Bel istirahat menggema. Setelah guru- guru mengakhiri kegiatan mengajarnya, semua anak- anak menghambur keluar kelas. Sebagian dari mereka pergi menuju kantin, sebagian lagi menuju lapangan untuk bermain bola, ada yang memilih tetap di kelas dan yang lain bergerombol dan mengobrol di depan koridor.
Bara melangkah lebar- lebar di koridor lantai tiga. Ia tidak punya tujuan lain selain kantin kelas sepuluh. Setelah turun dari lantai tiga, ia menyusuri koridor lantai dua. Tapi, belum sempat ia mencapai kantin, ia berhenti di depan sebuah kelas yang pintunya terbuka lebar. Ia mundur untuk melihat ke dalam ruangan yang hanya terisi satu orang. Gadis dengan rambut panjang terurai itu tengah membaca buku di salah satu meja. Bara menyeringai lalu melangkah masuk ke dalam kelas.
"Jadi lo di sini? Kenapa nggak keluar? Takut ketemu gue?" Bara membalik bangku yang ada di depan meja gadis itu dan duduk di depannya. Gadis itu menatap Bara dengan wajah bingung. Dilihatnya wajah Bara yang tampak tak bersahabat.
"Kenapa diam aja? Takut ketemu gue?" Bara memajukan wajahnya lebih dekat.
"Kakak ada perlu sama saya?" Gadis di depannya bertanya setelah berhasil menempelkan punggungnya di kursi untuk menjauh. Wajahnya sudah memucat karena tatapan tajam laki- laki di depannya.
"Nggak usah sok manis. Kalau udah kayak gini, baru lo takut." Ia menatap gadis di depannya baik- baik. Tak melepas pandangannya sedetikpun dari wajah yang sudah mulai ketakutan di depannya.
"Saya nggak ngerti maksud kakak apa." Gadis itu menautkan jari- jarinya yang mulai berkeringat. Ia menelan ludah dengan tidak ketara.
"Mau gue ingetin? Atau ingat sendiri?" Bara berdiri lalu merampas tas yang ada di belakang tubuh gadis itu.
"Tas saya... mau diapain kak?" teriak gadis itu dengan nada panik. Ia menatap sekeliling kelas yang kosong.
"Kalau lo sudah ingat, lo temuin gue, terus ambil tas ini." Bara menjauh, membuat gadis itu kebingungan. Bara keluar dari kelas dengan senyum semringah sambil menenteng tas berwarna biru muda itu. Ia mulai berpikir, apa yang ingin ia lakukan dengan tas itu, agar si pemilik berpikir dua kali untuk berurusan dengannya.
Gadis itu didatangi teman- temannya yang sedang berkumpul di koridor depan kelasnya. Mereka yang melihat Bara keluar dan membawa tas gadis itu langsung masuk dan bertanya apa yang terjadi. Gadis itu hanya bisa menggeleng dengan wajah kebingungan. Ia sama sekali tak mengerti situasi macam apa ini. Ia tak tahu kenapa kakak kelas itu mendatanginya, berbicara hal yang sama sekali tidak ia mengerti dan bahkan mengambil tasnya.
***
Lima menit sebelum bel masuk berbunyi, sebuah suara terdengar keluar dari dalam TOA. Bara berdiri di depan tiang bendera dengan tas yang baru saja ia rampas. Laki- laki itu berteriak keras sambil menatap ke lantai dua. Setelah berbicara dengan nada mengancam agar si empunya tas segera mendatanginya, ia menyantelkan satu sisi tas itu ke tali tiang bendera dan dengan santai menggiring tas itu hingga sampai di bagian paling atas tiang bendera. Hampir semua anak memenuhi tepi koridor yang langsung menatap ke lapangan. Orang- orang di lantai bawah juga berkumpul menyaksikan kejadian itu.
Gadis itu masih berada di ruang kelas bersama teman- temannya yang memaksa gadis itu untuk melaporkan kejadian itu ke guru. Setelah berpikir, gadis itu akhirnya berpikir untuk mengikuti saran temannya. Semua buku- bukunya ada di sana, ia tidak mungkin bisa belajar jika tasnya tak dikembalikan. Ia bersama beberapa teman yang lain keluar dari kelas dan melihat siswa memenuhi tepi koridor. Sebuah suara terdengar dari pengeras suara. Gadis itu mencoba membelah kerumunan dan terkejut melihat tasnya sudah berada di ujung tiang bendera. Di bawah, ia lihat kakak kelas yang mengambil tasnya berdiri dengan pongahnya.
Gadis itu berlari menuju lantai bawah dengan jantung yang berdegub kencang. Ia tidak tahu apa yang sedang terajdi, tapi ia tahu bahwa ini bukan situasi yang baik.
***
Bara masih menunggu di depan tiang bendera sambil menggerak- gerakkan kakinya. Ia tidak peduli bahwa semua mata kini terarah penuh ke arahnya. Ia sudah biasa mendapatkan tatapan- tatapan seperti sehingga sama sekali tak merasa risih.
Senyum sinisnya terukir saat melihat seorang gadis tergopoh- gopoh mendatanginya. Berdiri di depannya dengan napas terengah-engah.
"Akhirnya lo datang juga." Kata Bara, ia bertolak pinggang dan berdiri di depan gadis itu.
"Tolong turunin tas saya, Kak." Pinta gadis itu dengan wajah memerah. Ia mencoba menetralkan napasnya dan menunduk saat menyadari semua mata kini menatapnya secara terang- terangan.
"Turunin? Lo pikir segampang itu." Bara mengambil TOA yang ia taruh di bawah tiang bendera dan mendekatkan ujungnya ke mulutnya. "Kalau lo mau tas lo balik. Lo berlutut dulu, minta maaf sama gue." Suaranya keluar dari TOA dan terdengar hampir ke seluruh penjuru sekolah.
Anak- anak yang lain riuh saling bersorak karena mendapat hiburan gratis. Yang lainnya menatap si gadis dengan tatapan kasihan. Mereka tahu hal seperti itu tak seharusnya menimpa anak kelas sepuluh. Kejadian itu bagai mimpi buruk saat mereka tahu bahwa gadis itu berurusan dengan Bara, anak kelas sebelas yang paling ditakuti.
Bagi anak kelas sebelas dan dua belas, kejadian ini adalah lumrah. Apalagi pelakunya adalah Bara, si pentolan yang padahal baru kelas sebelas. Si biang kerok sebagian kerusuhan di SMA Pancasila, karena sebagian lagi adalah ulah Mahesa, si pentolan kelas dua belas. Tapi sesuai dengan hukum alam, bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan senioritas. Mahesa selalu bisa mengalahkan Bara meskipun laki- laki itu tidak pernah kapok untuk mengulangi perbuatannya.
Wajah gadis itu kontan memucat. Wajahnya yang putih kini sudah serupa kapas. Bara mengambil dagunya untuk melihat ke arahnya. "Pilih berlutut atau gue cium di depan seluruh anak di sekolah ini." Kata Bara dengan nada dingin. Ia menyeringai melihat wajah ketakutan gadis di depannya.
Wajah putih itu kini berubah menjadi semerah tomat. Ia menahan degupan jantungnya yang kini serasa ingin loncat dari tempatnya. Seringai dan tatapan laki- laki di depannya tampak mengintimidasinya. Dan kata- kata yang keluar dari mulutnya membuatnya malu.
"Urusan lo sama gue, bukan sama dia." Suara itu mengalihkan keduanya. Bara menoleh. Ia membeku. Ditatapnya gadis yang kini berdiri tak jauh dari tempatnya. Sekali lagi, bukan hanya Bara yang ternganga, tapi juga semua penonton. Ditatapnya dua gadis itu bergantian.
Mereka sama, serupa, bak pinang dibelah dua. Gadis di depannya dengan rambut tergerai dan pakaian rapi. Sementara gadis yang baru saja menyeruak kerumunan itu mengikat rambutnya ke atas, dengan rok di atas lutut dan seragam yang tidak dimasukkan. Detik itu juga, Bara sadar ia salah sasaran. Dilihatnya lagi gadis di dekatnya yang wajahnya sudah memucat sedangkan gadis yang satunya dengan wajah menantang.
"Pergi dari sini. Biar gue yang urus tas lo." Mereka sudah berdiri sejajar. Lara berkata tanpa melirik ke sebelahnya
"Tapi, Ra...."
Belum sempat gadis itu menjawab, tangannya sudah ditarik oleh Kamal untuk meninggalkan arena yang akan semakin panas itu. "Tapi, Mal… Lara…” gadis itu masih menoleh ke arah Lara yang ia tahu akan mendapat masalah besar karena laki- laki itu.
"Biar gue yang jaga Lara. Lo kembali ke kelas aja." Kata Kamal. Ia menggadeng tanga Ayra kembali ke kelas. Semua mata menatap keduanya saat keduanya melewati koridor kelas. Sekali lagi, gadis itu hanya menunduk dan membiarkan tangan Kamal membawanya kembali ke kelasnya.
"Jadi lo kembar.” Kalimat yang keluar dari mulut Bara bukan pertanyaan sehingga Lara merasa tidak perlu menjawab. "Berarti gue salah target dong, ya." Katanya lagi.
"Turunin tas itu." kata Lara dengan tatapan tajam ke arah Bara.
Bara mencibir. "Semudah itu? Nggak lah, lo harus minta maaf atas tindakan kurang ajar lo tadi pagi."
"Jangan Mimpi!!!" Semua anak ternganga. Mereka semua tidak menyangka bahwa kata itu yang akan keluar dari mulut gadis itu. Mereka semua heran bagaimana bisa seorang juniorr berani melawan kakak kelas, apalagi Bara.
***
"Sa, Bara buat ulah lagi, tuh." Iras yang baru kembali dari toilet langsung melapor pada Mahesa yang tengah menyantap siomaynya. Mahesa, yang sedang malas ribut tampak tak acuh. Ia menggeleng dan mengisyaratkan tangannya agar Iras tak melanjutkan kata- katanya.
"Sa, serius nih. Lawannya anak cewek. Kelas sepuluh lagi." Mendengar kata- kata Iras, Mahesa tersedak, ia buru- buru menyeruput teh manisnya.
"Serius?" Saat melihat Iras mengangguk, Mahesa langsung berlari keluar dari kantin menuju tempat kejadian perkara. Ia terkejut melihat kerumunan yang sudah memenuhi koridor.
Mahesa langsung menyeruak ke barisan paling depan. Di sana, di depan tiang bendera, ia tengah melihat dua orang yang tengah adu mulut. Matanya melotot saat menyadari bahwa gadis yang dimaksud adalah gadis yang pernah masuk ke kelasnya saat MOS.
Tapi, ini diluar dugaannya. Gadis itu tampak tidak gentar meski berhadapan dengan Bara. Gadis itu tidak segan- segan kembali menatang. Membuat Bara semakin terlihat geram. Gadis itu berkacak pinggang, sama sekali tak terintimidasi oleh tatapan Bara yang sudah penuh kemurkaan.
"Sa, kok lo malah ikut nonton sih. Bukannya dipisahin." Iras menyenggol lengan Mahesa yang justru ikutan asik menonton. Laki- laki itu hanya menatap keduanya dengan tatapan takjub.
"Bara dapat lawan yang sepadan. Gue mau lihat." Katanya. Iras menggeleng- gelengkan kepalanya tak percaya.
"Gue cuma mau lo minta maaf." Kata Bara. "Dengan tambahan sedikit berlutut." Mereka berdua masih menajadi tontonan, padahal bel masuk sudah berbunyi dua menit yang lalu. Kamal mendekat dan menghampiri tiang bendera, siap menggerek tas itu turun ke bawah.
"Eh, siapa yang suruh lo ke sini?" sentak Bara pada Kamal.
"Kakak kan salah orang. Tas ini nggak bersalah, jadi harus dibalikin ke yang punya." Kata Kamal, tidak mempedulikan tatapan Bara yang menajam. Kamal berhasil menurunkan tas itu dan melepaskannya dari pengait.
"SEMUANYA... MASUUUUUKKKKKKKKKK." Suara itu keluar dari speaker yang tertempel di setiap sudut ruangan. Melengking keras hingga membuat anak- anak harus menutup kuping untuk menyelamatkan pendengaran mereka.
Semua anak berbodong- bondong kembali ke kelas dan mendesah karena kehilangan tontonan. Sementara Bara dan Lara masih berdiri di sana, saling menatap dengan bias kebencian yang begitu kental.
"Bara… Kamu lagi, kamu lagi." Bu Yeni berlari. Dan kini berdiri di antara mereka. "Kamu juga. Anak kelas sepuluh kan?" kini ia menatap Lara yang mengangguk.
"Masukin baju, naikin kaos kaki, pakai dasi yang benar." Katanya sambil menunjuk bagian- bagian yang harus diperbaiki. Lara memasukkan seragamnya asal, menarik kaos kakinya paksa, karena kaos kakinya memang pendek dan membenarkan dasinya dengan asal.
"Kamu kembali ke kelas." Katanya lagi sambil mengisyaratkan tangannya untuk menjauh. Lara menunduk lalu mengikuti perintah. "Oia, satu lagi. Rok panjangin dikit. Itu terlalu pendek." Tidak menjawab, Lara hanya menoleh sebentar lalu mengangguk dan kembali ke kelasnya.
"Saya juga balik, ya, Bu. Ada pelajaran bu Mulyani nih. Bisa kena marah kalau telat masuk." Pinta Bara.
"Siapa yang suruh kamu balik? Hormat berdiri di bawah tiang bendera sampai jam ke lima berakhir." Bu Yeni memukul pundak Bara agar laki- laki itu menghadap ke tiang bendera dan memaksa laki- laki itu untuk mengangkat tangannya. Ia hanya bisa geleng- geleng kepala. Selain Mahesa, anak satu ini juga termasuk anak yang bikin darah tingginya naik. Tingkahnya sebelas dua belas sama Mahesa.
"Udah ayo masuk." Kata Iras. Mereka berdua masih berdiri di sana. Memerhatikan bu Yeni yang masih asik mengomeli Bara.
"Gue cabut, ah. Lo aja yang balik, ya." Kata Mahesa sambil berlari menuju belakang sekolah. Iras hanya berdecak melihat temannya berlari menajuhinya. Setelah melihat punggung Mahesa menghilang dari pandanganya, ia melangkah kembali ke kelasnya.
***
Bara berdiri di depan tiang bendera dengan sebelah tangan dalam posisi hormat. Siang itu begitu terik. Dahi laki- laki itu mulai berkeringat. Ia menatap ujung tiang bendera yang kosong. Ujung tiang yang baru saja ia isi dengan sebuah tas biru muda milik gadis yang tak bersalah.
Tatapannya lalu terarah pada salah satu kelas di lantai dua. Kelas gadis yang telah menjadi korban salah sasarannya. Ia tidak akan pernah melupakan wajah pucat dan ketakutan gadis itu. Ia tersenyum tanpa sadar. Hatinya berdebar tanpa bisa ia kendalikan.
Ciara keluar dari ruang OSIS dan menggeleng saat melihat Bara berdiri di depan tiang bendera. Ia kembali masuk ke dalam ruang OSIS dan keluar dengan sebuah air mineral gelas di tangannya. Ia menyusuri koridor dan berhenti saat sampai di depan tiang bendera.
“Bikin ulah mulu, sih, lo.” Kata Ciara. Seulas senyum terukir di bibir Bara. Tangannya menangkap air mineral yang baru saja dilemparkan Ciara.
“Thanks.” Kata Bara.
Ciara hanya mengangguk lalu kembali menyusuri koridor menuju lantai empat. Ciara sendiri sudah tak heran melihat laki- laki itu di hukum. Hukuman- hukuman seperti itu tampak terlalu kecil dan tak akan membuat Bara kapok. Ciara pikir laki- laki itu terlahir sebagai biang onar. Laki- laki itu sepertinya tak pernah takut pada apapun, sama seperti Mahesa.
TBC
LalunaKia