Irawan membuka pintu apartemen itu lalu masuk ke dalamnya. Ia menaruh tas yang ia bawa di sofa sedangkan langkah kaki membawanya ke meja yang ada di pojok ruangan. Sudut yang menarik perhatiannya. Ia melihat foto- foto yang dipajang di rak paling atas di meja itu. Potret kota Singapura yang tampak menawan. Ia mengambil salah satunya, foto sebuah taman saat malam dengan lampu berpendar yang tampak indah. Tatapannya lalu beralih pada tumpukan kertas di atas meja. Ia mengambil lembar paling atas dan membacanya. Informasi seputar pendaftaran di sebuah universitas seni di Yogyakarta. Irawan tersenyum tanpa sadar. Ia tahu ia tak mungkin meminta Mahesa mengikuti jejaknya sebagai dokter, meski ia ingin sekali. Mendapati laki- laki itu mempunyai gairah hidup

