Danil sedang menunggu Aksa—bosnya sekaligus sahabatnya di depan pintu gerbang mansion keluarga Maheswari. Mereka selalu berangkat ke kantor bersama.
“Bagaimana, apa kamu sudah menemukan orang-orang itu?” tanya Aksa begitu tiba di hadapan Danil. Pria itu masih tampak kesal setelah mendengar permintaan Rose.
“Belum, mereka menghilang tanpa jejak,” jawab Danil.
Aksa seperti kehilangan cara untuk menemukan orang yang menyerangnya tempo hari. Berbagai hal sudah dilakukannya. Namun, tak ada satu pun yang membuahkan hasil.
“Tapi aku sangat yakin mereka adalah orang suruhan Gavin.” Jelas Danil sambil melihat layar tabletnya.
“Ya sudah, terus selidiki itu,” perintah Aksa.
“Oh iya, perusahaan Gavin juga ikut dalam lelang yang diadakan Tuan Danzel,” kata Danil memberikan informasi penting kepada Aksa.
Gavin Adhitama adalah musuh besar Aksa dalam dunia bisnis, ia sangat berambisi mengalahkan Aksa apa pun caranya. Gavin juga sering mengirim pembunuh bayaran untuk membunuh Aksa, tapi tak ada satu pun yang berhasil.
“Kita ikuti saja permainannya,” kata Aksa tak mau ambil pusing. Seperti biasa Gavin akan kalah, begitu pikir Aksa.
***
Di lain tempat, Rania yang sedang berada di lobi tampak menunggu Nara—sahabatnya. Nara sedang berada di kantin tempat mereka bekerja untuk membeli minuman hangat.
“Ini untukmu.” Nara memberikan minuman kepada Rania.
Rania menerimanya dengan senyuman.
“Ran, ku kira kamu akan jadi pekerja tetap di club itu.” Tiba-Tiba seorang wanita bernama Nesa datang. Wanita yang ditemui Rania di club itu sengaja bicara dengan keras agar semua orang yang ada di sana mendengarnya.
“Nesa, jaga omongan kamu.” Bukan Rania yang bicara tapi Nara. Nara-lah yang selalu adu mulut dengan Nesa.
“Aku hanya menggantikan temanku malam itu,” kata Rania membela diri.
“Guys, kalian lihat bukan, orang seperti Rania bekerja di club. Memang di luar perkiraan,” kata Nesa sambil tertawa bersama rekannya yang lain.
“Sudahlah, Nesa, ayo kita pergi!” ajak Randi. Pria itu tidak mau jika hal yang tak diinginkan terjadi antara Nesa dan juga Rania.
Rania terdiam sebentar setelah mendengar perkataan dari Nesa, apakah orang seperti dirinya tidak boleh sukses, tidak boleh bekerja di perusahaan besar.
“Sudah, Ran! Tidak perlu kamu pikirin omongan sampah itu.”
“Santai aja lagi.”
Pandangan Rania terhenti di satu titik. Sebuah mobil yang tadi pagi membuntuti taksi yang dinaikinya terparkir di pelataran lobi. Plat mobil itu bahkan sama dengan yang terparkir di kontrakan Rania tadi pagi.
“Siapa ya mereka?” Rania bertanya-tanya di dalam hatinya.
“Ada apa?” tanya Nara, melihat Rania menatap ke depan.
“Enggak, enggak apa-apa kok. Udah yuk, nanti telat lagi ke atas,” kilah Rania, ia tak ingin membuat Nara khawatir padanya.
Sebenarnya Rania masih begitu memikirkan kejadian dua minggu lalu. Ia merasa sangat bersyukur karena keluarga Maheswati tidak mengganggunya. Namun, bukan itu saja yang mengusik pikirannya.
“Semoga saja kejadian itu tidak sampai membuatku hamil,” batin Rania sambil memegangi perutnya.
***
Rania sudah berada di kontrakannya hanya rumah dua petak yang muat untuk satu orang saja. Ia merasa lelah sekali hari ini, badannya sangat letih dan kepalanya sering sakit akhir-akhir ini.
Tadi, pulang dari kantor ia sempat membeli alat tes kehamilan di apotik, ia ingin sekali mencobanya, tapi takut kalau hasilnya tak sesuai perkiraannya.
Ia memegang test pack itu. “Bagaimana ini, kenapa aku sangat takut?” batin Rania dengan jantung yang berdetak begitu kencang. Dengan keberanian yang secuil itu akhirnya ia coba melakukan tes.
Beberapa menit menunggu hasilnya. “Semoga negatif, ya Tuhan.” Rania tak berani melihat hasilnya. Ia pun membuka mata, kaget dengan hasil yang muncul. “Tidak mungkin.” Rania langsung membuang benda itu ke dalam tong sampah.
Rania terdiam sebentar sambil mencerna keadaan. Ia tak bisa berkata-kata melihat hasil tes itu.
“Ini tidak mungkin, aku tidak siap melahirkan anak!” teriak Rania frustasi. “Dasar pria jahat! Kenapa aku harus hamil?” Rania melempar semua barang yang ada di depannya, bahkan tadi ia sempat memecahkan cermin yang ada di ruang tamu. Saat ini, ia sangat terpukul mengetahui fakta bahwa ia sedang hamil. Ingin sekali menggugurkan kandungannya, tapi Rania merasa tidak tega. Wanita itu tidak mau mengorbankan anaknya sendiri atas kesalahan satu malam yang ia perbuat.
Tanpa Rania sadari ada seseorang yang sedang mengintip pergerakan Rania, mereka juga mendengar apa yang dibicarakan Rania. Beruntung mereka memasang alat penyadap di kontrakan Rania. Sangat mudah bagi mereka masuk ke dalam kontrakan kecil itu, bahkan bos mereka bisa membeli tempat kumuh itu jika ia mau.
***
“Kenapa aku harus menikahi perempuan asing!” teriak Aksa, ia selalu didesak neneknya untuk segara menikahi Rania, apalagi neneknya juga mengatakan kalau Rania sedang mengandung anaknya, itu sangat membuat Aksa frustasi.
“Sayang, bagaimana dengan kita?” kata Luna yang tak terima keputusan dari Aksa.
“Kamu tenang saja, Sayang. Aku akan menceraikannya setelah dia melahirkan anakku,” kata Aksa berbicara lembut kepada Luna.
Aksa dikenal dengan sifat tegas dan kejamnya, ia dingin ke beberapa orang yang ia anggap musuhnya. Jika dengan orang yang ia sayang, ia akan bersikap lembut.
“Janji, ya?” Luna sok manis di hadapan Aksa.
Aksa langsung memeluk Luna, ia tak mau wanitanya sedih gara-gara masalah itu. Tanpa Aksa sadari, Luna tersenyum. Bukan senyum bahagia, melainkan seringai licik yang terlihat. Wanita itu seperti menyembunyikan sesuatu yang mustahil bisa diketahui Aksa.
***
Sudah beberapa hari Rania tidak masuk kantor karena keadaannya semakin memburuk. Sedari pagi ia terus saja mual-mual, daripada rekan kantornya curiga lebih baik ia tidak ke kantor saja untuk sementara waktu. Ia harap uangnya cukup untuk menghidupinya beberapa bulan ke depan.
Tiba-Tiba ada yang mengetuk pintu apartemen Rania, ia penasaran siapa yang bertamu di pagi-pagi buta.
“Tunggu sebentar!” teriak Rania langsung bergegas membuka pintu.
Saat pintu terbuka, kedua mata wanita itu tampak membulat. Ternyata Aksa yang datang. Pria yang sudah merenggut kesuciannya hingga sekarang ia hamil.
“Kamu ngapain ke sini?” Setelah diam beberapa detik, Rania pun bertanya. Namun, bukan menjawab, Aksa malah masuk sebelum dipersilakan hingga menabrak bahu Rania. Ia melihat sekeliling, tempat itu bisa dikatakan sangat kumuh. Aksa heran, ada yang bisa tinggal di tempat yang tak layak seperti itu.
“Saya tahu, anda jijik melihat tempat saya, jadi silakan keluar!” kata Rania berusaha mengusir Aksa dari kontrakannya.
“Apa ini tempat tinggal calon ibu dari anakku?” tanya Aksa menatap Rania dengan sorot mata seolah merendahkan.
Mendengar perkataan Aksa, Rania hanya mematung diam. Wanita itu sangat kaget mendengar perkataan Aksa yang menyebutnya sebagai calon ibu. Artinya, pria itu sudah tahu kalau Rania hami, tapi dari mana? Beragam pertanyaan pun mulai mendesak pikiran Rania hingga membuat wanita itu bingung.