CHAPTER LIMA

2113 Words
            Bolos satu jam pelajaran saja sudah membuat Ciara rugi setengah mati. Dan sekarang, dalam satu hari, Ciara membolos tiga jam terakhir. Mahesa membawanya ke rooftop sebuah gedung kosong yang ada di belakang sekolahnya. Gedung tak berpenghuni itu bekas sebuah perusahaan asuransi yang sudah dikosongkan awal tahun ini. Mahesa tahu tempat itu saat dirinya dikeroyok oleh segerombolan anak sekolah lain dan melarikan diri ke sana. Sejak saat itu, Mahesa sering menghabiskan waktu di atap itu.             Gedung itu dipagari besi dan digerendel dengan rantai. Jadi, untuk kedua kalinya mereka berdua harus memanjat. Ciara hanya pasrah saat tangannya kembali digandeng Mahesa menuju ke dalam gedung yang tidak dikunci. Mahesa mendekati stop kontak dan menyalakan lampu yang ternyata masih berfungsi dengan baik. Mahesa membawanya menuju tangga. Suasana di dalam gedung itu senyap dan pengap. Meja- meja dan kursi masih berada di tempatnya dan tertata rapi, hanya debu- debu yang melapisi tiap barang- barang yang ada di sana dan menganggu indera penciumannya             Ciara bergidik ngeri saat menyadari bahwa mungkin ada banyak penghuni tak kasat mata di gedung ini. Debu di sekeliling dan gelap saat keduanya menaiki tangga darurat membuatnya semakin merasa sesak.             "Lo nggak takut masuk ke sini. Nggak pernah ketemu setan?" tanya Ciara sambil terus menaiki tangga yang sepertinya tidak ada ujungnya. Senter dari ponsel Mahesa memberi mereka cukup penerangan . Lampu di tangga itu seperti sudah tak berfungsi sehingga laki- laki itu menggunakna senter dari ponselnya untuk memberikan penerangan.             "Yang ada, setannya yang takut sama gue." jawabnya asal. Masih terus menggiring Ciara menuju lantai tiga.             Kegelapan itu tiba- tiba teredam. Mereka sampai di tangga terakhir. Sinar matahari masuk saat Mahesa membuka pintu besi itu. Keduanya keluar dan langsung menghirup udara dari sana, menggantikan udara pengap yang keduanya hirup saat menaiki tangga.             Mahesa manarik tangan Ciara dan membawanya ke tengah rooftop. Angin berembus, menerbangkan helai- helai rambut Ciara. Gadis itu terpana, ia menatap terik matahari di atasnya. Lalu merasakan angin sepoi- sepoi menyapu kulitnya.             Mahesa memerhatikan Ciara yang masih terpaku di tempat, sementara dirinya menuju ke pinggir dan duduk di atas sebuah beton memanjang. Ia mengeluarkan rokok dan menghisapnya pelan setelah memantik ujungnya dengan api. Membiarkan asap rokoknya berembus dan langsung terbawa angin.             "Lo tahu tempat ini dari mana?" Ciara mendekat dan untuk kedua kalinya, Mahesa mematikan rokok dengan menginjaknya. Membuat Ciara sedikit merasa bersalah. Ia tak akan mendekat jika tahu laki- laki itu akan langsung mematikan rokoknya.             "Waktu itu gue dikeroyok sama anak SMA lain terus melarikan diri ke sini. Akhirnya tau deh ada tempat ini." jawabnya pelan.             Ciara dan Mahesa terdiam. Mereka sibuk menikmati suasana sekitar. Menikmati embusan angin yang menenangkan. Mahesa melirik Ciara yang menatap ke depan. Gadis itu menatap ke deretan gedung dan pepohonan yang terlihat dari sana. Gadis itu tak lagi merengek dan memaksa untuk kembali ke sekolah, sepertinya gadis itu mulai terbiasa dengan apa yang dilakukannya.             Ciara melirik jam tangannya dan terperajat, “Sudah mau bel pulang. Balik ke sekolah, yuk.” Ajak Ciara. Tak menjawab, Mahesa merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda pipih berwarna hitam itu. Ia menslide layar lalu mencari satu nomor dalam daftar kontaknya. Setelah menekan pilihan panggil, ia mendekatkan benda itu ke telinga dan berbicara dengan orang di seberang.             "Ras, tolong bawain tas gue sama Ciara, ya. Gue tunggu di halte depan sekolah." Sambungan terputus. Meyakinkan Ciara bahwa Mahesa baru saja menghubungi sahabatnya.             "Kita tunggu di halte aja." Ciara mengangguk. Lalu kembali menatap hamparan tembok beton yang ada di depannya.   ***               Diana melirik sinis Iras yang ada di sebelahnya, "Awas aja, ya, kalau Ciara sampai dapat masalah gara- gara teman lo." bentak Diana sambil membereskan buku- buku Ciara, sementara Iras fokus memasukkan buku Mahesa ke dalam tas laki- laki itu.             "Lah, lo bikin perhitungan sama Mahesa lah, kenapa jadi ngancam gue. Salah alamat." Kata Iras dengan nada sinis.             "Ya, lo kan temannya." Sentak Diana tak mau kalah.             "Iya, tapi bukan berarti gue bersedia menanggung semua dosa dia." Mereka berdua masih terus saling meruntuk, sementara kelas sudah mulai kosong. Bel sudah berdering beberapa menit yang lalu. Anak- anak kini memenuhi parkiran, kantin dan juga lapangan.             "Sini tasnya." pinta Iras.             "Mereka nunggu di mana? Gue mau ikut. Mau mastiin kalau Ciara baik- baik aja." Iras menatap ke arah Diana dengan tatapan tidak percaya.             "Parah lo, ya, jadi anak. Memang Mahesa itu sejenis apa sih menurut lo? Lo  sampai ketakutan banget temen lo kenapa- napa." Iras menatap Diana yang kini memutar bola matanya cuek. “Ciara tuh udah gede, bukan anak kecil yang gampang dipengaruhin.” Lanjut Iras sambil berdecak sebal.             Iras tidak punya pilihan lain selain membiarkan Diana membuntutinya. Daripada mendengar perempuan itu kembali mengoceh yang sebagian isinya menjelek- jelekkan kelakuannya dan Mahesa yang memang benar- benar jelek, tetap saja membuatnya emosi             "Gue kan bawa motor, jadi langsung ketemu di halte aja, ya." Kata Iras sebelum ia berbelok menuju parkiran.             "Kok gitu?" Diana menatap Iras dengan tatapan bingung.             "Terus lo mau ikut gue naik motor?" tanya Iras dengan tatapan menyelidik.             "Ya kenapa kita nggak jalan kaki aja ke sana?" usul Diana.             "Terus gue nanti balik lagi ke sekolah ngambil motor, sementara lo bisa langsung naik bus?" Iras menyentak. Udara sudah panas, gadis di sebelahnya tambah membuat hati dan otaknya ikutan panas.             Diana diam. "Gue memang sahabatan sama Mahesa, tapi gue nggak bodoh kayak dia." lanjutnya. Diana mengulum senyum mendengar kata- kata Iras, yang sahabatnya saja mengakui kalau Mahesa itu bodoh.             "Udah, lo naik motor aja bareng gue. Itu juga kalau lo mau, gue nggak maksa." Iras berjalan menuju parkiran motor. Diana tidak punya pilihan lain. Dari sekolah ke halte butuh waktu lima menit dan lumayan kalau ditempuh sendiri. Ia akhirnya mengikuti langkah Iras dari belakang.             "Ingat ya, jangan dekat- dekat. Taruh tas Ciara di tengah- tengah biar jadi pembatas." kata Iras setelah Diana berhasil duduk di belakangnya. Diana merengut kesal lalu mengikuti perintah laki- laki itu.             "Iya, lo pikir gue mau gitu dekat- dekat apalagi nempel- nempel sama lo. Dih." jawabnya dengan nada mencibir.             "Ingat, jangan pegangan sama gue." katanya lagi.             "Iya bawel." Diana meraba bagian belakang motor Iras dan tidak menemukan behel motor. s****n, katanya dalam hati. Kalau Iras ngebut, tamat sudah riwayatnya. Ia akhirnya berpegangan pada pinggiran jok motor besar Iras. Ia berdoa sebelum motor itu keluar dari parkiran sekolah dan mengebut hingga membuatnya menyerukkan sumpah serapah pada Iras yang justru tertawa geli.   ***               Sudah lima belas menit Iras dan Diana menunggu di halte saat sosok yang mereka tunggu muncul dari tikungan yang ada di seberang. Iras menarik napas lega. Kupingnya sudah hampir panas karena mendengar nenek lampir di sebelah terus mengoceh ngalor- ngidul tidak keruan.             "Akhirnya, lo lama banget sih. Lo nggak tahu, bentar lagi daun telinga gue bisa copot dengerin orang di sebelah gue ngomel- ngomel nggak jelas." adunya pada Mahesa yang justru tertawa.             "Ra, lo nggak apa- apa kan? Kok lo malah bolos di dua jam terakhir sih?" tanya Diana. Padahal dia tahu kalau biang keroknya ada di depannya.             "Ciara abis gue ajak jalan- jalan sebentar. Nggak gue apa- apain kok. Boleh dicek tuh, nggak ada yang lecet." Mahesa menunjuk sosok Ciara dengan dagunya. Diana menatap Ciara, meminta kepastian hingga akhirnya gadis itu mengangguk sambil tersenyum kaku.             Ciara melirik jam tangannya lalu menatap angkutan yang terlihat di ujung jalan. “Eh, gue duluan ya.” Katanya, “makasih, ya, Di.” Katanya pada Diana yang langsung mengangguk.             Mahesa masih menatap Ciara yang mengayunkan sebelah tangannya ke depan untuk menyetop angkutan berwarna merah itu. Gadis itu pamit pada ketiganya lalu melangkah memasuki angkutan yang tak terlalu padat itu.             Mahesa masih menatap bagian belakang angkutan hingga kendaraan roda empat itu menghilang dari pandangannya. Sebuah bus berhenti di depannya saat ia mengalihkan tatapannya.               “Gue duluan.” Kata Diana.             “Iya, hati- hati, ya.” Kata Mahesa. Diana tak menjawab, ia masuk ke dalam bus yang tampak padat dan berdiri di space yang kosong.             “Kenapa nggak lo anterin Diana sampai rumah? Kasihan tuh dia berdiri di dalam bus gitu.” Kata Mahesa yang langsung mengundang kernyitan di dahi Iras.             “Ogah, mending gue boncengin kuntilanak, ketahuan nggak banyak omong kayak dia.” Kata Iras yang langsung membuat Mahesa tergelak.             “Gak boleh gitu, lo. Jahat banget.” Kata Mahesa sambil duduk di belakang Iras. Iras tak menjawab, ia menarik gas dengan sebelah tangannya lalu melajukan motornya membelah jalanan.             Kurang dari setengah jam, Iras menghentikan motornya di sebuah taman. Mahesa turun dari motor lalu berjalan pelan dan masuk ke dalam lapangan basket di taman itu. Lapangan itu di kelilingi oleh pagar besi sehingga tampak terpisah dari lapangan lainnya.             Iras membuka helm fullface nya lalu mengikuti Mahesa ke lapangan bakset yang tak pernah dikunci itu. Laki- laki itu sudah mengambil bola basket di pojok lapangan saat Iras mendudukkan diri di tepi lapangan.             Ini adalah kegiatan yang selalu keduanya lakukan selepas pulang sekolah. Iras selalu menemani Mahesa yang tak pernah betah di rumah. Keduanya kadang pergi ke lapangan basket itu, lain kali mereka pergi ke kafe dan berada di sana hingga malam, atau lain harinya lagi keduanya menyewa studio musik dan memainkan alat musik di sana sampai puas.             Iras sudah melakukannya selama tiga tahun. Mendampingi Mahesa kala laki- laki itu bosan dan tak punya tujuan namun tak juga ingin pulang ke rumah. Laki- laki itu bisa menghabiskan banyak waktu di luar rumah tanpa pernah berpikir apa yang akan terjadi esok, atau ada pekerjaan rumah apa untuk besok, atau apa usaha yang harus ia lakukan untuk memperbaiki nilai- nilainya. Laki- laki itu tak pernah memikirkan itu seakan- akan sekolah hanya sebuah formalitas buatnya.             Iras menatap Mahesa dan berdiri di tengah lapangan. Laki- laki itu mendribble bola oranye itu dan menatap lekat- lekat ke keranjang bola. Dalam satu lemparan, bola itu masuk ke dalam keranjang.             Iras tersenyum lalu melihat laki- laki itu menghampirinya dan duduk di sampingnya. Laki- laki itu membuka seragam sekolahnya. Meninggalkan kaos polos di tubuhnya yang sudah banjir keringat.             “Lo ke mana aja tadi?” tanya Iras saat melihat Mahesa merogoh tasnya dan mengeluarkan botol air mineral dari sana.             “Ke warung Pak Akung, terus ke tempat biasa.” Jawab Mahesa sambil membuka tutup botol lalu meneguk isi botolnya dengan pelan.             “Lo aja dia ke rooftop?” tanya Iras. Ia melihat laki- laki di sebelahnya mengangguk pelan. “Mau dia? Nggak takut?” tanyanya lagi.             “Nggak. Kayaknya dia bakal ketagihan gue ajakin bolos.” Jawab Mahesa sambil tersenyum, “dia nggak pernah bolos, cuy, selama sekolah. Suram banget kan hidupnya.” kata Mahesa.             “Lo tuh yang hidupnya suram. Ciara mah hidupnya udah lurus sesuai jalur.” Kata Iras yang langsung membuat Mahesa mendelik tajam.             “Kayaknya nanti bukan gue yang jadi rajin kayak Ciara, deh. Bisa- bisa itu anak yang jadi tukang bolos karena ketularan gue.” Mahesa terkikik geli. Ia menyesap lagi air dalam botolnya.             Keduanya berada di sana hingga sinar matahari mulai bersahabat. Iras menjatuhkan punggungnya di lapangan, begitu juga dengan Mahesa. Taman sudah ramai oleh anak- anak, namun tak ada yang masuk ke lapangan basket. Keduanya menatap langit yang tampak indah. Warna biru laut dan awan putih berbagai bentuk membuat langit sore itu tampak berbeda.             Matahari perlahan menyemburat jingga. Iras dan Mahesa masih berada di sana, menatap langit yang memerah dengan begitu indah. Keduanya tak melakukan ataupun membicarakan apapun. Tatapan keduanya terarah sepenuh pada langit jingga yang tak bisa ia temui setiap hari di Jakarta.             Langit mulai berubah gelap saat Iras mengangkat tubuhnya untuk duduk. “pulang, yuk.” Ajaknya pada Mahesa yang tampak tak acuh. “lo tuh punya rumah tapi kayak tunawisma, deh. Betah banget luntang- lantung di jalan.” Lanjut Iras dan membuat Mahesa terkikik geli.             “Gue males pulang karena gue tahu yang bisa gue lakuin di rumah cuma tidur.” Mahesa memasukkan seragamnya ke dalam tas lalu mengikuti Iras yang sudah berdiri. Keduanya keluar dari lapangan basket dan melihat lapangan bola masih ramai dengan orang- orang yang tengah memperebutkan bola karet dengan kaki mereka dan mencoba memasukkannya ke gawang lawan.             Keduanya menghampiri motor Iras di parkiran. “anterin gue sampai rumah, ya?” pinta Mahesa.             “Iya, mana pernah sih gue nurunin lo di pinggir jalan.” Iras memakai helmnya lalu naik ke motornya.             “Besok jemput gue. Kan mobil gue di sekolah.” Kata Mahesa lagi.             “Tolong, ya, Sa. Udah ada aplikasi yang namanya ojek online dan taksi online. Manja benget, sih. Kayak pacar aja minta antar jemput.” Keluh Iras. Mahesa terkikik geli sambil duduk di belakang Iras.             Iras membawa motornya membelah jalanan yang mulai padat karena berbarengan dengan jam pulang kantor. Mahesa menatap jalanan. Matanya meneliti kafe- kafe di pinggir jalan yang tampak ramai, juga orang- orang yang menyusuri trotoar. Mahesa menikmati angin malam yang menyapu kulitnya. Keramaian ini akan segera berakhir saat ia sampai di rumah. Ia akan menikmatinya sebelum kembali ke rumahnya yang begitu dingin.  TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD