PERNIKAHAN
Aku pernah mendengar seseorang bilang padaku.
"Menikahlah dengan orang yang kau inginkan, orang yang kau cinta. karena kau akan mengikat dirimu selamanya dengannya."
Aku befikir aku harus melakukanya, mencari orang yang kuinginkan dan ku cinta. lalu hidup bahagia bersama dengannya.
"kau terlihat sangat cantik nona," Puji seorang wanita yang berdiri di depan Jesica, tanganya sibuk memoles wajah gadis itu dengan kuasnya, dia tersenyum tipis.
Jesica Sonya lidya, gadis kampung berusia 18 tahun yang ikut merantau ibunya di jakarta demi untuk membantu perekonomian keluarganya. Ayahnya meninggal beberapa bulan setelah di lahirkan dan sekarang ibunya di rawat di rumah sakit karena mengalami paru-paru basah, membuat jesica harus banting tulang untuk membiayai
rumah sakit ibunya.
pantulan wajah seorang wanita cantik terpantul di depan kaca. gaun putih panjang penuh pernak pernik dan terkesan mewah membalut tubuhnya, sangat indah dan sempurna.
Tapi tidak untuk kenyataanya. kini harapan gadis itu hancur, pupus begitu saja dalam sekejap mata. beberapa menit lagi dia akan menuju altar, mengikat janji dengan cinta sejatinya. tidak, mengikat janji dengan pria yang sama sekali tidak pernah dicintainya.
"kalau begini tuan Joshua pasti akan tambah mencintaimu," Puji perias itu lagi.
Mencintai? mungkin tidak akan pernah terjadi.
"jesica"Seorang wanita tua berdiri di samping perias. wanita kurus tinggi dengan balutan kebaya putih anggun. itu nyonya Irma, majikan Jesica.
"bisa tinggalkan kita sebentar," Pintanya pada perias.
Perias itu mengangguk,lalu meninggalkan jesica dengan nyonya Irma.wanita itu menatap Jesica dari cermin.
"sudah ku bilang kau mirip dengan putriku." Jesica menggigit bawah bibirnya kuat-kuat, sekali saja dia mengedipkan matanya, air matanya akan turun tanpa terelakan.
Irma sedikit menunduk,menempelkan kedua tanganya di bahu Jesica "aku sudah membayar biaya rumah sakit ibumu, jadi lakukan yang terbaik untuk ku, kau mengerti?" Bisiknya tepat di samping telinga Jesica.
Jesica mengangguk kecil. rasanya sesak, seperti ada sesuatu yang tengah menghujam dadanya.
"bagus." Wanita itu meneggakan tubuhnya,
menatap Jesica lagi dari cermin.
"tersenyumlah, pengantin wanita tidak boleh bersedih di hari pernikahanya," Katanya sambil menepuk-nepuk bahu Jesica, lalu dia berbalik dan pergi meninggalkan jesica di ruangan ini sendirian.
Tangan Jesica bergetar, dia menatap dirinya di kaca. seorang wanita cantik namun terlihat menyedihkan terpantul disana. bibir merahnya bergetar, setetes air mata membasahi pipinya.
Harusnya bukan jesica yang ada di posisi ini hari ini, tapi ellen, anak dari majikan jesica. Sayangnya dua jam sebelumnya gadis itu kabur entah kemana. melarikan diri melewati jendela kamarnya meninggalkan hari paling penting di kehidupanya.
Berkat keegoisanya hampir semua pihak di rugikan. Ibu mempelai pria menuntut keluarga Irma kalau mempelai wanita tidak di temukan sampai acaranya di mulai mereka akan membatalkan semua kerja sama bisnis dan meminta uang ganti rugi untuk pernikahan mewah yang sudah mereka siapkan sampai menghabiskan puluhan milyar.
Jadi ayah Ellen mencoba bernegosiasi dengan kedua orang tua mempelai pria untuk memberikan mereka kesempatan beberapa hari untuk menemuka Ellen, sebagai ganti agar mereka tidak di permalukan, Jesica dijadikan jaminan untuk menggantikan posisi mempelai wanita sementara sebelum Ellen di temukan. Jesica hampir menolak, namun Irma memaksanya dengan bayaran dia akan membiayai rumah sakit ibunya sampai sembuh.
Kenapa harus jadi seperti ini, kenapa harus dia yang harus menanggungnya. kenapa semua ini terjadi pada hidupnya.
Pintu ruangan terbuka "nona Jes." Jesica buru-buru menyeka air matanya, memaksaan seulas senyum.
"kau menangis nona?" Tanya perias itu,
mengambilkan beberapa tisu dan memberikanya pada Jesica.
Jesica mengambil tisunya.dia menggeleng sambil menyekat air matanya.
***
Jesica berdiri di belakang pintu gedung, dua anak kecil sudah di sisi kanan dan kirinya. anak kecil bergaun putih lucu, membawa ranjang bunga di tangan mereka. tinggal beberapa detik lagi, beberapa detik mengucap janji pernikahan.
Pintu besar di depanya terbuka perlahan,
suara tepuk tangan dari para tamu undangan menghiasi gedung besar ini, ramai. orang-
orang itu tersenyum padanya saat kaki Jesica mulai melangkah dengan sangat anggun diatas karpet merah panjang, anak-anak kecil disamping kiri dan kananya mulai menaburi lantai di depanya dengan bunga-bunga dari ranjang.
"Ellen ku akhirnya menikah!" Seseorang berteriak.
"Ellen gadis kecilku!"
Jesica tidak tau suara siapa itu, dia hanya tersenyum samar menggubrisnya.
Ya, tidak ada seorang pun yang tau kalau pengantin yang mereka lihat bukan pengantin wanita sebenarnya. wajah Jesica sengaja di tutupi kain putih berenda yang hanya memperlihatkan bibirnya. jadi tidak ada yang akan mencurigainya.
"Ellen kembalilah," Ujar Jesica dalam hati.
Tapi untuk apa dia kembali, semuanya sudah terlambat. detik-detik kehidupanya akan hancur.
Jesica bisa melihat seorang pria berdiri di atas altar pernikahan. pria tampan, putih dan tinggi. wajahnya yang bak pangeran dengan hidung mancung, bibir tipis dan proposi wajah yang simetris membuat siapa saja akan terbuai dengan ketampananya. dia tersenyum pada Jesica-----dia memberikan senyumnya pada Ellen.
"tuan joshua," Gumam Jesica menaiki satu persatu altar dengan di bantu dua anak kecil disampingnya.
Joshua Dominika Mahendra, siapa yang tidak mengenal pria tampan, muda, dan sudah menjadi CEO di perusahaan besar milik ayahnya, Jeol grup, salah satu perusahaan fashion terbesar di negara ini, produknya hampir di jual keseluruh negara. pria berusia 24 tahun ini memiliki hidup nyaris hampir sempurna.
"kau telihat cantik Ellen," pujinya mengulas senyum, senyum manis yang membuat tubuh Jesica membeku seketika.
"apa kita bisa memulainya?" tanya penghulu di tengah-tengah mereka.
Joshua dan Jesica mengangguk hampir bersamaan.
***
Pernikahan sudah selesai. Jesica dibawa kerumah joshua dengan mobil pengantin yang dihiasi bunga- bunga di depan dan belakangnya. di belakang mereka mobil-mobil iring-iringan penganti memadati jalanan.
Jesica menatap keluar jendela, menatap deretan gedung tinggi menjulang. beberapa mobil terlihat berlalu lalang, toko-toko di jalanan mulai menyalakan lampu mereka. kota sangat indah setiap menjelang malam, banyak lampu-lampu jalan yang mulai dinyalakan, Jesica suka pemandangan ini.
Jesica sedikit tersentak saat sebuah tangan tiba-tiba menyentuh tanganya. Jesica mengalihkan pandanganya. Joshua tersenyum padanya, tanganya meremas lembut jari jemari Jesica. dia sampai lupa kalau daritadi ada Joshua disampingnya. ketakutan dan kekhawatiranya kembali menjalar.
Mobil Joshua berhenti di sebuah rumah besar bertingkat dua dengan halaman yang sangat luas, bahkan mungkin lebih luasnya dua kali lipat lebih luas dari lapangan di kampung Jesica.
Jesica serius, halamanya mungkin bisa di jadikan tempat perumahan komplit dengan lapangan bola dan voli sekaligus.
Joshua membuka pintu mobil, dia terlihat lari kebelakang mobil, lalu membukakan pintu Jesica.
"silahkan keluar tuan putriku." Joshua menundukan sedikit tubuhnya, mempersilahkan Jesica keluar seperti layaknya seorang ratu.
Jesica keluar dari mobil, dia sedikit kesulitan karena gaun pengantinya yang cukup besar dan panjang. gaun pengantin mahal yang sangat merepotkan.
"siapa sih yang pilih gaunya merepotkan saja," misuh Joshua.
mata Jesica terbelalak lebar,mulutnya secara tidak sengaja membentuk huruf'O'. dia tidak bisa menahan ketakjubanya.
Ini benar-bena rumah? ini bukan istana kan? Jesica tidak salah alamat kan?
Jesica tidak bercanda, bukan hanya halamanya saja yang luas dan membuat jesica terpukau, tapi depan rumah joshua yang aangat mewah dan berkelas, pilar-pilar besar yang menyangga di kedua sisinya, dan dua pot besar yang ditaruh di samping-samping pintu, tanaman yang harganya mungkin lebih mahal dari biaya hidupnya seumur hidup.
Jesica sedikit mendongak. diatasnya ada dua balkon besar mungkin salah satunya akan menjadi kamar Jesica.
"bagaimana pendapatmu, apa kau menyukai rumah ini?" Tanya joshua menatap rumahnya dengan bangga.
Jesica melirik Joshua, tidak pernah dia sangka kalau hari ini pria itu malah menjadi suaminya. Jesica sering melihat Joshua main ke rumah Ellen, mereka sering menghabiskan waktunya berduaan di ruang tamu, atau kalau tidak ada orang di rumah, mereka akan melakukan sesuatu yang tidak Jesica tau di kamar Ellen.
"aku membeli rumah ini khusus untuk kita." Tubuh Jesica tersentak saat suara merdu Joshua terdengar jelas di samping telinganya.
"akan ku pastikan kau bahagia disini." Joshua mengecup lembut punggung tangan Jesica "ayo masuk."
Jesica sedikit tersentak saat tangan Joshua masuk kedalam sela-sela jarinya, menggenggamnya hangat.
"kau akan hidup menderita setelah ini tuan." Ujar Jesica dalam hati.
"buka," Ucap joshua di depan pintu masuk.
beberapa detik kemudian pintu besar di depan mereka terbuka lebar. lagi-lagi Jesica hanya melotot, berdecak kagum. dia baru saja membuka pintu dengan suara? sungguh menakjubkan.
hampir sama seperti yang di luar, dari dalam rumah ini juga terlihat sangat mewah. lantai-
lantainya yang mengkilat, lampu gantung besar begitu megah diatas sana, bahkan tangga diujung sana, seperti semua yang ada di rumah ini di buat oleh arsitek ternama. desainya sangat luar biasa.
Beberapa pelayan sudah berbaris rapih menyambut kedatangan Joshua dan Jesica. mereka menunduk penuh sebagai sambutan hangat.
Jesica mengalihkan pandanganya kearah lain, di ruangan tengah dindingnya terbuat dari kaca, kita bisa melihat tanaman rambat dan tumbuhan dari dalam dinding tersebut, di tengah-tengah ruangan ada dua sofa hitam berukuran cukup besar, satu kursi, dan meja yang terbuat dari kaca. sebuah karpet besar terbentang di bawahnya. karpet nyaman dengan bulu-bulu lembut.
"karena kau suka alam aku membuatkan itu untuk mu," Bisik Joshua tepat di samping telinga Jesica sambil menunjuk dinding kaca.
Jesica melirik pria disampingnya sekilas.
apa sebegitu cintainya dia dengan Ellen sampai harus melakukan semua ini. sekarang dia benar- benar merasa bersalah telah membohonginya.
Joshua mengalihkan pandanganya pada Jesica "kau mau lihat kamar kita?"
lagi-lagi Jesica hanya mengangguk. sudah hampir sepuluh jam Jesica tidak bicara dengan Joshua, dia hanya bicara pada tamu. karena Joshua pasti akan mencurigainya karena mendengar suara Ellen yang berubah, walau dia pasti akan mengetahui yang sebenarnya.
Joshua membawanya menaiki tangga. setelah sampai Joshua membukakan pintunya.
"Setelah tuan putri," Katanya sambil terkekeh mempersilahkan Jesica masuk.
kamar ini juga sangat besar, ada ranjang king size di tengah-tengahnya. ada sofa berukuran sedang di dekat jendela. jendela besar dengan gorden cokelat trasparan, dan televisi besar di depan ranjang. kalau saja ini memang pernikahanya, dia pasti akan sangat senang berada disini.
Joshua menyuruh Jesica duduk di kasur. gadis itu menurut, duduk di tepian kasur.
"Ellen." Mati-matian jesica menelan ludahnya saat joshua tiba-tiba berjongkok di depanya. Pria itu mengelus lembut kedua tangan Jesica, lalu mengecup punggung tangan Jesica.
"akhirnya setelah tujuh tahun lamanya, kau menjadi istri ku. aku akan selalu selalu menjaga mu, aku akan selalu mencintaimu, aku janji itu."
dia mengecup punggung tangan Jesica sekali lagi, kali ini lebih lama, kedua mata hitam beningnya menatap Jesica lembut.
Jesica hanya diam. terus berantisipasi agar Joshua tidak melihat wajahnya. sekarang dia merasa iba pada pria itu.
Joshua berdiri "baiklah." dia meraih ujung tudung Jesica, hendak menyibaknya"aku tidak sabar...."
"oh astaga apa yang harus ku lakukan,
bukanya nyonya irma bilang kalau aku harus menyembunyikan wajahku selama mungkin.
sampai elenn di temukan,kalau begini," Panik Jesica dalam hati.
"tunggu." Jesica memegangi tangan Joshua sebelum tudungnya benar-benar tersibak.
Joshua mengernyit bingung, gawat! ini malah membuat Joshua semakin lebih mencurigainya.
"kenapa?"
"Apa, dia tidak curiga dengan suara ku?.bagaimana bisa?" batin Jesica.
"mandi dulu sana, baumu masam."
"benarkah?" Joshua mengedus ketiaknya. dia terkekeh kecil "sepertinya kau benar, bau ku masam, aku akan mandi." Dia mengambil handuk di kastok dekat dengan ranjang, lalu masuk kedalam kamar mandi.
Jesica menghela nafas, dia berhasil. Joshua tidak mencurigainya, dia hanya tinggal menunggu nyonya Irma menelfonya untuk mengabari kalau ellen sudah ketemu.
"oh iya Ellen sayang." jesica tersentak. kepala Joshua tiba-tiba menyumbul dari balik pintu kamar mandi.
"bukanya kau juga bau masam? kenapa tidak mandi dengan ku saja? Sekalian"
"t-ti-tidak." Jawab Jesica gugup"kau duluan saja."
"kenapa,apa hari ini aku tidak terlihat tampan dimatamu?" jesica tidak menggubris.
"oh baiklah." wajah Joshua nampak kecewa "aku akan mandi sendiri saja. bahkan setelah punya istri aku tetap mandi sendiri."
"oh ya Ellen, hari ini suara mu terdengar jauh lebih lembut." Joshua menjeda kalimatnya "aku menyukainya."
Joshua menutup pintu kamar mandinya setelah bicara begitu. membiarkan pipi Jesica bersemu merah karena malu.
beberapa menit Jesica diam, dia tidak tau harus melakukan apa. dia tidak tau apa yang akan dia ucapkan pada Joshua setelah ini.
drrttt....drrttttt
Telfonya berdering, Jesica mengambil telfonya dari dalam tas kecil. sebuah panggilan dari nyonya Irma.
Jesica berjalan ke arah jendela, takut kalau Joshua bisa mendengar percakapan mereka.
"ha-halo nyonya."
"apa dia sudah mengetahuinya?,bagaimana reaksinya, apa dia menuntutmu?" Cecar Irma sama paniknya.
"belum, dia sedang mandi. nyonya, bagaimana dengan nona Ellen apa dia sudah ketemu?" Irma menghembuskan nafas berat.
"dia sudah pergi ke paris subuh tadi. kita kehilangan jejaknya, kau sepertinya harus terus bersamanya sampai Ellen ketemu"
"tapi bagaimana kalau....."
"kau berani membantahku?".potong Irma dari seberang sana"kau sekarang sudah jadi istri sahnya, jadi dia tidak akan menyakiti mu seenaknya, dia bisa di tutut, aku akan mengabarimu lagi nanti." panggilanya terputus sepihak.
Beberapa detik Jesica diam,menatap kota indahnya kota jakarta dari luar, gedung-gedung tinggi terlihat jelas darisini, rumah-rumah kecil dengan lampu kerlap-kerlip berderet dengan rapih, sangat indah. Jesica mengigit kuku-kuku jarinya, beberapa kali terlihat bedecih.
bagaimana sekarang? apa dia harus tetap tinggal dengan Joshua. itu kalau Joshua menerimanya, bagaimana kalau tidak, apa dia akan mengusirnya?
mungkin pria itu akan menuntutnya dan memenjarakanya karena telah melakukan penipuan. dan bagaimana dengan nyonya Irma dia pasti mencabut semua pembayar rumah sakit ibu dan memecatnya.
GREBBB
Tubuh Jesica tersentak. seseorang tiba-tiba memeluk dirinya dari belakang, siapa lagi kalau bukan Joshua.
"sepertinya kau sangat serius sekali melihat kota, sampai-sampai mengabaikan ucapan suamimu."
Kepala Joshua menyelusup ke leher Jesica, pria itu menaruh kepalanya di atas pundak Jesica dan mengeratkan pelukanya.
Jesica menengguk ludahnya kasar, pipinya memerah dan tanganya mulai gemetar. tidak seharusnya dia begini, dia harusnya mendorong Joshua untuk tidak mendekati dirinya, tapi mungkin Joshua akan lebih mencurigainya kalau seperti ini, lalu Jesica harus bagaimana.
Joshua melirik jesica "apa kau menyukai tempat ini?" lalu pandanganya beralih pada kota jakarta di depanya. Jesica mengangguk.
"setelah menikah kau jadi banyak berubah ya. lebih pendiam." Joshua tertawa renyah, kedua bola matanya tenggelam "tapi aku suka wanita pendiam."
bisiknya tepat di depan telinga Jesica.
Jesica diam membeku, suara bartonde joshua membuatnya tidak bisa berkutit.
"sekarang." Joshua membalikan tubuh Jesica menghadap kearahnya. Jesica hampir terlonjak kaget saat mengetahui apa yang dia lihat sekarang.
Joshua berdiri di depanya dengan hanya menggunakan handuk yang cuma menutup bagian pinggang sampai lutut dan membiarkan dadanya yang bidang terekspose. dia semakin terlihat seksi karena rambutnya yang masih basah.
"akhirnya." Joshua meraih tudung Jesica, sedikit membungkukan badanya mensejajarkan tubuh Jesica.
"kau tau, tidak melihat wajahmu beberapa jam saja sudah membuat ku frustasi." Nafas Jesica menderu, jantungnya berdetak begitu kencang. sekarang tidak ada alasan lainya untuk mengelak, lagipula sampai kapan dia bisa menyembunyikan ini dari Joshua, percuma saja. Joshua pasi akan mengetahuinya.
"aku sudah tidak sabar melihat..." Joshua menyibak tudung Jesica.
Mata Joshua terbelalak lebar, dia langsung melepaskan tanganya dari tudung, mundur selangkah.
"Jesica?!!"