“Bagaimana ini?” tanya Lidia kepada Kalila, padahal mereka sudah merencanakan sejak lama pernikahan Aksa dan juga Luna.
“Kalian tenang saja, Aksa akan segera menceraikan Rania,” kata Kalila menyakinkan kedua orangtua Luna.
“Baguslah, kami tagih janji kalian!” kata Tuan Earth dengan sedikit emosi.
“Kami tidak mau tau, Luna harus menikah dengan Aksa!” tekan Lidia pada setiap perkataannya.
Kalila tersenyum merespon perkataan kedua orang yang ada di depannya ini, ia juga mau Luna menjadi menantunya. Tapi, Aksa sudah terlanjur menikah dengan Rania ini semua diluar kuasanya.
“Ayo kita pergi,” kata Tuan Earth pergi dari sini.
“Luna kamu di sini?” tanya Kalila saat Luna baru saja datang.
“Iya, Bibi, Aksanya mana?” tanya Luna lagi, ia berpura-pura menanyakan Aksa, padahal ia sudah tau kalau Aksa ada di kamarnya mungkin sedang bersama wanita rendahan itu.
“Aksa ada di kamarnya, kamu naik saja,” kata Kalila menyuruh Luna untu naik ke kamar Aksa.
“Baiklah Bibi,” kata Luna, lalu ia berjalan ke tangga untuk ke lantai atas menuju kamar Aksa.
Tuan Earth dan Lidia sangat bahagia saat Kalila masih mendukung Luna, ini tandanya Luna masih bisa menjadi Nyonya di keluarga ini dan merebut harta Aksa.
***
Kembali ke Aksa dan juga Rania, Rania was-was menunggu kedatangan Aksa. Ia tak tau apa yang terjadi di bawah sana, ia takut kalau Kalila akan marah padanya nanti. Ia tak ingin itu terjadi, lebih tepatnya ia tak mau Kalila mengancamnya lagi.
“Di mana Aksa,” batin Rania di dalam hatinya.
Tak lama kemudian ada bunyi pintu tertutup dengan keras, Rania melihat ke arah sumber suara. Benar saja itu Aksa yang datang ke kamar mereka dengan amarah.
Aksa melihat ke arah Rania, Rania masih sama dengan wajah takutnya itu. Biarkan saja Rania takut padanya, ia tak peduli akan hal itu. Yang penting Rania masih bersamanya.
“Ini.” Aksa meletakkan kotak P3K dengan sangat keras di atas meja.
Rania kaget saat melihat Aksa sudah ada di sampingnya. Ia bahkan tak menyadari hal itu.
“Obati lukamu itu,” kata Aksa melihat tangan Rania yang memerah.
“Baiklah,” kata Rania mulai membuka satu persatu obat-obatan yang ada di dalamnya.
Aksa memperhatikan setiap pergerakan Rania, bahkan ia tak mengalihkan tatapannya itu. Seakan-akan Rania akan hilang jika ia mengalihkan tatapannya itu.
“Selesai,” kata Rania lalu menutup kotak P3K yang ada di depannya.
Aksa menatap Rania, entah kenapa ia merasa ada yang aneh dengan Rania. Sedari tadi Rania selalu menyentuh bahunya.
“Aksa!” kaget Rania, saat Aksa menarik dengan paksa lengan baju Rania sampai robek.
“Apa yang kamu lakukan.” Rania segera menutup tubuh bagian atasnya agar tak terekspos.
Aksa tidak memikirkan dua kali waktu merobek lengan baju Rania.
Aksa memperhatikan lengan Rania yang memar akibat dirinya tadi, ia tak tau akan separah itu.
“Apa yang kamu lihat Aksa!” Rania sedikit mengeraskan suaranya saat Aksa masih memandang bahunya.
Rania boleh direndahkan, Rania boleh diberlakukan seperti babu ataupun Rania menjadi sasaran amarah Aksa. Tapi, ia tak tahan ada orang yang melecehkannya. Ia bukan w************n yang memberikan semuanya dengan mudah kepada laki-laki termasuk Aksa.
Aksa hanya diam tak menjawab perkataan dari Rania, ia langsung saja mengambil kapas untuk membersihkan memar di bahu Rania.
“Tidak usah biar aku saja,” kata Rania berusaha menahan tangan Aksa untuk menyentuh bahunya yang tanpa benang itu
“s**t! jangan membantahku!” kata Aksa mengeraskan suaranya saat Rania menolaknya.
Rania diam saja tak protes lagi, ia mengikuti saja apa yang dilakukan Aksa padanya. Ia tak ada hak untuk bersuara jika Aksa sudah memerintah.
“Aksa sakit!” ringis Rania, saat Aksa tak sengaja menekan dengan kuat lukanya itu.
“Dasar lemah, luka sedikit saja sakit,” sewot Aksa, karena kesal juga melihat Rania yang sangat lemah.
“Itu sakit,” kata Rania lagi, saat Aksa sudah selesai mengobati luka di bahunya.
Aksa tak lagi mengindahkan perkataan Rania, ia langsung saja membersihkan obat yang baru saja ia gunakan tadi.
“Cepat bersihkan dirimu!” titah Aksa.
Rania tak berkata lagi, dan langsung saja pergi ke kamar mendi untuk membersihkan diri.
“Sayang,” panggil Luna.
Aksa dan juga Rania tak menyadari kehadiran Luna di kamar mereka.
“Sayang, kamu ke sini?” tanya Aksa berjalan ke arah Luna lalu, mengecup singkat bibir Luna.
Hal itu tak luput dari padangan Rania yang masih berada di kamar ini juga.
“Apa mereka akan melakukannya di hadapanku?” tanya Rania dalam hatinya.
“Aku tak habis pikir, menikah dengan laki-laki yang tak menghargaiku,” batin Rani lagi, lalu bergegas ke kamar mandi tak ingin melihat apa yang dilakukan Luna dan juga Aksa di kamarnya.
“Sayang apa yang kamu lakukan dengan wanita itu?” tunjuk Luna dengan nada yang manja.
“Tidak ada sayang, kamu satu-satunya yang aku cintai,” kata Aksa lagi, ia dengan sengaja mengeraskan suaranya agar Rania mendengar itu.
“Baguslah,” kata Luna dengan senyum manisnya.
“Aku tidak mengerti dengan Aksa, kenapa dia peduli dan menyakitiku di saat yang bersamaan. Aku tak tau harus bereaksi bagaimana,” batin Rania, ia menangis tersedu-sedu saat memikirkan itu.
Rania sudah berada di kamar mandi, ia menghidupnya air dengan sangat keras agar tangisannya tak terdengar sampai ke luar.
“Apa aku hanya pelayannya saja atau pelampiasan amarah Aksa saja. Dia mengobatiku, lalu menyakitiku lagi. Apa salahku tuhan!” gumam Rania, ia benar-benar tak kuasa menahan tangisnya.
Rania tak tau apa yang ada di pikiran Aksa, Rania sangat sakit melihat bagaimana perlakuan Aksa padanya. Ia tau kalau Aksa tak mencintainya, tapi kenapa Aksa menahannya di kehidupan pria itu. Apa cuma gara-gara harta, Aksa memperlakukannya seperti ini.
Kembali ke Aksa dan juga Luna, Aksa membawa Luna ke kamar tamu. Kamar di mana Luna sering tidur saat menginap di rumah Aksa.
“Ayo kita pergi sayang,” kata Aksa lagi, sambil mengandeng tangan Luna dengan penuh kasih sayang.
“Aku mau tidur di sini,” kata Luna dengan nada manja.
“Tidak bisa sayang, ayo kita ke kamar sebelah saja,” ucap Aksa berusaha membujuk Luna.
Bisa gawat kalau ada Luna di kamarnya, ia saja bersusah payah untuk bisa membuat Rania tidak pergi dari kamarnya.
Setelah bujukan dari Aksa akhirnya Luna mau mengikuti Aksa.
“Rania kamu menang lagi,” batin Luna, ia dengan rasa kesalnya keluar dari kamar Aksa.
***
“Bagaimana apakah kamu sudah menyelidiki siapa istri Aksa?” tanya Tuan Adhitama.
“Rania Pramesti, anak yatim piatu yang berasal dari panti asuhan,” kata Gavin membacakan identitas Rania.
“Rania?” tanya Elvan Adhitama—anak Tuan Adhitama
“Iya, mereka baru saja menikah, dan pernikahan mereka sangat dirahasiakan,” kata Gavin—sepupu Elvan.
Elvan segera melihat poto dari istri Aksa. Ia berharap bukan Ranianya yang menikah dengan Aksa. Kalau sampai itu terjadi ia akan sangat marah.
“Rania?!” kaget Elvan melihat Rania yang ia kenal menjadi istir Aksa.
“Kenapa bisa Rania yang menikah dengan Aksa!” kesal Elvan tak suka dengan info yang baru saja ia dengar.
Dengan amarah Elvan langsung pergi dari ruangan ayahnya, tidak tau apa yang akan dilakukan Elvan.
“Elvan, kembali ke sini Nak. Elvan!” teriak Tuan Adhitama menghentikan langkah anaknya.