Soraya mampir ke sebuah kafe yang menyediakan berbagai jenis wine dan dia menghabiskan sebotol wine. Perasaannya berantakan. Dia tidak menyangka Daniel bisa seperti ini. Dulu, Daniel adalah pria yang paling dingin di antara pria-pria lainnya. Rambut Soraya berantakan. Wajahnya terlihat frustrasi. “Aku tidak peduli padanya lagi! Aku benci dia!” Soraya membuka apartemennya dan secara ajaib ada Daniel yang menyambutnya sedang duduk di sofa dengan kaki menyilang. Soraya menajamkan pandangannya dengan menyipitkan mata. Pria yang duduk di sana itu benar-benar Daniel. Tapi, bagaimana bisa dia tiba-tiba ada di apartemennya? “Jam tujuh malam dan kamu baru pulang. Darimana saja?” tanyanya posesif. “Daniel...”

