Bab 7. Kepedulian Aksa

1283 Words
“Aksa.” Rania kaget mengatahui kedatangan Aksa di meja mereka. Ia kaget sekaligus tak percaya melihat Aksa ada di depannya, sempat terlintas di benak Rania, apakah ia salah mendatangi restoran? Tidak mungkin orang seperti Aksa makan di tempat rakyat jelata seperti dirinya. “Ada apa?” tanya Rania binggung dengan tingkah Aksa. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Aksa, masih dengan nada dingin dan datarnya. “Tentunya aku makan, apa kamu tidak lihat di sini adalah restoran. Seharusnya aku yang bertanya, kamu kenapa ke tempat rakyat jelata seperti ini?” tanya Rania lagi. Rania berbicara dengan Aksa dengan nada santai, tadi pagi Aksa memarahinya kalau ia berbicara formal lagi dengan Aksa. Maka Aksa akan menghukumnya. “Tidak usah basa-basi, siapa mereka?” tanya Aksa lagi dengan nada marahnya. Beberapa orang takut melihat Rania berbicara santai dengan Aksa. Mereka memuji Rania karena sangat berani. “Rania yang di depan kita adalah Tuan Aksa Maheswari,” bisik Nara tepat di telinga Rania. Ia juga takut melihat Aksa marah-marah tadi. Seakan Rania ketahuan selingkuh saja. “Mereka temanku,” balas Rania, karena ia merasa tak bersalah makanya Rania berani menjawab pertanyaan Aksa. “Hahahah.” Aksa tertawa merespon perkataan Rania. Siapa yang percaya saat Rania mengatakan itu, siapapun akan mengira kalau Rania berpacaran dengan laki-laki yang ada di sebelahnya, di lihat dari bagaiman Randi membuka minuman Rania ditambah lagi Randi juga memberikan sayurannya kepada Rania. “Ikut denganku.” Kata Aksa menarik tangan Rania untuk ikut dengannya. “Tapi aku mau ma—“ Perkataan Rania terpotong dengan tarikan tangan yang satunya lagi. “Tuan, anda tidak boleh semena-mena dengan wanita,” kata Randi menghentikan pergerakan Aksa yang ingin membawa Rania pergi. “Oh tuhan! Situasi seperti apa ini!” batin Rania frustasi karena melihat Randy dan Aksa menarik tangannya. Rania melihat sekeliling banyak sekali yang melihat mereka, ada juga yang merekam dan mengambil gambar mereka. Siapa yang tidak tertarik melihat Aksa Maheswari milyader terkenal merebut wanita miskin seperti dirinya, ia yakin dirinya akan masuk hot new nanti. “Siapa anda ikut campur urusan kami,” kata Aksa menahan tangan Randi dengan tangannya yang satu lagi. “Anda yang siapa Tuan, lepaskan tangan anda dari Rania!” balas Randi lagi, tak mau kalah dari Aksa. Selagi ia melakukan hal yang benar, ia tak akan takut, walaupun itu Aksa Maheswari sekalipun. Aksa berusaha menahan amarahnya saat Randi mengatakan itu, ia pun menatap tajam ke arah Rania yang hanya diam dengan kedua tangan ditahan oleh dua orang pria sekaligus. “Aksa pasti akan sangat marah padaku, hal buruknya lagi Randi juga akan terseret,” batin Rania, ia juga takut kalau sampai Randi juga terkena dampak dari masalah ini. “Randi, aku mengenal Tuan Aksa.” Rania perlahan melepaskan tangannya dari Randi. “Rania kamu tidak usah takut, bilang saja kalau dia mengancammu,” kata Randi lagi berusaha mengapai tangan Rania lagi. “Jangan menyentuh Rania!” bentak Aksa. Bentakan dari Aksa membuat beberapa orang terkesiap. Mereka baru pertama kali ini melihat Aksa marah. “Iya, iya.” Rania segera menjauhkan dirinya dari Randi, ia tak mau ada orang lain yang bermasalah gara-gara dirinya. “Randi aku tidak apa-apa, aku pergi dulu,” kata Rania lagi, mengambil tasnya dan mengikuti langkah Aksa. Aksa berjalan dengan tatatapan datarnya, ia memegang tangan Rania dengan sangat erat agar Rania tidak pergi lagi. “Duduk di sini,” perintah Aksa, saat telah sampai di meja teman-temannya. Rania tersenyum canggung di hadapan teman-teman Aksa, dan beberapa orang masih melihat ke arah mereka. Mungkin mereka penasaran, ada hubungan apa Aksa dan dirinya. “Tidak apa-apa santai saja bersama kami,” kata Danil dengan senyum manisnya. “Kenalin, ini Arian. Teman dari Aksa,” kata Dania mengenalkan Arian kepada Rania. Aryan mengangkat tangannya untuk bersalaman dengan Rania. “Arian.” “Rania.” Kata Rania lagi. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing, tak ada yang membuka suara. “Rania bekerja di sekitar sini?” tanya Arian untuk pertama kali membuka suara. “Tidak terlalu dekat Tuan,” jawab Rania, dengan senyuman yang tak pernah luntur dari bibirnya. “Kenapa aku bahagia melihat Rania, ya?” tanya Arian di dalam hatinya, Arian juga binggung dengan dirinya sendiri. Rasanya ia lega melihat Rania ada di depannya. Setelah mengatakan itu mereka terdiam lagi. “Kenapa Aksa tak berbicara padaku,” batin Rania binggung dengan tingkah Aksa padanya. Kadang Aksa peduli padanya, kadang Aksa menperlakukannya layaknya pelayan. *** Terlihat Rania dan Aksa berada di satu mobil yang sama, tadi Rania sempat menolak untuk diantar oleh Aksa. Tapi Aksa kekeuh ingin mengantarkan Rania. “Padahal kamu tidak usah merepotkan diri untuk mengantarku,” kata Rania mulai membuka suara. Aksa hanya diam tak menjawab perkataan Rania. Ia fokus menyetir mobilnya untuk menuju kantor di mana Rania bekerja yang letaknya tak jauh dari perusahannya. “Jangan memakai high heels itu lagi.” Aksa melirik sepatu hak tinggi yang dpakai Rania. “Apa Aksa mulai peduli padaku?” tanya Rania dalam hatinya. “Kamu sedang mengandung penerus keluarga Maheswari, jangan sampai anakku kenapa-napa,” sambung Aksa lagi. “Hahhhaa, mana mungkin Aksa peduli padaku,” batin Rania lagi, ia membuarng jauh-jauh pikirannya itu. “Baiklah,” kata Rania, ia tak lagi melihat Aksa. Rania melihat ke kaca jendela mobil, banyak sekali kendaraan yang berlalu lalang di luar sana. “Apakah nasibku hanya berakhir menjadi anggota kelaurga Maheswari, atau mereka akan membuangku setelah anak ini lahir?” tanya Rania dalam hatinya. “Terimakasih,” kata Rania, lalu keluar dari mobil Aksa. Ia juga tau diri, tidak mungkin Aksa membuka pintu mobil untuknya. “Tunggu.” Aksa menahan pergelangan tangan Rania. “Ini.” Aksa melemparkan sebuah kartu kredit ke Rania. Rania memperhatikan kartu itu, ia baru sadar apa yang diberikan Aksa padanya. “Tidak usah, gajiku cukup untuk menghidupi diriku sendiri,” kata Rania lagi, memberikan kartu kredit itu lagi kepada Aksa. “Ini perintah! Bawa saja,” ucap Aksa lagi dengan nada dingin dan datarnya. “Tidak perlu ak—“ Aksa ingin berbicara namun Rania langsung menyela. “Baiklah,” kata Rania lagi. “Jauhi pria itu!” tekan Aksa pada setiap perkataannya. Rania terdiam sebentar dan ingin membantah perkataan Aksa, tapi tak jadi melihat wajah datar Aksa yang menatap ke arahnya. “Ngeri juga ya,” batin Rania lagi. “Baiklah,” kata Rania, lalu segera turun dari mobil. Aksa masih memperhatikan Rania, sampai Rania masuk ke dalam gedung perusahaan. Ia melihat ke sekitar. Perusahaan Rania tidak cukup besar, bahkan mungkin hanya sepertiga dari perusahannya saja. “Apakah lingkungan di sini aman?” tanya Aksa dalam batinnya. “Tunggu dulu …” Aksa berhenti sejenak dan berpikir di dalam hatinya. “Kenapa aku begitu peduli dengan wanita itu?” tanya Aksa di dalam hatinya. “Aksa, ingat kamu memiliki Luna, kamu harus secepatnya menceraikan Rania setelah anak itu lahir,” batin Aksa lagi mengingatkan dirinya. Aksa tidak menyadari perbuatan apa yang ia lakukan terhadap Rania, ia pikir mungkin hanya bawaan dari bayinya saja. Tidak mungkin Aksa peduli dengan wanita rendahan seperti Rania. Tiba-tiba saja Luna menelponnya. “Iya sayang,” kata Aksa melalui layar ponselnya. “…” “Malam nanti aku akan ke sana, ya,” kata Aksa lagi dengan nada lembutnya. “…” *** Di lain tempat terlihat Beberapa orang sedang berkumpul di satu ruangan. Mereka terlihat sedang membicarakan hal serius. “Apa tak bisa anakmu masuk ke dalam keluarga Maheswari?” tanya Tuan Adhitama. “Aku tidak tau, sekarang Aksa sudah menikah dengan wanita pilihan Neneknya,” jawab Tuan Earth—Ayah dari Luna. “Aksa menikah? Aku baru tau,” sambung Gavin Adhitama—musuh Aksa. “Kita semain susah untuk menghancurkan keluarga itu,” komentar Gavin lagi. “Kita susun rencanan lagi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD