PERJANJIAN

2701 Words
Joshua mengundurkan dasinya, membuka dasi yang membebat lehernya sejak dari tadi pagi, lehernya terasa tercekik karena benda itu. pria itu berjalan kearah lemari, lemari besar. dia mengambil baju putih berlengan pendek faforitnya, lalu celana pendek kesayanganya. Joshua menutup pintu lemari, kaca besar yang terpasang di depan lemari itu menampakan dirinya, lesu. dia duduk di pinggiran ranjang. melepaskan sepatu hitam lekatnya. Joshua mengusap keringat yang jatuh di pelipisnya, dia menghela nafas berat. hari ini benar-benar melelahkan. dia lagi-lagi menghela nafas berat. kalau Ellen ada disini mungkin hari ini tidak akan menjadi hari terberatnya. dia sudah memarahi memarahi orang-orang di kantornya sebanyak enam kali. satu kali lebih banyak daripada hari kemarin. Dia mendesah pelan"Ellen, dimana kamu sekarang?"gumamnya. kalau Ellen ada disini dia pasti bisa memeluk tubuh Ellen sangat lama sampai gadis itu mencubit pantatnya untuk melepaskan tubuhnya karena kehabisan oksigen atau Joshua bisa mencumbunya sampai Ellen mencibir dan bilang "kau tidak menggosok gigi mu ya, mulutmu bau naga." mungkin Joshua akan kembali bersemangat, semua permasalah di kantornya pasti akan lenyap. kehidupan yang indah bukan. dan sekarang juga sudah lenyap. Joshua melepas kancing kemejanya satu persatu, d**a bidangnya terlihat sangat menggoda, Perutnya yang seperti sebuah pahatan terlihat sangat mempesona dnegan keringat yang jatuh dari dagunya. Joshua mendapatkan semua itu karena kegemaranya berolahraga. hampir setiap hari dia menghabiskan waktunya untuk nge gym, bermain basket, dan tentu saja juga dengan mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. Joshua melepas kemejanya, melemparkanya ke sembarang tempat, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Hampir dua jam dia menghabiskan waktu di dalam sana. Joshua memang tipe orang yang sangat suka mandi, membersihkan seluruh tubuhnya sampai ke sela-sela tersempit, pantas saja dia selalu wangi dan bersih. Tangan Joshua meraba-raba sebuah wadah yang di taruh diatas shower, wadah untuk handuk. "eh?" Tapi tidak ada apa-apa disana. Joshua memantikan showernya. dia kembali meraba-raba. "sial." Joshua mengusap-usap wajahnya yang masih basah, mengibaskan rambutnya ke belakang. "Arimbi, Arimbi, bisa ambilkan aku handuk, aku lupa bawa handuk!!" Tidak ada yang menyahuti ucapanya, Joshua lupa kalau kamarnya kedap suara, sekencang apapun dia berteriak sampai pita suaranya putus juga tidak akan ada yang datang. Joshua berdecih. mau tidak mau dia harus keluar dan mengambil handuk yang dia tinggalkan di atas ranjang. bisa-bisanya dia sampai lupa membawa handuk, besok apa lagi yang dia lupakan, jati diri? Joshua membuka pintu kamar mandi, hanya kepalanya saja yang menyumbul dari balik pintu kamar mandi, sebagian tubuhnya di sembunyikan di balik pintu, dia takut kalau tiba-tiba pelayanya masuk ke kamarnya, dia tadi lupa mengunci kamarnya, lupa lagi. berapa sih umurnya. Joshua celingak-celinguk, tidak ada siapa-siapa di kamarnya, aman. Joshua keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benang pun. berjalan perlahan mencoba mengambil handuk. BRAKKK Joshua menoleh kearah sumber suara. matanya membulat lebar. "AAKHHH!!" Jesica berdiri berdiri tidak jauh dari sana, matanya membulat dan dia menutup kedua mulutnya dengan kedua tangan, keranjang berisi pakaian yang dia bawa jatuh dan membuat pakaian Joshua tercecer di lantai. Joshua mengerjap-erjapkan matanya, sedetik kemudian menyadari Jesica sedang menatap tubuhnya yang sedang telanjang bulat. Joshua langsung menutup tubuh bagian bawahnya, aset yang harusnya tidak di ketahui oleh sembarang orang. "apa yang kau lihat, hah?!" Teriaknya. Lalu setelah itu dia langsung masuk kedalam kamar mandi, untung saja handuknya sudah diambil. *** "ayo ikut aku!" Jasica meringis,tanganya di cengkeram erat oleh Joshua. pria itu menggeret paksa tubuh Jesica untuk turun ke lantai bawah. "aku minta maaf tuan, tolong lepaskan...." "diam!" Potong Joshua. mata Jesica sudah berkaca-kaca, sebentar lagi wajahnya akan basah karena air mata. Dia harus memohon pada Joshua untuk melepaskanya, tapi bagaimanapun jesica memohon, Joshua tetaplah Joshua. pria arogan dan pemarah, yang bisa melakukan apa saja untuk menyingkirkan hal-hal yang tidak disukainya. dia bisa saja menyakiti Jesica, atau bahkan membunuhnya kalau dia mau, tanpa melihat dia laki-laki atau perempuan, pria kasar. Arimbi keluar dari dalam dapur saat Joshua melintas, wajahnya menjadi panik "tuan Joshua, jangan sakiti nona Jesica". Joshua tidak menggubris ucapan Arimbi, dia menggeret tangan Jesica lebih cepat dan mencengkeramnya lebih kuat. membuat gadis itu semakin meringis kesakitan. "tuan, ku mohon."Langkah Joshua berhenti di depan pintu putih besar di depanya. "buka pintunya,"perintahnya. Kemudian pintu terbuka, Joshua mendorong tubuh Jesica hingga terusungkur di lantai. Jesica meringis. "pergilah dari rumah ku! dan jangan pernah datang lagi!"tukasnya. Dia berbalik, melipat kedua tanganya di depan d**a"tutup....." "Joshua dominika mahendra."seseorang memotong ucapanya.Joshua membeku di tempat, suara itu terasa tidak asing di dalam telinganya. pria itu buru-buru berbalik. Seorang wanita tua berdiri di samping Jesica yang masih terduduk. di belakangnya ada dua pria tinggi berwajah menyeramkan menggunakan baju hitam. "nyonya Natalie?" Nyonya Natalie, wanita tua yang berdiri di depanya adalah ibunya, Natalie menatap Joshua sangat tajam bagai elang. membuat yang di tatap menunduk. "bantu dia berdiri,"perintahnya menunjuk Jesica tanpa menatap gadis itu. Kedua pria itu mengangguk dan mencoba memapah tubuh jesica. Natalie menghempaskan kipasnya, dia berjalan masuk "aku ingin bicara padamu tuan muda." Ujarnya saat melewati Joshua. Joshua mendengus pelan, dia menatap Jesica sebelum berbalik lalu berjalan di belakang ibunya seperti anak itik. ** Matahari baru saja terbenam, tapi dia seperti melewati seribu malam. Joshua melirik jarum jam yang terus bertedetak, lama, rasanya ingin memindahkan jarum kecil itu secepatnya agar pagi segera datang dan Joshua segara mengakhiri mimpi buruknya ini. Natalie, direktur utama perusahaan Jeol grup, perusahaan yang Joshua jalani sekarang, perusahaan fasion cukup terkenal. Dulunya dia adalah mantan model di perusahaan tersebut, mungkin karena kencantikanya dulu-----sekarang juga masih terlihat cantik.dia memikat hati ayah Joshua. yang notabenya adalah pemilik perusahaan tersebut. menggantikan ibu Joshua yang meninggal setahun setelah melahirkan cindy. Wanita tua berumur hampir setengah abad itu duduk di sofa singgle, menumpu kaki kananya diatas kaki kiri. dia mengibas-ibaskan kipas merah muda dengan rombe-rombe seperti bulu domba ke wajahnya. dia sangat elegan, bahkan di usianya yang tidak bisa di bilang muda lagi. Natalie menatap anaknya sangat tajam. Joshua yang duduk di sofa panjang hanya bisa diam, membeku di atas sofanya. sedangkan Jesica, gadis itu duduk di samping Joshua sambil terus menundukkan kepalanya. Beberapa menit menghening, tidak ada yang mau memulai pembicaraan, Natalie masih terus menatap Joshua tajam. "kenapa kesini?" Ujar joshua dingin, sekaligus memecahkan keheningan. "kenapa, memangnya aku tidak boleh berkunjung ke rumah anakku sendiri?" Joshua berdecih "ya setidaknya kau bisa hubungi aku dulu kan? bukanya kau selalu begitu setiap ingin berkujung?" "aku ini ibu mu, ibu tidak harus menghubungimu setiap kali ingin berkunjung atau membuat janji seperti yang karyawan-karyawan mu lakukan, bukan?" Natalie melihat gadis di samping Joshua, dia masih menuduk sambil memainkan jari jemarinya, tidak mau ikut-ikutan masalah keluarga ini. "bagaimana pernikahan kalian, apa berjalan baik-baik saja?" Tanya Natalie pada Jesica. "tidak, apanya yang baik-baik saja." Jawab Joshua cepat. bagaimana dia bisa bertanya hal seperti itu, padahal dia tau kalau ada kesalahan di dalam pernikahan anaknya. Natalie memang tidak pernah menyayangi anaknya. "aku tidak bertanya padamu." d**a Joshua seperti terhujam, Natalie menatap Jesica lebih lekat. "bagaimana nona jesica?" Tanyanya sekali lagi. Joshua ikut menatap Jesica, menunggu jawaban gadis sialan itu, Jesica masih terus menunduk, dia tidak mendengar ucapan Natalie. "nona Jesica?" Jesica tersentak "y..ya apa, tadi nyonya bilang apa?" tanyanya tersendat-sendat. Natalie terkekeh kecil "kau mengantuk nona Jesica?" "kau sudah tau pernikahan ini tidak benar, kau sudah tentang Ellen yang menghilang, kenapa kau melanjutkan pernikahanya? kau tidak menyanyangi ku nyonya?" Satu yang harus di ketahui. Dari kecil Joshua tidak pernah memanggil Natalie ibu, mamah atau panggilan yang seharusnya anak lakukan pada ibunya. Daripada menganggap ibu, dari kecil Joshua selalu menganggap Natalie hanya seorang wanita pengganti ibunya yang gemar sekali mengatur-atur hidupnya. Bahkan hampir semua jalan hidup Joshua diatur oleh Natalie, tapi Joshua tau niat wanita itu baik untuk masa depanya, dan sekarang terbukti. "memangnya kalau kau tau, semuanya akan berubah? tetap saja kan, kau tidak akan menikahi perempuan itu." "tapi..." Joshua menjeda kalimatnya, dia berdecih. tidak tau apa yang sebenarnya ada didalam otak ibu sambungnya ini. "bukanya sama saja, menikah dengan siapapun. tetap saja kan.kau akan punya anak juga walau tidak bersama Ellen". "kau tidak mengerti nyonya. pernikahan itu bukan cuma tentang punya anak, pernikahan juga harus dilandasi dengan cinta. bagaimana aku bisa punya anak kalau aku saja tidak mencintainya." Jelas Joshua menunjuk Jesica. "kau bisa mencintainya kan?" "tidak." Jawab Joshua lugas. Bagamaina dia bisa menanyakan jawaban yang sudah pasti seperti itu. "Jesica?" "ya?" Jawab Jesica lirih. "apa kau mencintai pria di sampingmu?" Joshua mengerutkan sebelah alisnya, apa yang Natalie tanyakan. Jelas saja Jesica juga tidak mencintainya. kenapa harus bertanya lagi. Jesica menatap Joshua sebelum menjawab pertanyaanya, Joshua menatapnya tajam, seperti serigala yang sedang ingin memangsa domba. Jesica mengangguk pelan "i...iya" Mata Joshua membulat, sialan. "sudah jelaskan, dia mencintaimu, perlahan kau juga akan mencintainya." Simpul Natalie seenaknya. "tidak, tidak akan, itu tidak akan pernah terjadi" Joshua mencengkeram lengan tangan Jesica, membuat gadis di sampingnya meringis "kenapa kau bilang kau mencintaiku?".Geram Joshua dengan nada sedikit berbisik. "t..tu..tuan, maaf " "Joshua, lepaskan tangamu darinya!" Joshua tidak menggubris, dia mencengkeram tangan Jesica "Joshua!" gertak Natalie. "apa!" Joshua menatap tajam ibunya tanpa mengendurkan cengkeramanya dari tangan Jesica sedikitpun. Natalie berdecih, wajahnya terlihat kecewa "karena gadis jalang itu, sekarang kau berani melawan ibumu ya." "siapa yang kau sebut jalang?" "siapa lagi, kalau bukan pacar mu yang kau puja-puja itu". Bagai tersulut api, Joshua berdiri, menggebrak meja di depanya sangat kuat. membuat semua orang disana terkejut, tidak terkecuali dengan Arimbi yang ada di dapur. "jaga bicaramu nyonya Natalie!!" Kedua bodyguard di belakang Natalie langsung menyergap tangan Joshua dari belakang. "apa-apaan ini, kenapa kalian menyergapku." Joshua mencoba memberontak "lepaskan aku." "kalau bukan karena dia anak rekan bisnis ayahmu yang paling berharga, mungkin aku sudah menyingkirkan gadis itu sejak lama. syukurlah dia sadar diri dan melarikan diri sebelum pernikahanya." Sudah dari dulu Natalie tidak menyukai Ellen.dia satu-satunya orang yang menentang pernikahan ini. saat Jesica bilang kalau keluarganya dan keluarga Ellen sudah tau semua ini Joshua tidak merasa kaget, dia sudah tau ibunya pasti menyukai hal ini, walau apa yang dilakukan Ellen akan mempermalukan keluarganya. Sampai sekarang Joshua tidak tau apa alasan wanita itu membenci Ellen. setiap kali ditanyai alasan dia hanya menjawab Ellen bukan gadis baik-baik, gadis jalang yang tidak bermoral. apa yang di katakan nyonya Natalie memang ada benarnya, tapi tidak semua itu benar. Ellen tidak seperti yang nyonya Natalie bayangkan. Joshua tau itu. "aku tidak peduli kau terima gadis itu atau tidak. yang aku inginkan cuma cucu darimu." Natalie menunjuk Joshua menggunakan kipasnya "berikan ibu cucu atau kau tidak akan pernah mendapatkan warisan ayahmu sepeserpun, mengerti tuan Joshua?" Dia melempar senyum mengejek. Membuat Joshua semakin bersungut-sungut, dia hampir saja menyerang wanita tua di depanya, kalau tidak ada dua orang berengsek yang memegangi tanganya dari belakang ini. Joshua menghempaskan tanganya kedepan "lepaskan aku." membuat kedua bodyguard itu melepaskan tanganya, juga karena Natalie memintanya melepaskan Joshua. kedua pria kekar itu berjalan keluar rumah. Joshua diam di tempatnya, nafastnya sedikit menderu. dia melirik Jesica tajam, sangat tajam. Jesica hanya menunduk, tidak berani menatap pria di depanya. Joshua berdecih, mengerang gemas sambil menjambak rambutnya. "sialan." Umpatnya. lalu pergi ke lantai atas meninggalkan Jesica sendirian. "tidak usah di fikirkan." Ucap Natalie, itu sama sekali tidak membuat hati Jesica tenang. **** Hampir dua jam Natalie mengobrol dengan Jesica,akhirnya dia berdiri untuk pamit. Jesica mengantarkanya hingga pintu keluar. "lalu bagaimana dengan uangnya, ah maaf aku tidak bermaksud tidak sopan padamu nyonya." Sebenarnya Jesica tidak mau membahas ini lagi, semua penjelasan tentang uang biaya rumah sakit sudah di selesaikan dengan kontraknya tadi, tapi tetap saja dia butuh sedikit kepastian agar fikiranya tenang, walau harus terus mengemis seperti ini. Natalie tersenyum kecil. wajahnya jadi telihat begitu mirip Joshua, tidak salah kalau Joshua bisa setampan itu, ibunya sangat cantik. "kau tidak perlu khawatir soal itu, kalau kau mau, aku bisa kirimkan langsung ke rekening mu." Langkah Jesica dan nyonya mega terhenti di depan pintu masuk. "buka!!" Seru nyonya Natalie. Kemudian pintunya terbuka. pintu otomatis itu kini hanya bisa mereka suara Nyonya Natalie dan dirinya, tadi entah bagaimana Nyonya Natalie mengganti sandi suaranya, sebelum itu dia meminta jesica untuk mengatakan 'buka' lalu sekarang dia bisa membuka pintu tanpa harus menyentuhnya. "oh iya dan satu lagi, kau akan tetap melanjutkan pendidikanmu, untuk urusan biaya aku yang akan menanggungnya, belajarlah yang rajin, aku ingin punya menantu yang pintar," Kata Natalie. "dan semoga kita akan sering bertemu nantinya, semoga kau betah disini ya." Jesica mengangguk, dia menundukan badanya penuh "terimakasih nyonya." "kau gadis yang sopan." Setelah itu Natalie masuk kedalam mobilnya, di susul dengan mobil bodygardnya di belakang meninggalkan halaman rumah. Jesica menghela nafas panjang, dia menutup kembali pintu putih besar di depanya. dia berbalik, mengedarkan pandanganya. entah mau bahagia atau sedih, dia bahagia karena akhirnya dia bisa hidup dan tinggal di rumah mewah dan menjadi seorang istri seorang Ceo tampan seperti Joshua. tapi hal yang membuatnya sedih semua itu hanya kontrak, pernikahan bahagia yang selalu dia harapkan tidak akan pernah dia dapatkan sekarang. Jesica berjalan kedalam, menaiki satu persatu anak tangga, Natalie bilang dia harus tidak dengan Joshua mulai malam ini, walau tadi Joshua terlihat sangat marah, tapi akhirnya dia hanya pasrah, menerima berbagi tempat tidur dengan Jesica. Jesica mengangkat tanganya mengayunkan tanganya ke pintu ragu. TOK, TOK, TOK Tidak ada jawaban dari dalam. mungkin Joshua sudah tidur, atau mungkin dia memang sengaja mengabaikannya karena tidak ingin Jesica masuk ke kamarnya. sebenarnya tidak masalah kalau Jesica tidur ruang tamu atau kamar arimbi lagi, atau dimana saja bahkan di sudut terkecil rumah ini, toh rasanya sama, sama-sama menderita. Jesica mengayunkan tanganya lagi, kali ini ketukanya jauh lebih keras. tetap saja tidak ada jawaban dari joshua 'mungkin dia sudah tidur,' batinya. Dia berbalik, hendak melangkah pergi ke bawah untuk tidur di kamar Arimbi. tapi suara bartonde seseorang menghentikan langkahnya. "mau kemana?" Dengan sangat terpaksa Jesica membalikan badanya. seorang pria sudah berdiri diambang pintu, di sampingnya ada koper merah berukuran sedang dengan baju yang masih ada yang keluar dari dalamnya. itu koper milik Jesica. "apa yang tuan lakukan dengan koper saya?"Joshua mendorong kopernya kedepan menggunakan kakinya. "mengusirmu, apalagi?" "tapi tuan, nyonya....." "nyonya, nyonya, nyonya. ini rumah ku aku yang berhak mengatur semuanya disini, bukan wanita itu!!" Tukas Joshua geram. Jesica menunduk tidak mau melihat wajah Joshua, karena saat marah wajah pria itu terlihat sangat menakutkan. "bawa kopernya dan ikuti aku," Perintahnya, berjalan duluan menuruni tangga. Benarkan dugaan Jesica, dia menggenggam gagang kopernya, lalu diam cukup lama. "Jesica!! kenapa kau diam disitu, cepat!!"tukasnya membuat Jesica berjengit dan langsung berjalan mengikuti langkah Joshua yang ingin jauh sejarak satu meter dengan dirinya. Joshua membawanya ke sebuah ruangan. ruangan paling pojok di rumah ini, ruangan kecil dekat dengan kamar mandi pembantu. Joshua membuka pintu ruangan tersebut. ruangan gelap, pengap dengan bau yang sedikit tidak sedap. ruangan yang ukuranya bahkan lebih kecil dari kamar Arimbi. Joshua menyalakan saklar lampu di pinggir pintu, Jesica baru bisa melihat dengan jelas ruangan tersebut. ruangan yang hampir di penuhi dengan kardus-kardus bekas dan beberapa plastik besar yang tergeletak dibiarkan saja di lantai. ruangan kotor penuh debu yang tidak layak untuk di tempati. mungkin ini adalah gudang. "kau akan tidur disini sekarang." Jelas Joshua melipat kedua tanganya. "bersihkan saja ruanganya, atur semaumu, aku tidak peduli soal itu. yang penting aku tidak harus berbagi satu ruangan dengan mu." Jesica mengangguk mengerti, dia mau menentang apa, Joshua tuan rumahnya jadi dia bebas melakukan apa saja. "baguslah kalau kau mengerti, dan kau harus ingat ini rumahku, semua milikku, bahkan lantai yang kau injak itu." Joshua menatap lantai yang diinjak Jesica "jadi aku bebas mengatur apapun dan siapapun yang ingin tinggal disini." Jesica hanya mengangguk mengerti, sudah se pasrah itu dia sekarang. "ingat ini baik-baik. selama kau tinggal disini, jangan pernah masuk ke kamarku, jangan pernah sok akrab denganku, dan jangan pernah bicara padaku, bagiku kau sama saja dengan Sarah dan yang lainya." Ucapan joshua telak menusuk hati Jesica "baik tuan." "bagus." "oh ya, dan ingat satu lagi, jangan beritahu ini semua pada ibu ku kalau kau tidak ingin mati." Joshua kemudian berbalik, melenggang begitu saja meninggalkan Jesica sendirian. Jesica mengalihkan pandanganya pada kamar kosong dan hampa di depanya. memangnya apa yang dia harapkan di rumah ini. menjadi tuan rumah dan tinggal satu kamar dengan Joshua? dan membiarkan pria itu memberikan kecupan hangat di keningnya setiap pagi? apa itu yang dia harapkan pada pernikahan yang seharusnya tidak terjadi ini? dia telalu banyak bermimpi, Joshua tidak akan pernah mencintainya sampai kapanpun. Jesica menggeret kopernya masuk kedalam gudang. setidaknya Joshua masih berbaik hati membiarkan dia tinggal disini, semoga saja semuanya berjalan baik-baik saja sampai Ellen kembali dan dia bisa hidup dengan normal lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD