Dewa mengepalkan kedua tangannya menatap marah kepada Arsyana yang berani mempermalukannya di depan umum dengan menamparnya seperti tadi. Ketika Arsyana akan berlalu pergi dari hadapannya, Dewa berusaha mencegahnya.
“Lepasin!” tegas Arsyana sambil melepaskan diri dari cengkeraman Dewa.
“Nggak. Mas nggak mau bercerai denganmu,” kata Dewa.
“Aku tidak peduli!” jawabnya. Setelahnya Arsyana terus melangkah menjauh dari hadapan Dewa.
“Argh!” Dewa merasa kesal.
Di dalam mobil tuan Pendi berbicara kepada Arsyana. “Arsyana. Kamu tidak perlu ke kantor dulu.”
“Kenapa, Tuan?” tanya Arsyana.
“Apa Anda memecat saya?” ucapnya merasa sedih.
“Saya tidak memecatmu. Saya ingin kamu menyelesaikan permasalahan ini dulu, terlebih kondisimu sedang seperti itu. Saya tidak mau nanti banyak yang mengira saya yang melakukan kekerasan itu kepadamu,” jawab tuan Pendi.
“Baiklah, Tuan. Saya mengerti,” jawab Arsyana.
“Kembalilah jika kamu sudah jauh lebih baik. Saya tidak akan memecatmu, biar semua tugas dan pekerjaanmu dikerjakan sama sekretaris lainnya,” ujar tuan Pendi.
Arsyana mengangguk mengerti. “Baik, Tuan. Terimakasih atas pengertiannya.”
Tuan Pendi hanya mengangguk saja kepada Arsyana lalu mereka berdua saling diam seperti sebelumnya. Sedangkan Dewa yang sudah mengambil obat untuk Dwi langsung segera menuju ke mobilnya.
“Mas,” sapa Dwi.
“Kenapa dengan wajah Mas Dewa?” tanya Dwi karena Dewa terlihat marah.
Dewa tidak menjawab dan memilih menyalakan mobilnya pergi dari parkiran rumah sakit.
Selama perjalanan menuju ke kantor, Dewa sama sekali tidak mengajak bicara Dwi. Dia mencengkeram erat stir mobilnya karena sedang menahan rasa marahnya kepada Arsyana.
“Mas. Nanti mampir ke rumah ya,” ucap Dwi.
“Mas nggak bisa!” seru Dewa.
“Nggak bisa kenapa, Mas?” tanya Dwi.
“Mas harus segera menikahi Dwi,” ucapnya.
“Bagaimana Mas bisa menikahimu sedangkan Mas saja masih menjadi suaminya Arsyana,” jawab Dewa.
“Iya Mas bisa menikah siri dulu sama Dwi.”
“Nanti kalau Mas Dewa sudah menceraikan Arsyana, baru kita menikah resmi.”
“Apa Mas mau kehamilan Dwi semakin membesar?” ujar Dwi memasang wajah melasnya.
Dewa goyah, dia terdiam memikirkan ucapannya Dwi. Dan bagaimanapun juga Dwi harus segera dia nikahi.
“Baiklah. Sekarang ayo kita temui mama dulu,” kata Dewa.
“Mama?” gumam Dwi.
“Mama siapa, Mas?” tanya Dwi.
“Mamaku,” jawabnya.
“Nggak. Dwi nggak mau. Pasti mamamu akan menuduhku yang bukan-bukan,” ucap Dwi ketakutan.
“Tenanglah. Mama atau yang lainnya termasuk Arsyana tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, karena kamu sedang mengandung anakku,” Dewa menenangkan Dwi.
Dwi pun akhirnya mengangguk dan pasrah saja mengikuti kemauannya Dewa. “Demi masa depan anakku,” batinnya.
Dewa terus melajukan mobilnya menuju ke rumah kedua orang tuanya, mau tidak mau kedua orang tuanya harus mau menerima Dwi sebagai istri keduanya.
Lalu untuk Arsyana sendiri. Akhirnya dia bersama tuan Pendi sampai juga di perusahaan. Sesampainya di sana Arsyana langsung mengambil tas miliknya setelahnya pulang ke rumahnya. Rumah yang menjadi saksi bisu atas cinta dan kekejamannya Dewa.
Sesampainya di rumah pribadinya bersama Dewa, Arsyana mengeluarkan semua barang-barang milik Dewa dari dalam rumah untuk dia lempar ke halaman depan.
Arsyana mengusir Dewa. “Bukan aku yang harus pergi dari rumah ini, tapi kamu mas Dewa,” gumam Arsyana di dalam hati.
“Aku bukan wanita lemah dan bodoh. Akan aku buktikan jika dirimu berselingkuh di belakangku. Allah Maha penyayang dan mendengarkan doa istri yang teraniaya.” Ujarnya lagi.
Selesai mengeluarkan semua barang-barang milik Dewa, Arsyana langsung menangis sejadi-jadinya di ruang tamu sambil menetralkan nafasnya yang terengah-engah. Hatinya terasa lelah, sakit dan sedih karena sikap Dewa yang sudah mengecewakannya.
“Ya, Allah. Tunjukkanlah kepada hamba,” lirihnya dalam doa sambil berurai air mata.
Arsyana berjalan gontai ke dalam kamarnya, setelahnya mencoba menghubungi sang papi yang ada di kantor.
“Halo, Arsyana,” ucap papi Victor.
“Pi … “ lirih Arsyana.
“Tolong suruh anak buah Papi untuk datang ke rumah,” ucapnya.
“Kenapa, Arsyana?” suara papi Victor terdengar khawatir.
“Kenapa suaramu seperti itu?” tanya papa Victor.
“Hiks … “ bukannya menjawab Arsyana justru menangis.
Perasaan seorang ayah maupun seorang mama pastilah sangat kuat sekali untuk anak kandungnya.
“Papa akan ke rumahmu sekarang juga,” kata papi Victor.
Setelahnya tanpa menunggu jawaban dari Arsyana sambungan teleponnya terputus.
Selesai menghubungi sang papi, Arsyana langsung meringkuk di atas ranjang sambil terus menangisi kondisi rumah tangganya. Dan berpindah kepada Dewa lagi. Akhirnya dia bersama Dwi sampai juga di rumah ayah Idris.
“Ayo masuk,” ajak Dewa.
“Takut, Mas,” jawab Dwi sambil menggenggam tangan Dewa.
Dewa mencoba menenangkannya. “Ada Mas di sini.”
Dewa dan Dwi lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Kedatangan mereka membuat mama Juni yang menyambut merasa terkejut sekali.
“Dewa. Siapa wanita ini!” mama Juni menunjuk Dwi.
“Ma. Tolong dengerin Dewa dulu,” jawab Dewa.
“Perkenalkan, dia Dwi. Dwi sedang mengandung anak Dewa, Ma. Dewa ingin menikahinya,” jujur Dewa membuat mama Juni sangat terkejut.
“Dewa! Apa-apaan ini hah!” seru mama Juni.
“Kamu itu masih suaminya Arsyana!” kata mama Juni.
“Dewa tahu, Ma.”
“Tapi bukankah tidak masalah jika Dewa menikah lagi sedangkan Arsyana saja tidak bisa memberi Dewa seorang anak,” jawab Dewa.
“Kita berdua baru menjalin hubungan sebentar tapi Dwi sudah hamil anak Dewa, Ma.”
“Tolong restui Dewa karena nanti sore Dewa ingin segera menikahinya sebelum kehamilannya semakin membesar,” kata Dewa.
“Sudahlah, Ma. Restui saja,” sahut Maya yang ternyata menguping dari balik tembok.
“Kak Arsyana itu mandul, jadi untuk apa dipertahankan.” Ucapnya sangat pedas sekali.
“Sudah satu tahun mereka menikah, tapi nyatanya belum kunjung hamil sampai sekarang. Jadi wajar sajalah jika Kak Dewa mencari wanita lain untuk meneruskan kehidupannya.” Kata Maya sebagai adik ipar yang laknat.
“Benar apa kata Maya, Ma,” sahut Dewa.
“Apakah Arsyana tahu?” tanya mama Juni.
“Dia tidak perlu tahu, Ma. Asal Dewa bisa adil kepada mereka,” jawab Dewa.
“Dewa cuma butuh restu dari Mama. Kalaupun tidak direstui, Dewa akan tetap menikahi Dwi,” Dewa menggenggam erat tangan Dwi.
“Kalau ayah sampai tahu, ayah pasti akan marah besar kepadamu, Dewa,” ucap mama Juni.
“Ayah jangan diberitahu, Ma. Ini rahasia kita-kita saja,” ucap Dewa.
“Baiklah Mama akan merestui kalian. Katakan jam berapa kalian akan menikah, Mama sama Maya akan menghadirinya,” mama Juni sangat tidak bijak sekali.
Dewa dan Dwi tersenyum sangat lebar sekali. “Nanti Dewa beritahu lewat pesan ya, Ma.”
Mama Juni menganggukkan kepalanya, lalu dia bersama Maya saling berkenalan dengan Dwi dan juga bertanya soal kehamilannya.
Beralih scene kepada Arsyana lagi.
Suara bell rumah terus terdengar tapi Arsyana enggan untuk membuka pintunya. Karena tidak kunjung dibuka, dering ponsel pun gantian yang berbunyi yang ternyata dari sang papi.
“Halo, Pi.”
“Arsyana! Cepat buka pintunya. Papi sudah ada di depan. Dan ini kenapa semua pakaian berserakan di halaman,” kata papi Victor.
“Tunggu sebentar,” hanya itu jawaban yang Arsyana berikan kepada sang papi.
Arsyana berjalan lemas dan malas ke arah pintu rumahnya. Dan ketika pintu sudah dibuka alangkah terkejutnya papi Victor melihat wajah cantik sang putri yang penuh lebam membiru.
“Arsyana!” seru terkejut dari papi Victor.
Arsyana menangis membuat papi Victor sangat khawatir kepadanya. “Ayo duduk dulu,” ajak papi Victor.
Mereka berdua lalu duduk di sofa ruang tamu. “Siapa yang sudah melakukan ini kepadamu, Arsyana?”
“Katakan sama Papi!” tegas papi Victor.
Arsyana terus menunduk dan menangis. “Dewa?” tebak papi Victor dan Arsyana menganggukkan kepalanya.
“Kurang ajar!” papi Victor sangat geram sekali.
Bersambung …