Ayra hingga jatuh ke pelukannya. Kamal siap mendekat tapi tangannya tertahan oleh Lara.
"Lo boleh selamatkan semua anak yang gue gangguin. Tapi..." ia menegok ke arah Ayra yang tangannya terasa dingin. "Nggak dengan yang ini. Dia milik gue." lanjutnya dengan penekanan yang jelas.
"Lo berdua, balik ke kelas." perintah Mahesa pada Kamal dan Lara yang melangkah dengan berat. Menyisakan mereka berempat.
Mahesa menatap Ayra dalam rangkulan Bara. Gadis itu terlihat pucat dan takut. Ia menghela napas panjang. "Antar dia ke kelas." katanya. Bara masih bergeming hingga akhirnya Mahesa kembali menyentaknya. "Antar dia ke kelas kalau memang gue nggak boleh." hardiknya. Ciara yang berada di sebelahnya hampir terlonjak karena kaget.
Bara membawa Ayra kembali ke kelasnya sementara Mahesa dan Ciara masih berada di kantin. "Nih." Ciara mengulurkan segelas air mineral yang langsung disambut oleh Mahesa.
"Lo nggak apa- apa?" tanya Ciara hati- hati saat melihat Mahesa hanya diam sambil menyesap air dalam botolnya.
"Itu anak calon tukang pukul kali, ya. Dikit- dikit main hantam aja." keluh Ciara. Menyadari bahwa Bara sangat mudah tersulut emosinya. Tangannya terasa sangat ringan untuk memukul orang lain.
Mahesa tersenyum lalu dengan impulsif mencubit sebelah pipi Ciara, membuat gadis itu langsung terdiam. "Maaf, eh, tapi dulu juga gue suka berantem. Lebih parah lagi." aku Mahesa.
Ciara mengangguk setuju. Dulu memang Mahesa lebih parah. Dia tawuran sudah seperti minum obat. Sehari tiga kali.
"Iya sih. Tapi kok lo bisa tobat gitu sih?" Mahesa tertawa mendengar pertanyaan itu. "Maksud gue, dulu lo ditonjok sekali, pasti balasnya tiga kali. Tapi kenapa dipukul sama Bara nggak balas?" Mahesa tersenyum sumbang.
"Karena gue tahu, mukul gue nggak akan bikin dia puas apalagi tenang. Makanya gue nggak akan balas tiap dia mukul gue." dahi Ciara berkerut dalam. Sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan Mahesa.
"Maksudnya?"
"Ada terlalu banyak benang merah yang harus disambung dan cerita sama lo bisa makan waktu berbulan- bulan." jawabnya lebay.
"Yudah, masuk kelas ayo." kata Ciara saat tersadar bahwa bel sudah berbunyi lebih dari lima menit yang lalu.
"Bolos aja, yuk?" ajak Mahesa.
"Ogah. Kalau mau cabut, cabut aja sendiri." Ciara berdiri lalu keluar dari kantin, membuat Mahesa tersenyum lalu mengejar langkahnya yang lebar- lebar.
Tatapan tajam guru menyambut Ciara yang langsung berhenti diambang pintu. "Dari mana kalian?" gertaknya pada dua anak di depannya. Ciara memutar bola matanya seraya mencari alasan.
"Ciara habis nyari saya, pak. Maksa biar nggak bolos di jam pelajaran bapak." jawab Mahesa tenang. Dan wajah tegang guru laki- laki itu perlahan mengendur.
"Ya sudah, duduk." Katanya. Ciara menghela napas dan berpikir untuk mengucapkan terima kasih pada Mahesa. Eh, tapi kan Mahesa juga yang bikin ditelat masuk. Eh, tapi kan dia sendiri yang milih bertahan di kantih. AH!!
***
"Jijik... ih sumpah... amit- amit deh." Lara mengusap- usap telapak tangannya dengan air dari selang yang diulurkan Kamal. Kamal tertawa melihat raut wajah gadis di depannya.
"Lagian, gaya, pake sok- sok- an pegang- pegang itu cacing."
"Namanya juga emosi. Biar nggak ketahuan kalau gue sebenarnya jijik sama itu hewan." Lara menaruh sabun colek yang ia dapat dari salah satu penjual di kantin ke telapak tangannya dan menggosoknya hingga berbusa. Masih terus mengungkapkan betapa jijiknya mengingat hewan invertebrata itu pernah singgah di telapak tangannya.
"Tapi akting lo keren sumpah." Puji Kamal.
"Iyalah, percuma gue jadi anak sanggar kalau akting gitu aja nggak bisa. Lo nggak tahu kan kalau badan gue udah merinding pas pegang itu cacing." Lara masih terus mengerutu sementara Kamal hanya bisa tertawa.
Mereka melewatkan satu jam pelajaran demi acara cuci tangan Lara yang tidak ada habisnya. Dia bahkan minta dicarikan kembang tujuh rupa dan air tujuh sumur kalau bisa, biar merasa kalau tangannya sudah benar- benar bersih.
"Udah sini." Kamal menarik tangan Lara dan mengelap telapak tangan gadis itu dengan tisu. Perlahan menyeka sisa- sisa air yang ada di telapak tangan mulus itu. "Sudah bersih."
***
Satu jam pelajaran terakhir, Ayra dirundung kebingungan. Kejadian tadi siang membuatnya sadar kalau Bara pasti akan lebih intens muncul di hadapannya dengan tiba- tiba. Setelah bingung mengartikan maksud kata- kata Bara di kantin tadi, ia beralih memikirkan bagaimana caranya bisa pulang tanpa ketahuan sama Bara. Bagaimana juga, ia tidak akan pernah melupakan raut marah Bara dan kejadian laki- laki itu memukul Mahesa, kakak kelasnya. Membuatnya takut setengah mati.
"Gimana dong?" bisiknya pada Sisil yang juga sedang berpikir. Ia mendesah melihat Sisil menggeleng. Guru di depannya masih sibuk mencatat di papan tulis.
"Gimana kalau kita minta bantuan kak Mahesa." bisik Sisil. "Cuma dia yang sepadan sama kak Bara. Minta tolong sama yang lain nggak akan ngaruh." lanjutnya. Mencoba memberitahu bahwa itu ide terbaik yang bisa tertangkap di otaknya. "Minta dianterin sampai ke halte aja. Sampai jemputan lo datang. Kak Mahesa orangnya baik kayaknya. Dia sering nyelametin kembaran lo kan." tambahnya. Ayra mengangguk tanpa sadar.
"Tapi, gimana cara minta tolongnya?" kali ini Sisil kembali berpikir dan menyadari bahwa idenya masih belum benar- benar bagus karena sekarang ia masih harus berpikir bagaimana caranya bisa minta tolong pada kakak kelasnya itu.
Nomor telepon nggak punya, naik ke lantai empat nggak mungkin, karena Bara pasti sudah langsung nongol di lantai tiga.
Pemikiran itu belum membuahkan hasil sampai bel pulang berbunyi. Mereka berdua saling menatap, menyadari bahwa waktunya sudah habis. "Nggak ada jalan. Pasrah aja." Ayra buru- buru membereskan buku- bukunya. Berharap bisa mencapai gerbang sebelum Bara sempat menemuinya.
Tapi, kali ini keberuntungan memang milik Ayra. Begitu berdiri dari kursinya, ia melihat Mahesa masuk ke kelasnya. "Lo, ikut gue." Ayra terdiam hingga akhirnya merasakan tangannya digandeng keluar kelas. Ia menoleh ke arah Sisil yang mengangkat bahu.
"Lo dijemput?" tanya Mahesa. Masih menarik Ayra yang terseok- seok mencoba mensejajarkan langkahnya.
"Eng... iya... kak." Jawabnya terbata- bata.
"Dijemput di mana?"
"Di halte, kak."
Mahesa tidak bertanya lagi. Ia terus menggiring gadis itu keluar dari sekolah dan berjalan ke halte.
Mereka tidak sadar, ada sepasang mata yang menangkap pergerakan mereka hingga keluar dari gerbang. Tatapan yang menajam dengan iris mata yang berkilat marah. Dua tangan yang mengepal sempurna dan darah yang bergejolak hebat.
Genggaman itu baru terlepas saat mereka keluar dari gerbang. Keduanya terus beriringan hingga sampai di halte dekat sekolah.
Ayra langsung duduk di kursi besi sedangkan Mahesa bersandar pada salah satu pilar.
"Lo ada hubungan apa sama Bara?" tanya Mahesa tanpa menoleh. Matanya masih terarah pada lalu- lalang mobil di depannya.
"Nggak ada hubungan apa- apa, kak." Ayra menoleh ke arah Mahesa yang tampak tenang. Setelahnya, tidak ada yang berbicara. Suara deru kendaraan bermotor mendominasi suasana yang tercipta.
Ayra baru hendak membuka mulut saat ponselnya berdenting.
Kamal : Ay, lo sama Kak Mahesa kan? Nggak usah nanya yang macam- macam, yang penting dia jagain lo sampai di jemput ya.
Membaca pesan itu, Ayra langsung mengurungkan niatnya untuk berbicara. Ia memerhatikan Mahesa yang tengah menghisap rokoknya.
Mobil jemputan itu menyelamatkan Ayra dari keheningan yang terasa mencekiknya. "Ini jemputan saya, Kak. Makasih ya." kata Ayra sambil tersenyum.
"Hati- hati di jalan."
TBC
LalunaKia