KEMARAHAN PAPI VICTOR

1368 Words
Sebagai seorang ayah yang sudah membesarkan anaknya dengan susah payah bahkan ketika ada semut kecil dan nyamuk yang menggigitnya saja dia langsung marah, apalagi melihat kondisi Arsyana yang seperti sekarang. Tentu saja papi Victor sangat murka sekali ketika melihatnya. “Di mana Dewa sekarang?” geram papi Victor. Arsyana menggelengkan kepalanya sambil terus menunduk dan menangis. “Sekarang ceritakan sama Papi apa yang sebenarnya terjadi, Arsyana?” tanya serius dari papi Victor. “Sore kemarin Arsyana menemukan bukti transferan di kantong pakaian kerjanya mas Dewa, Pi.” “Selain itu Arsyana juga menemukan bukti check-in hotel, padahal jelas-jelas kemarin mas Dewa mengatakan sedang lembur.” “Arsyana tanya kepadanya, justru dia marah dan menuduh Arsyana selingkuh dengan tuan Pendi,” cerita Arsyana dan papi Victor diam mendengarkan. “Karena marah itu mas Dewa semalaman tidak pulang ke rumah sampai pagi.” “Paginya mas Dewa pulang dan aroma parfum perempuan tercium lagi seperti di pakaian kerjanya kemarin.” “Kami bertengkar lagi, Pi.” “Dan puncaknya ada telepon di ponsel mas Dewa yang … “ Arsyana tidak kuat melanjutkan ceritanya. “Yang apa, Arsyana!” papi Victor tidak sabar mendengar kelanjutannya. “Gadis itu mengatakan jika semalam sangat memuaskan dan dia menyuruh mas Dewa untuk bermalam lagi di rumahnya.” “Arsyana marah. Arsyana cemburu lalu refleks membanting ponselnya dan beginilah, Pi … “ “Mas Dewa memukuli Arsyana sampai pingsan. Dan tadi waktu Arsyana visum ditemani tuan Pendi, kami berdua justru bertemu dengan mas Dewa di rumah sakit.” “Sekali lagi kami dituduh berselingkuh di belakangnya sampai membuat keributan di rumah sakit.” “Kenapa harus tuan Pendi yang mengantarkanmu ke rumah sakit, Arsyana.” “Kenapa kamu tidak meminta tolong sama papi atau mami,” ujar papi Victor. “Karena Arsyana paksakan berangkat ke kantor, Pi. Dan tuan Pendi terkejut melihat wajah Arsyana.” Jawab Arsyana. “Bagaimana kalau istrinya tuan Pendi menuduhmu yang bukan-bukan?” papi Victor sangat takut hal itu terjadi. “Papi tenang saja. Nyonya Ratna yang membantu memeriksa kondisi Arsyana, Pi,” jelas Arsyana. “Sekarang cerai dari Dewa. Papi tidak ridho dan tidak ikhlas kamu disakiti seperti ini olehnya!” seru papi Victor. “Papi akan mencari Dewa dan menyuruh anak buah berjaga di sini supaya dia tidak bisa masuk ke dalam rumah.” Kata papi Victor dan Arsyana cuma mengangguk saja. “Sekarang ayo kamu ikut pulang sama Papi. Kamu lebih aman berada di rumah dibandingkan di sini,” ajak papi Victor. Arsyana mengangguk lalu masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap. Dan setelah sudah siap dia langsung ikut pulang bersama sang papi untuk ke rumah kedua orang tuanya. Sesampainya di rumah kedatangan Arsyana disambut ekspresi terkejut dari sang mami karena melihat luka lebam di seluruh wajahnya. “Ya, Allah. Arsyana. Apa yang sudah terjadi denganmu,” teriak histeris dari sang mami yang sudah mengandung dan melahirkannya. “Lebih baik ayo kita masuk dulu, Mi,” kata papi Victor. Mami Jenia mengangguk lalu mereka masuk dan duduk di ruang keluarga. “Sekarang ceritakan sama Mami apa yang sebenarnya terjadi?” tanya penuh penekanan dari mami Jenia. Arsyana langsung menceritakan kepada sang mami sama persis dengan apa yang sudah dia ceritakan kepada sang papi. Mami Jenia sangat syok dan terkejut sekali karena tidak menyangka jika Dewa akan bersikap seperti itu kepada Arsyana. “Papi yang akan mengurus surat perceraian mereka, Mi.” “Papi tidak rela Arsyana diperlakukan seperti ini oleh Dewa. Jika kita biarkan lama-lama nyawa Arsyana akan terancam dan bisa berakhir di tangannya,” ujar papi Victor. “Benar, Pi. Mami setuju dengan keputusan Papi.” “Lebih baik menjanda daripada hidup dengan laki-laki b******n seperti Dewa,” gemas mami Jenia. Arsyana hanya mengangguk dan menunduk bersedih menenangkan hatinya yang rapuh. “Masuklah ke dalam kamarmu dan istirahatlah, Arsyana,” kata mami Jenia. Arsyana hanya mengangguk saja lalu dia masuk ke dalam kamar meninggalkan kedua orang tuanya yang masih diam memperhatikannya. “Pi. Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya mami Jenia. “Papi akan berbicara dengan mas Idris dan mbak Juni. Mereka harus tahu kelakuan putra kesayangannya itu.” Jawab papi Victor. “Mau tidak mau, mereka harus mau jika kita memisahkan mereka!” papi Victor menahan rasa marahnya. “Iya, Pi.” “Nanti saja, sekarang kita tenangkan pikiran dulu karena saat ini kondisi kita sedang dikuasai amarah,” nasihat mami Jenia. Papi Victor hanya mengangguk-ngangguk saja dan tanpa mereka ketahui jika sekarang Dewa sedang menyusun pernikahan sirinya bersama Dwi yang akan dilangsungkan sepulang bekerja nanti. Kedua orang tuanya Dwi juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika mengetahui putrinya sudah hamil di luar nikah. Dan lebih melegakan lagi bagi kedua orang tuanya Dwi jika Dewa mau bertanggung jawab untuk kehamilannya itu. Salah didikan, salah pergaulan dan juga salah semuanya alhasil menjadi kacau tidak bisa dikondisikan lagi. Sorenya Dewa dan Dwi benar-benar menikah di bawah tangan alias menikah siri yang disaksikan oleh kedua orang tuanya Dwi serta mama Juni dan juga Maya sebagai perwakilan dari Dewa. Dwi tersenyum senang sekali karena sekarang statusnya dengan Dewa sudah sah sebagai seorang istri walau cuma istri siri. “Akhirnya anakku ada pengakuan juga,” batin Dwi. “Mas Rohis. Lihatlah, aku bisa menemukan penggantimu yang jauh lebih baik darimu,” ujarnya di dalam hati sambil tersenyum kepada semua orang. “Anakku tidak akan kelaparan dan kurang kasih sayang dari ayahnya yang b******n sepertimu!” “Dan akan aku pastikan Arsyana akan segera bercerai dari mas Dewa supaya aku bisa segera menjadi istri sah-nya serta menguasai hartanya,” ucapnya lagi merasa bangga sekali. Sampai acara pernikahan itu selesai, Dewa tidak kunjung pulang ke rumahnya. Dewa menikmati waktu berduanya dengan Dwi di rumah pribadi milik Dwi yang terpisah dengan kedua orang tuanya. Baru sekitar jam sepuluh malam Dewa memutuskan untuk pulang. Ketika tidak pulang itu Dewa juga tidak mengabari Arsyana sama sekali. Dia bukannya tidak mau mengabari Arsyana hanya saja memang disengaja olehnya supaya Arsyana merasa bersalah kepadanya. Nyatanya Arsyana juga tidak mengirim pesan atau menelponnya. Dan hal itu membuat Dewa merasa penasaran lalu memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumahnya Dewa merasa terkejut sekali sebab pintu gerbangnya tertutup rapat dikunci dari dalam sampai Dewa ingin membukanya saja tidak bisa. “Arsyana!” teriak Dewa sambil memencet bell pagar. Tidak lama pintu kecil di sebelah pintu gerbang terbuka dan keluarlah salah satu anak buah papi Victor. “Siapa kamu?” tanya Dewa. “Anda sudah tidak diijinkan masuk ke dalam rumah ini lagi, Tuan Dewa,” tegas dan dingin ucapan dari anak buah tersebut. “Apa hak-mu melarang saya? Saya pemilik rumah ini!” kata Dewa. “Sudah tidak lagi, Tuan,” jawab sang anak buah. “Bawa ke sini,” perintahnya kepada semua teman-temannya. Satu persatu para anak buah mengeluarkan semua barang-barang milik Dewa dan melemparkannya ke wajah dan ke mobilnya. “Apa-apaan ini hah!” marah dan seru Dewa. “Bawa semua barang-barang milik Anda, Tuan Dewa. Karena nona Arsyana sudah mengusir Anda dari sini.” “Jika masih ada barang yang tertinggal, katakan saja sama kami. Kami akan mengambilkannya di dalam untuk Anda,” ujar sang anak buah. “Kurang ajar!” geram Dewa. “Biarkan saya masuk. Saya ingin bertemu dan bicara sama Arsyana,” kata Dewa. “Kami tidak bisa membiarkan Anda masuk ke dalam. Rumah ini sudah tertutup rapat untuk orang seperti Anda,” kata sang anak buah. “Kalian. Ambil kunci mobilnya,” perintahnya kepada teman-temannya. Anak buah yang disuruh langsung mengambil kunci mobil milik Dewa. “Hei. Kembalikan kunci mobilnya!” teriak marah dari Dewa. “Kata nona Arsyana, mobil ini dia yang memberikannya waktu ulang tahun Anda.” “Dan nona Arsyana ingin mengambilnya lagi dari Anda,” ujar sang anak buah. “Anda itu laki-laki miskin yang tidak tahu diri, Tuan.” “Kurang ajar!” Dewa langsung menerjang sang anak buah untuk dia beri pukulan. Tapi Dewa salah sasaran, dia adalah seorang bodyguard plus anak buah yang sudah mempunyai skill serta keterampilan untuk berkelahi. Dengan sekali gerakan anak buah itu berhasil melumpuhkan Dewa dan membuatnya babak belur. Papi Victor juga menyuruh mereka untuk membalaskan rasa sakit yang sudah Dewa berikan kepada Arsyana. Dan malam ini Dewa mendapatkan balasan dua kali lipat dari pukulan yang sudah dia lakukan kepada sang istri. Bersambung ….
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD