Rania kaget mendengar penuturan Aksa, ia tak habis pikir kenapa Aksa mengatakan itu.
“Apa maksud anda Tuan?” tanya Rania yang kini berada di depan Aksa.
Aksa meneliti penampilan Rania dari atas sampai bawah, ia mengelengkan kepala saat melihat itu.
Rania meletakkan kedua tangannya di d**a, saat Aksa menatap ke arahnya. Ia tau apa isi otak jahat Aksa.
“Jangan memandangku seperti itu Tuan!” kata Rania lalu duduk di sopa yang ada di ruang tamu.
Aksa mencibir perkataan Rania yang sombong. “Aku sudah melihat semuanya, apalagi yang kamu sembunyikan,” kata Aksa lalu duduk tepat di depan Rania.
Mulut Rania terkunci saat Aksa mengatakan itu. Tak ada yang salah dengan perkataan Aksa, Aksa sudah melihat semuanya ia tak bisa menapik semua itu. Ini salahnya, dia yang meminta Aksa untuk tidur dengannya pada malam itu.
“Tidak bisa menjawab?” tanya Aksa melihat Rania mematung di tempat.
“Tidak usah basa-basi Tuan, bilang saja apa tujuan anda ke sini?” tanya Rania lagi, ia juga kesal melihat Aksa.
Tapi ia tak bisa melawan, bisa-bisa nyawanya melayang di tangan Aksa.
Aksa bukanlah pria yang lemah dalam memperlakukan manusia, ia sangat tegas dan dingin ke beberapa orang, Rania contohnya.
“Aku ke sini ingin menjemputmu, karena beberapa jam lagi kita akan menikah,” kata Aksa masih dengan nada dingin dan datarnya.
“Apa?!” Rania kaget mendengar penuturan Aksa.
“Bersiaplah kita akan pergi,” kata Aksa lagi, lalu berdiri dari duduknya.
Rencananya ia ingin menunggu di luar saja, ia tak bisa bernapas berada di tempat kumuh.
“Aku tidak mau,” ucap Rania dengan satu tarikan napas.
Aksa menghentikan langkahnya saat Rania mengatakan itu, ia tak habis pikir ada perempuan yang berani menolaknya. Harga dirinya sedikit tercoreng dengan penolakan dari Rania.
“Menarik,” batin Aksa, menatap lekat ke arah Rania.
Aksa menyeringai lalu mengatakan, “Aku tidak butuh persetujuanmu, ikuti saja apa yang aku katakan,” ucap Aksa kembali ke mode datarnya.
Aksa bukan pria yang bisa berkata dengan manis, tak ada kata manis yang keluar dari mulut Aksa.
“Aku tetap tak mau, memangnya anda siapa memaksa saya!” Rania memberanikan diri untuk melawan Aksa.
Ia tak memikirkan apa akibatnya, tapi sekarang ia harus membela dirinya sendiri dan tidak akan membiarkan Aksa berbuat semena-mena.
“Aku memaksa,” kata Aksa lagi dengan senyum jahatnya.
“Pengawal bawa dia!” perintah Aksa ke pengawalnya yang berjaga di depan pintu.
Rania menatap takut ke arah dua pengawal yang badannya besar. Ia pun langsung mengiyakan perkataan Aksa.
“Baiklah-baiklah, aku akan ikut,” kata Rania, sepertinya ia harus membiarkan Aksa pergi. Baru ia pikirkan lagi, apa langkah selanjutnya.
Aksa tak percaya dengan apa yang diucapkan Rania barusan, ia menatap tak percaya ke arah Rania yang keras kepala, lalu dengan mudah mengiyakan perintahnya.
“Bisa keluar dulu, aku ingin bersiap,” kata Rania dengan nada santai.
Ia harus berpura-pura pasrah di hadapan Aksa, agar Aksa percaya padanya.
“Sepuluh menit,” kata Aksa dengan nada dingin.
“Baiklah,” kata Rania lalu bergegas ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.
Aksa sudah pergi keluar, ia melihat ke jendela. Terlihat Aksa sedang bersandar di mobilnya yang ada di depan kontrakan Rania.
“Aksa masih di depan,” batin Rania mengintip lewat jendela.
“Apa yang harus aku lakukan,” batin Rania lagi.
Rania masih melihat disekitar rumah untuk mencari cara kabur dari kontrakannya tanpa terlihat oleh Aksa dan para pengawal.
“Jendela samping.” Rania segera ke sana, dan mencoba untuk keluar dari sana. Sebelum itu, tadi ia sudah membawa sejumlah uang untuk aksi kaburnya itu.
Dengan pelan-pelan ia turun dari jendela, agar tak menimbulkan suara.
“Syukurlah Aksa tak melihatku,” batin Rania, masih berusaha berjalan mengendap-ngendap, agar Aksa tak menyadari kepergiannya.
Krek! Bunyi pijakan ranting terdengar di telinga Aksa.
Karena posisi Rania tak jauh darinya jadi ia bisa melihat itu. Tadi ia juga melihat ada wanita yang sedang berjalan tak jauh darinya. Tapi ia tak terlalu memperdulikan itu, tapi setelah melihat dari dekat ia baru sadar kalau itu adalah Rania.
“Rania?” kaget Aksa.
“Pengawal kejar dia!” teriak Aksa sambil berlari ke arah gang sempit yang baru saja dilalui Rania.
“Rania, berhenti!” teriak Aksa yang kelelahan mengejar Rania.
Ia kira Rania wanita lemah, ternyata Rania tidak selemah itu. Ia saja kewalahan mengejar Rania.
Aksa masih melihat Rania yang juga berhenti di tengah jalan, mungkin Rania juga lelah. Begitu pikirnya.
Aksa melihat dari samping ada pengawal yang berlari di gang lain untuk memotong langkah Rania.
“Kena kamu!” Aksa tersenyum senang, saat pengawalnya berhasil menangkap Rania.
***
“Masuk!” perintah Aksa, saat mereka berada di depan mobil.
“Tidak mau.” Rania masih kekeuh tidak ingin mengikuti Aksa, ia tak mau Aksa seenaknya dengan dirinya.
“Masuk!” perintah Aksa lagi.
Rania masih diam tak bergerak sedikitpun, ia engan sekali untuk mengikuti perkataan Aksa.
Kesabaran Aksa pun habis, akhirnya dengan sedikit paksaan. Aksa mendorong Rania untuk masuk ke dalam mobil.
“Masuk,” kata Aksa sambil mendorong Rania dengan kasar. Salahkan Rania yang tidak mengikuti perintahnya, andaikan Rania menurut, Aksa tak akan bertindak kasar.
“Aduh!” ringisnya. Tangan Rania berdarah saat terkena kaca mobil.
Aksa melihat Rania kesakitan, tapi ia tak terlalu memperdulikan hal itu. Aksa kejam kalau ada orang yang tak mengikuti perintahnnya.
Rania masih meronta-ronta untuk keluar dari mobil, berkali-kali ia membuka pintu mobil. Tetap saja tak bisa, karena Aksa telah menguncinya. Ia pun beralih ke samping Aksa untuk kabur lewat sana, namun sayang kalah cepat dengan Aksa yang langsung memeluk Rania dengan sangat erat agar Rania diam di tempat
“Jalan saja Pak,” kata Aksa.
“Lepaskan aku!” teriak Rania.
Aksa diam tak mengubris perkataan Rania.
“Lepaskan aku b******n!” Rania tak sadar telah berbicara kasar dengan Aksa.
“Diam Rania!” teriak Aksa, tak suka mendengar Rania berbicara seperti itu.
Seketika Rania diam, duduk manis di samping Aksa saat Aksa membentaknya tadi.
Tadi Rania sempat melihat wajah marah Aksa, ia takut melihat itu. daripada Aksa melakukan kekerasan lagi terhadapnya, lebih baik ia ikut saja. Nanti ia cari cara untuk kabur.
“Apa aku harus diam saja begini?” tanya Rania dalam hatinya.
“Hidupku sangat berharga, aku tak ingin menghabiskan masa tuaku dengan pria yang kasar,” batin Rania miris dengan hidupnya.
***
Rencana Rania untuk kabur akhirnya gagal, karena Aksa selalu saja berada di dekat Rania. Jadi ia tak mempunyai kesempatan untuk kabur. Dan disinilah ia sekarang, berada di altar pernikahan bersama Aksa. Mereka sudah berada di depan pendeta, untuk mengucapkan janji suci.
Rania melihat ke sekeliling, banyak sekali yang datang. Ia bisa menebak mereka semua adalah keluarga besar Maheswari, ia tau semua anggota keluarga Maheswari karena ia sangat mengidolakan keluarga itu termasuk Aksa. Tapi setelah melihat bagaimana Aksa memaksanya ia menjadi batal mengidolakan Aksa.
“Ada Luna juga,” batin Rania kaget melihat Luna ada di antara banyaknya orang yang datang di acaranya
Rania menghela napas panjang, sepertinya hidupnya akan sulit untuk kedepannya.
“Aduh!” ringis Rania, saat Aksa dengan paksa memakaikan cincin itu di jari manisnya.
Ia tau Aksa sengaja untuk melukai dirinya lagi. padahal Aksa bisa memasang cincin itu dengan pelan.
“Pengantin pria mencium pengantin wanita.”
“Aku tidak mau,” batin Rania, menatap tak suka ke arah Aksa.
Aksa mendekatkan wajahnya ke arah Rania, tapi Rania menjauhkan wajahnya agar tak bersitatap dengan Aksa.
“Apa dia akan menciumku? Lalu bagaimana dengan Luna?” tanya Rania dalam hatinya, tak tega melihat Luna.
Pasti sakit menjadi Luna saat tunangan kita menikah dengan orang lain.
Karena tak mendapat respon dari Rania, akhirnya Aksa menarik tengkuk Rania dengan paksa. Lalu dengan rakus mencium bibir Rania, tanpa memikirkan perasaan Luna.
“Aksa, kenapa kamu begitu tega,” batin Luna, ia sangat kesal melihat pemandangan di depannya ini.
“Rania pramesti, awas saja kamu,” batin Luna mengepalkan tangannya.