Bab 2. Kesalahan Satu Malam

1259 Words
Keesokan paginya, Aksa yang mulai terjaga lebih dulu masih terlihat memeluk erat tubuh Rania. Sebelumnya, ia tak pernah merasakan pelukan sehangat itu, tidak juga bersama Luna—tunangannya. Bercinta dengan Rania adalah suatu hal yang membuatnya bahagia, berbeda dengan wanita lainnya. “Dia belum pergi.” Aksa kira, kisah yang akan terjadi seperti pada cerita-cerita novel di mana wanita yang ditidurinya akan pergi diam-diam sebelum ia bangun. Namun, kali ini berbeda, Rania masih terlihat nyaman dalam pelukannya. “Aksa, ayo bangun! Nenek sudah bawakan sarapan,” ucap Rose–nenek Aksa dari luar kamar Aksa. “Tunggu, Nenek? Kenapa aku tidak tau Nenek ada di sini? Bisa gawat kalau Nenek tau kalau aku membawa wanita ke apartemenku,” batin Aksa panik. Ia pun segera memakai pakaiannya. “Aksa, siapa wanita itu!” teriak Rose dari depan pintu. Aksa memejamkan mata, mendengar suara menggelegar dari neneknya. “Sepertinya aku dalam masalah besar,” batin Aksa, lalu membalikkan tubuhnya untuk melihat wajah emosi sang nenek. “Nek, Aksa bisa jelaskan,” kata Aksa membujuk neneknya. Rose masih ngotot untuk tahu siapa wanita yang ditiduri Aksa. Tak biasanya Aksa membawa wanita ke apartemennya. “Sepertinya wanita ini spesial,” batin Rose—Nenek Aksa. Mendengar suara gaduh, membuat Rania terbangun dari tidur indahnya. “Siapa?” kata Rania berusaha membuka matanya. “Kamu yang siapa?!” tekan Rose pada perkataannya. Rania pun kaget mendengar ada wanita paruh baya berteriak padanya. “Hmmm,” gumam Rania, masih mengumpulkan kesadarannya. Aksa merasa frustasi melihat neneknya, ia menyesal telah membawa Rania ke apartemen. “Nenek ayo keluar dulu!” Aksa berusaha mendorong neneknya agar pergi dari kamarnya itu. “Kamu pakai bajumu dulu!” Aksa menutup pintu kamarnya dengan keras. Rania pun tersadar sepenuhnya saat Aksa mengatakan itu, matanya terbuka lebar ia memegang kepalanya yang terasa pusing. “Ini bukan mimpi?” tanya Rania dalam hatinya. Rania melihat keadaan sekita. Saat ini, ia berada di sebuah kamar yang sangat mewah. Ia pun tidak tahu di mana ia berada, tidak hanya itu saja ada banyak baju yang berserakan di mana-mana, bahkan beberapa bantal juga jatuh berserakan. “Tunggu … jangan-jangan ….” Rania segara memeriksa ke dalam selimut. “Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan semalam?” batin Rania, antara ingin menangis atau marah ke pria yang telah merebut kesuciannya Hal yang sangat ia jaga selama ini kini telah hilang hanya dalam satu malam saja. “Dasar laki-laki hidung belang!” kesal Rania sambil memungut baju-baju yang ada di lantai. Rania masih saja menggerutu tidak jelas, ia masih menyalahkan pria yang menidurinya semalam “Aduh kepalaku.” Rania berhenti sebentar sampai rasa sakitnya tidak lagi terasa. Rania pun tiba-tiba mengingat sesuatu. Wanita teringat bagaimana ia memohon pada pria yang tidak ia kenal untuk membantu meredakan panas dalam tubuhnya. “Pasti karena minuman itu. Rania bodoh, bodoh,” batin Rania sambil menepuk kepalanya. “Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan. Mereka masih ada di luar.” Rania panik sekaligus bingung apa yang harus ia lakukan. Kalau keluar, ia pasti akan bertemu dengan pria itu. Namun, tidak mungkin juga ia mendekam di kamar itu selamanya. Rania pun melihat sekeliling, menemukan kartu nama yang ada di atas meja nakas. Ia membaca huruf demi huruf yang tertera di sana. “Aksa Maheswari.” Rania pun tertunduk lesu saat membaca nama itu. Ia melihat sekeliling dan benar saja ada foto Aksa di kamar. “Apa yang telah aku lakukan? Jangan bilang pria yang tidur denganku adalah Tuan Aksa yang jahat itu,” batin Rania bertanya-tanya. Seketika wanita itu merasa nyawanya akan terancam jika berhubungan dengan keluarga Maheswari. Siapa yang tidak mengenal keluarga Maheswari penguasa ekonomi di negara Indonesia. *** Sementara itu Rose dan juga Aksa kini tengah berada di ruang tamu. Wanita paruh baya itu tak henti-hentinya memarahi Aksa dan menuntut sang cucu untuk menikahi wanita itu. “Nek, omong kosong apa ini. Aku tidak mau,” tekan Aksa pada setiap perkataannya. “Nenek, Aksa mencintai Luna,” kata Aksa berusaha membela diri. Enak saja neneknya menyuruh dia bertanggung jawab dengan wanita yang tidak ia kenal. Nama wanita itu saja Aksa tidak tahu, lantas bagaimana mau menikah. “Luna lagi, Luna lagi. Nenek tidak setuju kamu dengan Luna!” Nenek membentak Aksa, Rose tak habis pikir bagaimana Aksa bisa percaya begitu saja dengan Luna. Rose sangat yakin kalau Luna hanya mengincar hartanya saja. “Aksa tidak mau menikahi wanita itu, titik!” kata Aksa lagi, ia sudah mantap dengan keputusannya. “Benar, Nyonya, Tuan Aksa tidak perlu bertanggung jawab,” sambung Rania, yang sedari tadi sudah berdiri di samping dua orang yang berdebat serius Aksa maupun Rose melihat ke arah sumber suara dan benar saja yang berbicara itu adalah Rania. “Saya permisi,” pamit Rania, ia menunduk hormat saat keluar dari apartemen Aksa. Rania dengan cepat-cepat meninggalkan apartemen Aksa. Ia tidak mau kalau masalah ini menjadi besar. Rania tidak butuh pertanggungjawaban dari Aksa meski pria itu telah merenggut kesuciannya. Dengan gerakan cepat, ia sudah sampai di lobi apartemen. Rania langsung mencari taksi untuk pulang. Sepertinya ia harus izin kerja beberapa hari ke depan, ia masih tak menyangka dan syok apa yang terjadi dengan dirinya malam tadi. “Apa yang harus aku lakukan, pasti Bu Gayatri akan kecewa?” batin Rania, ia termenung di dalam taksi. Rania Pramesti adalah anak yatim piatu yang ditinggal orang tuanya. Sekarang ia tinggal sendiri di ibu kota. Namun, ia memiliki seseorang yang sudah dianggapnya seperti ibu sendiri, yaitu Bu Gayatri–ibu panti tempat ia tinggal saat masih kecil. “Tapi bagaimana kalau aku hamil? Tidak-tidak, itu tidak mungkin terjadi.” Rania segera membuang jauh-jauh pikiran buruknya itu. Ia juga tak ingin melahirkan anak dari orang yang tidak ia kenal. “Semoga saja tidak ada masalah ke depannya.” Rania harap-harap cemas. *** Beberapa hari kemudian, Aksa pun diminta untuk datang ke rumah orang tuanya atas perintah Rose. Tak hanya mereka, Luna pun turut diminta hadir oleh sang nenek. Wanita cantik itu tak henti-hentinya menangis saat mendengar kabar bahwa Aksa akan segera menikah, padahal ia sudah lama mendambakan hidup bahagia bersama Aksa hingga hari tua. “Apa Nenek tega misahin kami?” Luna menangis tersedu-sedu saat mendengar kabar bahwa Aksa akan menikah dan itu bukan dengannya. “Jangan egois kamu Luna! Kamu juga harus memikirkan wanita itu? Bagaimana kalau nantinya dia sampai hamil?” kata Rose, ia mengalihkan tatapannya ke arah yang lain. “Tapi, Bu, kita juga kan tidak tau asal usul wanita itu. Jadi, bagaimana ingin menikahkan dengan Aksa?” kata Kalila—Ibu Aksa. “Iya, Nek, lagi pula wanita itu tidak minta pertanggungjawabanku,” sanggah Aksa, ia juga frustasi atas permintaan sang nenek yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Kesalahannya cuma satu, membawa wanita itu ke apartemen hingga Rose tahu. Ia tak habis pikir neneknya masih mengingat kejadian beberapa hari yang lalu yang bahkan ia juga sudah melupakan itu. “Tidak bisa, Aksa. Ini sudah keputusan Nenek.” Setelah mengatakan itu, Rose pun pergi dari ruang tamu meninggalkan mereka yang frustasi dengan keputusan itu. Keputusan yang membuat Luna begitu kesal, padahal ia sudah menjadi perempuan baik di hadapan mereka. Namun, satu kejadian tak terduga malah menggagalkan rencananya untuk menjadi nyonya di keluarga Maheswari. “Oh, ya,” kata Nenek berbalik. Melihat anggota keluarganya masih berkumpul di ruang tamu dengan sorot mata yang menajam saat pandangannya terhenti pada Aksa. “Nenek akan menghentikan koneksi kamu pada perusahaan jika kamu sampai menolak rencana Nenek!” “Apa, Nek?!” Aksa tercengang. Tak hanya pria itu, baik Luna maupun kedua orang tua Aksa juga ikut kaget mendengar ultimatum Rose yang terdengar sungguh-sungguh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD