“Iya, Adik Arian,” balas Aksa.
Rania tak lagi membalas perkataan Aksa, ia masih terus melihat foto tiga anak kecil itu. Tindakan Rania disadari Aksa, ia juga melihat foto itu.
“Apa ada yang aneh?” tanya Aksa.
“Aku hanya tidak asing dengan wajah anak perempuan itu,” kata Rania lagi, ia masih fokus melihat foto itu.
“Benarkah? Kami sudah mencari Kirani bertahun-tahun, dia hilang saat tur sekolahnya waktu itu ia berumur empat tahun.” Aksa menjelaskan kepada Rania.
Kirani Pratista—Adik Arian Pratista sahabat Aksa, mereka sudah mencari Kirani dari dulu. Tapi tidak membuahkan hasil, Kirani hilang dari rombongannya saat mengadakan tur sekolahnya.
“Cantik,” gumam Rania melihat foto itu dari dekat.
“Iya,” kata Aksa merespon perkataan Rania.
“Dia sangat cantik, dia adalah satu-satunya wanita yang ingin kuajak hidup bersama,” sambung Aksa dalam hatinya.
Aksa sangat mencintai Kirani, bahkan sampai sekarang. Waktu itu Kirani masih TK sedangkan dirinya sudah beranjak remaja, Kirani selalu menempel padanya. Awalnya Aksa risih, lama kelamaan ia menjadi menyukai Kirani. Bahkan Aksa remaja sudah berjanji di hadapan kedua orangtua Kirani, kalau ia akan menikahi Kirani waktu dewasa nanti.
Tapi, takdir berkehendak lain. Tuhan memisahkan ia dan Kirani, bahkan setiap malam Aksa selalu berharap kalau Kirani akan datang lagi di hidupnya.
“Sudahlah, cepat habiskan makananmu,” kata Aksa lagi.
Aksa tak ingin berlarut dalam kesedihannya, ia sudah punya Luna sekarang, walaupun tidak bisa mengobati rasa rindunya terhadap Kirani. Setidaknya Luna mengisi kekosongan Kirani.
“Apa kita akan pulang malam ini?” tanya Rania.
“Mau dimangsa binatang buas jika pulang tengah malam begini?” tanya Aksa dengan nada kesalnya.
Rania menanyakan pertanyaan bodoh yang tak perlu Aksa jawab.
“Ayo ke kamar,” ajak Aksa, ia tak mau meninggalkan Rania sendiri di bawah.
Karena rumah mereka berada jauh di tengah hutan, dan cuma ada mereka di sini. Sedangkan penjaga rumah menempati rumah belakang.
Rania menatap curiga ke Aksa mengajak drinya ke kamar, ia bahkan menghentikan langkah saat Aksa mengatakan itu.
Aksa menyadari kalau Rania tak lagi mengikutinya, ia pun melihat ke belakang dan benar saja Rania masih di tempatnya.
“Buang pikiran negatifmu itu!” tegas Aksa, dengan nada kesal.
Ia sangat kesal melihat Rania menuduhnya yang tidak-tidak. Aksa bukanlah pria brensek yang memanfaatkan wanita demi kepuasan pribadinya. Jika wanita itu tak setuju ia juga tak akan memaksa.
Jika wanita itu duluan yang meminta, Aksa tak bisa menolak. Contohnya Rania pada malam pertemuan pertama mereka. Laki-laki mana yang menolak jika wanita yang mengajak untuk bersenang-senang, Aksa rasa tak ada yang menolak.
“Aku bukan seperti yang kamu pikirkan Rania, aku juga menghargai wanita dalam hidupku,” kata Aksa lagi, sambil berjalan menuju lantai atas di mana kamar Aksa berada.
Hanya Rania satu-satunya wanita dalam hidup Aksa, yang ia ajak ke sini. Luna saja tidak pernah ke sini, karena tempat ini sangat privasi hanya keluarga inti saja yang boleh tau.
“Mana tau kan, kita tak terlalu mengenal satu sama lain,” kata Rania sambil melihat sekeliling masih terpukau dengan arsitektur dan desain rumah itu.
“Sudahlah, aku mau tidur dan jangan ganggu aku,” ucap Aksa lagi, sambil memainkan ponselnya.
“Di mana ya, aku bertemu anak itu? apa di panti?” gumam Rania, ia masih memperhatikan figura-figura yang terpanpang di dinding.
Banyak sekali foto Kirani di sini. Bisa Rania tebak, Kirani sangat di sayang oleh keluarganya dan keluarga Aksa.
“Apa?” kaget Aksa mendengar penuturan Rania.
“Tidak ada,” balas Rania lagi, Rania tak ingin membahas masalah ini. Karena baginya tak penting untuk megetahui semua itu.
***
Di kediaman keluarga Maheswari, mereka sedang makam malam bersama. Mereka mencari Aksa, namun Aksa tak kunjung datang.
“Di mana Aksa?” tanya Arwan—Ayah Aksa.
“Paling ke tempat Luna,” balas Kalila tak terlalu memusingkan hal itu.
“Benarkah itu?” tanya Arwan lagi, ia tak suka mendengar penuturan Kalila. Sepertinya ia harus berbicara dengan Aksa nanti.
“Rania juga tak ada,” kata Nirmala, ikut menimpali.
“Anak itu tak tau diri, sudah jam segini belum juga pulang,” kata Kalila menyalahkan Rania.
“Tuan dan Nyonya pergi bersama tadi Nyonya. Mereka sudah pergi semenjak siang tadi,” lapor salah satu pengawal yang berdiri di samping mereka.
“Baguslah kalau begitu.” Nirmala tersenyum merespon itu artinya Aksa dan Rania akan semakin dekat.
“Lagipula besok minggu, biarkan saja mereka berdua bersama,” sambung Arwan lalu mereka tertawa bersama kecuali Kalila tentunya.
“Cari tau ke mana Aksa pergi, Luna juga harus ikut!” perintah Kalila ke asisten pribadinya, yang selalu setia mendampinginya.
“Kalila sudahlah, sebaiknya kamu merestui saja hubungan Aksa dan juga Rania. Toh Rania juga tidak terlalu buruk,” ucap Arwan menegur istrinya yang sangat benci dengan Rania.
Padahal Rania adalah wanita baik, terlihat jelas sekali dari wajah Rania seperti wanita lugu.
“Tidak akan, aku tidak sudi mempunyai menantu yang jelek seperti Rania,” kata Kalila, tak setuju dengan perkataan Arwan.
“Terserah kamu, aku rasa ibu akan sangat menentang pernikahan Luna dan Aksa,” kata Arwan lagi, ia muak dengan keegoisan Kalila. Beruntung ia memiliki Nirmala yang selalu ada untuknya.
Kalau bukan karena hutang budi, sudah lama Arwan meninggalkan Kalila. Karena Kalika memiliki banyak saham di perusahaannya, makanya ia tak bisa menceraikan Kalila. Bisa-bisa perusahaannya hancur jika Kalila pergi.
***
Hari pun beranjak pagi terlihat Rania tidur di sopa yang ada di kamar. Jangan harap Aksa akan berubah baik padanya. Aksa tetaplah Aksa, yang selalu jahat dengan Rania. Mustahil kalau Aksa berubah baik kepada Rania.
“Bangun!” teriak Aksa, saat Rania masih terlelap dalam tidurnya.
Semalam Rania tidak bisa tidur, mungkin pertama kalinya ia tidur di kamar itu makanya susah sekali untuk tidur.
“Hmm,” balas Rania, masih bersembunyi di dalam selimutnya.
“Bangun Rania, aku mau makan siapkan sarapan untukku!” perintah Aksa.
Rania benar bukan, Aksa adalah laki-laki yang plin plan. Kadang jahat kadang baik, tak ada yang bisa menebak sikap seorang Aksa. Aksa tak akan berubah menjadi baik semudah itu.
“Iya,” jawab Rania.
Rania bangun dari tidurnya, ia masih mengumpulkan nyawa. Ia duduk sambil mengucek matanya.
“Mau makan apa?” tanya Rania setengah sadar.
“Astaga, pemandangan apa ini!” teriak Aksa di dalam hatinya.
Di depannya Rania tidak memakai baju hanya memakai tanktop saja. Terlihat jelas sekali dua gundukan yang membuat ia tergoda. Aksa ingin merasakan itu lagi.
“Aksa, ayo sadar, sadar Aksa!” Aksa menepuk pipinya agar tersadar dari kenyataan.
“Kenapa? Apa ada nyamuk?” tanya Rania sambil mengikat rambutnya asal.
Rania sudah bangun sepenuhnya, ia langsung saja berdiri dan turun dari sopa untuk memasak makanan untuk Aksa. Rania bahkan tak memakai bajunya kembali, apa Rania tak takut jika Aksa langsung menerkamnya nanti.
“Rania! Kamu membuatku frustasi saja!” batin Aksa, ia ingin sekali melampiaskan semuanya ke Rania.
Tapi ia tak mau memaksakan Rania untuk memuaskan nafsunya itu.
Aksa tak munafik mengatakan kalau Rania itu sempurna, mungkin dia orang yang beruntung bisa mendapatkan Rania. Saat ini susah mencari wanita yang masih perawan.
“Apa?” tanya Rania lagi, saat Aksa bengong melihat ke arahnya.
Ia sudah berbicara dengan Aksa beberapa kali, tapi Aksa tak menjawabnya.
“Hah? pakai bajumu terlebih dahulu. Di sini banyak penjaga, pengawal ataupun pelayan laki-laki,” kata Aksa lagi.
Aksa langsung saja pergi mendahului Rania, ia tak tahan terus terusan melihat Rania.