Semua orang sedang berkumpul di meja makan, tapi Rania belum kunjung turun.
“Di mana istrimu Aksa, bikin orang kesal saja,”Kata Kalila yang sedari tadi menunggu Rania turun.
Jika anggota keluarga belum lengkap mereka tidak boleh menyentuh makanan mereka. Begitu peraturan dari rumah itu, kecuali jika ada urusan penting.
“Kita tunggu saja, sebentar lagi Rania turun, ” kata Nirmala, ia berusaha sabar menunggu Rania untuk turun.
“Itu Rania." Rose, tersenyum senang saat Rania sudah menampakkan batang batang hidungnya itu.
“Ayo duduk Nak,” ajak Rose, menuntun Rania untuk duduk di samping Aksa.
Kalila tak suka melihat kedekatan Rania dan juga Rose, sedari awal Kalila tidak setuju dengan pernikahan. Ia ingin Luna lah yang menjadi menantunya, Luna cantik dan tidak ketinggalan zaman. Berbeda dengan Rania, yang bukan dari kasta mereka.
“Makan yang benar, tau kan cara megang sendok dan pisau,” kata Kalila, tentu saja perkataan itu untuk Rania.
Rania melihat sebentar lalu tersenyum ke arah Kalila. Ia tau Kalila sedang mengatainya tadi.
Mereka makan dengan khitmat, tak ada yang membuka suara. Hanya dentingan sendok yang berbunyi.
“Seharusnya itu adalah tempat Luna, bukan kamu,” ucap Kalila, terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Rania.
Rose masih diam tak ikut campur urusan menantunya itu, kalau sudah kelewatan baru ia ikut campur.
“Maafkan saya Nyonya,” jawab Rania, menghentikan acara makannya.
“Saya juga bisa memposisikan diri, anda tenang saja,” sambung Rania lagi, ia mengatakan itu dengan lugas.
Agar mereka semua yang ada di sini mengerti.
“Baguslah kalau begitu,” kata Kalila senang di dalam hatinya.
Kasta rendahan akan selamanya di bawah, dan tak akan bisa setara dengan mereka. Kalila malu sekali melihat Aksa menikahi perempuan yang tak tau asal usulnya, ia juga malu jika semua orang tau kalau menantunya adalah orang miskin seperti Rania.
Setelah Kalila mengatakan itu, semua orang melanjutkan makan malamnya, kecuali Rania yang merasa tak pantas memakan makanan dari keluarga Maheswari. Seperti yang dikatakan Kalila tadi, kalau ia tak pantas bersanding dengan Aksa.
“Kenapa diam? Habiskan makananmu,” ucap Aksa dengan nada dingin dan datarnya.
“Saya tau saya tak pantas berada diantara kalian, begitupun dengan memakan makanan kalian,” kata Rania dengan formal.
Rose melihat ke arah Kalila. Nyali Kalila menciut saat Rose melihat ke arahnya. Ia tak habis pikir kalau Rania berani berkata seperti itu dan membuat mertuanya ini marah padanya.
“Rania, awas saja kamu,” batin Kalila kesal dengan Rania.
“Makan! Rania.” Aksa menekankan di setiap perkataannya, ia tak suka melihat ada orang yang melawan perintahnya.
Rania melihat sebentar ke arah Aksa, ia melihat wajah tegas Aksa yang menatapnya dengan tajam. Seperti tatapan bos yang sedang memarahi karyawannya.
Tanpa basa-basi, Rania langsung melahap makanan yang tersisa di piringnya. Daripada timbul. masalah baru lebih baik ia menuruti perkataan Aksa.
***
Sinar matahari masuk menembus di celah-celah jendela, Rania merasakan sinar matahari mengenai wajahnya. Ia pun terbangun, dan melihat Aksa masih terlelap di atas ranjang, sedangkan dirinya tidur di sopa.
Bukan Aksa yang menyuruhnya untuk tidur di sini, tapi ia berinisiatif sendiri untuk tidur di sopa. Ia cukup tau diri untuk tidak seranjang dengan Aksa, Rania tau Aksa tak suka akan hal itu.
Tak memikirkan hal itu lagi, ia pun langsung membersihkan diri di kamar mandi, beruntung hari ini ia tak mual-mual seperti pagi biasanya. Mungkin anaknya mengerti kalau dirinya sedang sedih, jadi tak ingin menambah masalah.
“Mau ke mana?” tanya Aksa, saat melihat Rania sudah siap dengan setelah kerjanya.
Walaupun, Aksa tau baju yang dipakai Rania murahan, tapi cocok sekali di badan Rania.
Rania terlihat seksi memakai baju ketat itu.
“Mau bekerja,” jawab Rania, sambil menyisir rambut.
“Hmmm,” balas Aksa, masih mengumpulkan kesadarannya.
Rania melihat ke samping, ia melihat Aksa duduk di atas ranjang sambil mengucek mata. Ternyata sama saja, orang kaya juga bangun seperti manusia pada umumnya.
“Aku berangkat dulu,” pamit Rania, ia sedikit berlari turun dari tangga.
Karena jarak dari kantornya dan mansion Aksa bisa dikatakan jauh. Jadi ia harus berangkat setengah jam lebih cepat dari biasanya.
“Kenapa harus berangkat kerja sepagi ini,” kata Aksa, sambil menguap.
Aksa belum sepenuhnya sadar, ia masih mengumpulkan sisa nyawanya. Tak berlama-lama pria itu langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat Aksa melihat ke samping ada peralatan mandi Rania yang terususn rapi di sana.
“Dia cukup bersih,” gumam Aksa melihat Rania membersihkan baju kotornya yang ia lempar malam tadi.
Beralih ke wardrobe. Aksa membuka satu persatu lemari pakaiannya tak menemukan satu pun baju Rania, di lemari.
“Tunggu, apakah Rania kabur?” Kaget Aksa melihat tak ada satupun pakaian Rania di lemarinya.
Aksa pun ingin menelpon pengawal untuk mencari Rania, tapi tak jadi setelah melihat satu tas sedang yang ada di pojok ruangan. Aksa bisa menebak kalau itu, tas yang dipakai Rania tempo hari.
Aksa pun berjalan memeriksa tas itu, ya, benar saja semua baju Rania ada di situ.
“Apa cuma ini bajunya?” tanya Aksa, ia masih bingung melihat baju Rania hanya beberapa helai saja.
“Syukurlah dia tidak kabur,” batin Aksa lagi.
Aksa langsung menelpon Danil sahabatnya sekaligus kaki tangannya untuk mencari tau tentang Rania. Ia haru tau wanita seperti apa yang ia nikahi.
“Danil, tolong carikan identitas Rania,” kata Aksa melalui ponselnya.
***
“Hai, selamat atas pernikahanmu,”ucap Arian, saat bertemu Aksa di rapat kerja sama mereka.
Arian Pratista adalah sahabat Aksa, mereka berdua sudah bersahabat dari kecil. Karena orangtua mereka juga bersahabat dulunya sampai sekarang. Jadilah hubungan mereka tak akan putus.
Arian sama halnya dengan Aksa dan Dania. Tiga pria yang diincar wanita yang ada di negara ini, mereka bertiga diberi nama trio tampan. Karena wajah mereka yang sempurna dan tentunya harta kekayaan mereka yang sangat banyak itu.
“Iya,” kata Aksa tersenyum ke arah Arian.
“Cari makan yuk,” ajak Danil, Danil adalah yang paling bobrok diantara mereka bertiga.
“Ayo,” jawab Aksa, sambil mempelintir leher Danil. Aksa dan Danil selalu melakukan itu.
Mereka becanda mempertaruhkan nyawa mereka, sedangkan Arian hanya melihat saja tingkah konyol kedua sahabatnya itu.
“Aku bersyukur memiliki mereka,” batin Arian, senang di dalam hatinya.
Arian tinggal berdua bersama dengan Ibunya. Adiknya menghilang saat melakukan study tour. Waktu itu adiknya masih berumur 4 tahun. Mereka sudah mencoba mencari, tapi tak membuahkan hasil.
Setahun setelah itu, ayah Arian meninggal karena depresi telah kehilangan anak perempun satu-satunya. Dan kini tinggalkan Arian dan Ibunya, keluarga Pratista masih mencari keberadaan Kirani Pratista—adik Arian.
***
Tak terasa mereka telah sampai di restoran yang direkomendasi oleh Danil. Danil sangat tau restoran rakyat jelata, yang katanya enak.
“Aksa bukankah itu istrimu,” tunjuk Danil, saat melihat Rania sedang makan bersama rekan-rekannya.
“Makan dengan pria lain.” Lagi dan lagi Danil mengoda Aksa, ia senang sekali membuat Aksa marah.
“Rania!” tekan Aksa pada setiap perkataannya.
Dengan langkah lebar Aksa langsung saja menuju ke meja Rania dan rekan-rekannya itu. Di depan Rania ada teman wanita, dan tepat di samping Rania ada pria yang Aksa tak tau siapa nama pria itu. Namun, bisa ia pastikan pria itu akan habis di tangannya.
“Rania!” bentak Aksa dengan tangan mengepal.