CHAPTER ENAM

2021 Words
            Jam setengah tujuh pagi, Bara sudah terduduk di tepi lapangan volly. Lapangan itu berada tepat di samping gerbang sekolah. Ia memainkan ponselnya sambil sesekali melirik ke tiap anak yang masuk, yang langsung menunduk saat mengetahui Bara melihatnya. Ia masih bertahan di sana dan melihat anak- anak hilir mudik di sekitarnya             Jam tujuh kurang lima belas, sosok yang ditunggunya datang. Gadis itu turun dari sebuah fortuner putih dan langsung masuk ke gerbang, sebelah tangannya mengutak- atik ponselnya, tidak menyadari tatapan Bara yang jatuh padanya.             Bara berdiri dan berjalan pelan di belakang gadis itu. Gadis itu menunduk, sebisa mungkin menyembunyikan wajahnya, karena kejadian di depan tiang bendera dan kantin kemarin cukup membuatnya menjadi begitu populer dan menjadi tokoh yang paling banyak diperbincangkan, Lara juga tentunya. Selesai tragedi itu, banyak teman- temannya langsung memberondong pertanyaan padanya. Karena pada kenyataannya, belum banyak yang menyadari bahwa mereka kembar. Dan bertanya darimana saudara kembarnya punya keberanian untuk berhadapan dengan kakak kelas itu. Kakak kelas yang mati- matian mereka jauhi agar tak kena masalah. Mereka jelas ingin hidup mereka di SMA Pancasila tenang dan damai.             "Nyari duit jatuh?" bisik Bara tepat di telinga Ayra. Gadis itu langsung berhenti lalu menoleh, sebuah senyum langsung menyambutnya.             "Nyari duit jatuh?" ulang Bara saat melihat gadis di sampingnya hanya diam. Gadis itu langsung menggeleng pelan saat sadar. "Terus kenapa nunduk gitu. Sayang lho, lo kan cantik." Ayra menelan ludah saat mendengar kalimat Bara yang blak- blakan.             Ayra tidak berekspresi apa- apa hingga akhirnya Bara mengambil tangannya dan menariknya. Semua anak di koridor menatap kejadian itu lekat- lekat. Menatap baik- baik bahwa Bara, kini tengah mengandeng seorang junioor. Ayra makin menundukkan kepalanya. Ia berdecak saat menyadari semua mata terfokus padanya. Ayra tidak pernah tahu bahwa ia akan menjadi begitu populer karena Bara yang kerap melibatkanya dalam banyak hal.             Mereka tidak naik ke lantai dua melainkan menuju ujung yang mengarah ke kantin. Mengetahui kondisi kantin pasti ramai, Ayra memberanikan diri melepas genggaman Bara sebelum sampai di tempat itu.             "Saya mau ke kelas, Kak." katanya dengan nada ragu. Berharap laki- laki di depannya mengerti dan akhirnya membiarkannya pergi ke kelasnya sendiri.             "Iya, gue juga mau nganter lo ke kelas kok." kata Bara.             "Tapi kan tangganya di sana." Ia menunjuk ke belakang, di mana tangga sekolah itu berdiri kokoh dan sudah terlewat oleh mereka.             "Iya, kita muter dulu ke kantin, abis itu baru ke kelas." Ayra menatapnya bingung. "Gue mau sarapan dulu. Gue belum sarapan tadi." Bara memperjelas, tapi justru membuat kerutan di dahi Ayra tercetak jelas.             "Kelamaan mikir deh." Bara kembali menyambar tangan mulus itu dan kini menariknya lebih cepat untuk menuju kantin. Ayra tidak berani meronta karena merasakan pegangan itu semakin erat. Ia hanya berusaha menyeimbangkan langkah kakinya dengan langkah Bara yang lebar.             Dugaan Ayra benar. Kantin itu bisa ramai karena sebagian anak tengah mengisi perutnya sebelum bertempur alias belajar. Tangan itu membawa Ayra ke bangku paling pojok.             "Eh, yang pakai kacamata." serunya pada seorang anak laki- laki yang duduk tak jauh dari tempatnya. Laki- laki itu menunjuk dirinya sendiri untuk meyakinkan dan saat melihat Bara mengangguk, ia berdiri dan menghampirinya.                     "Pesenin bubur ya. Nggak pake kacang, Nggak pake seledri, Nggak pake cakue, Nggak pake bawang goreng." katanya sambil memberikan selembar uang dua puluh ribuan.             "Cuma bubur sama ayam aja kak?" ulangnya seraya memastikan.             "Bubur ayam, Nggak pake kacang, Nggak pake seledri, Nggak pake cakue, Nggak pake bawang goreng."             "Iya, bubur sama ayam aja kan berarti?"             "Begoo ya, Bubur berarti pake ayam, pake kecap manis, kasih sambel, sama krupuk." jelasnya panjang lebar. Anak kelas sepuluh itu menggaruk- garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Beberapa anak di sana terkikik geli. Anak kelas sepuluh itu menjauh dan Bara menempelkan punggungnya di kursi. Dilihatnya Ayra lekat- lekat.             "Lo udah makan?" tanyanya pada Ayra yang masih menunduk. Gadis itu mendongak lalu mengangguk pelan.             "Nggak apa- apa, kan, kalau temenin gue sarapan dulu?" tanyanya dengan nada mengintimidasi.             "Sebenarnya saya ada pelajaran bahasa inggris di jam pertama, Kak, katanya gurunya galak." Ayra tak berbohong. Dari kabar yang ia dengar, guru bahasa inggris yang namanya miss Heti itu terkenal killer, makanya ia mulai cemas. Takut kalau ia telat masuk gara- gara Bara. Ia merasa masih terlalu dini untuk dimarahi guru karena belum ada satu minggu ia sekolah di sana.             "Oh, miss Heti. Iya sih, galak banget tuh dia. Jangankan nggak ngerjain tugas, telat masuk jamnya aja pasti disuruh keluar." Bara tidak sadar membuat wajah di depannya semakin cemas. Gadis itu bergerak gelisah di kursinya, jari- jarinya mulai berkeringat dan saling bertaut di bawah meja.             Semangkuk bubur ayam sesuai dengsn pesanannya ditaruh di atas meja. Ia langsung menyantapnya dengan lahap karena memang ia belum atau tidak pernah sarapan di rumah. Ia melirik Ayra sesekali. Gadis itu terus- menerus melirik jam yang melingkar di lengan kirinya.             "Takut telat?" tanyanya saat bubur di mangkuknya masih tersisa setengah. Ayra mengangguk, berharap Bara bisa menyuruhnya ke kelas sekarang juga. Pasalnya, kurang dari dua menit lagi, bel pasti berbunyi.             "Tenang aja, bel bunyi, miss Heti nggak mungkin langsung ada di kelas. Dia butuh beres- beres sampai jalan dari ruang guru ke lantai kelas lo. Kita masih punya waktu beberapa menit." jelas Bara pada Ayra yang sama sekali tidak bisa menghilangkan raut cemas di wajahnya.             Bel itu berbunyi. Semua anak yang ada di kantin langsung bergegas menuju kelasnya masing- masing. Satu persatu meninggalkan kantin hingga menyisakan Ayra, Bara dan para penjual. Kontras dengan Ayra yang mulai panik, Bara masih terlihat santai dengan sendok dan mangkuk di depannya.             "Buruan, Kak, udah bel." kata Ayra.             Bara mendongak. "Sebentar dong. Nanti kalau gue kesedak gimana?" katanya sedikit keras, membuat nyali Ayra langsung menciut. Gadis itu langsung mengatupkan mulutnya rapat- rapat. Bara melanjutkan kegiatannya.             "Eh, anak kelas sepuluh. Ngapain masih di sini? Nggak dengar bel udah bunyi." suara nyaring itu membuat kedua orang itu lantas menoleh ke asal suara. Mahesa berdiri di ambang pintu kantin. Ayra semakin gugup. Mimpi apa sih dia, bisa dikeroyok sama dua pentolan sekolah itu. Layaknya Bara, pesona Mahesa juga sudah terdengar di seantero sekolah, termasuk ke telinga Ayra.             "Ini... Kak..." belum sempat menyelesaikan kata- katanya. Bara langsung menyambar.             "Dia lagi nemenin gue sarapan."             Mahesa berjalan mendekat. Meneliti wajah Ayra dan menyadari bahwa gadis itu adalah gadis yang kembarannya terlibat masalah dengan Bara di lapangan tempo hari.             "Balik ke kelas sana." suruhnya dengan nada menyentak, membuat Ayra kaget dan langsung berdiri. Tapi belum sempat ia menjauh, suara Bara menyentaknya.             "Berhenti!!!"             Sepersekian detik satelah suara itu terdengar, Ayra langsung menghentikan langkahnya. Ia langsung menoleh, menatap Mahesa dengan wajah memelas. Meminta tolong pada laki- laki itu secara tidak langsung.             "Sudah buruan pergi. Nggak usah dengerin Bara." kata Mahesa dengan nada tenang. Bara menatapnya tajam. Baru tiga langkah, suara Bara kembali terdengar.             "Kalau lo berani pergi. Gue akan bikin perhitungan sama lo."             Ayra berdecak kesal. Kenapa jadi ribet gini sih, runtuknya dalam hati. Ia menoleh dan mendapati dua laki- laki di depannya tengah saling menatap. Tepat ke manik mata masing-masing dengan bias kebencian yang begitu kental.             "Kalau mau gangguin orang, jangan pas jam belajar. Apalagi anak sepuluh, kasihan kalau baru- baru udah kena omel guru." Mahesa memperingatkan. Bara mengepalkan tangannya, tidak menjawab, ia langsung berjalan mendekati Ayra dan menarik tangan gadis itu dengan kasar. Ayra mengikuti tarikan itu dan meringis saat menyadari bahwa cengkeraman itu begitu kuat. Sepertinya Bara memang melampiaskan kemarahannya pada Ayra. Mereka naik ke lantai dua, dan langsung berjalan cepat ke kelas Ayra.             Ayra membulatkan matanya saat melihat Bara dengan entengnya mengetuk pintu dan membawanya masuk. Miss Heti yang sedang berdiri di depan kelas melotot. "What are you doing here?"             "Nganterin salah satu anak murid Miss, nih." jawabnya. Tatapan guru bahasa inggris itu beralih pada Ayra yang lagi- lagi menunduk.             "Kamu ngapain berurusan sama anak badung ini?" tanya miss Heti. Bara sudah menjawab sebelum Ayra mencoba membuka mulutnya.             "Saya nyelametin dia dari Mahesa, Bu, makanya saya antar ke sini." jawabnya enteng. Ayra mendongak lalu menatap Bara dengan raut wajah bingung.             "Kalau nggak kamu, Mahesa, kalau nggak Mahesa, kamu. Sama aja kalian berdua itu." katanya. Dan setelah itu, Bara pamit dengan senyum dan mengedipkan sebelah matanya pada Ayra yang sudah duduk di bangkunya.             Bara menyusuri koridor lantai dua saat matanya menangkap sepasang siswa yang tengah berdiri di meja piket. Ia tersenyum lalu menghampiri.             "Lain kali, saya bakal suruh kalian bersihin taman." Guru itu menunjukkan ketegasannya. Guru piket itu tengah mengisi form agar Lara dan Kamal yang hari itu telat bisa masuk ke kelasnya.             "Iya, Bu." jawab si gadis.             "Kok ibu curang, sih. Jangan pilih kasih dong, Bu. Meskipun anak baru kalau telat tetap harus dihukum dong." Bara berdiri di tengah- tengah Lara dan Kamal dan melihat gadis itu merengut kesal.             "Kamu ngapain masih di sini? Masuk kelas sana. Ikut campur aja."             "Abis nganterin itu, Bu, anak kelas sepuluh, namanya Ayra." Mendengar nama itu, Lara dan Kamal sontak menatapnya. Kalau Lara menatapnya dingin, Kamal justru menatapnya tajam.             "Awas, ya, kalau kamu berani- beraninya kasih pengaruh buruk ke adik kelas. Buruan masuk atau mau Ibu hukum?" Bara tersenyum simpul lalu menjauh. Tatapan Lara dan Kamal terus mengikuti sampai ia menghilang di balik tikungan tangga.   ***               Mahesa menatap punggung Bara yang menjauh. Sebelah tangannya masih menarik tangan Ayra dan membuat gadis itu berusaha mati- matian mensejajarkan langkah laki- laki itu. Punggung keduanya menghilang di tikungan tangga.             Mahesa menghela napas. Ia tidak akan melupakan wajah ketakutan gadis itu. Ia tahu apa yang gadis itu rasakan. Gadis itu bingung apa yang Bara inginkan darinya dan pasti terintimidasi oleh sikap pemaksa laki- laki itu. Tak seperti saudara kembarnya, gadis itu terlalu takut untuk melawan Bara ataupun sekadar menolak permintaannya. Gadis tak punya pilihan lain selain menuruti semua perintah Bara yang pasti membuatnya tak nyaman.             Mahesa melangkah, alih- laih menuju kelas, ia pergi ke belakang sekolah. Tempat dengan sebuah pohon besar berdiri kokoh. Ia menatap ke salah satu ranting pohon yang menjadi tempat favoritnya. Dalam gerakan cepat, ia memanjat dan berhasil mendudukan diri di salah satu ranting di sana. Di tempat ini, tak akan ada yang bisa menemukannya. Anak- anak yang disuruh mencari dirinya hanya akan mencarinya di kantin atau taman dan langsung kembali ke kelas. Tak ada yang pernah ingin membuang- buang waktu mencarinya karena tahu, meski mereka bisa menemukannya, ia belum tentu bersedia ikut kembali ke kelas.             Mahesa sudah lama kehilangan minatnya dalam belajar. Semua nilai jelek yang ia terima bukan semata- mata ia bodoh, namun karena ia malas. Di saat anak- anak seusianya sudah berpikir akan ke mana setelah mereka lulus, Mahesa tidak. Mahesa tak pernah berpikir akan kuliah di mana atau apa yang akan ia lakukan setelah lulus, itupun jika ia bisa lulus. Ia hanya membiarkan hidupnya mengalir seperti air. Ia tak mau susah- susah berpikir apa yang akan terjadi padanya esok.             Ia merogoh saku kemeja putihnya dan mengelurkan sebuah foto dari sana. Foto keluarganya yang sedang tersenyum. Garis bibirnya membentuk sebuah senyuman. Otaknya mulai melakukan tugasnya seperti biasa, memutar semua kenangan- kenangan menyenangkannya bersama ibu dan ayahnya. Kenangan- kenangan yang tak akan mungkin bisa terjadi lagi. Kenangan- kenangan yang masih tersimpan begitu rapi di relung hatinya yang paling dalam.   ***               Ayra menatap Miss Heti yang baru saja keluar dari kelas. Teman sebangkunya, Sisil, langsung menoleh dan menatapnya dengan tatapan menyelidik. Begitu juga anak- anak di sekelilingnya.             “Kok lo bisa anterin sama Kak Bara?” tanya Sisil dengan nada penasaran. Ayra menghela napas lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.             “Gue ketemu di depan gerbang.” Jawab Ayra. “terus diminta temenin dia sarapan.” Lanjutnya. Ia berdecak dan tak henti- hentinya menyesali apa yang terjadi tadi pagi. Seandainya ia bisa tegas pada laki- laki itu, ia pasti tidak akan menjadi pusat perhatian sekarang. Ia tahu bahwa apa yang terjadi tadi pagi mungkin akan menjadi awal yang panjang. Ia hanya berharap tak lagi bertemu laki- laki itu. Aura dan tatapan tajam laki- laki itu membuatnya sangat tidak nyaman.             “Cuma itu doang?” tanya Sisil lagi. Ayra mengangguk pelan.             Seorang guru masuk ke dalam kelas dan kembali membuat fokus sesisi kelas kembali. Mereka menjawab salam secara serentak lalu mengeluarkan buku pelajaran selanjutnya. Semua mata memerhatian pria paruh baya yang sedang memulai pelajaran.             Tapi, fokus Ayra jelas terbelah. Ia begitu gelisah. Otaknya terus berpikir apa yang maksud tindakan Bara kepadanya juga bagiamana cara menghindari laki- laki itu.  TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD