Jam istirahat kedua, Bara melangkah lebar- lebar di koridor kelas sepuluh. Orang- orang yang tengah berjalan santai terpaksa membelah untuk memberikan jalan pada sang pentolan kelas sebelas. Kejadian di lapangan cukup membuat anak kelas sepuluh tahu siapa Bara. Dan bagi yang tidak mau terlibat dengannya, lebih baik menjauh dalam radius beberapa ratus meter.
"Minggir." sentaknya pada segerombolan anak perempuan yang sedang berkumpul dan memenuhi sebagian badan jalan. Gerombolan itu sontak menyingkir cepat. Ada yang ke kiri, ada yang ke kanan. Ke mana saja agar tidak bersentuhan dengan Bara. Tatapan tajam laki- laki itu sudah cukup membuat orang- orang tahu bahwa Bara bukan seorang siswa biasa.
Di kelas itu, Bara berhenti. Ia melongok kelas yang masih berisi beberapa anak. Matanya memindai sekeliling dan menyadari bahwa orang yang dicarinya tidak ada di sana. "Si anak baru ke mana?" tanyanya pada seorang anak laki- laki yang duduk di bagian depan. Laki- laki itu menatap Bara dengan bingung lalu menatap teman- temannya yang lain.
"Anak baru yang mana, Kak? Kita semua kan anak baru?" jawbanya takut- takut. Bara menghela napas lalu menunjuk salah satu meja.
"Yang duduk di sana."
"Oh, Ayra. Ke kantin kayaknya, kak." jawabnya. Tanpa bertanya lagi, Bara langsung berbalik dan pergi menuju kantin kelas sebelas yang ada di lantai satu di pojok kanan belakang.
Suasana kantin riuh dengan gerombolan anak yang memadati kios penjual. Anak- anak memenuhi penjual- penjual makanan, yang lainnya sudah duduk di meja dan menikmati makanannya.
Bara menatap sekeliling lalu berdecak. Terlalu banyak orang dan ia tidak mungkin bisa menemukan dengan cepat. Ia akhirnya menarik napas sebelum akhirnya berteriak. "YANG BUKAN AYRA JONGKOK SEKARANG JUGA." Ia menekankan kata Ayra dengan jelas, dan tidak butuh lama, suara Bara seperti peringatan dari kepolisian untuk tiarap saat terjadi serangan, sehingga mereka yang merasa bukan Ayra langsung berjongkok. Berikut penjual-penjulanya.
Bara tersenyum, ia menatap satu- satunya perempuan yang tengah berdiri dengan sebuah mangkuk di tangannya. Gadis itu kebingungan hingga akhirnya matanya bersirobok dengan mata serupa jelaga milik Bara. Laki- laki itu mendekat. Ayra mundur dua langkah dengan wajah yang memucat. Setelah sampai di depannya, Bara mengisyaratkan tangannya agar yang lain kembali ke kegiatannya.
"Mau makan?" tanyanya. Mereka masih berdiri dan Ayra mengangguk pelan. Bara melihat ke meja terdekat. "Eh kalian, cari meja lain. Gue mau duduk di sini." katanya. Membuat si penghuni meja terpaksa bubar jalan.
"Sini duduk." katanya pada Ayra. Ayra menurut, ia sempat melihat sekeliling yang walaupun sudah kembali ke kegiatan semula masih meninggalkan pendangan menyelidik ke arahnya. Semua penghuni kantin terlihat berbisik- bisik sambil menatapnya secara diam- diam. Semuanya sibuk berspekulasi mengenai apa yang terjadi antara keduanya. Sama seperti yang lainnya, ia pun kebingungan dengan sikap laki- laki di depannya.
Ayra mengaduk- aduk mangkuk baksonya. Merasa risih karena laki- laki di depannya terus meneliti wajahnya. Laki- laki itu menatapnya dengan begitu intens. "Kok nggak di makan?" tanya Bara saat sadar bahwa gadis di depannya hanya mengaduk- aduk mangkuknya.
"Risih, Kak. Kakak ngeliatinnya gitu banget." jawabnya pelan. Berdoa agar kata- katanya tidak menyingung perasaan laki- laki di depannya.
"Gue lagi nyari apa perbedaan lo sama anak yang satunya." Bara menaruh sikunya di atas meja dan memajukan tubuhnya lebih dekat. Ayra refleks memundurkan tubuhnya hingga punggungnya membentur sandaran kursi kayu itu. Ia menelan ludah secara tidak ketara.
"Identik banget, ya." katanya lagi. Ayra mengangguk pelan. Ia dan Lara memang terlahir kembar identik. Tidak ada yang bisa membedakan mereka kalau saja gaya mereka sama. Sayangnya, meski kembar, Lara dan Ayra adalah sosok yang berbeda. Kontradiktif. Ayra lebih feminin sedangkan Lara cenderung tomboy. Dan selain itu, masih banyak perbedaan- perbedaan yang bisa membuat mereka berbeda hanya dengan sekali lihat.
"Siapa nama kembaran lo?"
"Lara, Kak." jawabnya.
"Anak kelas berapa?"
"Sepuluh empat."
Bara mengangguk lalu menatap mangkuk gadis itu. "Gue mau minta maaf soal yang tadi. Gue sama sekali nggak tahu kalau kalian kembar." Ayra hanya mengangguk kecil. Jujur saja, ia tidak nyaman karena merasakan aura Bara yang terlalu mendominasi. Ia terus berharap supaya laki- laki itu segera pergi dari hadapannya sehingga ia bisa bernapas dengan normal.
"Gue dimaafin kan?" Ayra mengangguk lagi. Kalau nadanya sudah memaksa seperti itu, tak mungkin Ayra bilang 'tidak', cari mati namanya.
"Bagus, sekarang lo makan. Daritadi gue lihat diaduk- aduk mulu. Nanti pusing itu baksonya." Ayra hanya menarik sedikit garis bibirnya dan mulai menyuapkan sendok demi sendok ke mulutnya. Masih dengan sosok Bara di depannya.
Selama beberapa menit Bara memperhatikan Ayra yang tampak kaku di depannya. Mangkuk itu akhirnya di geser ke depan. "Lho, kenapa nggak habis?" tanya Bara dengan nada ramah namun sarat tekanan.
"Saya... Sudah kenyang, Kak." jawabnya sambil meminum air mineralnya. Karena melihat kenyataan bahwa Bara sepertinya tak mungkin pergi dengan cepat, Ayra berpikir bahwa ia yang seharusnya pergi dari hadapan laki- laki itu.
"Saya... mau ke kelas dulu ya, kak." izinya. Ia hampir berdiri hingga melihat laki- laki di depannya menggeleng keras.
"Habisin dulu, atau mau gue suapin?" Bara mengisyaratkan agar Ayra kembali duduk dengan sebelah tangannya. Ayra menurut dan kembali duduk di depannya.
Ayra menelan ludah, wajahnya mulai memerah. Ia melirik sekeliling yang diam- diam menatapnya. "Saya... udah kenyang, Kak, serius. Takutnya nanti malah muntah." jawabnya dengan nada terbata- bata. Sebelah alis Bara terangkat. Ia baru hendak membuka mulut saat sebuah suara mengalihkan perhatiannya.
"Ayra." suara kencang itu menggema di kantin. Semua orang menoleh ke asal suara, termasuk si empunya nama dan Bara. Kamal, dengan santainya menghampiri Ayra dan duduk di sampingnya. Menyeruput air dari botol mineral Ayra.
"Gue nyariin lo di kelas." katanya enteng. Masih belum melirik Bara yang ada di depannya. Ia menatap Ayra yang menatapnya dengan tatapan sulit terbaca.
"Heh, siapa yang nyuruh lo duduk di sini?" Tanya Bara garang. Ia menatap Kamal lekat- lekat. Memberitahu laki- laki itu bahwa ia sangat tidak suka dengan kehadirannya.
"Ini kan masih bisa buat duduk, Kak." Jawab Kamal dengan nada polos.
"Gue lagi ngobrol sama Ayra dan nggak ada yang boleh ganggu." sentaknya. Membuat mereka bertiga kini benar- benar menjadi bahan tontonan. Orang- orang menatap ketiganya secara terang- terangan.
Ayra memegang tangan Kamal lalu menggeleng pelan. Memberi isyarat Kamal agar tak menantang laki- laki di depannya.
Belum sempat Kamal membuka mulutnya, suara bel masuk menggema. Kamal menatap Ayra lalu berkata, "Udah selesai makan, kan? Balik ke kelas yuk." ajaknya. Ayra mengangguk dan merasakan tangan Kamal menggandengnya untuk keluar dari kantin.
Sebelah tangan Bara mengepal kuat- kuat. Ia melihat anak- anak yang mulai keluar dari kantin, juga punggung Ayra dan Kamal yang mulai membaur dengan yang lainnya hingga menghilang dari pandangannya.
Ia menghela napas kasar lalu menghampiri salah satu penjual dan mengambil satu botol air mineral dari kulkas. Ia membukanya dan meneguknya hingga tersisa setengah. Suasana kantin sudah sepi, meninggalkan para penjual yang tengah sibuk membereskan piring- piring bekas makan.
Bara menghabiskan isi botol lalu meremukkan botol plastik itu hingga tidak terbentuk lalu melemparkannya ke tempat sampah terdekat. Ia sama sekali tak menyangka akan ada anak yang berani datang ke mejanya dan menginterupsi pembicaraannya.
Saat mehat laki- laki itu ikut terlibat dengan masalahnya dengan si kembar kemarin. Ia tahu bahwa laki- laki itu punya hubungan yang dekat juga dengan Ayra. Ia ingat bagaimana laki- laki itu menggandeng tangan Ayra kembali ke kelasnya saat ia sadar bahwa ia salah sasaran. Laki- laki itu juga yang bersikeras menurunkan tas yang ia tarik ke ujung ke tiang bendera kemarin. Ia tahu, laki- laki punya kedekatan yang spesial dengan keduanya.
***
Jadi teman sebangku Mahesa itu bencana untuk Ciara. Kalau itu anak bolos, semua guru akan bertanya padanya, ke mana Mahesa? Dan kalau anak itu masuk, tingkahnya tak bisa diam, selalu saja membuat konsentrasi Ciara pecah. Seperti kali ini, Ciara tengah mencatat rumus fisika di depannya sementara Mahesa menggambar sambil bersenandung kecil. Suara Mahesa memang tidak bisa dibilang jelek. Semua orang tahu, suara Mahesa bagus, belum lagi kemahirannya memainkan alat musik. Kalau dia sudah unjuk gigi bermain gitar, tidak ada perempuan yang tidak meleleh. Tapi tetap saja, laki- laki itu bernyanyi dengan suara lirih yang hanya bisa didengar oleh Ciara, teman sebangkunya.
Ciara menghela napas lalu menatap guru yang tengah memeriksa latihan di mejanya. "Sa, lo bisa diam bentar nggak? Gue nggak konsen nih." mohon Ciara dengan nada pelan. Berharap tidak mengganggu guru yang tengah fokus itu. Mahesa menoleh, lalu mendekatkan tubuhnya ke arah gadis di sebelahnya. Membuat Ciara terpaksa menjauhkan tubuhnya.
"Emang suara gue jelek, ya?" bisiknya. Ciara langsung menggeleng.
"Bukan gitu, tapi suara lo bikin gue nggak konsen."
Seulas senyum muncul di bibir Mahesa. "Pasti karena suara gue bagus makanya lo jadi nggak konsen. Lo pasti lebih pengin dengar suara gue kan, dari pada guru yang di depan." Ciara buru- buru menggeleng. Ia baru saja hendak membuka mulutnya unutk menjawab saat tiba- tiba sebuah spidol mendarat di mejanya. Menimbulkan bunyi yang langsung membuat semua pasang mata anak- anak di kelas menghujam keduanya.
"Kalian bisik- bisik apa?" Bu Ayi, guru paling galak di SMA Pancasila kini menatap keduanya dengan garang.
"Bisik- bisik tetangga, Bu. Kayak lagu dangdut tuh." jawab Mahesa dengan raut tanpa dosa. Anak- anak tertawa riuh. Mahesa baru saja ingin membuka mulut untuk bernyanyi saat sebuah suara menghardiknya.
"Ini kelas fisika, bukan kelas nyanyi. Siapa yang nyuruh kamu nyanyi?"
"Ciara, Bu." kata Mahesa polos. Semua mata kini melihat ke arah Ciara yang tanpa sadar menggeleng- gelengkan kepalanya. Ciara melotot ke arah Mahesa lalu kini menatap ke arah guru yang identik dengan tatapan membunuhnya.
“Bukan, Bu.” Ciara membela diri.
"Kalian berdua... keluar dari kelas!!!" berbeda dengan Ciara yang bahunya langsung melemas. Mahesa malah langsung berdiri dan keluar dengan semangat empat lima. Wanita paruh baya itu bedecak saat melihat Mahesa melenggang santai keluar kelas, Ciara mengekor dengan langkah gontai hingga punggungnya ditelan pintu kelas.
Meskipun Ciara tidak terlalu mengenal Mahesa. Tapi ia tahu bagaimana watak laki- laki itu. Omelan, ceramah sampai penggaris besi tidak akan ampuh buat seorang Mahesa. Makanya, sedetik setelah ia keluar dari kelas, ia mengurungkan niatnya untuk mengomel pada laki- laki itu. Ia tahu, semua omelannya hanya akan masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri.
Mereka berjalan beriringan di koridor yang sudah kosong. Para siswa dan guru tengah sibuk di dalam ruang kelas masing- masing. Lapangan tampak kosong karena tak ada pelajaran olahraga pagi itu.
Mahesa membalik badan dan menatap Ciara yang tampak lesu. Gadis itu menunduk seakan baru saja mendapat nilai terburuk sepanjang hidupnya.
"Lo nggak pernah diusir dari kelas?" Gadis itu menggeleng tanpa menoleh. "Nggak pernah bolos?" Gadis itu menggeleng lagi.
Mahesa berdecak, "Haduh. Dunia lo flat banget. Itu sih putih abu- abu nggak bakal ada kesannya." ejek Mahesa. Tapi Ciara tidak peduli. Ia hanya butuh lulus dengan nilai terbaik agar tidak menyulitkannya dikemudian hari. Ciara masih punya cita- cita yang panjang selepas lulus. Ia tak punya waktu untuk memikirkan kesan masa putih abu- abunya. Ia ingin menjalani hidup senormal dan sebaik mungkin. Anak- anak sepertinya tak seperti Mahesa yang punya segalanya.
"Biar gue warnain sedikit putih abu- abu lo, ya." Ciara tersentak saat merasakan tangannya digandeng oleh Mahesa dan sedetik kemudian dibawa berlari. Ciara terpaksa ikut berlari walau langkah Mahesa yang lebar- lebar membuatnya terseok- seok di belakangnya.
"Sa... Sa." teriaknya pada Mahesa yang langsung disambut oleh cengiran laki-laki itu. Mereka berlari sepanjang koridor kelas dua belas yang sepi. Menimbulkan derak langkah yang menyulut rasa ingin tahu anak- anak dan guru yang sedang berada di dalam kelas. Beberapa pasang mata terlihat mengintip dari jendela karena ingin tahu suara siapa itu.
Mereka menuju ujung koridor tempat tangga berada. Tanpa memelankan langkahnya, Mahesa terus berlari sambil menarik tangan Ciara yang makin kewalahan menyesuaikan langkah lebar- lebarnya. Ciara yang tak ingin mendapat masalah, menepuk pundak Mahesa yang terjangkau olehnya dengan sebelah tangannya yang bebas.
“Mahesaaaaaa." suara melengking itu terdengar dari belakang saat mereka baru saja menuruni tangga lantai dua. Mahesa berhenti tiba- tiba, membuat Ciara menabrak bahunya. Mahesa menoleh, melihat guru piket yang sudah mengacungkan penggaris ke arahnya.
"Mahesa pergi dulu, Bu, sebentar." katanya lalu kembali berlari. Membuat Ciara hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan.
"Gila lo, Sa, kalau sampai gue dipanggil ke ruang BK, lo tanggung jawab, ya." keluh Ciara, mereka masih berlari dan Mahesa menjawab hanya dengan sebuah senyuman kecil.
Mahesa membawanya ke kantin belakang, tapi tujuannya bukan ke kantin. Mereka masih terus berbelok ke arah gudang dan berhenti di tembok belakang sekolah.
"Ayo naik." perintah Mahesa. Mulut Ciara terbuka lebar. Ia baru saja meyakinkan diri bahwa Mahesa baru saja menyuruhnya memanjat tembok itu.
"Lo gila." katanya. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja Mahesa katakan.
"Dikit." jawabnya dengan nada datar. Mahesa masih terus mengiyaratkan Ciara untuk mengikuti perintahnya.
Ciara melihat ke depannya. Tembok yang ada di depannya berada persis di balik sebuah pohon besar. Dan di temboknya sudah ditempel kayu- kayu yang sengaja dibuat untuk membantu aksi memanjat dan kawat- kawat di atas tembok sudah dicopot paksa sehingga ada ruang kosong untuk terjun ke balik tembok.
"Gue nggak mau." kata Ciara tegas. Ia menggeleng- gelengkan kepalanya. Menolak perintah Mahesa yang menurutnya akan sangat beresiko.
"Yaudah, gue aja. Gue nggak tanggung jawab, ya, kalau lo ketahuan." Mahesa mulai memperlihatkan keahlian memanjatnya yang mungkin lebih hebat dari seekor monyet. Ciara menatap Mahesa dan arah belakangnya silih berganti. Mahesa ada benarnya. Bagaimana kalau guru piket yang tadi mengejarnya dan dia tertangkap. Mahesa harus bertanggung jawab, dan ia tak mungkin membiarkan Mahesa lolos sedangkan dirinya tertangkap.
"Masih nggak mau manjat?" Mahesa bertanya sambil mengulurkan sebelah tangannya. Ia masih berdiri di atas dan kini menatap ke arah Ciara yang kebingungan. Ciara mendengus kesal lalu mulai memanjat, membuat Mahesa tersenyum tanpa sadar. Ia menggapai tangan Mahesa saat sampai di tengah dan dalam satu gerakan, laki- laki itu menarik Ciara.
"Gue loncat dulu." Dalam satu jangkauan kaki, Mahesa berhasil mendarat mulus di tanah. Ia menatap Ciara yang masih berada di atas tembok. Gadis itu tampak panik.
"Ayo loncat." katanya pada Ciara. "Gue itung sampai tiga ya." lanjutnya.
"Satu...dua..." Dan belum mencapai tiga, tubuh Ciara sudah menubruknya. Membuat punggung Mahesa sukses membentur rerumputan. Dengan posisi tubuh Ciara di atasnya, Mahesa bisa melihat wajah gadis itu sudah semerah tomat.
"Kan gue bilang sampai tiga." Ia membantu Ciara bangun dan menepuk- nepuk lutut gadis itu yang terkena tanah.
"Gue lihat guru piket tiba- tiba muncul dari kantin. Makannya gue langsung loncat." katanya dengan nada kesal. Mahesa tidak sadar bahwa ia sudah tertawa melihat kepolosan gadis di depannya. Ciara mendengus, dilihatnya Mahesa yang tertawa di depannya. Laki- laki itu bahkan tak menunjukkan raut wajah bersalah ataupun meminta maaf padanya. Laki- laki itu sibuk tertawa seakan- akan melihat atraksi badut di depannya.
Ini jelas bencana buat Ciara. Seumur hidup, baru kali ini ia diteriaki oleh guru piket sambil diancungkan penggaris besi dan sekarang, ia malah dalam usaha kabur dari sekolah gara- gara Mahesa, orang yang baru saja jadi teman semejanya. Ia seharusnya tahu bahwa menjadi teman sebangku Mahesa tak akan pernah mudah.
"Mau ke mana lagi, sih? Balik ke sekolah aja, yuk." pinta Ciara. Tapi Mahesa tidak mengacuhkannya. Ia tetap berjalan menjauhi tembok sekolah, yang menjadi saksi bahwa ia baru saja menculik paksa salah satu anak emas guru- guru.
Tembok itu mengarah ke warung pak Akung, warung yang terkenal sebagai sarang anak- anak nakal. Warung kecil itu tidak menjual banyak makanan. Hanya mie instan, gorengan, minuman dingin, kopi dan yang pasti, rokok. Mungkin yang terakhir itu yang bikin warung ini lebih menarik dibanding kantin di dalam sekolah.
Keduanya sampai di warung pak Akung saat tersadar bahwa tangan keduanya masih bertautan. Ciara yang pertama kali melepas genggaman Mahesa, membuat Mahesa mengucapkan maaf padanya.
"Pak, kopinya satu, ya." teriak Mahesa pada pria paruh baya yang ada di dalam. Pria paruh baya yang biasa di panggil pak Akung itu mengangguk. Ia duduk di bangku panjang dan mengambil satu buah lontong dari keranjang berwarna biru.
"Mau minum apa?" tanyanya pada Ciara yang tampak kaku. Ciara hanya menggeleng, ia tidak betah dengan bau rokok yang sepertinya tertinggal di berbagai sudut.
"Minum dong, lo kan habis lari- larian. Nanti dehidrasi." Mahesa masih asik mengunyah lontong saat berbicara. Tapi karena tidak mendapat jawaban apapun, ia akhirnya mengambil satu botol air mineral dari box pendingin dan mengarahkannya pada Ciara. Ciara menerima walau tidak langsung meminumnya.
"Kita ngapain sih di sini?" Ciara melirik jam tangannya yang menunjukkan jam pelajaran fisika akan segera berakhir.
"Ya temenin gue aja di sini." katanya sambil menyulut rokok yang ia dapat dari etalase warung.
"Lo kalau mau nyari masalah, jangan bawa- bawa gue dong." runtuknya dengan nada sebal. Laki-laki itu tertawa sambil mengembuskan asap rokok dari mulutnya.
"Biar berkesan sedikit masa putih abu- abu lo." katanya. Ciara terbatuk saat menghirup asap rokok yang keluar dari mulut Mahesa.
"Jangan ngerokok dekat- dekat gue. Kalau baunya nempel terus kecium sama ibu gue, bisa gawat." Ia menggeser tubuhnya. Memberikan jarak sejauh yang ia bisa.
Dengan sangat terpaksa, Mahesa mematikan rokoknya dan membuangnya ke tanah, membuat Ciara terdiam. "Emang ibu lo sering nyium- nyiumin seragam lo?" tanya Mahesa dengan nada penasaran. Ia sudah bergerak mendekati Ciara yang berada di ujung bangku.
"Nggak maksud nyium- nyium juga, kalau udah nempel kan pasti kecium." secara refleks, Mahesa mencium baju seragamnya sendiri.
Mahesa menyesap kopi yang baru saja di sajikan Pak Akung di depannya. Ciara masih duduk di sebelahnya. Ia tahu bagaimana kesalnya Ciara padanya. Gadis itu pasti tak pernah menyangka akan mengalami ini. Gadis itu pasti takut jika apa yang mereka lakukan hari ini akan membuatnya mendapatkan masalah. Gadis dengan segudang prestasi seperti Ciara pasti tak akan pernah terpikir untuk melakukan hal ini. Hal- hal yang hanya dilakukan oleh anak- anak nakal seperti Mahesa.
TBC
LalunaKia