CHAPTER DELAPAN

2102 Words
            Bu Yeni masih terus mengoceh sementara langkah membawanya ke ruang perpustakaan. "Mei, tolong kasih Mahesa buku- buku yang mau dikembalikan ke rak. Biar dia yang beresin." Mei, penjaga perpustakaan yang masih berstatus mahasiswi menahan senyum lalu mengisyaratkan dagunya ke tumpukan buku yang ada di sebelah mejanya.             Mahesa mendesah pelan. "Bu, suruh saya lari keliling lapangan aja deh. Lima atau sepuluh putaran nggak apa- apa." pinta Mahesa. Ini adalah hukuman yang menyebalkan buat Mahesa. Ia pusing kalau berada di rak- rak berisi buku yang menjulang tinggi di sekelilingnya.             "Tenang saja, setelah kamu beresin buku, kamu puterin lapangan basket lima kali." kata Bu Yeni.             Mahesa mendekat ke meja Mei dan melihat empat tumpuk buku yang habis dipinjam kelas lain. Ia membawa satu tumpuk mendekati rak. Butuh waktu lebih dari sepuluh menit hanya untuk mencari rak asal buku- buku itu. Perpustakaan sekolah itu tergolong besar. Ada puluhan rak- rak yang membuat Mahesa kebingungan.             "Mahesa, gue mau ke koperasi dulu sebentar, ya. Kalau ada yang mau pinjam buku suruh nunggu gue aja."             Mahesa mengangguk, lalu kembali menatap rak- rak yang masih mengelilinginya.             Mahesa memunculkan wajahnya dari balik rak saat mendengar seseorang masuk ke dalam perpustakaan. "Ngapain?" tanyanya pada anak laki- laki yang tengah berdiri di depan meja petugas.             "Ehm... Kak Mei-nya ke mana, Kak? Saya mau pinjam buku." katanya dengan nada gugup. Mahesa langsung tersenyum lebar dan menyuruh anak itu mendekat dengan gerakan tangannya. Anak itu mendekat ragu- ragu.             "Lo balikin ini buku ke tempatnya, ya. Gue mau lari dulu." katanya sambil menepuk pundak si anak kelas sepuluh dan berjalan menjauh. "Makasih sebelumnya." teriaknya saat menghilang di balik pintu. Anak kelas sepuluh itu menatap buku yang ada di tangannya dengan tatapan bingung.             Ia menatap lapangan di depannya dan tatapannya bertemu dengan bu Yeni yang sedang berbicara dengan salah satu guru di depan ruang laboraturium.             "Kamu sudah beresin bukunya?" teriak Bu Yeni dari kejauhan. Mahesa mengeluarkan senyum tiga jarinya sambil mengacungkan jempol. Bu Yeni yang percaya langsung menunjuk lapangan dengan dagunya. Menyuruh Mahesa melakukan hukuman selanjutnya.             Mahesa menanggalkan seragamnya. Menyisakan kaos putih tipis yang kini membalut tubuh atletisnya. Mahesa baru hendak masuk ke lapangan saat bu Yeni berlari ke arahnya.             "Kamu ngapain pakai buka seragam segala?" tanyanya galak. Dia tahu, kalau sebentar lagi Mahesa pasti akan jadi pusat perhatian anak- anak yang lain. Dia dipungkiri, Mahesa memang salah satu anak murid yang diciptakan sebagai media cuci mata.             "Nanti seragam saya basah, Bu. Mana enak belajar pakai baju basah." ujarnya.             Bu Yeni berpikir sebentar, kebingungan. "Sudah, kamu lari buruan. Setelah itu kembali ke kelas." katanya akhirnya. Mahesa tersenyum lalu melaksanakan hukumannya, lima kali putaran lapangan basket. Hal kecil buat seorang Mahesa. Sudah tidak terhitung berapa kali hukuman seperti ini diberikan padanya. Mahesa sepertinya suda sangat terbiasa. Ia tak pernah keberatan karena selalu menganggap hukuman ini seperti olahraga yang menyehatkan tubuhnya.             "Ganteng." kata siswi kelas sepuluh pada temannya yang kebetulan sedang menyusuri koridor lantai satu.             "Iya, ganteng banget." Balas temannya. Mereka berdua terpaku di tempat. Menyaksikan satu ciptaan Tuhan yang begitu indah. Salah satu dari mereka hampir ternganga melihat otot-otot perut Mahesa yang tercetak di balik kausnya yang sudah basah karena keringat. Sementara yang satunya, terfokus pada wajahnya putihnya sudah mulai memerah karena terkena panas.             Suara orang berteriak sudah mengaduh. Tapi dua anak perempuan itu seperti terhipnotis sehingga kedua fungsi telinganya menghilang. Mereka sadar saat tubuh mereka terdorong, hingga akhirnya terpelanting ke samping.             "Itu kuping apa cantelan sih? Kalau mau mejeng jangan di tengah jalan." Bara menatap kedua anak itu dengan garang. Kedua anak itu langsung menunduk, tidak berani menatap Bara dan hanya mengumamkan maaf dengan lirih.             Bara menatap ke orang yang menjadi pusat perhatian, lalu kembali beralih ke anak di depannya. "Kalau sampai hitungan ke tiga kalian masih di sini....." suara anak yang lari tunggang- langgang itu membuat Bara menghentikan kata- katanya. "Gue belum selesai, goblook."   ***               Mahesa kembali ke kelasnya saat pergantian jam pelajaran. Ia belum memakai seragamnya. Seragam itu masih ia tenteng di tangan kanannya.             "Lo abis mandi, Sa." teriak Iras. Mahesa mengangguk dan langsung duduk di bangkunya. Masih berusaha mengatur napasnya yang terengah- engah.             "Sa, pakai seragamnya. Lo nggak lihat, anak cewek ngeliat lo udah kayak hiu liat darah." kata Mahmud. Salah satu temannya yang menyadari sejak kedatangan Mahesa, semua anak perempuan mempunyai satu fokus yang sama.             "Masih gerah gue." Suasana riuh. Mahesa masih terus mengipas- ngipas tubuhnya dengan buku sementara matanya melirik Ciara yang tengah menatapnya dengan tatapan datar hingga tiba- tiba merasa malu melihat kulit Mahesa yang terlihat jelas dari kaosnya yang basah.             "Ciara, ngeliatinnya biasa aja." suara Iras melengking. Membuat anak tertawa dan sekonyong- konyong meledeknya. Wajahnya memerah dan ia langsung memalingkan wajahnya ke buku yang ada di depannya.             Mahesa ikut tertawa melihat Ciara yang tampak gugup. Ia mendekatkan diri. Membuat Ciara langsung menjauh. "Baca apa?" tanyanya basa- basi. Wajahnya kini lebih dekat ke arah Ciara yang sudah tidak punya akses mundur kalau tidak mau terjungkal dari bangkunya.             "Buku fisika." jawabnya gugup. Ciara merasakan dadanya bergedup kencang dan tersentak saat lengan Mahesa yang masih berkeringat menyenggol tangannya.             "Lo abis ngapain?" tanya gadis itu. Berharap pertanyaannya bisa membuat Mahesa kembali ke posisi semula.             "Abis dikerjain sama Bu Yeni." Ciara mendesah lega saat melihat Mahesa kembali memundurkan tubuhnya.             "Dikerjain? Lo kali yang ngerjain beliau." Ciara berusaha setenang mungkin. Mahesa tergelak lalu dengan tenang membuka kaosnya yang basah. Koor membahana di seluruh penjuru kelas. Anak laki- laki bersiul sementara anak perempuan membuang muka melihat tingkah Mahesa yang tak punya malu. Hanya Ciara yang melotot melihat tingkah teman semejanya. Takjub mengapa pria itu bisa begitu percaya diri.             "Sa, lo mau telanjan9?" tanya Iras. Mahesa menoleh ke arah Iras dan tertawa.             "Jangan ah, Ciara ngeliat gue begini aja udah merah mukannya. Apalagi gue telanjan9, bisa rontok semua ilmu- ilmu yang ada di otaknya." sekali lagi, tawa langsung membahana. Ciara memalingkan muka karena merasa wajahnya memanas. Ia menarik napas dan mencoba menetralkan mimik wajahnya yang sudah sangat malu mendengar kata- kata Mahesa yang blak- blakan.             Sebuah spidol tepat mengenai kepala Mahesa. Bu Desi sudah berdiri di ambang pintu. Saking terkesiap dengan tingkah Mahesa, tidak ada yang menyadari bahwa sudah ada guru di sana. Semua diam seketika. Mereka membenarkan duduknya, begitu juga Mahesa.             "Pakai seragam kamu. Kamu tuh cita- citanya mau jadi apa sih? Kelakuan nggak pernah benar." kata bu Desi sambil berjalan ke mejanya. Mahesa mengambil seragamnya yang teronggok di bangku dan memakainya dengan gerakan slow motion. Dengan sengaja, membuat guru itu geleng- geleng kepala.   ***               Ayra berhenti saat melihat Bara tengah bersandar pada ruang serbaguna. Entah sejak kapan, otaknya sudah memasang alarm tanda bahaya saat matanya menangkap sosok Bara. Perlahan ia mundur, dan berbalik. Berniat mengambil jalur belakang, meski harus mengitari kantin, yang penting bisa selamat dari mahkluk yang satu itu.                       Tapi ternyata ia tidak pernah bisa benar- benar lolos. Saat keluar dari koridor belakang dan hanya tinggal menyebrangi lapangan Volly untuk mencapai gerbang. Ia berhenti saat mendengar suara yang mulai akrab di telinganya. "Mau pulang?" Ayra menoleh dan langsung terkejut melihat seringai itu. Ia berdecak, menyesali usahanya yang ternyata sia- sia.             "Iya kak." jawabnya pelan.             "Naik apa?" Ayra berjalan pelan, Bara di sampingnya.             "Di jemput." jawabnya. Bara mengangguk, tapi Ayra tidak melihat karena ia terfokus pada jalan di depannya. Ia biasanya akan menunggu jemputannya di halte, agar mobilnya tidak perlu memasuki kawasan sekolahnya yang pasti macet di jam-jam pulang.             Keduanya berjalan dalam diam. Bara tak membuka percakapan, hanya melangkah di samping Ayra hingga keduanya sampai di halte. Ayra duduk di bangku besi, Bara ikut duduk di sebelahnya.             "Gue antar pulang aja, yuk." tawarnya. Ayra langsung menggeleng cepat dengan raut wajah ketakutan. Dahi Bara berkerut dalam melihat respon Ayra yang menurutnya berlebihan.             "Kenapa? Kok kayaknya lo takut banget sama gue. Memang muka gue seram ya? Kayak pelaku kriminal gitu?" Mendengar itu, Ayra langsung merubah mimik wajahnya karena merasa tidak enak. Ia sama sekali tidak bermaksud menyinggung laki- laki di sebelahnya.              Ia tidak mengenal Bara, ia hanya tahu dari mulut- mulut yang beredar di sekolah itu tentang bagaimana sosok Bara selama ini. Laki- laki itu terkenal galak dan tanpa ampun. Ia hobi menindas orang yang tidak ia suka, ia suka memanfaatkan anak- anak lain yang takut padanya, ia usil dan kerap melakukan hal- hal tidak baik hanya karena iseng. Yang jelas, kabar yang beredar tentang laki- laki itu sama sekali tidak ada yang baik, sehingga membuatnya langsung menyimpan alarm untuk laki- laki itu.             Bara merogoh sakunya yang bergetar. Diambilnya benda persegi itu dan langsung membaca pesan yang masuk.             Kiki : Korban lo marah- marah nih di kelas.   ***               “Nih.” Ciara memberikan salah satu bukunya pada Mahesa. Bel pulang sudah berbunyi. Satu persatu anak- anak mulai menghambur keluar kelas. Mahesa menatap buku tulis yang ulurkan Ciara lalu mengambilnya. Dilihatnya tulisan pada sampul cokelatnya. Ciara Anastasia. IPA XII-2, Catatan kimia.             “Tadi kan lo nggak masuk jam kimia.” Ciara memperjelas saat melihat Mahesa hanya diam sambil menatap buku tulis yang baru saja ia berikan.             “Oh.” Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Di tatapanya Ciara yang masih sibuk dengan alat tulis dan bukunya. Sesekali matanya menatap ke papan tulis dan mencatatnya di dalam buku.             Mahesa memasukkan buku Ciara ke tasnya meski tahu bahwa ia tidak akan menyalin catatan itu. Tapi, ia menghargai perhatian gadis itu.             Ciara masih sibuk mencatat hingga tersadar bahwa Mahesa masih belum beranjak dari kursinya, padahal kelas sudah kosong dan hanya menyisakan keduanya.             “Lo kenapa nggak pulang?” Ciara menoleh dan bertanya pada Mahesa yang tengah memainkan game di ponselnya.               “Nanti.” Jawab Mahesa tanpa melepas padangannya pada benda pipih di tangannya. Kedua ibu jarinya masih sibuk bergerilya di layar ponsel. Ciara kembali pada kegiatannya menyalin catatan di papan tulis ke buku tulisnya.             Setelah selesai mencatat, Ciara menutup buku tulisnya dan kembali menatap Mahesa yang masih ada di sampingnya.             “Lo nggak nyatat? Yang di papan tulis itu penting, lho.” Kata Ciara. Mahesa melepas pandangannya dari layar ponsel lalu menatap Ciara yang ternyata sudah selesai.             Ia menutup menu game dari layar ponselnya lalu membuka menu kamera. Ia mengangkat ponselnya dan mengatur agar kamera itu membingkai papan tulis dengan begitu pas. Setelahnya ia menekan tombol hingga foto papan tulis berisi catatan penting itu terabadikan.             Ciara tersenyum menyadari kepintaran Mahesa. “Gimana?” tanya laki- laki itu pada Ciara sambil menunjukkan hasil fotonya.             Ciara menatapnya baik- baik. Tulisan- tulisan di papan tulis tampak jelas sehingga ia mengangguk, “jangan lupa disalin. Kalau di foto doang pasti nggak bakal dibaca.” Kata Ciara.             Mahesa mengangguk lalu melihat Ciara yang tengah memasukkan buku- buku ke dalam tas. “lo nggak kena masalah kan karena gue aja kabur kemarin.” Tanya Mahesa tepat saat Ciara memasukkan buku terakhir ke dalam tasnya. Ciara menutup resleting tasnya lalu menatap Mahesa sambil menggeleng.             “Lo sendiri? Jangan- jangan tadi di hukum Bu Yeni gara- gara bolos kemarin, ya?”             Ciara melihat laki- laki di sebelahnya menggeleng. “terus kenapa?” tanyanya lagi.             “Ketahuan ngerokok di belakang sekolah.” Jawab Mahesa enteng. Ciara menggeleng- gelengkan kepalanya tak percaya.             “Kok lo masih bisa, ya, sekolah di sini. Heran gue.” kata Ciara yang langsung membuat Mahesa tergelak. Mereka berdua masih berada di kelas yang sudah sepi itu.             “Kalau poin lo di akumulasi pasti udah minus beribu- ribu.” Kata Ciara lagi, Mahesa mengangguk setuju. “Oia, lupa, bokap lo kan donator terbesar di sekolah ini.” lanjutnya sambil mengangguk. Ia akhirnya tersadar apa yang membuat laki- laki itu seperti tak tersentuh oleh guru- guru.             Beberapa orang memang terlahir dengan privilege yang memudahkan segala hal, seperti juga Mahesa. Laki- laki itu dilahirkan dari keluarga yang terpandang dan tampak tak kekurangan apapun. Tapi, laki- laki itu seakan tak pernah puas dengan apa yang ia punya dan diimpikan oleh anak- anak lain. Laki- laki tumbuh tanpa tahu harus seperti apa dan ke arah mana. Laki- laki itu tak pernah punya mimpi seperti anak- anak seusianya. Laki- laki itu menjalani harinya seakan hari ini adalah hari terakhirnya dan yang ia lakukan hanyalah membuat dirinya sendiri senang.             “Miris, ya?” tanya Mahesa pada Ciara yang menggeleng.             “Hal- hal kayak gitu bakal kita temukan di mana aja. Di sekolah, di tempat kerja, dan masih banyak lagi.” Jawab Ciara, “lo harusnya bersyukur punya privilege. Jangan malah makin semena- mena.”             Sekali lagi, Mahesa tersenyum lalu menatap Ciara yang tengah mengecek ponselnya. Gadis itu membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.             “Gue duluan, ya. Bu Ami minta gue ke ruang guru, nih.” Kata gadis itu.             “Kenapa?” tanya Mahesa saat melihat gadis itu berdiri dari duduknya.             “Nggak tau. Bye.” Gadis itu berjalan cepat hingga punggungnya menghilang di balik pintu. Mahesa tak sadar mengukir senyum lebar selepas kepergian gadis itu.  TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD