“Cepat bantu aku, Tuan! Aku sudah tidak tahan lagi!” Seorang wanita bernama Rania Pramesti tampak begitu liar. Wanita itu tak menyangka jika minuman pemberian dari seseorang tadi ternyata mengandung obat perangsang yang membuat ia sulit menahan hasrat panas dalam dirinya.
Pria itu pun mulai terpancing hingga tanpa ragu membalas ciuman, lalu beralih dengan memberi kecupan demi kecupan pada tubuh polos Rania yang terlihat begitu seksi.
Sebelum memulai permainan inti, pria itu dengan lihai bermain liar mengulum dua aset berharga Rania hingga wanita itu semakin menggeliat di atas ranjang.
“Nikmatilah! Aku akan membuatmu melayang seperti di surga.”
***
Beberapa jam sebelum malam panas itu terjadi. Di sebuah club malam di pusat kota, Rania terlihat berjalan ke arah meja untuk mengantar pesanan. Ia dengan ramah menyapa beberapa orang yang dikenal. Saking seringnya menggantikan posisi Queen–temannya, banyak sekali pelanggan setia di club yang mengenalnya.
“Rania Pramesti?” tanya orang itu kaget.
Ia kaget melihat Rania ada di sana. Ia kira Rania adalah wanita berkelas hingga rasanya tidak akan pergi ke tempat menjijikan.
“Aku nggak nyangka kamu kerja di tempat seperti ini,” kata Nesa—teman Rania di kantor.
“Bukan urusanmu!” balas Rania, lalu segera pergi dari sana setelah meletakkan minuman di atas meja.
“Kenapa aku harus bertemu dengan Nesa di sini? Pasti dia akan memfitnahku di kantor,” batin Rania kesal, ia merasa sangat sial hari ini.
Tak lagi memikirkan hal itu, ia langsung melanjutkan pekerjaannya. Gadis itu dengan ramah mengantar minuman dari meja ke meja. Tak ayal juga banyak yang menggoda Rania, memang benar wajah Rania bisa dikatakan cantik dengan kulit putih mulusnya dan rambut panjang yang sekarang disanggul untuk mempermudahkan pekerjaannya.
“Capek, ya?” tanya temannya yang juga merupakan karyawan di club.
“Lumayan,” balas Rania sambil memijit kaki jenjangnya.
“Ini, ada yang nitip minuman tadi. Lupa aku namanya siapa,” katanya.
“Terima kasih,” balas Rania dengan senyum manisnya.
Rania segera meneguk minuman dengan sekali tegukan, ia bahkan tak curiga minuman apa yang diminumnya sekarang. Namun, yang ia tahu, minuman itu bukan alkohol.
“Baguslah,” ucap seseorang yang bersembunyi di balik sebuah pilar di dekat sana.
“Aku ke toilet dulu,” kata Rania saat merasakan pusing di kepalanya.
***
Di tempat yang sama ada seorang laki-laki yang sedang memindai orang-orang yang sedang lewat di depannya. Ia juga sering ke club, tapi di ruangan VVIP karena bukan levelnya berada di lautan manusia.
Tapi, karena ada seseorang yang ia cari kabur ke club itu, jadilah ia mencari orang itu.
“Ke mana dia pergi? Bikin repot saja,” keluh Aksa, merasa sangat geram saat tak menemukan orang yang tadi sempat menyerangnya.
“Kita tunggu saja di sini!” balas Danil yang juga sedang mencari orang itu.
“Kelamaan, kita harus tetap mencarinya. Ya sudah, aku akan nyari ke arah sana,” tunjuk Aksa pada lorong yang gelap.
Aksa Maheswari adalah seorang milyader terkenal. Keluarga Aksa juga termasuk dalam deretan sepuluh orang terkaya di dunia. Tak ayal banyak sekali yang membenci, bahkan ingin membunuhnya. Aksa Mahesawari memiliki musuh di mana-mana.
Aksa merupakan ikon pria yang ingin dijadikan suami yang ada di kota itu. Ia juga terlihat sempurna di mata kaum hawa, bahkan ibu-ibu sekalipun. Dengan wajah tegas ia berhasil membuat orang-orang takut padanya. Aksa memiliki tinggi badan yang sangat ideal. Postur tubuh yang disukai banyak wanita-wanita, ditambah lagi kulit sawo matangnya membuat para wanita jadi semakin menggilainya. Namun sayang, ia sedikit kasar dengan wanita. Dengan mulut pedasnya itu bisa menjatuhkan harga diri wanita, sesekali Aksa juga bermain fisik dengan perempuan.
“Siapa itu?” Aksa tak bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang berjongkok di lantai.
Ia pun mendekat. “Nona ada apa?” tanya Aksa melihat wanita itu memejamkan matanya.
“Tuan, tolong saya, ini panas sekali!” kata Rania sambil mengibaskan tangannya berharap panas itu akan berkurang.
“Apa yang terjadi, kam—“ Aksa menghentikan ucapannya saat wanita itu memeluknya dengan erat.
“Hei, lepaskan dulu!” pinta Aksa, risih ada yang memeluknya, apalagi ia tak mengenal wanita yang ada di depannya. Mana tau wanita yang di depannya memiliki penyakit menular.
Rania tidak kuat dengan rasa panas yang menyerang tubuhnya, ia tak tahu kenapa ini bisa terjadi. Rasanya sangat lelah menahan hasrat yang muncul pada dirinya.
“Oh Tuhan, apa yang terjadi?” batin Rania, tak mengerti dengan tubuhnya sendiri.
“Jauhkan tubuhmu dariku!” Aksa sedikit meninggikan suaranya, tak sengaja Aksa menyentuh pipi wanita yang ada di depannya.
Rania terkesiap saat Aksa menyentuhnya, “Kenapa aku menginginkan sentuhan dari pria ini?” batin Rania dengan sisa-sisa kesadarannya.
“Tuan bantu aku, aku mohon!” kata Rania ingin meraih pipi Aksa. Namun, Aksa dengan cepat menghindari tangan Rania.
“Akhirnya.” Aksa dengan kasar melepaskan diri dari pelukan Rania, ia anti sekali dipeluk oleh orang asing.
“Aduh,” ringis Rania terbaring lemah di lantai yang dingin, tenaga Aksa sangat kuat hingga ia tak bisa menghindari itu.
“Tuan aku mohon, bantu aku!” Rania menahan kaki Aksa yang ingin pergi.
“Menyebalkan sekali,” gumam Aksa kesal dengan wanita yang ada di bawahnya itu.
“Tapi dilihat-lihat dia cantik juga.” Aksa mulai berpikir jahat.
Aksa berpikir sebentar, lalu mengiyakan ajakan dari wanita yang tidak dikenalnya itu. Kapan lagi mendapat sesuatu yang gratis bukan.
“Baiklah, tapi tidak di sini. Ikut denganku!” ajak Aksa, lalu membantu Rania berdiri.
Saat ini, Rania tengah merasakan sensasi yang tidak pernah ia alami sebelumnya saat Aksa menyentuh tangannya.
***
Aksa pun membawa Rania ke apartemennya, entahlah Aksa juga bingung kenapa melakukan itu. Biasanya ia membawa wanita sewaannya ke hotel-hotel terdekat. Namun, kali ini berbeda karena tanpa sadar ia malah membawa Rania ke apartemennya.
“Persetan dengan semua itu!” batin Aksa tak ingin memikirkan hal itu. Bukankah hotel dan juga apartemen sama saja, pikirnya lagi.
Aksa yang sejak tadi menggendong Rania pun meletakkan tubuh wanita itu di atas ranjangnya. Rania sangat beruntung bisa berada di sana, bahkan Luna—tunangan Aksa sekalipun tak diperbolehkan pria itu untuk tidur di apartemennya sebelum benar-benar menjadi istri.
“Ini adalah kemauanmu sendiri, jangan salahkan aku nanti!” kecam Aksa terdengar bukan main-main.
Saat ini, Aksa masih memperhatikan Rania yang mulai menanggalkan satu persatu pakaiannya. Aksa tidak tahu apakah wanita itu sadar dengan aksinya apa tidak, tapi Aksa sangat menikmati semua itu. Ia bisa menilai wanita-wanita yang perawan atau yang sudah berkali-kali berhubungan.
“Ini akan sangat nikmat,” ucap Aksa dengan seringai jahatnya.
Aksa mulai merangkak ke atas ranjang dengan senyum yang masih terulas di bibirnya. Tebakannya betul kalau Rania memang masih perawan, beruntung sekali Aksa mengiyakan ajakan Rania.
Keduanya pun kini melakukan sesuatu yang biasa dilakukan suami-istri pada umumnya. Rania benar-benar kehilangan akal karena mengajak orang yang tak dikenalnya untuk melakukan hubungan itu.