“Ayah!” teriak Maya, mama Juni dan juga Dewa secara bersamaan.
Mereka bertiga langsung mendekati sang ayah yang tiba-tiba lemas setelah melihat amplop coklat pemberiannya papi Victor. Karena merasa penasaran dengan amplop coklat tersebut Maya langsung membuka dan melihat apa isi di dalam amplop itu.
Mata Maya seketika langsung melotot lebar sekali setelah melihat isi di dalam amplop tersebut. Dan karena Dewa juga ikut penasaran langsung mengambil paksa amplop itu dari tangan Maya.
Dada Dewa langsung berdetak kencang dan matanya melotot seperti Maya. “Ka-Kalian bertiga benar-benar membuat Ayah malu.” Lirih ayah Idris.
“Yah. Semua itu pasti editan dari papinya Arsyana,” kata Maya.
“Sekarang panggilkan ahli IT untuk mengecek keaslian semua gambar-gambar itu,” tantang ayah Idris.
“Jika gambar itu hanyalah editan semata, bisa Ayah pertimbangkan untuk memaafkan kalian,” ucapnya membuat Maya, mama Juni dan Dewa terdiam.
Di dalam amplop besar itu berisi semua foto-foto di mana Dewa sedang melangsungkan pernikahannya dengan Dwi tadi sore.
Papi Victor benar-benar mengerahkan kemampuannya, mengerahkan anak buah serta harta yang dia punya untuk membantu sang putri yang pernikahannya sudah tidak bisa dipertahankan lagi.
Ayah Idris mengambil amplop itu dari tangan Dewa dan mengeluarkan semua isinya hingga berhamburanlah semua foto-foto yang ada di dalamnya.
Ayah Idris dibuat sedikit terkejut ketika tiba-tiba ada sebuah flashdisk yang jatuh bersama semua foto-foto itu.
“Flashdisk,” gumam ayah Idris.
Jantung Maya, Dewa, mama Juni sudah seperti ingin meledak karena melihat flashdisk tersebut. Entah apa isinya namun mereka yakin jika ayah Idris melihat isi di dalam flashdisk itu riwayat mereka akan tamat.
“Bibi … “ teriak ayah Idris dan tidak lama sang bibi datang mendekat.
“Iya, Tuan,” jawabnya.
“Ambilkan laptop saya di ruang kerja,” perintahnya.
“Cepetan, Bi … “ seru ayah Idris.
“Baik, Tuan,” jawabnya dan sang bibi itu segera berlari menuju ke ruang kerjanya ayah Idris.
“Kita akan lihat apa isi di dalam flashdisk ini. Jika isinya membuat Ayah murka, entahlah apa yang akan terjadi selanjutnya,” ujar ayah Idris.
Maya, Dewa dan mama Juni hanya diam saja serta tidak tahu harus menjawab apa karena pikiran mereka sedang pusing bagaimana caranya mengelak kepada ayah Idris.
“Ini laptopnya, Tuan,” sang bibi menyerahkan laptop yang sudah diambilnya.
Ayah Idris menerimanya lalu menyambungkan flashdisk tadi ke dalam laptopnya. Ayah Idris membuka file yang tersedia dan cuma ada satu file saja. Setelah dibuka ternyata isinya pernikahannya Dewa dengan Dwi dan perselingkuhan mereka berdua waktu di kantor.
Tap!
Bayangkan seperti itulah suara laptop yang ditutup kasar oleh ayah Idris karena dia merasa jijik melihat Dewa sedang memadu kasih dan saling b******u dengan Dwi.
Dewa menunduk ketakutan melihat amarah di wajah sang ayah. “Dewa.”
“Sekarang angkat kakimu, ambil semua barang-barangmu dari rumah ini karena mulai sekarang kamu bukanlah anak Ayah lagi!” ujarnya tegas, dingin dan menusuk.
Maya, mama Juni dan Dewa menatap syok kepada sang ayah yang tega mengusir Dewa dari rumah.
“Ayah … “ lirih mama Juni.
“Semua ini bisa dibicarakan baik-baik,” ucap mama Juni.
“Mama sebagai seorang Mama dan mertua, bukannya lebih bijak lagi dalam bersikap, tapi nyatanya apa?” kata ayah Idris membuat mama Juni terdiam.
“Ayah sudah gagal menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluarga ini.”
“Maya. Ambil juga semua barang-barangmu, bawa anakmu juga dan pergilah dari sini,” usir ayah Idris juga.
“Ajak suamimu juga jika dia sudah pulang dari dinas.”
“Ayah!” Maya meninggikan suaranya.
“Hanya karena Arsyana, Ayah tega mengusir kami!” ucapnya tidak terima.
Plak!
Ayah Idris menampar Maya sangat keras sekali. “Ini bukan karena Arsyana. Tapi karena sikap kalian bertiga,” kata ayah Idris.
“Dan untuk Mama.”
“Pergilah, Ma.”
“Tinggalkan, Ayah.”
“Mulai detik ini, jatuhlah talak dua dari Ayah untuk Mama,” ucap serius dari ayah Idris kepada mama Juni.
Mama Juni langsung meneteskan air matanya dan langsung bersujud di kakinya.
“Ayah. Maafin Mama.” Ujarnya berurai air mata.
“Mama sadar, Mama salah dan Mama sudah menyakiti Arsyana.”
“Ayah tolong jangan ceraikan Mama.” Pintanya memohon.
“Tolong, Yah.” Mama Juni menangis tersedu-sedu.
Maya pun juga ikut menangis melihat ketegasan dari sang ayah. Sedangkan Dewa hanya diam duduk termenung meratapi kehidupannya yang sudah hancur.
“Bibi … “ panggil ayah Idris lagi kepada pembantunya dan tidak memedulikan sang istri.
“Iya, Tuan,” kata sang bibi.
“Panggilkan yang lainnya sama anak buah di depan untuk membantumu membereskan semua barang-barang mereka bertiga.”
“Mulai detik ini dan seterusnya, mereka bertiga bukanlah anak-anak dan istri saya lagi,” jelas ayah Idris membuat sang pembantu sangat terkejut sekali.
“Kenapa diam saja? Cepat sana kerjakan apa yang saya suruh!” tegur ayah Idris karena sang bibi malah diam saja karena terkejut.
“Ba-Baik, Tuan,” jawabnya lalu segera melaksanakan perintah dari ayah Idris.
Setelahnya ayah Idris masuk ke dalam rumah meninggalkan mereka bertiga yang meratapi kesedihan karena kesalahannya sendiri.
Walau hati ayah Idris sedang terluka tapi dia juga merasa kecewa dan sakit hati dengan sikap kedua anaknya plus istrinya. Karena mereka bertiga, hubungan yang baik menjadi terpecah belah dan karena mereka juga pandangan dari papi Victor untuk keluarganya menjadi buruk.
Di dalam mobil Arsyana mencoba bicara kepada sang papi. “Pi … “ panggilnya.
Papi Victor menoleh ke arahnya. “Hmm, iya,” jawabnya.
“Terimakasih Papi sudah mau membantu Arsyana melewati masalah ini,” ucapnya.
“Maaf tadi Arsyana sempat salah sangka kepada Papi karena mengira Papi lebih membela mereka dibandingkan Arsyana.”
Papi Victor merangkul pundak Arsyana. “Kamu lucu. Masa Papi membela orang lain dibandingkan kamu. Kamu ini putri sulung Papi.”
Arsyana tersenyum kepada sang papi dan menyandarkan kepalanya di pundaknya. “Tanpa Papi, Arsyana tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Tanpa Papi, hidup Arsyana pasti akan selalu terpuruk dengan kebohongannya mas Dewa,” ujarnya.
“Sekarang tenanglah, semua sudah berakhir. Kamu fokus memperbaiki diri untuk mengobati luka yang sedang kamu rasakan saat ini,” nasihat papi Victor.
Arsyana menganggukkan kepalanya. “Iya, Pi.”
“Engh, kalau boleh tahu isi di dalam amplop coklat tadi apa ya, Pi?” tanya Arsyana.
“Arsyana sangat penasaran sekali,” ujarnya.
Papi Victor tersenyum. “Kamu tidak perlu tahu. Namun yang pasti isi di dalam amplop itu akan menghancurkan Dewa dan selingkuhannya,” jawab papi Victor.
“Kasih tahulah sedikit saja biar Arsyana tidak terus-terusan memikirkannya, Pi,” rengek Arsyana.
“Sudahlah sekarang fokus saja dengan perceraianmu biar kamu tidak sedih lagi,” papi Victor mengalihkan pembicaraan.
Arsyana hanya mengangguk diam saja tidak menanggapi ucapan sang papi sambil bergumam di dalam hati. “Pasti di dalam ruang kerja papi masih ada salinannya.”
“Iya aku yakin itu. Aku harus mencarinya dan mencari tahu apa isi di dalam amplop tersebut,” batin Arsyana.
Sesampainya di rumah Arsyana bersama papi Victor langsung segera masuk ke dalam. Tapi diam-diam Arsyana membelokkan kakinya ke arah ruang kerja sang papi untuk mencari amplop yang dimaksud.
Setelah cukup lama mencari akhirnya Arsyana menemukannya. Arsyana langsung membukanya untuk melihat apa isinya. Dan ketika Arsyana sudah melihat isi di dalam amplop itu, matanya langsung melotot lebar sekali.
Arsyana juga melihat sebuah flashdisk, tanpa banyak berkata Arsyana bergegas menyambungkan flashdisk itu ke laptop milik sang papi yang ada di atas meja. Setelah membuka isi file di dalamnya, sungguh Arsyana sangat syok sekali sampai dia terhuyung dan jatuh ke lantai.
“Mas Dewa … “ lirihnya dengan d**a yang terasa sesak.
Bersambung ….