“Siapa mereka?” tanya Rania, ia tak tau kenapa orang itu mengikuti mereka sampai di sini.
“Mereka hanya tikus yang harus aku basmi,” kata Aksa, kembali fokus ke jalan yang ada di depannya.
Aksa terpaksa mengambil jalan lain agar bisa menghindari mobil yang mengikutinya. Ia memiih jalan yang ramai agar bisa mengecoh mereka.
“Mereka masih mengikuti kita,” kata Rania lagi.
“Akhirnya,” Aksa bernapas lega saat mobil yang mengikuti mereka sudah tak terlihat lagi di jalan.
***
“Ini di mana?” tanya Rania, saat Aksa membawa drinya ke tempat yang asing.
“Rumah keluargaku dan keluarga Pratista, dulu kami sering bersantai di sini,” kata Aksa lagi, ia sedikit menjelaskan kepada Rania.
Rumahnya sangat mewah, halamannya ditumbuhi pohon hijau dan dikelilingi hutan yang lebat di sekitaran rumah.
“Kenapa membawaku ke sini?” tanya Rania lagi.
Aksa tak menjawab pertanyaan Rania, ia langsung saja berbaring di sopa yang ada di ruang tamu.
“Tidak ada, aku hanya lelah bekerja. Dan di sinilah tempat yang paling aman dan terbebas dari orang-orang yang menganggu hidupku,” kata Aksa lagi, sambil memejamkan matanya.
Rania beralih duduk di depan Aksa, ia memperhatikan Aksa. Tampak wajah Aksa terlihat lelah, kantong mata Aksa terlihat jelas sekali.
“Nyaman juga di sini,” batin Rania lalu menyandarkan punggungnya ke sopa.
Rania memejamkan matanya sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit.
“Nak, kamu harus menjadi anak yang baik di saat Ibu pergi nanti,” batin Rania sambil mengelus perutnya itu.
“Kamu harus kuat ya, tanpa Ibu,” batin Rania lagi.
Hal itu tak luput dari penglihatan Aksa, Aksa memperhatikan Rania mengelus perutnya yang sedikit menonjol itu. Ia pun merasa seperti mimpi, sebentar lagi ia akan menjadi seorang Ayah. Ia belum siap dengan itu, tapi ia harus menghadapi ini semua.
“Apa dia tidak apa-apa?” tanya Aksa juga ikut mengelus perut Rania.
“Hah?” Rania terkesiap saat Aksa menyentuh perutnya itu, Rania ingin duduk dengan benar. Ia sangat canggung berada dekat dengan Aksa.
“Tidak usah duduk, berbaring saja,” kata Aksa menahan bahu Rania agar kembali berbaring.
Rania megikuti saja apa yang dikatakan Aksa, ia juga tak bisa menghentikan Aksa yang sedang mengelus perutnya itu. Bahkan Aksa memasukkan tangan ke dalam blazer yang Rania pakai.
“Oh tuhan, perasaan apa ini!” batin Rania, ia memejamkan matanya saat Aksa mengelus perutnya itu.
“Bagaimana?” tanya Aksa lagi.
“Dia baik-baik saja,” kata Rania lagi.
“Syukurlah, aku tidak sabar menantikan kehadirannya,” ucap Aksa dengan senyum manisnya. Baru pertama kali ini Aksa tersenyum padanya.
“Ternyata Aksa baik padaku karena aku mengandung anaknya,” batin Rania sadar diri.
Rania ingin membuang jauh-jauh harapan kalau Aksa mencintainya.
Tanpa sadar mereka berdua tidur di sopa, dengan posisi Aksa tidur di pangkuan Rania sambil memeluk perut Rania. Sedangkan Rania setengah berbaring di sopa.
***
“Sayang …” lirih Gavin.
Gavin perlahan naik ke ranjang Luna, sedangkan Luna masih tertidur pulas. Sepertinya Luna kelelahan dengan aktivitas mereka semalam.
“Mau mandi bersama?” tanya Gavin lagi, ia melihat Luna masih mengumpulkan kesadarannya.
Luna merentangkan tangannya, agar Gavin mengendongnya. Ia lelah sekali setelah melayani Gavin semalam. Sudah lama mereka tak melakukan itu, rasanya ia sangat merindukan Gavin. Begitupun sebaliknya.
Satu jam kemudian mereka telah selesai membersihkan diri, mereka terlihat berada di ruang santai menonton tv bersama.
“Bagaimana dengan Aksa?” tanya Gavin.
“Tidak ada, Aksa masih mencintaiku seperti biasa,” balas Luna sambil meminum alkohol.
“Baguslah, kamu harus masuk ke dalam keluarga Maheswari agar mudah untuk mengalahkan mereka,” kata Gavin lagi, dengan seringai jahatnya.
Gavin memiliki dendam pribadi terhadap keluarga Maheswari apalagi kepada Rose Nenek Aksa.
“Iya, tunggu saja dan kita akan hidup bahagia setelah mengalahkan keluarga Maheswari,” kata Luna lagi, ia memeluk Gavin dari samping.
“Aku juga lelah terus menerus berpura-pura mencintai si bodoh Aksa itu,” sambung Luna, ia menerawang ke depan.
Setiap hari ia harus bersama Aksa, harus pura-pura bahagia di hadapan Aksa.
“Aku janji akan membahagiakanmu,” kata Gavin, membalas pelukan Luna.
***
Di lain tempat, Rania dan Aksa masih tidur di sopa. Mereka tidur dengan nyenyak, tak terasa sudah jam dua belas malam. Ini artinya mereka tak bisa pulang ke rumah dan harus menginap di sini.
“Badanku sakit sekali,” gumam Rania untuk pertama kalinya membuka mata.
“Di mana ini?” tanya Rania sambil melihat sekeliling, ia berada di tempat yang asing.
“Sudah bangun?” tanya Aksa dengan nada dingin dan datarnya.
“Hmmm,” balas Rania, lalu melakukan peregangan karena badannya terasa sakit karena salah posisi tidur.
“Sebentar aku masak dulu,” kata Aksa, ia memeriksa kulkasnya, tadi ia sudah meminta penjaga rumah untuk membeli beberapa bahan makanan untuk mereka.
“Aksa, kamu kenapa memperlakukanku dengan baik lagi?” tanya Rania di dalam hatinya.
Aksa membuatnya binggung haruskah ia mempercayai Aksa ataupun meninggalkan Aksa. Perlakuan Aksa padanya membuat ia binggung.
“Kenapa kamu baik hari ini?” tanya Rania langsung pada intinya.
Aksa yang sedang memotong bahan makanan pun terhenti mendengar perkataan Rania.
Rania masih menunggu jabawan dari Aksa, tapi nihil Aksa tak menjawab pertanyaannya itu.
“Kenapa Aksa? Aku tau kamu akan meninggalkanku setelah anak ini lahir bukan?” tanya Rania lagi, ia tau pasti Aksa akan meninggalkannya setelah anaknya lahir. Tidak mungkin seorang Aksa akan hidup dengannya untuk selamanya.
“Aku tidak pernah bilang begitu.” Untuk pertama kali Aksa menjawab perkataan Rania.
“Terlihat jelas dari sikapmu padaku,” kata Rania lagi, kali ini ia maju dan duduk di meja pantry yang dekat dengan Aksa.
“Apa kamu indigo bisa membaca pikiranku?” Aksa melempar pertanyaan lagi kepada Rania.
Entahlah Aksa tak suka dengan semua perkataan Rania barusan.
“Lagipula aku tidak ingin menggangu hubunganmu dan Luna,” sambung Rania lagi.
“Kamu tidak menganggu,” jawab Aksa.
Rania terdiam saat Aksa mengatakan itu, ia tak tau apakah perkataan itu tulus dari hati Aksa atau tidak atau seperti sebelumnya Aksa hanya baik saat ada maunya saja dan karena Rania sedang mengandung anaknya juga.
“Aku akan pergi setelah anak k—“ Aksa langsung memotong perkataan Rania.
“Dengar, tidak ada yang tau masa depan dan kamu tidak akan pergi tanpa seizin dariku. Camkan itu!” Aksa mengatakan itu dengan tegas, ia tak mau basa-basi lagi dengan Rania.
Rania tak bisa berkata-kata lagi saat Aksa mengatakan itu, entahlah mulutnya tercekat padahal banyak hal yang harus ia katakan kepada Aksa. Namun, ia tak bisa.
“Tidak usah memikirkan hal itu lagi,” kata Aksa sambil mengoreng sesuatu untuk makanan mereka.
“Kamu tidak sadar, kamu telah menyakiti fisik maupun batinku Aksa,” batin Rania miris.
***
Rania masih saja melamun tidak jelas, sampai Aksa selesai memasak Rania tak bergerak dari tempatnya.
“Rania,” panggil Aksa.
Rania tak menjawab masih fokus dengan lamunannya itu.
“Rania!” teriak Aksa lagi.
“Iya?” tanya Rania kaget dengan suara teriakan Aksa, yang masuk begitu nyaring di telinganya.
“Sudah ku bilang tidak usah dipikirkan lagi, jika ada yang menindasmu di rumah beritahu aku,” tegas Aksa.
Aksa tau Rania kesulitan di rumahnya, ia pun merasa bersalah kemaren membiarkan Rania ditindas oleh Ibu dan adiknya, kali ini tidak lagi. Hanya ia yang bisa menindas Rania.
Rania melihat ke arah Aksa saat Aksa megatakan itu, ia kurang percaya dengan ucapan Aksa barusan.
Rania pun menghela napas dan mulai menyantap makanan yang baru di masak Aksa, namun pikirannya masih tertuju dengan masalah pernikahannya yang rumit.
“Itu poto siapa?” tanya Rania melihat foto dua orang anak laki-laki dan satu orang anak perempuan.
“Itu aku, Arian dan juga Kirani,” kata Aksa sambil menyuapkan makanannnya. Ia tak terlalu peduli dengan pertanyaan Rania
“Kirani?” tanya Rania, penasaran dengan anak kecil itu.
Ia merasa pernah melihat anak perempuan itu di suatu tempat, tapi ia lupa.