Arsyana sangat syok sekali tidak menyangka dengan apa yang barusan dia lihat di dalam flashdisk yang ditemukannya.
Dadanya terasa dipukul sebuah palu yang besar dan sangat menyesakkan sekali. “Mas Dewa.” Lirihnya lagi.
Tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat karena baru saja melihat sesuatu yang seharusnya tidak Arsyana lihat. Dengan menguatkan tubuh, perasaan dan pikiran Arsyana mencoba bangun dari atas lantai untuk mendekati laptop sang papi yang masih menampilkan video yang membuat hatinya seperti ditusuk seribu pedang.
Tangannya mencoba menggeser kursor laptop untuk mempercepat durasi videonya. Dan karena semakin tidak tahan akhirnya Arsyana memilih menutup laptop tersebut.
Arsyana terduduk lemas di kursi kerja milik sang papi. Dia lalu menangis tersedu-sedu karena tidak menyangka jika suami yang sangat dia cintai sudah berselingkuh di belakangnya, bahkan berani melakukan ijab kabul atas nama wanita lain di saat dirinya masih menjadi istri sah-nya.
“Aaaaaaaaaaaaaarrrrrrggggghhhh …. “ Arsyana berteriak sangat kencang sekali. Karena saking kencangnya membuat papi Victor yang belum tidur sangat terkejut.
Papi Victor yang mendengar suara teriakannya Arsyana langsung mendekatinya dan melihat sang putri sedang sangat terpuruk sambil terisak dalam tangisannya.
“Arsyana,” panggil papi Victor.
“Hiks-hiks-hiks.” Suara tangisan Arsyana membuat papi Victor terenyuh.
Papi Victor yang sudah berdiri di samping Arsyana langsung mengusap kepala dan juga punggungnya.
Arsyana langsung memeluk perut sang papi sangat erat sekali. “Papi … “ ujarnya.
“Papi sengaja tidak mau memberitahumu, tapi kenapa kamu malah mencari tahunya sendiri, Arsyana?” ucap papi Victor.
“Arsyana penasaran, Pi … “ jawabnya.
“Tidak semua rasa penasaran itu harus dituntaskan, Arsyana.”
“Lihat sendiri ‘kan apa akibat dari rasa penasaranmu itu?” kata sang papi.
Arsyana masih sesenggukan dalam menangis dan juga masih memeluk perut sang papi.
“Bagaimana caranya Papi bisa mendapatkan semua bukti itu, Pi?” tanya Arsyana.
“Selagi masih ada uang dan selagi bisa menyuruh banyak orang, semuanya akan dipermudah, Arsyana,” jawab papi Victor.
“Apapun akan Papi lakukan demi kebahagiaan keluarga Papi,” jelas papi Victor.
Arsyana melepaskan pelukannya dan mendongak menatap sang papi. Papi Victor lalu mengusap lembut air mata Arsyana.
“Sudahlah. Kamu jangan menangis terus untuk laki-laki b******n seperti Dewa.”
“Air matamu terlalu berharga untuknya,” ucap papi Victor.
Arsyana menganggukkan kepalanya. “Sekarang tidurlah. Ini sudah malam.” Kata papi Victor lagi.
“Ayo Papi antar ke kamar.”
Arsyana cuma mengangguk lemas lalu papi Victor mengantarnya berjalan ke arah kamarnya.
“Tidurlah sana,” ujar papi Victor ketika sudah sampai di depan kamar Arsyana.
Arsyana sekali lagi cuma mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun kepada sang papi. Setelah Arsyana sudah masuk ke dalam kamar, papi Victor langsung menutup pintunya dari depan.
“Siapapun orangnya akan Papi hancurkan jika dia sudah berani melukaimu, Arsyana,” gumam papi Victor.
“Tidak kamu, tidak Adib ataupun mami. Kalian bertiga adalah harta berharganya Papi.”
“Papi rela berkorban nyawa demi kalian. Dan jika cuma disuruh untuk menghancurkan Dewa, sangatlah mudah bagi Papi.” Tekad seorang kepala keluarga untuk orang yang dicinta.
Setelah bergumam dan berbicara sendiri papi Victor beranjak pergi dari depan kamar Arsyana menuju ke kamarnya sendiri.
Kembali ke rumah ayah Idris.
Mama Juni dan Maya yang sedang menggandeng sang putra yang berusia lima tahun serta Dewa, mereka berempat berdiri di halaman sambil menatap sedih rumah tempat mereka berkumpul sejak dulu.
Di mana suaminya Maya? Jawabannya dia sedang bekerja dan pekerjaannya menjadi seorang masinis kereta api.
“Mama. Kenapa kita beldili di sini?” tanya Arkan anaknya Maya.
“Ayo masuk, Mama. Di sini dingin,” ucapnya.
Maya tidak menanggapi ucapan sang putra karena dia sedang menangis bersedih, apalagi melihat kesedihan di mata sang mama.
Mama Juni tiba-tiba berjalan mendekati Dewa lalu menamparnya sangat keras sekali.
Plak!
Dewa menatap terkejut kepada sang mama yang tiba-tiba menamparnya. “Kenapa Mama menampar Dewa?” tanyanya.
“Gara-gara kamu. Gara-gara nafsu bodohmu itu. Dan gara-gara ulahmu, Mama diceraikan sama ayah!” marah mama Juni.
“Iya Mama tahu, Mama akui memang tidak terlalu menyukai Arsyana dan sering menyuruhnya untuk bercerai denganmu karena dia belum kunjung hamil sampai sekarang, tapi Mama tidak menyangka jika semua itu akan berbalik arah kepada Mama sendiri karena ulahmu!” mama Juni menunjuk marah Dewa.
“Sudahlah, Ma. Percuma saja kita marah-marah begini.” Ujar Maya.
“Ayo kita ke hotel dulu sampai kak Ardit menjemput kita,” ajak Maya.
Mama Juni hanya diam saja dan menurut apa kata Maya lalu masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Dewa yang hanya diam saja.
Akhirnya Dewa ikut pergi juga dari rumah masa kecilnya dengan luka yang teramat besar sekali. Apa yang sudah Dewa berikan kepada Arsyana sekarang berbalik arah kepadanya karena Allah lebih mencintai hambanya yang teraniaya.
Ayah Idris hanya diam saja dan memperhatikan mereka dari balik gorden kamarnya sambil menitikkan air mata kesedihan yang teramat dalam.
Dikhianati oleh keluarga sendiri rasanya teramat sakit sekali dan itulah yang sedang ayah Idris rasakan sekarang.
Sesampainya di rumah Dwi, kedatangan Dewa sudah disambut bahagia olehnya. “Mas. Bagaimana? Apakah ayah mertua membagi warisannya kepada Mas Dewa?” tanya Dwi.
“Tidak bisakah kamu tidak membicarakan soal uang dan harta terus menerus, Dwi?” ujar Dewa.
“Mas ini sedang pusing,” ucapnya lagi.
“Mana bisa Dwi hidup tanpa uang dan harta, Mas,” jawab Dwi.
“Sekarang katakan berapa harta warisan yang sudah ayah mertua berikan kepada Mas Dewa?” tanyanya lagi.
“Dwi!” bentak dan teriak dari Dewa membuat Dwi sangat terkejut.
“Ayah menyuruh Mas ke rumah bukannya untuk membahas soal warisan, Mas diusir oleh ayah,” ungkapnya.
Dwi terkejut. “Di-Di usir?”
“Kenapa?” tanyanya.
“Karena Mas sudah ketahuan selingkuh denganmu. Dan gara-gara kamu menggoda Mas sekarang Mas harus kehilangan semuanya.”
“Kamu juga cuma menginginkan harta saja bukan karena mencintai Mas!” serunya.
“Menyesal Mas sudah berselingkuh denganmu. Karena ternyata Arsyana jauh lebih baik darimu!” ucapnya membuat Dwi sangat sakit hati sekali.
Plak!
Dwi menampar Dewa sangat keras sampai suaranya menggema di dalam rumah.
Dewa pun tidak tinggal diam dan ingin membalas menampar Dwi. “Kenapa? Mau menampar Dwi?” ucap Dwi.
“Sini tampar. Tampar, Mas. Tampar!” tantang Dwi.
Dewa menurunkan tangannya dan teringat ketika dirinya menampar Arsyana kemarin.
“Setelah apa yang Mas Dewa dapatkan dari Dwi. Dengan seenaknya sendiri mengatakan menyesal sudah bersama Dwi.” Ujar Dwi.
“Lalu ini yang di dalam perut apa hah!” bentak Dwi.
“Lihatlah sekarang? Mas Dewa ada di rumah siapa? Rumah Dwi.”
“Sekarang Mas Dewa sudah diusir dari rumah ayah. Lantas kenapa Mas Dewa ke sini jika sudah menyesal mengenal Dwi.” Dewa terdiam.
Dwi benar-benar kesal dengan Dewa lalu memutuskan masuk ke dalam kamar dan membanting pintunya sangat keras sekali.
Jdaaarrr!
Dewa sangat stres sekali. Semuanya berantakan dan semuanya menjadi rumit gara-gara satu kesalahannya, yaitu selingkuh.
Bersambung ….