AWAL KEHANCURAN

2281 Words
"t...ttuan Joshua." Jesica menunduk penuh, menatap lantai dingin di bawahnya, kedua tanganya yang sudah basah karena keringat dingin dan dia terus meremas-remas gaun pengantinnya. "apa yang kau lakukan disini, dimana ellen?" cecarnya, celingak-celinguk bingung mencari keberadaan ellen. perasaan daritadi ellen ada disini, kenapa tiba-tiba jadi jesica si pembantu itu, apa ini salah satu jebakan dari ellen untuk mengerjainya. apapun itu ini sama sekali tidak lucu. Jesica tidak tau harus menjawab apa. lidahnya tiba-tiba kelu. Joshua menatap jesica dari ujung kepala sampai ujung kaki. tubuh jesica berjengit saat joshua menyentuh kedua bahunya.   "Jesica, Jawab pertanyaan ku, kenapa kau yang ada disini, dimana Ellen?!" intonasi suaranya mulai meninggi "dan kenapa kau memakai gaun pengantin milik ellen?!" Jesica menggeleng-gelengkan kepalanya, air matanya tiba-tiba keluar, ketakutanya menjalar ke seluruh tubuh, apalagi saat melihat kedua mata joshua yang terus memojokkanya. Dia hanya ingin pulang. "Jesica jawab pertanyaanku!!" sentak Joshua. "no-nona-Ellen kabur," Cicit jesica sangat pelan amat pelan, hampir tidak terdengar, dia sangat takut. "apa?" "dia kabur ke paris sebelum pernikahan berlangsung." Mata Joshua membulat penuh, dia hampir kehilangan pijakanya. "tidak, tidak, tidak. Ellen tidak mungkin kabur di hari pernikahan yang sudah dia tunggu sejak lama! tidak mungkin, kau pasti bebohong! dimana Ellen sebenarnya?! JAWAB AKU!!" dia menghentak-hentakan tubuh Jesica kedepan dan ke belakang. "ti-dak, nona Ellen benar-benar kabur,aku disuruh mengantikan posisinya." Joshua berjalan mengambil ponselnya diatas nakas, disamping ranjangnya. "kau fikir aku akan mempercayaimu, aku akan menelfon orang rumah, dan melaporkan mu, berani-beraninya keluarga Ellen mempermainkan ku." Joshua menekan-nekan ponselnya, menempelkan ponselnya di telinga. tapi sepertinya nomor yang dia tuju tidak mengangkat panggilanya, dia beberapa kali mengulangi panggilanya, tapi panggilanya tetap tidak diangkat. "percuma tuan, mereka sudah tau semua." Joshua diam, dia menatap Jesica tajam. "apa,apa maksudmu mereka sudah tau? kau mau bilang mereka yang menyuruhmu melakukan ini? dan kau ingin aku mempercayai ucapanmu?" "bukan itu maksudku." "lalu apa?" "mereka tidak ingin mengecewakanmu tuan, mereka menyuruhku untuk menggantikan posisi nona Ellen untuk sementera sampai dia kembali. kau akan mendapatkan nona Ellen mu lagi setelah ini, itu pasti." Joshua diam, cukup lama menatap lantai di bawahnya, mencoba mencerna ucapan yang baru saja dia dengar. "selama nona Ellen tidak ada disini aku akan menjaga....." "keluar," Potong Joshua menunjuk pintu kamarnya tanpa menatap Jesica. "tapi...." "kubilang KELUAR!!" Teriak Joshua memelung. Tanpa pertentangan, Jesica berjalan keluar dari kamar Joshua. yang dia takutkan akhirnya terjadi. dia hanya menunggu kapan waktunya dia di tuntut, di penjara, lalu mati di dalam jeruji besi itu. **** Joshua duduk di pinggir ranjang, matanya kosong, bagian kantong matanya mulai menghitam. dia tidak bisa tidur samalam, memikirkan kemana perginya Ellen dan apa alasan gadis itu meninggalkan pernikahan yang sangat dia inginkan sejak lama. Joshua mendesah pelan, memegangi kepalanya yang pening. apa yang sebenarnya Ellen rencanakan, kabur di hari pernikahanya tanpa memberi alasan. Joshua menatap ponselnya diatas nakas. hampir semalaman dia mencoba menghubungi Ellen, ratusan kali. tapi panggilanya selalu sibuk, dia mungkin sudah mengganti nomor hpnya. Dia tidak mengerti kenapa Ellen meninggalkanya. apa salahnya, selama ini semua yang Ellen inginkan selalu Joshua turuti, apapun yang Ellen minta. emas, berlian, permata bahkan rumah besar ini, semua Joshua lakukan demi belahan hatinya itu, agar Ellen terus mencintainya. apalagi yang kurang. tampan? Joshua berani taruhan dia lebih tampan dari siapapun yang pernah dekat dengan Ellen. dari mantan pertama sampai terakhirnya. siapa yang akan menolak pria tampan sepertinya. apa lagi yang kurang darinya, seperti tidak ada cacat dalam kehidupan Joshua. drrttt....drrrttt..... Ponsel joshua bergetar, dia buru-buru mengambilnya. raut wajah yang awalnya ceria kembali muram. disana tertulis nama nyonya Natalie, dia mematikan panggilanya. dia fikir itu Ellen, ternyata dugaanya salah. ding...dong... Suara bel rumah berbunyi sangat nyaring. Salah seorang pembantu yang berada di dalam dapur berlari untuk membuka pintu. "ya dengan siapa?" Seorang pria tinggi, tampan dengan rahang seperti di pahat dan memakai jas rapih tersenyum ramah pada pelayan itu. "tuan Rey, silahkan masuk." Si pelayan itu membuka pintunya lebih lebar. Rey aditama wirakrasa, manager di perusahaan Joshua, sekaligus sahabat karib pria itu. usianya hanya terpaut tiga tahun dengan Joshua. tapi karena sikap Rey yang lebih dewasa dari Joshua, bisa di percaya dan sangat cerdas, akhirnya dia memilih Rey menjadi manager tetapnya setelah manager yang lama mengundurkan diri. Langkah Rey berhenti di depan sofa. seorang gadis menggunakan baju pengantin tidur diatas sofa putih besar di depan ruang tv. meringkuk kedinginan tanpa selimut dan bantal. "dia siapa?"tanya Rey menunjuk Jesica, alisnya mengernyit sempurna. "saya akan panggilkan tuan Joshua sebentar." Si pelayan malah mengalihkan pembicaraanya, pelayan itu buru-buru berjalan menaiki anak tangga. Rey memicingkan matanya,menatap gadis itu dari ujung kaki sampai ujung kepala secara intens. Wajah dan postur tubuh yang tidak asing, itulah yang pertama kali muncul di dalam benaknya. "kau terlambat lima menit tuan muda," Ujar Joshua menuruni anak tangga. tanganya sibuk mengancingi kerah lenganya. "jalanan kota macet." Singkat rey menatap menjawab malas keluhan joshua. "alesan". Joshua melempar tas di tanganya ke arah ke Rey, untung saja rey sigap, dia bisa langsung menangkapnya. Sudah hafal dengan kebiasan Joshua. "ayo, kita sudah terlambat." sebelum pergi Joshua melirik Jesica sekilas, menatapnya dengan tatapan jijik. "kalau dia sudah bangun, suruh dia pergi, aku tidak ingin melihatnya dirumahku lagi." "tapi tuan...." Joshua tidak menggubris bantahan pelayanya. kaki panjangnya melenggang pergi keluar dari rumah besar ini. *** Pagi pertama pernikahan jesica sedang di jalani, dia duduk dimeja makan dengan sup dan jus jeruk didepanya. joshua sudah berangkat kerja dari tadi pagi, bahkan tidak ada kata pamit kerja dan mencium kening istrinya sepeti di dalam buku cerita yang jesica baca, mungkin joshua belum bisa menerima jesica dengan sepenuh hati, bahkan mungkin mustahil membuat joshua jatuh cinta pada jesica. apalagi mengingat perbedaan kasta mereka yang jauh sangat berbeda, jesica hanya anak seorang pembantu, tidak kurang dan tidak lebih. mencoba menjadi pendamping seorang ceo besar dan tampan seperti joshua hanya akan jadi angan-angan saja seumur hidupnya. dan sekarang semuanya juga sudah benar-benar hancur dan berakhir, hidupnya, cita-cita yang selalu dia percaya, semuanya sudah berakhir, sekarang dia tidak punya pegangan apapun hidupnya sudah seperti kapas, terombang-ambing terbawa angin sampai menghilang. tapi setidaknya dengan pernikahan ini dia bisa membiayai rumah sakit ibunya, hanya ibunya saja satu-satunya penyemangat di hidupnya. gadis itu mengedarkan pandanganya, rumah sebesar ini bahkan lebih menyerupai istana ini hanya di tempati oleh pria yang masih berusia dua puluh lima tahun dan itu sendiri? ya dia tidak sendiri, dia di temani beberapa pembantu dan penjaga rumah ini. jesica tersenyum kecut, dia menatap piring-piring dengan makanan enak diatasnya. daging, sup, ayam, buah-buahan, dan jus strawberi kesukaan Jesica. semua yang jarang sekali jesica makan bisa dia makan disini, senang sekali menjadi orang kaya. namun tetap saja Jesica tidak b*******h untuk memakan semua itu. dia hanya ingin kembali pulang kerumah nyonya Irma, itu saja. Dia bahkan tidak memberitahu ibunya kalau dia menikah dengan Joshua. Kata Irma ini hanya pernikahan sementara saja, setelah Ellen kembali Jesica bisa keluar dari kehidupan Joshua, jadi tidak perlu memberitahukan pada siapapun bahkan ibu jesica sekalipun. "Nona ayo dimakan." Jesica tersentak, ucapan salah satu pelayan di sampingnya membuyarkan lamunanya. Tadi jesica sempat berkenalan dengan si pelayan itu, siapa nama pelayan itu, oh iya Arimbi. dia bilang dia di tugaskan untuk melayani semua kebutuhan Jesica. Mangkanya daritadi dia terus berdiri disamping Jesica, menunggu dia menghabiskan makananya. "dia lebih mirip seorang pembantu daripada istri tuan Joshua," Desis salah satu pelaya dari dapur menatap Jesica sinis. "dia memang seorang pembantu," sahut pelayan lainya, tangan sibuk menggosok piring kotor di wastafel, Sarah namanya.   "kau serius, pantas saja wajahnya kucel dekil seperti itu, jika di bandingkan denganku dia tidak ada apa-apanya,iya kan".  Sarah mengangguk-angguk mengiyakan "kau tidak tau arum, ibunya pembantu di rumah nona Ellen, nona Ellen sudah menganggapnya sahabatnya sendiri, eh dia malah berkhianat." "darimana kau tau itu?" Tanya pelayan yang tadi di panggil arum penasaran. Semalam dia tidur, jadi dia tidak tau apa-apa. Sarah bilang semalam Joshua bertengkar hebat dengan nona Ellen. "aku tidak sengaja menguping obrolan tuan Joshua dengan nyonya besar di telfon. tuan Joshua marah besar, aku juga mendengar dia membanting sesuatu, itu menakutkan." "kau tidak sengaja atau memang sengaja." Sarah tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "itu sama saja, yang pentingkan aku bisa berbagi informasi ini padamu, kau harusnya bertemakasih padaku." "apa bisa sehari saja kalian tidak bergosip?" Tanya Arimbi yang baru saja masuk kedalam dapur, menyela obrolan asik mereka. Sarah dan Arum tertawa kecil. mungkin memang bergosip adalah hobi mereka, Arimbi saja sampai malas mendengar semua gosipan mereka, hampir semua hal mereka gosipkan.   "ngomong-ngomong soal wanita itu, sampai kapan dia akan tinggal disini?" Tanya arum hanya penasaran. wanita itu hanya akan menambahkan pekerjaanya saja. Arimbi mengedikkan bahunya tidak tau. "dia akan tinggal disini sampai nona ellen ketemu." Jelas Sarah, membuat perhatian Arimbi dan Arum tertuju kearahnya. "memangnya nona ellen kemana?". "kau tidak tau, oh astaga aku lupa menceritakanya padamu. nona Ellen itu kabur ke paris beberapa jam sebelum pernikahanya dengan tuan joshua. jadi sebagai ganti agar tidak terjadi hal yang tidak-tidak penganti wanitanya sementara di ganti oleh perempuan itu." Sarah melirik Jesica tajam. "wah ini bisa jadi berita besar." Arum tersenyum lebar. "hey, hey." Arimbi menggebrak meja "sudah, sudah bergosipnya, selesaikan kerja kalian, atau kalian mau saya laporkan ke tuan Joshua."ancam Arimbi "iya, iya." Sarah dan Arum kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Arimbi keluar dari dapur dengan teh hangat di tanganya. "nenek lampir menyebalkan." Dengus Sarah sebal. "siapa dia berani-beraninya mengantur-atur hidup kita, menjijikan," Tambah Arum. *** Rey membenarkan kaca spion diatasnya, dia bisa melihat Joshua yang sibuk dengan gadgetnya di kursi belakang. "siapa tadi?" Tanya Rey melirik Joshua dari balik kaca spion. Joshua tidak menjawab, tanganya sibuk bermain game di gadgetnya. "Shua." Joshua mengangkat kepalnya malas, menatap pria di depan joknya yang terus bertanya hal yang tidak penting. "apa?" "aku tanya siapa tadi." Alis Joshua mengernyit bingung. "siapa yang kau maksud?" "gadis yang tidur si sofamu". Joshua menaruh gadget ke kursi di sampingnya, dia melipat kedua tanganya di depan d**a, menatap Rey malas dari kaca spion "memangnya seorang manajer harus tau semua hal mengenai bosnya ya? sepertinya tidak."  Ucapan Joshua telak membuat Rey diam, dia menusatkan perhatianya lagi pada jalanan. harusnya dia memang tidak menanyakan hal ini pada Joshua. mau perempuan itu simpanan Joshua, pembantu baru Joshua atau apapun apa peduli Rey itu urusan Joshua. tapi wajah perempuan itu terasa tidak asing untuk Rey, wajah yang selalu menghantuinya beberapa hari ini. dia sangat mirip dengan kekasih Rey di desa, mirip sekali. "dia pembantu baru ku, kalau kau ingin tau." Ujar Joshua, dia kembali memainkan gadgetnya lagi.   Rey hanya mengangguk-angguk untuk memberikan respon, sebanarnya dia ingin lebih tau siapa perempuan itu, tapi sepertinya dengan mengetahui hal itu saja sudah cukup. *** Jesica keluar dari kamar mandi di kamar Joshua. kamar mandinya sangat luas, mungkin lebih luas dari kamar jesica di kampung, ada bathub dan peralatan mandi yang sangat lengkap, dari shampo berbagai macam, sampai lilin aroma terapi yang membuat siapa saja akan betah berlama-lama disana. "akhh."kaget jesica saat Arimbi dan sarah entah sejak kapan berdiri di depan pintu kamar mandi dengan membawa beberapa pakaian di tanganya. "Maaf menganggetkan mu nona," arimbi sedikitmengangkat gaun-gaun cantik di tanganya "nona Jesica bisa memilih pakaian apa yang ingin nona pakai hari ini." "pilih yang mana saja?" Arimbi mengangguk "iya nona, ini semua pakaian nona Jesica, pilih yang mana saja yang nona suka." Wajah Jesica terlihat berbinar melihat gaun-gaun bagus di depanya. Gaun-gaun yang hanya bisa dia liat di etalase butik tanpa tau kapan dia akan memilikinya, sekarang semua gaun bagus itu bisa dimilikinya begitu saja. "apa sih dia ini, seperti tidak pernah lihat gaun bagus saja." Cibir Sarah, suaranya terlalu kecil jadi Jesica tidak bisa mendengarnya. "husstt." Arimbi menyikut lengan Sarah. "kau sajalah yang mengurusinya, lebih baik aku ke pasar becek-bekan daripada harus menyentuh kaki dan tangan anak pembantu itu," dumal Sarah. Setelah memilih pakaian yang pas untuknya. sebuah gaun ungu simple selututnya, Arimbi menyuruh Jesica duduk di kursi rias. perempuan itu mulai menyisiri rambut hitam kecoklatan dan ujung-ujungnya sudah pecah-pecah. tidak ada waktu untuk jesica merawat rambutnya. "nona jesica sangat cantik, nona terlihat sangat muda, berapa umur nona?" "terimakasih, delapan belas tahun." "delapan belas?!"mata arimbi terbelalak kaget mendengar jawaban jesica. Berarti jarak antara umurnya dengan umur Joshua enam tahun?! Joshua baru saja menikah dengan gadis dibawah umur. sekarang Arimbi jadi semakin iba pada gadis itu. "lalu, bagaimana dengan sekolah nona Jesica?" Jesica menghela nafas berat, wajahnya terlihat memelas "aku tidak tau, nyonya Natalie belum memberikan keputusan. kau sendiri?" "iya?" "berapa usia mu?" "hmmm aku seumuran denganmu." kata Arimbi terkekeh-kekeh malu "tidak, tidak aku hanya bercanda. umurku sekarang dua puluh tahun, bulan besok jadi dua puluh satu." "maaf nona." "Arimbi saja nona hehehe." "nona Jesica sangat cantik," Puji Arimbi. Sebenarnya Arimbi sudah tau semuanya. tentang Ellen yang kabur dihari pernikahanya dan digantikan oleh Jesica, sampai Jesica diusir dari kamar Joshua tengah malam dan memutuskan untuk tidur di sofa. "nona Jesica bersabarlah, semua awalnya memang pasti tidak mudah, suatu saat nanti tuan Joshua juga pasti akan mencintai nona Jesica, semua pasti ada waktunya." Jesica tersenyum getir "terima kasih, tapi sepertinya itu akan menjadi khayalanku saja." "loh kenapa?" "tidak masuk akal CEO kaya dan tampan seperti tuan Joshua mencintai pembatu seperti ku." "tidak ada yang tidak masuk akal untuk cinta nona. Begini saja, kalau sampai tuan joshua mencintai nona Jesica, nona jesica harus membelikan saya ice cream, pizza, dan coklat besar, bagaimana, setuju?" 'sampai dunia kiamatpun kau tidak akan pernah mendapatkan itu dari ku.' Gumam Jesica dalam hati. "hmm." Jawab Jesica sekenanya. "janji adalah hutang ya, nona tidak boleh mengingkari janji nona." Setelah menyisiri rambut Jesica dan membersihkan seluruh kuku-kuku jarinya, Arimbi merapihkan semua barang-barangnya kembali. "nona istirahat saja, kalau butuh apa-apa nona bisa panggil saya, saya kapan saja siap membantu nona." "terimakasih Arimbi." Arimbi mengangguk-angguk sambil menunjukkan mata sipit yang sekarang mirip bulan sabit dan kedua lesung pipinya yang manis. Mungkin Jesica bisa bertahan disini lebih lama kalau Arimbi tetap ada dirumah ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD