CHAPTER SEMBILAN

2075 Words
            Lara tidak punya musuh. Atau mungkin belum punya, karena belum ada sebulan ia menjadi anak SMA Pancasila. Jadi, bukan hal sulit untuk menebak siapa biang keladi kejadian hari ini. Jam pelajaran terakhir, Lara dan teman- teman sekelasnya memasuki ruang serbaguna untuk mata pelajaran bahasa indonesia. Mereka semua diharuskan melepas sepatu mereka dan saat Lara selesai, sepatunya hilang entah ke mana.             Ia dan Kamal yang kebetulan satu kelas, dan satu meja berputar- putar hingga akhirnya mereka menemukannya. Tergantung di ring basket dengan keadaan yang sudah sangat mengenaskan. Sepatu putihnya sudah berubah menjadi rainbow shoes. Entah dengan media apa, cat air atau krayon, atau mungkin spidol, si pelaku jelas berhasil membuat sepatu polos itu berubah warna dan membuat darah Lara mendidih.             Kontan, tanpa pikir panjang, ia berjalan cepat ke kelas sebelas. Lantai keramat yang haram dipijak oleh anak kelas sepuluh. Ia tahu di mana kelas laki- laki itu, semua orang tahu sehingga ia bisa dengan mudah masuk ke kelas yang tinggal setengah penghuninya itu.             "Di mana Bara?" gertaknya pada seisi kelas yang didominasi oleh anak laki- laki.             "Widih, ada yang masuk kandang singa nih." seru salah seorang saat melihat keberanian Lara. Tidak lama, Kamal datang dengan napas tersengal.             "Cantik juga." kata anak lain yang melihat kedatangan Lara.             "Wah, berani juga nih anak kelas sepuluh." Kata yang lainnya lagi. Membuat Lara semakin kesal. Suara riuh mengelilinginya. Celetukan- celetukan iseng yang makin memperkeruh suasana.             "Gue tahu, dia kan yang naruh sepatu gue di ring basket. Mana orangnya? Bilangin, jangan jadi PENGECUT." Lara memberi penekanan pada kata terakhir, membuat semua yang masih berada di sana ternganga. Ia masih terus menerus mengucapkan sumpah serapahnya pada Kiki sebagai pelampiasannya pada Bara yang tidak ada di tempat.             "Kok lo nyolot sih? Nggak ada hormat- hormatnya sama kakak kelas." Kiki bangkit dan berdiri di depan Lara dan menatapnya tajam.             "Gue akan hormatin orang yang perlu dihormatin. Yang jelas bukan macam lo dan Bara." Lara tahu Kiki adalah sahabat Bara. Mereka sering terlihat bersama. Makanya Lara langsung menuju laki- laki itu untuk mencari di mana orang yang ia cari.             Sebelah tangan Kamal menyentuh pundak Kiki saat laki- laki semakin mendekat ke arah Lara.             "Ini siapa? Pacar lo? Kalau cari pacar jangan anak kelas sepuluh, nggak ada gunanya. Cari itu anak kelas sebelas, syukur- syukur dapatnya anak kelas dua belas." Mendengar kata-kata itu, wajah kamal sudah memerah dan siap meledak. Ia hampir saja melayangkan tinjunya saat seseorang menyeruak ke dalam arena panas itu.              "Ada yang masuk kandang singa?" Kata- kata itu lagi, membuat semua yang ada di sana menoleh. Bara tersenyum licik sambil mendekat. Menyuruh Kiki agar mundur dan menatap sepasang manusia yang ada di depannya.             Lara langsung menatap Bara terang- terangan. Tidak ada raut wajah tegang ataupun takut sama sekali. "Punya nyali juga lo ke sini." Bara maju selangkah, tapi lagi- lagi, sebelah tangan Kamal menahan bahunya. Pandangannya beralih pada sosok laki- laki di sebelah Lara. Ia tersenyum sinis.             "Denger kata Kiki kan tadi? Pacaran sama anak kelas sepuluh nggak akan bisa bantu banyak. Pacaran sama anak sebelas juga nggak bantu banyak sih, soalnya nggak akan yang berani sama gue. Kalau pacaran sama anak kelas dua belas....." Bara berpikir sebentar lalu melanjutkan. "Cuma Mahesa lawan yang sepadan buat gue. Selain dia, nggak ada bedanya sama anak yang lain."             Kamal meremas bahu Bara. Kalau biasanya ia yang selalu menenangkan Lara. Kali ini, Kamal yang benar- benar marah. Tanpa pertimbangan apapun, ia melayangkan tinjunya pada Bara. Membuat wajah itu terpental ke belakang. Bukan hanya Lara yang terkejut, tapi hampir semua orang yang ternyata sudah memadati ruangan kelas itu sampai ke luar- luar.             "Sial4n." Bara mendecih dan langsung membalasnya. Perkelahian tak terelakan dan tidak ada yang berani melerai. Wajah Bara lebam, sudut bibir Kamal berdarah.             Semua hanya bergeming. Yang terdengar hanya dentuman kepalan beradu dengan wajah atau benturan punggung mengenai lantai dan meja. Semua terpaku. Terlalu kaget. Atau terkesima. Atau dalam hati memaki si adik kelas. Yang jelas. Mereka semua diam.             Prok...prok...prok...             Suara tiga kali tepukan itu ampuh membuat dua manusia itu kembali ke kesadarannya. Mahesa, setelah membelah kerumunan yang begitu banyak berhasil melihat si pemeran utama. Bara dengan pelipis yang nyaris robek dan Kamal yang terluka parah di sudut bibirnya.             "Pancasila punya jagoan baru?" tanya Mahesa sambil berdiri di depan dua orang yang kini menunduk. Bara menyeka darah di wajahnya. Mahesa mengambil kerah kedua anak itu dengan dua tangannya, dan sedikit mengangkatnya.             "Kalau mau nyari musuh, jangan di kandang sendiri. Cari di luar. Tawuran sama anak Bintara kek, atau sama anak Garuda. Bukan malah rusuh di kandang sendiri." Semua tahu reputasi Mahesa dulu. Masalah tawuran, bukan hal baru buat Mahesa. Dia sudah ikut kegiatan itu semenjak masih duduk di kelas sepuluh, bahkan sejak SMP. Dan parahnya, dia lah yang jadi pelopornya. Dia berhasil membuat kakak- kakak kelas tergerak hatinya untuk ikut dalam ajang adu lempar- lemparan itu. Tapi, itu dulu. Karena satu dan lain hal, Mahesa terpaksa pensiun dari kegiatan membahayakan itu.             "Jangan ikut campur." kata Bara, ia menyentak tangan Mahesa hingga pegangan laki- laki itu pada kerah kemejanya terlepas. Mahesa tersenyum tenang. Ia melepas tangannya dari kerah Kamal dan berfokus pada Bara. Bara yang selalu menatapnya bagai musuh. Mereka harusnya tidak dipersatukan. TIDAK. Mereka harusnya berada dalam jarak yang jauh, sejauh- jauhnya. Tapi, Mahesa tidak punya pilihan lain.             Ia menatap bola mata serupa jelaga itu baik- baik. Tatapan sarat kebencian, sarat tekanan, sarat kebimbangan. Mahesa tahu apa yang Bara rasakan. Tapi ia tidak akan menyerahkan dirinya cuma- cuma untuk menjadi bahan pelampiasan Bara sesaat. Bara salah, Bara terlalu mengutamakan emosi dan ia tidak berhak menanggung dosa orang lain. Sejujurnya, ia juga terluka. Mungkin luka mereka sama. Tapi Mahesa sudah terlalu lelah untuk terus- menerus bertahan pada egonya.             "Gue nggak akan pakai label senioritas gue. Gue nggak sepengecut itu. Kalau lo mau pukul gue, silahkan." katanya pada Bara. Ia bisa melihat d**a Bara naik turun. Ia tahu ada banyak rasa yang bergejolak di sana. Yang mungkin dalam hitungan detik akan meledak dan ia akan menjadi samsak hidup laki- laki itu.             Tapi nyatanya, Bara bergeming. Ia berbicara dengan Mahesa melalui matanya. Sorot mata yang sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Mereka tahu masalahnya, tapi mereka berdua tidak mungkin menyelesaikannya begitu saja.             "Semuanya bubar!!!" kata Mahesa setengah berteriak. Semua penonton itu terpaksa melangkah dengan berat meninggalkan arena pertandingan.             "Kalian keluar juga." katanya pada Kamal dan Lara. "Jangan lupa tutup pintunya." Mereka berdua mengangguk sambil keluar. Meninggalkan Bara dan Mahesa di ruangan itu. "Ras, jaga di depan. Pastiin nggak ada yang nguping pembicaraan gue." Iras mengangguk dan menurut. Ia berdiri di depan pintu, memastikan tidak akan ada mata yang mengintip ke kelas itu.   ***               Lara menatap wajah Kamal dengan miris. Ia merasa bersalah. Sangat bersalah. Ia yang membuka pintu pertengkaran itu dan Kamal yang justru menutupnya. Tak sadar, matanya berkaca- kaca. Ia masih menggosokkan cairan ke sudut bibir Kamal yang membiru.             "Kenapa?" tanya Kamal bingung. Lara bukan tipe gadis cengeng yang gampang menangis. Jadi, ia heran melihat selapis bening di mata gadis itu dan saat gadis itu berkedip, lapisan itu berubah menjadi butiran air mata.             "Gara- gara gue, lo jadi begini." jawabnya, ia menghapus air mata dari pipinya. Kamal tersenyum, membuat otot mukanya terasa nyeri.             "Jangan mellow gitu, ih. Kan lo tahu, gue akan selalu jagain lo." Kamal menggenggam tangan Lara dan meremasnya pelan. Lara mencoba tersenyum kaku. Walau jauh, jauh di lubuk hatinya, sebuah belati menggoresnya.             Ia dan Kamal sudah bersahabat lama. Sangat lama. Sejak mereka baru belajar berjalan. Kamal adalah salah satu- satunya orang yang masih berada di sampingnya sampai saat ini. Kamal satu- satunya orang yang bisa memposisikan diri sebagai dirinya. Kamal yang selalu ada di sampingnya, bagaimanapun keadaannya.   ***               Ayra terkejut melihat Kamal masuk ke rumah dengan wajah membiru. Lara sudah masuk ke kamarnya, sementara Kamal menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu. "Ya ampun, Kamal. Lo kenapa? Berantem sama siapa lagi?" Ayra menyentuhkan tangannya pada wajah biru Kamal, membuat laki- laki itu meringis menahan sakit.             "Bukannya gue udah bilang, ya. Jangan berantem. Lo nggak bosen dari SMP udah sering bonyok." kata- kata Ayra sarat kecemasan. Tentu saja. Kamal juga bersahabat dekat dengan Ayra. Layaknya ia tumbuh bersama Lara, ia juga tumbuh bersama Ayra. Dulu, mereka bertiga bersahabat baik. Nyaris tidak terpisahkan. Mereka punya satu kesamaan. Sama- sama suka basket. Tapi, sejak saat itu, sejak kejadian itu, saat mereka menginjak kelas satu SMP, semuanya tidak pernah sama. Mereka bisa tiba- tiba berlaga seperti orang yang tidak kenal satu sama lain. Dan yang ia tahu, Lara membenci Ayra. Hingga rasanya, hanya untuk berbagi atmosfir-pun, Lara tidak sudi.             Saat itu lah. Kamal tahu ia harus berada di samping siapa. Ia sulit. Tapi ia sadar kalau Lara lebih membutuhkannya. Walau hubungannya dengan Ayra tetap baik- baik saja.             "Gue berantem sama Kak Bara." jawabnya. Mata Ayra melebar tidak percaya.             "Bara?" Ulangnya. Berusaha meyakinkan diri bahwa pendengarannya tidak salah menangkap nama. Kamal mengangguk pelan, Ayra mengigit bibir bawahnya cemas.             "Kok bisa?"             "Gue cuma nyelametin Lara." jawabnya singkat.             "Mal, tolong dong. Lo nggak usah berurusan sama Kak Bara. Lo tahu kan dia siapa dan kayak gimana?" Kamal bisa melihat raut cemas dalam tatapan Ayra. Ia tersenyum lalu mencubit pipi gadis itu.             "Gue cuma ngelakuin apa yang harus dilakuin."             Lima menit kemudian, Lara keluar dari kamar. Tanpa menoleh ke arah Ayra dan Kamal, ia langsung menuju pintu sambil berseru. "Ayo, Mal." ajaknya             "Mau ke mana, Ra?" tanya Kamal.             "Balik ke rumah lo. Gue harus kasih penjelasan sama nyokap lo kenapa lo bonyok kayak gitu." Lara masih berdiri di ambang pintu. Tapi tidak juga menoleh ke orang yang di ajaknya bicara.             "Gue balik sendiri aja. Bunda pasti percaya kok kata- kata gue. Lagian kayak baru sekali bonyok aja." katanya.             "Pokoknya gue mau ikut ke rumah lo. Lo tahu kan, gue nggak pernah betah di sini." kata- kata itu meluncur juga. Kamal terdiam sementara Ayra merasakan hatinya tersayat pisau tak kasat mata. Tidak ingin memperkeruh suasana, Kamal berdiri, mengusap pucuk kepala Ayra dan pamit pulang.              Ayra menatap kepergian dua orang itu dengan miris. Ia sadar bahwa Lara bukan tipe orang yang mudah memaafkan, bahkan untuk kesalahan yang tidak dilakukannya. Tidakkah ia tahu bahwa Ayra juga merasakan kesakitan yang sama. Bahwa ia juga merasakan kesepian yang sama. Bahwa mungkin beban yang ditanggung Ayra lebih besar.             Lara naik ke motor dan menyuruh Kamal duduk di belakangnya. Kamal menurut, ia duduk di belakang Lara dan membiarkan gadis itu mengendarai motornya. Roda motor itu berputar keluar dari rumah Lara dan menyusuri komplek perumahan.             Mereka tak langsung menuju rumah Kamal. Lara menghentikan motornya di taman komplek perumahannya. Kamal turun dari motor, mengikuti Lara yang menghampiri seorang tukang mie ayam.             “Bang, dua, ya.” Kata pada penjual mie ayam yang langsung mengangguk. Keduanya duduk di kursi kayu yang sudah di sediakan.             “Kenapa nggak makan di rumah aja, sih?” tanya Kamal, “lo dari kemarin udah makan mie mulu.” Lanjutnya. Ia tahu bahwa di rumah Lara ada asisten rumah tangga yang bertugas menyiapkan makanan dan memebrsihkan rumah. Di rumah itu, semua kebutuhan perut Lara terjamin, namun gadis itu lebih sering makan di luar.             “Jadi, Bara sama Ayra ada hubungan apa?” tanya Lara saat dua buah mangkok berisi mie ayam di sajikan di depan keduanya.             “Nggak tahu. Tadi sih katanya Ayra cuma diminta nemenin Bara sarapan.” Jawab Kamal sambil menyuapkan mie dengan sumpit ke dalam mulutnya. “mungkin nggak, sih,kalau Bara suka sama Ayra?” tanya Kamal setelah selesai mengunyah. Ia melihat gadis di depanya mengangkat bahu tak acuh. Kamal tahu, Lara tak pernah peduli pada Ayra meski mereka pernah berbagi rahim. Lara telah menutup hatinya untuk Ayra. Tak peduli saudara kembarnya sudah memohon maaf padanya. Nyatanya hati gadis itu sudah sekeras batu. Gadis itu tak lagi ingin Ayra ada di dekatnya. Dan saat Ayra menyadari bahwa pintu maaf Lara sudah tertutup dan tak akan pernah bisa ia buka, gadis itu mulai mundur perlahan. Keduanya tak lagi saling berbicara. Keduanya bahkan tak saling melempar tatapan meski ada di tempat yang sama. Entah sejak kapan, keduanya merasa risih saat harus berbagi oksigen.             Lara telah meninggalkan keluarganya selepas kepergian ibunya. Tak hanya hubungan dengan Ayra yang memburuk selepas kepergian ibunya, namun juga hubungannya dengan ayahnya. Sejak dulu, Lara sadar bahwa meski terlahir kembar, ia dan Ayra tak memiliki sifat yang sama. Ayra sosok feminin dan penurut, sedangkan dia cenderung berontak dan tak mau diatur. Ia juga tak sepintar Ayra yang kerap menghabsikan hari- harinya dengan belajar.             Lara selalu merasa bahwa ayahnya lebih sayang pada Ayra karena gadis itu selalu menuruti perintah ayahnya. Sekali lagi, setelah kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya, Lara juga sepertinya kehilangan sosok ayah.  TBC LalunKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD