Terlihat mereka sudah sampai di Mansion keluarga Maheswari, beberapa orang menatap tak suka ke arah Rania. Termasuk Aksa. Bahkan Aksa masuk tanpa mengajak Rania untuk ikut bersamanya.
“Tidak juga, sepertinya wanita paruh baya itu baik,” batin Rania, ia sedikit bahagia melihat ada orang yang tidak membencinya.
“Aksa, kamu gimana sih. Ajak Rania masuk,” kata Rose—Nenek Aksa. Ia marah saat Aksa meninggalkan Rania sendiri di pintu masuk.
Aksa menghela napas kesal, saat neneknya mengatakan itu padanya. Dengan sangat terpaksa ia pun berbalik menjemput Rania. Tapi kalah cepat dengan Nirmala—Istri kedua ayah Aksa yang terlebih dahulu berjalan ke arah Rania.
“Ayo Nak, masuk,” ajak Nirmala, sambil menuntun Rania untuk masuk.
Nirmala tau kalau Rania baru pertama kali ke rumah mereka, dan tidak tau apa-apa di sini. Jadi ia berinisiatif untuk membawa Rania masuk.
“Terimakasih Nyonya,” kata Rania tersenyum manis ke arah Nirmala yang sedang berjalan berdampingan dengannya.
“Bibi ini juga baik,” batin Rania, sedikit lega adalagi orang baik.
“Sayang …” lirih Luna.
“Apa sayang,” balas Aksa dengan nada lembut.
“Dengan tunangannya saja selembut itu, sedangkan denganku. Aksa selalu berbicara dengan nada marah,” batin Rania miris akan hidupnya.
Luna berjalan dan ingin memeluk Aksa, tapi Nenek segera menahan Luna agar tak memeluk Aksa.
“Aksa! Kamu itu sudah menikah hargai istrimu,” kata Rose sedikit meninggikan suaranya.
“Nek ta—“ Perkataan Aksa langsung dipotong Rose.
“Kamu juga Luna, sudah tau Aksa sudah beristri masih juga ke sini. Tidak tau malu kamu ya,” ucap Rose dengan tajam dan menusuk. Siapapun yang mendengar itu akan sakit hati.
“Aksa ….” Manja Luna, ia masih menganggap Aksa adalah kekasihnya.
Aksa hanya diam tak bisa berkata lagi, langkahnya tercekat dengan perkataan Neneknya ini.
Melihat Aksa tak peduli padanya, akhirnya Luna memilih pergi dari rumak Aksa.
“Luna tunggu aku!” teriak Aksa dari dalam.
Aksa kemudian berlari mengejar Luna.
“Selangkah kamu keluar dari pintu utama, Nenek akan hapus nama kamu dalam daftar ahli waris!” Kali ini Rose sangat tegas , ia tak mau hidup Aksa berantakan jika sampai Luna masuk ke dalam keluarga mereka.
Sebenarnya Rose mengambil kesempatan itu untuk mengusir Luna di hidup Aksa. Awalnya ia juga tak mengenal Rania, tapi setelah ia mencari tau asal usul Rania dan bagaimana keseharian Rania. Ia menjadi yakin Rania adalah orang yang tepat untuk Aksa. Setidaknya Rania tak menginginkan kasta ataupun harta dari Aksa. Begitu pemikiran Rose.
“Nirmala, antar Rania ke kamar Aksa,” kata Rose kepada Nirmala yang sedang bersama Rania.
“Iya, bu,” balas Nirmala dengan nada lembutnya.
“Rania Pramesti, lihat saja nanti. Kamu akan habis di tangan saya,” batin Kalila tidak suka dengan Rania, apalagi Rania sudah sah menjadi menantunya sekarang.
“Kenapa jadi begini, aku tidak ingin hidup dengan wanita kampungan itu!” batin Aksa kesal dengan keadaan yang memaksanya untuk hidup bersama Rania.
Kini rania adalah istrinya dan akan selalu seperti itu. Neneknya akan marah jika ia sampai menceraikan Rania.
***
Rania sudah berada di dalam kamar Aksa, ini bukan hidup yang ia impikan. Ia hanya ingin bekerja dengan baik, naik jabatan dan memperoleh uang yang banyak dari hasil kerja kerasnya agar bisa membantu keuangan di panti yang menauginya selama ini.
“Bagaimana kabar mereka di panti ya?” Rania bertanya-tanya di dalam hatinya.
“Pakai ini nanti.” Aksa melemparkan sebuah dress sederhana tepat di wajah Rania.
Dress itu tampak sederhana tapi tak menghilangkan kesan angun siapapun yang memakai itu, cocok sekali dipakai oleh Rania.
“Astaga, apa hal ini akan terjadi setiap hari padaku,” batin Rania merasa hidupnya akan sangat sulit untuk kedepannya.Karena perbedaan kasta juga keluarga Aksa menganggapnya wanita kampungan yang menginginkan harta saja.
“Kenapa? Tidak mau?” tanya Aksa saat melihat Rania hanya menatap kosong ke baju yang ia berikan tadi.
“Hah? tidak-tidak, aku hanya belum terbiasa memakai baju yang mahal seperti ini,” kata Rania degan jujur.
Rania takut ia akan mengotori baju ini, dan ia lah yang akan membayar ganti rugi.
“Kamu harus membiasakannya mulai sekarang!” Tekan Aksa pada setiap perkataannya.
Aksa beralih untuk berganti pakaian, ia membuka kancing demi kancing baju jasnya itu. Ia bahkan tak malu ada Rania di depannya.
“Aku pergi dulu,” kata Rania ingin keluar dari kamar mereka, dengan gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya.
“Mau kemana?” tanya Aksa, sambil memakai baju santai yang telah disiapkan pelayan di atas ranjang.
“Menunggu di luar, agar kamu nyaman untuk berganti pakaian,” jawab Rania.
Rania benar bukan ia tak suka, tapi ia tak mau dengan kehadirannya akan membuat Aksa tidak nyaman.
“Kamu mau Nenek marah lagi, pasti Nenek akan mengira aku yang mengusirmu!” ucap Aksa dengan nada marah.
Aksa selalu marah ketika berbicara dengan Rania, entahlah semua yang dilakukan Rania salah di mata Aksa.
“Tidak apa-apa, aku akan berbicara dengan Nenek nanti,” balas Rania lagi, masih kekeuh dengan pendiriannya.
“Rania Pramesti! Kamu itu istri saya sekarang. Ikuti saja perintah saya,” ucap Aksa dengan nada dingin dan datarnya.
Aksa kesal dengan perkataan Rania, berani sekali Rania menjawab perkataannya.
Dengan kesal ia langsung menuju wardrobe untuk berganti pakaian, tak lupa ia menutup pintu dengan sangat keras.
“Astaga!” kaget Rania dengan suara pintu yang sangat keras.
“Apalagi ini, Tuhan, kapan aku bisa bahagia,” batin Rania merasa miris dengan hidupnya.
“Apa aku kabur saja membawa anak ini?” Rania bertanya-tanya di dalam hatinya.
“Jangan berpikir untuk kabur dariku!” ucap Aksa yang berada tepat di depan Rania.
Untuk kesekian kalinya Rania kaget dengan kedatangan Aksa yang tiba-tiba.
Aksa berjalan mendekat ke arah Rania yang duduk di tepi ranjang. Tak tau apa yang dilakukan Aksa, ia sedikit takut melihat wajah Aksa berubah serius ditambah datar.
Rania masih memperhatikan Aksa yang berjalan ke arahnya, ia tak tau apa yang akan dilakukan Aksa terhadapnya. Rania pun mundur sampai punggungnya menubruk kepala ranjang.
“Kenapa? Tidak bisa kabur?” tanya Aksa dengan seringai jahatnya.
Terlihat Aksa berada dekat dengan Rania, bahkan Aksa sudah duduk di tepi ranjang tepat di sebelah Rania. Tak ada jarak diantara mereka berdua.
“Dengar, anak ini.” Aksa beralih mengelus dengan lembut perut Rania.
Rania memejamkan matanya saat Aksa melakukan itu.
“Akh!” ringis Rania saat tangan Aksa yang satunya mencekal tangannya dengan sangat keras, bisa ia pastikan tangannya akan memerah nanti.
“Anak ini adalah milikku, begitupun juga dengan dirimu …” Aksa menghentikan ucapannya.
Ia melihat raut wajah kesakitan Rania, ia tau cekalan darinya sangatlah menyakitkan dan ia sengaja melakukan itu, untuk memberitahukan kepada Rania bahwa jangan meremehkan Aksa.
“Jawab!” bentak Aksa tepat di depan wajah Rania.
“Iya, iya aku tahu,” balas Rania dengan sangat cepat. Agar Aksa tak marah lagi padanya.
“Sekali lagi!” Aksa mencekal dengan kuat tangan Rania
“Akh!” teriak Rania kesakitan.
Karena Aksa sengaja mencekal tangan Rania tepat di gelang yang Rania pakai, tentu itu akan dua kali lipat lebih menyakitkan.
Air mata Rania pun tumpah, saat Aksa membentaknya, ditambah lagi rasa sakit yang ia rasakan di tangannya. Rasanya ia tak sanggup menghadapi ini sendirian.
“Iya, iya aku tidak akan meninggalkan anda Tuan,” ucap Rania dengan satu tarikan napas.
“Bagus lah,” cibir Aksa, karena ia telah berhasil membuat Rania takut padanya.
“Cepat ganti pakaianmu, dan makan malam bersama.”Aksa menghempaskan dengan kuat tangan Rania yang ia cekal tadi.
“Hapus air matamu itu, cengeng sekali,” lanjut Aksa, dan langsung pergi dari kamar mereka.
Sedikitpun Aksa tak peduli dengan rasa sakit yang dirasakan Rania.
Rania melihat kepergian Aksa dengan tatapan sendu, ia tak menyangka kehidupannya akan menjadi tragis. Sudah dipaksa menikah, suaminya selalu kasar padanya, keluarga suaminya juga memandang rendah ke arahnya.
Air matanya tak henti-hentinya turun mengetahui hidupnya akan sulit di keluarga Maheswari.
“Ayah, Ibu, andaikan kalian masih ada. Aku tidak akan menderita seperti ini,” batin Rania, masih menangis dalam diamnya.