“Kita selalu kalah melawan Aksa paman,” kata Gavin lagi.
Gavin Adhitama adalah keponakan dari Tuan Adhitama busuh buyuyutan keluarga besar Maheswari. Keluarga Adhitama selalu saja ingin menghancurkan keluarga Maheswari, sampai menyuruh Luna untuk mendekati Aksa. Padahal itu hanya akal-akalan mereka saja.
Gavin bisa dikatakan ganteng, dengan tingginya yang hampir mencapai dua meter bisa memikat siapa saja untuk mendekatinya. Banyak sekali yang antri untuk mendekati Gavin.
“Aksa aku akan membunuhmu liat saja nanti,” batin Gavin, ia bertekad ingin menghancurkan hidup Aksa apapun caranya.
***
“Halo sayang,” kata Aksa saat pertama kali masuk ke dalam apartemen Luna.
“Iya, sayang. Aku merindukanmu,” ucap Luna, lalu memeluk Aksa.
“Aku juga." Aksa membalas pelukan Luna.
“Ayo ke kamar,” ajak Luna.
Luna sudah lama ingin melakukan ini dengan Aksa, tapi Aksa selalu menolaknya. Kata Aksa ia tak akan menyentuh wanita yang ia cintai jika sebelum ada ikatan yang sah. Aksa tak mau menyakiti wanita yang ia cintai seperti Luna.
“Sayang, aku tak bisa. Kita tidur saja ya,” kata Aksa berusaha membujuk Luna.
Luna cemberut saat Aksa mengatakan itu, itu sama saja Aksa menolaknya. Aksa sudah menolaknya berkali-kali.
“Aksa ….” Luna mengoyangkan tangan Aksa seperti anak kecil yang ingin meminta sesuatu kepada ibunya.
“Tunggu kamu sah menjadi istriku ya,” kata Aksa lagi, berbicara lembut kepada Luna agar Luna mengerti posisinya.
“Tapi kamu masih bersama wanita rendahan itu,” ucap Luna, ia kesal mengingat pernikahan Aksa yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.
“Aku akan segera menceraikannya sayang,” kata Aksa lagi, lalu ia mencium bibir Luna dengan sangat rakus.
Luna tertawa di dalam hatinya, ia tau Aksa tak bisa melupakannya. Buktinya Aksa mau ke apartemennya, walaupun sudah memiliki istri.
***
Terlihat Aksa sudah membersihkan diri, ia masih berada di apartemen Luna. Aksa hanya tidur beberapa jam saja, lalu bangun menemani Luna menonton tayangan kesukaannya.
“Sayang aku mau berlian ini,” tunjuk Luna, ke kalung berlian yang yang ada di ponselnya.
“Sepertinya itu akan bagus jika dipakai oleh Rania,” batin Aksa, tiba-tiba memikirkan Rania.
Aksa segera mengelengkan kepalanya saat mengingat Rania. “Tidak, tidak, aku tidak boleh memikirkan wanita rendahan itu,” batin Aksa menyadarkan dirinya.
“Ihh sayang, tidak mau ya?” tanya Luna. Luna cemberut saat Aksa mengelengkan kepalanya.
“Ehh, tidak sayang, beli saja. Nanti aku transfer uangnya,” kata Aksa tersenyum di akhir katanya.
Luna tersenyum saat Aksa mengatakan itu, ia sangat beruntung ada Aksa yang mau membelikannya barang-barang mewah. Aksa sangat bodoh, dan mudah dimanfaatkan.
***
Di lain tempat di waktu yang sama, keluarga besar Maheswari sedang melaksanakan makan malam bersama. Ada Rania juga di sini, tadi Rania menawarkan diri untuk membantu pelayan memasak. Pelayan tersebut menolak, tapi Rania memaksa mereka.
“Baguslah, kamu memang cocok menjadi pelayan,” kata Kalila, saat Rania membantu membawa makanan ke meja makan.
“Sekalian nanti bersihkan rumah ini,” sambung Kalila lagi.
Rania tak mengindahkan perkataan mertuanya itu, ia diam saja. Ia tau ia tak bisa melawan mereka.
“Sabar Rania, sabar, kamu akan segera pergi setelah anak ini lahir,” batin Rania lagi, ia berusaha menguatkan dirinya sendiri.
Makanan sudah dihidangkan, dan mereka langsung memulai makan malam.
Rania mengeser kursi ingin duduk di kursi yang biasa ia duduki, tapi di tahan oleh Kalila.
“Ehh, siapa suruh kamu duduk di situ, makan di dapur sana,” perintah Kalila, ia menggunakan tangannya untuk mengusir Rania.
“Saya jijik semeja dengan kamu,” ucap Kalila lagi, ia bahkan menutup mulutnya saat mengatakan itu. seakan-akan Rania adalah kotoran yang harus ia basmi.
“Kalila, apa-apaan kamu,” kata Arwan Maheswari—Ayah Aksa.
“Jangan ikut campur Arwan,” ucap Kalila tak suka kalau suaminya ikut campur.
Sebenarnya Arwan juga tak punya kuasa di rumah. Aksa dan Kalila lah yang punya kuasa jika tak ada Rose. Jadi mereka semua yang ada di rumah akan mengikuti perintah dari Kalila, termasuk Nirmala sekalipun. Sering sekali Kalila memperbudak Nirmala.
“Di sini saja,” kata Nirmala, menahan Rania untuk pergi dari sini.
“Nirmala kamu berani melawanku, ya? Mau aku hapus anakmu dari perusahaan?” Kalila bukan bertanya, tapi mengancam Nirmala agar diam, tak ikut campur masalah mereka.
Nirmala diam tak berani membantah Kalila.
“Maafkan Ibu, nak,” batin Nirmala di dalam hatinya.
“Dengar semuanya, Rania akan selamanya makan bersama pelayan. Dan tidak ada orang bisa merubah itu!” tekan Kalila pada setiap perkataannya.
“Mereka benar-benar jahat,” batin Rania miris di dalam hatinya.
“Ibu, Ayah, aku tidak apa-apa,” kata Rania lalu segera ke dapur untuk makan bersama pelayan.
Beberapa pelayan menatap kasihan ke arah Rania. Mereka tau kalau Rania adalah wanita yang baik. Mereka juga tak tega melihat Rania diberlakukan seperti itu.
Andaikan mereka melarang Rania untuk membantu tadi, ini semua tak akan terjadi.
“Baguslah, tempatmu memang di dapur.” Kalila tersenyum di dalam hatinya.
Tak lama kemudia Aksa pun datang.
“Malam semuanya.” Aksa memberikan salam.
Aksa melihat sekeliling, tapi orang yang ia cari tidak ada. Ia mengepalkan tangannya, saat melihat Rania tak ada di meja makan.
“Jika sampai ia pulang malam, akan kuhukum dia!” batin Aksa mengepalkan tangannya.
“Mencari siapa?” tanya Nirmala.
Aksa berusaha mencari orang yang tepat, agar tak ketahuan sedang mencari Rania.
“Nenek, Nenek di mana?” tanya Aksa lagi.
Padahal Aksa tau kalau Rose sedang berada di luar negeri, Rose memang tinggal di luar negeri bersama anaknya yang lain.
“Nenek ke London, ibu rasa kamu tau itu,” kata Nirmala menyipitkan matanya.
“Lupa Ibu.” Aksa cengegesan saat mengatakan itu.
Aksa makan dengan tenang, pikirannya terus saja tertuju pada Rania, ia khawatir kalau Rania kenapa-napa. Aksa juga binggung kenapa ia terus-terusan memikirkan Rania.
“Kenapa aku memikirkan wanita itu, mungkin karena ia mengandung anakku,” batin Aksa lagi, mencoba untuk berpikir positif.
“Rania ambilkan air,” teriak Risa—adik kandung Aksa.
Aksa menyipitkan matanya saat Risa mengatakan itu. “Rania ada di sini?” Aksa bertanya-tanya dalam hatinya.
“Iya,” teriak Rania dari dapur.
Rania berjalan ke arah Risa untuk menuangakan Risa minuman. Ia melewati Aksa untuk sampi ke kursi Risa yang berada di ujung.
“Aksa, ayo tahan aku,” batin Rania, berharap Aksa menghentikan langkahnya.
Aksa membiarkan saja Rania lewat di sampingnya ini, bahkan ia tak melihat Rania sedikitpun.
“Baguslah dia ada di rumah,” batin Aksa. Selagi Rania bisa ia lihat ia tak apa-apa.
“Aduh!” teriak Risa saat Rania tak sengaja menumpahkan minuman ke bajunya yang mahal itu.
“Maaf-maaf, aku tidak sengaja,” kata Rania lagi, berusaha mengambil kain untuk membersihkan baju Risa.
“Ibu, dia sengaja.” Adu Risa ke Kalila.
“Rania, kamu benar-benar ya, bersihkan air itu,” perintah Kalila lagi.
Rania menghela napas kasar, ia tau ia tak bersalah. Justru Risa lah yang sengaja menumpahkan airnya sendiri tadi dan menyalahkan Rania.
“Baiklah Ibu.” Akhirnya Rania mengalah juga ia tak ingin berdebat penjang.
Sedangkan Aksa ia melihat saja Rania membersihkan lantai, bahkan ia tak melihat ke arah Rania sedikitpun. Aksa terus saja melanjutkan memakan makanannya, tanpa peduli istrinya sedang direndahkan oleh keluarganya sendiri.
“Aku selesai,” kata Aksa, lalu berjalan ke arah kamar. Ia bahkan sengaja menginjak lantai yang sudah Rania bersihkan.
Rania tak menyangka Aksa berbuat seperti ini padanya, Aksa juga ikut menyiksanya.
Ia mengarahkan pandangannya mengikuti langkah Aksa yang mulai menjauh.
“Aku harus segera pergi dari rumah ini,” batin Rania melihat pungung Aksa yang semakin menjauhinya.