Bab 9. Amarah Aksa

1395 Words
Rania masih menatap kepergian Aksa yang semakin menjauhinya, Aksa bahkan tidak peduli apakah dirinya baik-baik saja atau tidak. “Apa yang kamu lihat, cepat bersihkan,” bentak Risa yang sedang memperhatikan pergerakan Rania sedari tadi. “Kak Aksa tidak akan membelamu,” sambung Risa lagi lalu tertawa bersama Kalila. “Hhahhah.” Rania tak bisa berkata-kata lagi, ia terus melanjutkan pekerjaan yang tertunda, dengan sisa tawa yang masih terdengar dari mulut Risa maupun Kalila. *** “Di mana Rania, kenapa belum ke atas juga?” tanya Aksa, ia sudah menunggu dua jam lebih tapi Rania tak menampakkan batang hidungnya di hadapan Aksa. Aksa masih setia menunggu Rania, ia menjadi khawatir karena Rania belum juga ke kamar mereka. “Akhirnya,” batin Aksa, melihat seseorang membuka pintu kamar mereka. Tentu saja itu adalah Rania, tidak mungkin orang lain berani membuka pintu kamarnya itu. “Dari mana saja?” tanya Aksa dengan nada dingin dan datarnya. Rania melihat sebentar lalu segera ke kamar mandi, karena ia tak tahan lagi ingin memuntahkan isi perutnya. Ada sesuatu di dalam sana yang harus segera ia keluarkan. Huek! Huek! Rania berlari ke wastepel dan tak memuntahkan apa-apa hanya cairan bening saja yang keluar dari mulutnya. Aksa yang mendengar suara itu segera ke kamar mandi melihat keadaan Rania, ia khawatir terjadi apa-apa dengan calon anaknya itu. “Ada apa?” tanya Aksa, berdiri di belakang Rania. Rania masih berada di depan wastapel mengatur napas, dadanya sesak saat ia menahan muntah tadi. “Aku ti—“ Huek! Huek! Melihat itu Aksa segera berlari untuk menepuk pelan punggung Rania, agar Rania nyaman. “Sudah mendingan?” tanya Aksa saat tidak terdengar lagi suara Rania. Jarak Aksa dan Rania sangat dekat, jika dilihat dari belakang mereka sedang berpelukan. Dengan tangan Aksa yang berada di punggung Rania, sedangkan tangan Aksa yang satu lagi menyingkirkan anak rambut Rania yang menghalangi Aksa untuk melihat wajah Rania. “Sudah,” jawab Rania, lalu ia melihat ke samping. Ia tak tau kalau Aksa sangat dekat dengannya. Sehingga membuat kening mereka saling bertabrakan yang menimbulkan sakit yang luar biasa. “Aduh!” ringis Rania memegang keningnya yang merah karena tak sengaja mengenai kening Aksa. Sepertinya Aksa merasakan hal yang sama dengannya. “Maaf-maaf, aku tidak sengaja,” kata Aksa mengosok pelan kening Rania akibat ulahnya itu. Rania tersadar, apa yang Aksa lakukan barusan. “Tunggu, apa yang telah aku lakukan tadi,” batin Rania mengingat sesuatu. “Terimakasih,” kata Rania ia segera menjauhkan wajahnya dari Aksa, ia cukup tau diri tidak akan mendekati Aksa lagi. “Kenapa?” tanya Aksa. Aksa binggung dengan Rania yang tiba-tiba dingin padanya, bahkan Rania menyingkirkan tangannya dan menjauh darinya. “Tidak ada,” kata Rania lagi ia berusaha menebarkan senyuman saat hatinya tidak baik-baik saja. Aksa tak semudah itu percaya, ia masih mencoba untuk membuat Rania berbicara apa yang sebenarnya terjadi. “Rania, bilang padaku apa yang terjadi, kenapa kamu ingin pindah kamar?” tanya aksa mengejar Rania sampai ke wardrobe mereka. Aksa tidak bisa ada orang terdekatnya tiba-tiba berubah, ia tak bisa membiarkan itu. Aksa harus tau apa kesalahannya. “Mau ke mana? Kenapa membereskan pakaianmu?” tanya Aksa lagi. Ia masih memperhatikan pergerakan Rania, tak ada satupun yang luput dari penglihatan Aksa ia sedikit kesal dengan Rania yang tidak menjawab perkataannya dari tadi. Di tambah Rania membereskan semua bajunya dari lemari Aksa. “Kamu kenapa sih?” tanya Aksa lalu menarik Rania untuk berhadapan dengannya. Ia sangat kesal dengan Rania yang terus saja mengabaikannya. “Jawab aku Rania!” bentak Aksa tepat di wajah Rania, bahkan Rania memejamkan mata saat Aksa mengatakan itu. “Ibu Kalila menyuruhku pindah di kamar belakang,” kata Rania lagi. Setelah dipikir-pikir sepertinya ia harus mengatakan ini kepada Aksa. “Apa? coba ulangi,” tanya Aksa, ia bukan tak mendengar ia hanya ingin memastikan bahwa pendengarannya masih berfungsi. “Ibu menyuruhku untuk tidur di kamar pelayan,” kata Rania lagi, kali ini ia mengatakan itu dengan sedikit keras. Aksa mengepalkan tangan saat Rania mengatakan itu. Tadi ia membiakan Rania ditindas karena ia tau Ibunya tak akan melukai Rania, hanya menyuruh masak saja. Nirmala juga sering membantu pelayan memasak di dapur. Ia kira tidak apa-apa kalau membiarkan Rania memasak. Selagi tidak melukai Rania, itu tak jadi masalah. Tanpa sadar Aksa meremas bahu Rania yang ia pegang, Aksa sering sekali melampiaskan kekesalannya kepada Rania. Aksa sering sekali melampiaskan amarahnya kepada Rania. “Akh! Ini sakit sekali!” ringis Rania berusaha melepaskan tangan Aksa dari bahunya. Kuku Aksa sangat tajam sehingga membuat bahunya pedih bahkan sampai berdarah. “Dengar!” Aksa kembali menarik bahu Rania agar menghadap ke arahnya. “Mulai sekarang hanya aku yang boleh menyiksamu, hanya aku yang boleh membuatmu menangis, ingat itu!” kata Aksa menekankan di setiap perkataannya. “Jika ada orang lain yang menindasmu selain aku, lawan saja mereka!” sambung Aksa, ia mengatakan itu dengan sedikit emosi. Ia kesal sekali Rania mau-mau saja di suruh oleh Ibunya itu. “Dasar wanita bodoh! Apakah kamu tidak bisa melawan!” kata Aksa, ia meninju dinding secara brutal untuk melampiaskan amarahnya. Bahkan Aksa tak peduli kalau itu bisa saja membuat Rania takut bahkan terluka. Rania memejamkan matanya saat Aksa meninju dinding, ia takut sekali dengan amarah Aksa. Seakan-akan Aksa sedang meninjunya. “Akh!” Rania menangis tersedu-sedu bahkan ia berjongkok di lantai sambil menutup telinga saat melihat Aksa yang hampir meninju wajahnya tadi. Ia tau Aksa tak akan melakukan itu, tapi tangan Aksa seakan-akan ingin mengenai dirinya. Aksa tersadar dengan apa yang ia lakukan, ia telah membuat Rania takut padanya. Ia berhenti sejenak untuk melihat Rania yang ada di bawahnya. “Sial, kenapa aku bisa semarah ini,” tanya Aksa di dalam hatinya. Amarah Aksa tiba-tiba muncul saat Rania mengatakan ingin pindah dari kamar mereka, ia tiba-tiba marah tak jelas saat Rania mengatakan itu. Jangan jangan tanyakan Aksa kenapa bisa semarah ini, ia pun tak tau jawabannya. Mereka berdua masih terdiam di tempat masing-masing, Rania masih saja menangis sambil menutup mata menggunakan kedua tangannya. Sedangkan Aksa ia berjalan ke luar untuk menemui seseorang. Aksa pun menghela napas dan tergesa-gesa pergi dari situ. *** Aksa berjalan teegesa-gesa untuk menemui ibunya, tak sengaja ia melihat banyak sekali orang di ruang tamu mereka. Ada Luna dan kedua orang tua Luna. Mereka tertawa begitu kencang, sehingga lupa apa yang telah ibunya lakukan terhadap Rania. “Ibu,” kata Aksa berjalan ke arah sopa yang ada di ruang tamu. Wajah Aksa tanpa tegas dengan alisnya yang tebal, bahkan ia tak menyapa orangtua Luna yang tersenyum ke arahnya tadi. “Mafkan Aksa Lidia, dia sedang banyak kerjaan,” kata Kalila membela Aksa, tadi ia menangkap Tuan Earth maupun istrinya melihat Aksa dengan tatapan tak suka karena sapaan mereka diabaikan. “Iya, kami memaklumi,” kata Lidia—Ibu Luna. “Aksa, orangtua Luna datang ke sini, karena ada hal yang ingin dibicarakan denganmu,” kata Kalila membuka suara. “Apa?” tanya Aksa masih dengan nada dingin dan datarnya. Kalila saja sedikit takut berbicara dengan Aksa, ia tau Aksa sedang dikuasai amarah. “Membahas pernikahan kamu dan Luna,” kata Kalila lagi. Aksa melihat ke arah Kalila, sejak kapan ia setuju menikah dengan Luna. “Ibu, aku tidak bilang mau menikahi Luna,” kata Aksa lagi, ia berbicara dengan nada dingin dan datarnya, biasanya ia sedikit ramah dengan orangtua Luna. “Tapi, kalian berdua sudah bertunangan lama,” kata Lidia lagi, ia tak setuju dengan perkataan Aksa. “Bibi, kondisinya sudah berbeda, aku sudah memiliki istri,” kata Aksa melihat ke arah orangtua Luna. “Kamu bisa menceraikannya Aksa,” sambung Tuan Earth—Ayah Luna. “Paman, tidak semudah itu. Di rahim Rania ada anakku,” kata Aksa lagi. “Tapi bagaimana dengan Luna?” tanya Kalila, ia sedkit panik mendengar penuturan Aksa. Apa Aksa tidak akan menikah dengan Luna. Tidak mungkin selama-lamanya Rania yang akan menjadi menantunya, apa kata teman-temannya kelak, begitu pikir Kalila. “Ibu, aku belum memikirkan perceraian,” kata Aksa lagi, dan ingin pergi dari situ. “Satu lagi, jangan ada yang megusik Rania. Jika kalian mengusik Rania akah berhadapan denganku, termasuk Ibu!” tekan Aksa pada setiap perkataannya. “Sepertinya Rania telah mengadukanku kepada Aksa! Rania lihat saja nanti!” batin Kalila mengepalkan tangannya. “Rania lagi, Rania lagi. Awas saja kamu Rania!” batin Luna yang sedari tadi mendengar perkcakapan Aksa dan kedua orangtuanya. Beruntung ia belum masuk ke dalam rumah Aksa, sehingga mendengar semuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD