CHAPTER DUA PULUH DUA

2129 Words
            Mahesa kembali ke arah sekolahnya untuk mengambil mobilnya yang diparkir di masjid di samping sekolah. Ia berhenti di depan sekolah saat melihat Ciara berjalan ke arah gerbang.             "Mau pulang?" tanya Mahesa saat Ciara sudah dekat. Gadis itu mengangguk.             "Sendiri?"             "Iya, Diana sudah balik duluan karena ada perlu."             "Yaudah, gue antar, yuk." tawar Mahesa. Ciara langsung menggeleng.             "Nggak usah, gue nggak mau langsung pulang. Ada perlu dulu."             "Yaudah, gue anterin." Ciara tidak sempat menjawab karena Mahesa langsung menarik tangannya ke arah masjid tempat mobil Mahesa terparkir. Di sana, mereka disambut oleh Bara yang sedang menyandar di kap mobilnya yang terparkir tepat di sebelah sedan putih milik Mahesa.             "Gue tunggu di lapangan basket satu jam lagi." kata Bara pada Mahesa. Mahesa tidak menjawab, ia hanya melihat Bara langsung masuk ke mobilnya dan benda beroda empat itu meninggalkan mereka.             "Mau ngapain lagi? Berantem?" tanya Ciara sambil menggeleng heran. Tidak mengerti sebenarnya dua orang itu tubuhnya terbuat dari apa karena rasanya tidak pernah jera meski sudah sering bonyok- bonyok karena bertengkar.             "Di lapangan basket ya maen basket lah." jawab Mahesa sambil membuka pintu untuk Ciara.             "Terus yang kalah digebukin?"             Mahesa tertawa sambil memakai safety belt nya. "Kok lo pikirannya gitu sih? Kayak kerjaan gue cuma berantem doang."             "Lo ketemu Bara, mau ngapain lagi kalau nggak berantem. Lo kayaknya musuh bebuyutan banget sih sama dia."             Roda itu mulai berputar dan meninggalkan pelataran masjid. Mahesa memutar musik lalu berkata.             "Karena kodratnya laki- laki itu memang berantem. Kalau perempuan baru main boneka."             Ciara memilih menutup mulutnya rapat- rapat. Enggan berdebat dengan Mahesa. Mobil itu melaju di bawah terik matahari. Menembus kemacetan ibukota.             "Mentok, belok kanan." kata Ciara mengarahkan. Mahesa hanya mengangguk sambil bersenandung kecil.             Ciara menyuruhnya menepi di depan sebuah tempat les yang cukup terkenal. Mahesa membuka kaca jendela, memerhatikan bangunan di sampingnya.             "Lo les di sini? Pantesan pinter." Mahesa menoleh ke arah Ciara yang tersenyum.             "Gue nggak les di sini." Jawab Ciara sambil membuka safety beltnya.             Mata Mahesa memicing. "Terus?"             "Gue ngajar."             "HA?"   ***               Setelah selesai mengantar Ciara, Mahesa kembali mengarahkan mobilnya ke sekolah. Melihat keadaan sekolah yang mulai sepi, ia memutuskan untuk membawa mobilnya ke parkiran sekolah dan melihat Bara di sana, berdiri di tengah lapangan basket dengan angin sore yang menyelimutinya. Mendriblle bola oranye itu dan menembakkan ke dalam ring.             Mahesa mendekat dan berdiri di depan laki- laki itu, membuat tangan Bara yang siap melempar bola melayang di udara. Ia menurunkan tangannya dan menatap mata cokelat Mahesa.             "One on one?" tanya Mahesa, walaupun ia sadar bahwa mungkin berkelahi lebih ingin dilakukan Bara daripada bermain basket. Bara melempar bola basketnya ke belakang. Ia maju dan langsung mengambil kerah Mahesa dan menariknya agar mendekat.             "Bukannya sudah gue bilang, kalau Ayra milik gue. Gue nggak suka lo dekat apalagi nyentuh dia." katanya dengan nada mengancam. Mahesa tidak merasa takut. Ia malah tersenyum angkuh.             "Lo suka sama dia?" Pegangan di kerahnya belum juga mengendur. Bara mungkin siap melemparkan pukulan beberapa saat lagi.             "Itu urusan gue." desisnya tajam. Mahesa tertawa sumbang. Sengaja menentang laki- laki di depannya.             "Lo nggak lihat tadi dia gimana? Mukanya sudah pucat pasi. Dia sudah kayak mayat hidup karena apa yang lo lakuin ke dia, atau mungkin ke saudara kembarnya. Lo nggak bisa deketin perempuan dengan mengintimidasinya. Yang ada... perempuan itu malah bakal takut sama lo." Mahesa merasakan  tarikan di kerahnya mulai mengendur hingga akhirnya terlepas.             "Tapi gue nggak suka lo nyentuh dia. Dan biarkan gue lakuin apa yang mau gue lakuin." Mata Bara masih tertuju pada Mahesa yang tersenyum. Menampakkan dua lesung pipinya.             "Selama lo buat dia ketakutan. Gue akan selalu ada disaat yang nggak pernah lo bayangkan." Bara nyaris melayangkan tinjunya kalau saja ia tidak bisa menahan diri.             "Sampai kapan lo mau campurin urusan gue?" Tanyanya tajam.             "Sampai lo berdamai sama masa lalu kita." jawab Mahesa mantap.             Bara mendecih, “jangan mimpi.” Katanya. Ia melihat tatapan Mahesa yang tampak melunak. Ia melihat tatapan putus asa dalam kedua bola mata Mahesa. Bara tahu bahwa sudah cukup lama keduanya bersitegang dan entah sudah berapa kali Mahesa bilang bahwa ia harus berdamai dengan semuanya. Bara tidak ingin. Bara tidak ingin berdamai dengan laki- laki itu. Setelah semua yang terjadi, seharusnya laki- laki di depannya tak mengatakan itu dengan mudah. Mahesa harus tahu bahwa dia melewati malam panjang penuh penderitaan karena dirinya. Dan dia tidak akan semudah itu memafkannya. Dia akan membalas semua rasa sakitnya. Ia akan membuat Mahesa merasakan apa yang ia rasakan.   ***               Setelah pertemuannya dengan Bara yang tak pernah menemukan titik temu, Mahesa kembali ke tempat ia mengantar Ciara. Ia menatap gedung sederhana di depannya. Sebuah lembaga yang memberikan program bimbingan belajar mulai dari tingkat SD sampai SMA.             Mahesa menatap beberapa orang yang terlihat keluar dari gedung itu. Matanya meneliti satu- persatu, mencoba mencari keberadaan Ciara. Alih- alih mengirim pesan pada gadis itu, ia memilih untuk menunggu dengan tatapan yang terus terarah ke dalam gedung sederhana itu.             Ia melirik jam di pergelangan tangannya, jarum jam sudah menunjuk angka lima lewat sepuluh menit. Ia kembali menatap ke dalam gedung dan tersenyum melihat Ciara tengah berjalan ke arahnya, tapi gadis itu tak pergi keluar gerbang, namun berbelok ke parkiran. Tak lama, Mahesa melihat Ciara keluar dan dibonceng oleh seorang laki- laki dengan sepeda motor. Mahesa menatap sepeda motor yang melewatinya.             Mahesa terpaku. Selama beberapa detik ia hanya terdiam hingga akhirnya memutuskan untuk memutar kemudi dan mengikuti sepeda motor itu. Mahesa kehilangan jejak sehingga ia memutuskan untuk pergi ke rumah Ciara.             Ia menatap gerbang merah marun itu saat langit mulai memerah. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengannya akhir- akhir ini. Ia sadar dirinya sering bersikap impulsif dengan datang ke tempat ini secara tiba- tiba.             Fokusnya teralihkan saat melihat sebuah sebauh sepeda motor berhenti di depan gerbang. Ciara turun dari motor dan tampak berbicang dengan pengendara motor. Mahesa menatap keduanya hingga akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobil dan menyadarkan punggungnya di pintu mobil.             Ciara menoleh dan terkejut melihat Mahesa berdiri di seberang rumahnya.             “Mahesa.” katanya dengan nada bingung. Laki- laki bermotor mengikuti arah pandang Ciara dan melihat Mahesa mendekat ke arah keduanya.             “Temanin gue makan, yuk.” Pinta Mahesa. Ia melirik laki- laki di depannya lalu ke arah Ciara yang langsung menggeleng.             “Nggak mau, ah, gue capek.” Keluh gadis itu.             Mahesa menatap Ciara, gadis itu baru menutup hari di saat anak- anak lain mungkin baru saja terbangun dari tidur siang selepas pulang sekolah. Gadis itu punya kegiatan lebih panjang dibanding anak- anak lain. Wajar kalau gadis itu merasa lelah. Ia seharusnya tak menganggu waktu istirahat gadis itu.             “Yaudah deh kalau gitu.” Kata Mahesa akhirnya. Ciara kini berbalik menatap Mahesa yang bahunya melemas.             “Kalau makan di rumah gue gimana?” tanya Ciara akhirnya. Mahesa mendongak dan menatap gadis itu sambil mengangguk dan tersenyum.             Ciara berbalik pada pengendara motor dan berkata, “Makasih, ya, Ar.” Katanya. Ardana, yang sejak tadi tak melepas pandangannya dari Mahesa akhirnya mengangguk sambil tersenyum. Laki- laki itu pamit pada Ciara lalu menjalankan motornya menjauhi keduanya.             “Itu siapa?” tanya Mahesa saat melihat motor itu menjauhinya hingga akhirnya menghilang dibalik tikungan.             “Teman.” Jawab Ciara singkat.             “Teman apa teman?” Mahesa menatap Ciara dengan tatapan menyelidik.             “Teman.” jawabnya singkat. “lo beneran mau makan di rumah gue?”             “Mau, kalau lo nggak keberatan.” Mahesa nyengir, menampilkan deretan gigi putihnya.             Ciara membuka gerbang lalu masuk ke dalam, Mahesa mengekori Ciara hingga gadis itu mengetuk pintu rumahnya dan tak lama, wajah Dewi muncul di balik pintu.             “Mahesa mau ikut makan di sini, Bu. Boleh nggak?” tanya Ciara setelah ia mencium tangan ibunya. Mahesa tersenyum malu- malu.             “Boleh dong. Ayo masuk.” Dewi menyambut hangat kedatangan Mahesa. Wanita itu menyuruh Mahesa menunggu di ruang tamu sementara Ciara membersihkan diri dan Dewi menyiapkan makan malam.             Mahesa menatap sekeliling. Ruang tamu sederhana itu di cat putih yang tampak bersih. Selain dua buah lemari kaca berisi beragam piala dan piagam itu, ada nakas di samping sofa dan telepon di atasnya. Rumah sederhana itu tampak hangat buatnya, tak seperti rumahnya ya luas namun terasa dingin. Mahesa selalu merasa tak pernah ada hawa kehidupan di rumahnya.             Fokus Mahesa teralihkan saat melihat Ciara mendekat dan duduk di depannya. Gadis itu sudah mengganti seragamnya dengan sepotong kaos dan celana pendek. Rambutnya yang biasa tergerai kini dicepol ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya.             “Kenapa, sih?” tanya Ciara saat melihat tatapan Mahesa mengulitinya.             “Nggak apa- apa. Lo baik banget.” Jawab Mahesa.             “Ayo makan, Ra.” Suara dari dalam terdengar sebelum Ciara sempat membalas perkataan Mahesa. Gadis itu berdiri lalu mengajak Mahesa masuk ke ruang makan. Laki- laki itu mengekorinya tanpa ragu hingga akhirnya dipersilakan duduk oleh Dewi.             “Maaf, ya, Tan, kalau saya jadi ngerepotin atau malah ganggu.” Kata Mahesa saat Dewi menaruh nasi dalam centong ke piring kosongnya.             “Lho, ya, nggak apa- apa. Tante cuma tinggal berdua sama Ciara, jadi kalau ada teman Ciara main, ya, Tante senang.” Dewi tersenyum ramah pada Mahesa yang tampak kikuk.             Ciara mengulum sunyum melihat tingkah Mahesa yang malu- malu, padahal tadi laki- laki itu tak berpikir panjang saat ia menawarinya makan di rumahnya.             Mahesa memulai suapan pertama saat melihat Ciara dan Dewi sudah memulainya duluan. Masakan itu enak, pikir Mahesa, mengingatkannya akan masakan ibunya yang selalu pas di lidahnya.             Ketiganya mengobrol ringan. Ciara menceritakan apa saja yang terjadi di sekolahnya hari ini. Hal yang selalu rutin ia lakukan saat makan malam. Mahesa memerhatikan keduanya dan seketika teringat akan ibunya. Ibunya yang selalu bertanya apa yang terjadi di sekolahnya setiap ia pulang sekolah.             “Nah, kalau Mahesa ini anak baru atau gimana? Kok kayaknya ibu nggak pernah dengar ceritanya dari kamu.” Dewi melirik Ciara dan Mahesa bergantian.             “Bukan anak baru, Bu.” Kata Ciara, “ibu ingat nggak, dulu waktu kelas sepuluh Ciara sering cerita ada anak yang suka tawuran. Nah, Mahesa ini anaknya.” Ciara menatap Mahesa yang langsung menatapnya dengan tatapan protes.             “Oh, iya, Ibu ingat. Jadi Mahesa anak yang suka tawuran itu.” Dewi terkekeh pelan sementara Mahesa menunduk malu.             “Tapi sekarang dia udah tobat, Bu. Udah jadi anak baik- baik sekarang.” Kata Ciara yang langsung membuat Mahesa menengadah. Ciara tersenyum tulus pada laki- laki di depannya.             “Iya, lah, sudah mau lulus, mah, fokus belajar aja, ya.” Kata Dewi pada Mahesa yang langsung mengangguk.             Ketiganya melanjutkan obrolan ke topik- topik umum. Mereka membicarakan berita yang sedang hangat. Mereka membahas berbagai hal yang tak pernah terpikirkan oleh Mahesa sebelumnya. Mahesa tampak antusias mendengar Dewi dan Ciara membahas banyak hal. Ia senang melihat Ciara dan ibunya mendengar pendapatnya. Untuk pertama kali, Mahesa yang tak pernah peduli pada berita politik, sosial dan yang lainnya kini tampak begitu bersemangat membahas hal- hal itu.             “Makasih, ya.” Kata Mahesa saat ia baru saja melewati pintu rumah. Ia berbalik, menatap Ciara yang tersenyum sambil mengangguk.             “Lo pasti bosen banget, udah ketemu gue dari pagi sampai siang di sekolah, malam masih gue gangguin aja.” Kata Mahesa.             Ciara tertawa kecil. “Nggak apa- apa.” Jawabnya singkat.             “Yaudah, gue balik dulu, ya.” Kata Mahesa. Ciara mengangguk lalu melihat punggung Mahesa menjauh hingga melewati gerbang dan masuk ke mobilnya. Jendela mobil itu terbuka, Mahesa melambaikan tangannya pada Ciara yang hanya mengulas senyum tipis hingga akhirnya mobil itu melaju dan menghilang dari pandangannya.             Mahesa membelah jalanan ibukota untuk sampai ke kediamannya. Kurang dari satu jam, mobilnya sudah sampai di depan gerbang mewah rumahnya. Setelah security membuka gerbang, ia memasukkan mobil ke dalam garasi di rumah itu.             Mahesa masuk ke dalam rumah dan terkejut melihat ayahnya duduk di meja makan seorang diri.             “Kamu dari mana aja?” tanya pria itu. Mahesa yang barus saja hendak masuk ke kamarnya terpaksa menghampiri ayahnya dan ikut terduduk di depan pria itu.             “Dari rumah teman.” Jawabnya singkat.             “Siapa? Papa telepon Iras katanya kamu nggak sama dia.” Pria itu menatap anaknya yang menunjukkan raut wajah malas.             Mahesa tak menjawab. Ia memilih diam dan menuangkan air dari dalam ke teko ke gelas kosong yang ada di depannya.             “Kamu udah makan?” tanya pria itu akhirnya.             “Udah.” Jawab Mahesa setelah menyesap air dalam gelasnya. “Mahesa ke kamar dulu.” Kata laki- laki itu lalu berdiri dan meninggalkan ayahnya yang langsung menghela napas.             Mahesa masuk ke kamarnya dan melempar tasnya dengan asal. Ia duduk di tepi ranjang, melepas jaket dan jam tangannya lalu melemparkannya ke sofa tak jauh dari ranjangnya. Ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit- langit kamarnya.             Ia merasakan betapa berbedanya suasana di rumahnya dan rumah Ciara. Semenjak hubungan ia dan ayahnya merenggang, ia tidak pernah lagi merasakan kehangatan di rumahnya. Berbanding terbalik dengan Ciara yang masih bisa bercengkerama dengan ibunya di rumah sederhana itu. Mahesa merasa bahwa apa yang ia miliki tetap tak sebanding dengan kehangatan di rumah Ciara.  TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD