Terlihat Elvan berada di depan kantor Rania, ia berharap bisa bertemu dengan Rania hari ini. ini sudah jam makan siang seharusnya Rania sudah keluar dari area kantornya.
“Kemana Rania?” tanya Elvan di dalam hatinya.
Ia masih menunggu Rania, tak tenang sebelum memastikan keadaan Rania.
Entahlah Elvan sangat khawatir saat mengetahui Rania sudah menikah dengan Aksa. Ia sangat mengenal Aksa, Aksa tidak sebaik itu.
“Itu Rania,” gumam Elvan lalu turun dari mobil untuk segera menemui Rania.
Terlihat Rania sedang berjalan bersama Nara dan juga Randi. Mereka bertiga ingin makan siang di café yang ada di depan kantor saja, daripada jauh-jauh dan bertemu Aksa lagi. Rania tak mau menempatkan teman-temannya dalam bahaya.
“Rania!” panggil Elvan, ia berusaha menghentikan langkah Rania.
Rania melihat ke belakang ada Elvan yang sedang berjalan ke arahnya.
“Ada apa?” tanya Rania langsung, ia tak mau berbasa-basi dengan Elvan
“Bisa aku berbicara sebentar?” tanya Elvan lagi.
Rania menimbang apakah ia akan ikut bersama Elvan atau tidak.
“Hmmm, tidak jauh, di depan saja,” kata Elvan menunjuk café yang ada di depannya.
“Ok, baiklah,” kata Rania menyetujui ajakan Elvan. Setidaknya kawasan ini jauh dari jangkaun Aksa, begitu pikir Rania.
***
Mereka telah sampai di café, Rania makan terpisah dengan Randi dan juga Nara. Randi sempat menahan Rania, tapi ia kalah dengan Elvan yang berhasil mengambil hati Rania terlebih dahulu.
“Kenapa?” tanya Rania lansung.
“Aku dengar kamu menikah dengan Aksa Maheswari,” kata Elvan memulai pembicaraan.
“Hmmm, iya,” jawab Rania, ia sedikit mengecilkan suaranya.
Ia kira tidak ada yang tau hubungannya dan Aksa.
“Kenapa Rania?” tanya Elvan, setelah beberapa detik diam dengan jawaban Rania.
“Maksudnya?” tanya Rania tak mengerti, ia tak tau apa yang ingin disampaikan Elvan padanya.
“Aksa sudah memiliki tunangan, ku harap kamu tau itu,” kata Elvan lagi, berusaha memberitahukan Rania apa yang ia ketahui tentang Aksa.
“Aku tau itu,” jawab Rania.
“Rania … apa kamu bahagia?” tanya Elvan lagi, kali ini ia bicara dengan nada lirih pada Rania.
Rania tersenyum ke arah Elvan, “Aku bahagia,” jawab Rania dengan senyum manisnya.
“Tidak mungkin aku jujur kepada Elvan,” batin Rania, ia tak ingin ada orang lain tau masalahnya.
Elvan tersenyum getir saat Rania mengatakan itu. “Baiklah kalau ada apa-apa beritahu aku, aku akan selalu ada untukmu,” kata Elvan sambil memegang tangan Rania.
Rania terkesiap saat Elvan memegang tangannya, tak biasanya Elvan begitu. Ia segera menjauhkan tangannya dari Elvan, ia takut melihat perubahan Elvan terhadap dirinya.
“Maafkan aku Elvan,” kata Rania di dalam hatinya.
Rania tau kalau Elvan menyukainya, tapi ia sadar diri kalau bersama Elvan adalah hal yang tidak mungkin. Elvan berada di kasta berbeda dengan dirinya, sedangkan dirinya hanya pegawai rendahan saja. Jadi tidak mungkin bersama Elvan, lagipula orangtua Elvan menyuruhnya untuk menjauhi Elvan.
Elvan adalah orang yang baik, Elvan selalu ada untuknya. Selalu menolong Rania dalam kesusahan. Orang sebaik Elvan tak pantas bersanding dengan dirinya, biarkan saja Elvan mencari wanita yang setara dengan dirinya.
“Tenang saja aku baik-baik saja,” kata Rania lagi agar Elvan tak khawatir dengan dirinya.
Tak lama ponselnya bordering, itu adalah tanda panggilan masuk. Ia melihat nick name yang tertera di sana.
“Gawat, Aksa pasti mencariku. Jangan sampai Aksa tau kalau aku bersama pria lain,” batin Rania, ia segera mengambil tasnya dan ingin pergi dari situ.
“Aku permisi dulu,” kata Rania, ia bergegas untuk keluar dari café. Ia takut kalau Aksa melihat dirinya bersama Elvan.
“Rania, tunggu!” teriak Elvan dari kejauhan.
Elvan keluar dari café, ia tak sengaja melihat mobil Aksa yang terparkir tak jauh dari dirinya.
“Ada Aksa,” batin Elvan.
Elvan tak jadi memanggil Rania, ia ingin melihat bagaimana interaksi Rania dan juga Aksa. Ia tak mau Ranianya disakiti oleh orang lain.
Elvan melihat Rania sedang berbicara dengan Aksa, tak lama mereka masuk ke dalam mobil. Tak ada yang mencurigakan, dan tak terjadi adegan kekerasan di sana.
***
“Ada apa?” tanya Rania saat melihat Aksa datang ke kantornya.
Aksa sepertinya lupa yang telah laki-laki itu lakukan malam tadi, Rania tau kalau Aksa tidur bersama Luna malam tadi.
Dan yang paling menyakitkan adalah, tak ada satupun keluarga Aksa yang menegurnya.
“Apa butuh alasan untukku menemuimu?” tanya Aksa, sambil menyetir mobilnya.
Rania hanya diam tak bisa menjawab pertanyaan dari Aksa, ia tau kalau statusnya sekarang adalah istri Aksa. Kecil kemungkinan untuk menolak Aksa.
Setelah mengatakan itu mereka diam dan tak ada satupun dari mereka yang membuka suara. Aksa fokus menyetir sedangkan Rania melihat pohon-pohon yang ada di jalanan yang mereka lewati.
“Tunggu … pohon?” Rania tersadar apa yang ia lihat tadi.
Ia kaget melihat banyak sekali pohon yang mereka lewati, kawasan ini seperti hutan.
“Kita mau ke mana? Lima belas menit lagi waktu istirahat habis,” kata Rania lagi, berusaha agar tidak panik. Tidak mungkin bukan Aksa berbuat yang tidak-tidak padanya.
Aksa tak menjawab perkataan Rania, ia masih fokus menyetir mobilnya.
“Aksa kita mau ke mana!?” tanya Rania lagi, sedikit meninggikan suaranya.
“Berisik!” ucap Aksa, sambil menutup telinganya dengan tangan.
“Aku hanya ingin tau kita mau kemana,” kata Rania lagi, ia panik saat mengatakan itu.
“Takut padaku, hmm,” ucap Aksa, ia ingin mengoda Rania.
Rania hanya diam dan menjauhkan duduknya dari Aksa, agar Aksa tak bisa mengapainya.
Aksa yang melihat itu semakin genjar menakuti Rania. “Sepertinya di sini sepi,” kata Aksa lagi.
Rania tak mengerti apa maksud dari perkataan Aksa, ia takut Aksa membunuhnya nanti.
“Tolong!” teriak Rania.
“Tolong!”
“Hei, apa yang kau lakukan,” kata Aksa, ia panik saat Rania meminta tolong.
Orang-orang akan salah faham padanya nanti, jika Rania berkata seperti itu.
“To—“ Aksa segera membekap mulut Rania agar wanita itu tak bersuara lagi.
“Diam Rania! Kamu pikir aku penjahat hah!” kata Aksa lagi, masih menyumpal mulut Rania, agar Rania diam.
Rania mengelengkan kepala, dan berusaha melepaskan tangan Aksa dari mulutnya.
“Diam!” bentak Aksa lagi.
Rania mengangguk merespon perkataan Aksa.
Perlahan Aksa menjauhkan tangannya dari Rania.
“Kita mau ke rumahku,” kata Aksa lagi, setelah beberapa menit ia terdiam akhirnya menjawab pertanyaan Rania.
“Hmm,” balas Rania, tak menaruh curiga lagi kepada Aksa.
Rania kembali melihat keadaan jalanan, tempat ini sepertinya tak asing baginya. Entahlah ia merasa sering ke sini.
“Aksa sepertinya mobil itu mengikuti kita,” kata Rania memperhatikan satu buah mobil yang mengikuti mereka.
“Hah?” tanya Aksa, ia juga ikut melihat di spion ada sebuah mobil mengikuti mereka.
“Sial!” umpat Aksa, ia sangat kesal ada orang yang menganggu ketenagannya.