DIUSIR

1388 Words
Di rumah papi Victor. Ketika makan malam bersama adik laki-lakinya yang bernama Adib, dia sangat terkejut sekali melihat wajah sang kakak yang cantik dan mulus sekarang terlihat banyak luka lebam membiru. “Kak. Apa yang sudah terjadi denganmu?” tanya khawatir dari Adib. “Sudahlah, Adib. Jangan dibahas lagi.” Kata papi Victor. “Nggak, Pi. Adib ini sudah besar. Dan Adib sangat khawatir sama Kak Arsyana,” kata Adib. “Sekarang katakan siapa yang sudah membuat wajah cantik Kakak babak belur seperti itu?” ujar Adib. “Mas Dewa?” tebak Adib. “Adib makanlah.” Kata mami Jenia. “Adib akan makan bila kalian menjelaskan sama Adib. Apa kalian tidak menganggap Adib sebagai keluarga lagi sampai hal seperti ini tidak mau berbagi sama Adib?” ucapnya kepada keluarganya. “Mas Dewa, Adib.” “Kami bertengkar karena Kakak mencurigai mas Dewa selingkuh di belakang Kakak,” kata Arsyana. “Apa Kakak ada buktinya?” tanya Adib. Arsyana menganggukkan kepalanya. “Ada,” jawabnya pelan. “Kurang ajar!” Adib sangat geram sekali. “Mas Dewa harus diberi pelajaran!” Adib mengepalkan kedua tangannya seperti siap ingin menonjok Dewa. “Sudahlah. Kita tenangkan diri dan pikiran dulu. Semuanya sedang Papi urus. Sekarang kita makan dulu nanti keburu dingin.” Kata papi Victor. Adib hanya bisa diam dan pasrah sambil menenangkan perasaan kesalnya karena sang kakak sudah disakiti oleh Dewa. Sedangkan Dewa sendiri saat ini masih terkapar di depan pintu gerbang karena baru saja dipukuli oleh para anak buah papi Victor. Dan para anak buah itu yang sudah puas memukuli Dewa langsung masuk kembali sambil membawa masuk mobil yang Dewa naiki tadi. Dewa sudah seperti gelandangan dengan banyaknya pakaian serta barang-barang miliknya di sampingnya. Dewa menetralkan rasa perih dan sakit di sekujur tubuh dan wajahnya lalu menghubungi Dwi. Dwi sangat senang sekali karena saat ini sedang dihubungi Dewa, karena dia pikir jika Dewa pasti ingin bermalam lagi di rumahnya. “Halo, Mas Dewa.” “Dwi. Jemput Mas di rumah,” kata Dewa. “Wah, Mas Dewa sudah berani ya menunjukkan hubungan kita sama Arsyana,” ujar Dwi. “Sudahlah cepat datang ke sini jemput Mas,” kata Dewa lagi. “Ok tunggu sebentar, Dwi akan segera ke sana,” jawab Dwi lalu Dewa mematikan sambungan teleponnya. Selesai menghubungi Dwi, Dewa mencoba menghubungi Arsyana dan sambungan teleponnya langsung terputus karena Arsyana sudah memblokir nomornya. “Argh, sialan!” gerutu sebal dari Dewa. “Arsyana,” geramnya. Dewa harus menunggu Dwi sekitar hampir satu jam lamanya. Dan setelah satu jam menunggu akhirnya Dwi datang juga. Dwi sangat terkejut sekali melihat Dewa sudah berdiri di depan pintu gerbang yang tertutup rapat, belum lagi dengan dua koper yang ada di sebelahnya. Dewa langsung memasukkan kedua koper itu ke dalam bagasi mobilnya Dwi setelahnya dia duduk di depan sebelah Dwi yang sedang menyetir. “Mas. Apa-apaan ini?” tanya penasaran dari Dwi. “Sudah jalan saja nanti Mas jelaskan di rumah,” jawab Dewa. Dwi tidak banyak bertanya lagi lalu tancap gas pulang ke rumahnya. Dan sesampainya di rumah Dwi menuntut penjelasan dari Dewa. “Sekarang jelaskan kepada Dwi apa yang sebenarnya terjadi?” kata Dwi. “Mas diusir dari rumah oleh Arsyana dan anak buah papinya,” jawab Dewa. Mata Dwi melotot lebar. “Jadi rumah mewah yang kalian tempati itu bukan milik Mas Dewa?” sorot wajah kecewa dari Dwi terlihat sekali. Dewa menganggukkan kepalanya. “Itu hadiah pernikahan dari papinya Arsyana.” “Terus mobil?” tanya Dwi lagi. “Mana mobil yang tadi Mas Dewa naiki?” “Diambil sama mereka. Karena mobil itu hadiah ulang tahun dari Arsyana untuk Mas,” jawab Dewa. Dwi lalu membuka kedua koper milik Dewa dan mengeluarkan semua isinya. Dan isinya cuma ada pakaian saja tiada yang lainnya. “Dua koper ini cuma isinya pakaian saja?” seru dengan nada tinggi dari Dwi. “Lalu di mana barang-barang berharga yang Mas Dewa punya. Kenapa nggak dibawa sekalian sih,” geram Dwi. “Barang-barang mewah itu pemberiannya Arsyana, pastilah tidak akan dia berikan kepada Mas, Dwi,” jawab Dewa. “Selama satu tahun kalian menikah masa satu pun Mas Dewa tidak menyimpan, mempunyai atau mengambil harta yang Arsyana punya?” kata Dwi. “Mas punya tabungan yang selama ini Mas tabung diam-diam darinya, Dwi.” Jawab Dewa. “Argh, ternyata Mas Dewa miskin. Dwi kira Mas Dewa kaya,” sebal Dwi. Dewa tersinggung. “Apa maksud ucapanmu, Dwi!” seru Dewa. “Dwi menggoda Mas Dewa ya tentu saja ingin hidup enak. Tahunya malah numpang hidup di sini,” jutek Dwi lalu pergi meninggalkan Dewa masuk ke dalam kamar. Dewa mengepalkan kedua tangannya menahan amarahnya supaya tidak melukai Dwi yang sedang hamil. Malam itu Dewa tidur di ruang tamu rumah milik Dwi sambil terus mencoba menghubungi Arsyana. Sedangkan di rumah ayah Idris, mama Juni dan Maya bersikap biasa saja seperti tidak sudah terjadi sesuatu dengan Dewa supaya sang ayah tidak merasa curiga kepada mereka berdua. Keesokan harinya Dewa terbangun karena diteriakin oleh Dwi. “Bangun! Kerja cari duit yang banyak apalagi sebentar lagi Dwi mau lahiran!” teriaknya tidak sopan kepada Dewa. Dewa mengangguk lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi dan bersiap-siap. Ketika Dewa ingin sarapan, dirinya merasa heran karena tidak ada makanan apapun di atas meja makan. “Dwi. Mana sarapannya?” tanya Dewa. “Beli saja sana. Memangnya Mas Dewa kira Dwi ini pembantu!” jawabnya. Dewa menghela nafas lalu memilih berangkat bekerja dengan perut kosong dibandingkan berdebat dengan Dwi. Mereka berangkat terpisah karena tidak mau hubungan mereka diketahui oleh karyawan lainnya. Dan untuk pagi ini Dewa harus naik taksi karena sudah tidak ada mobil lagi. Tanpa Dewa sadari dirinya sudah mulai mendapatkan apa yang dia tabur kepada Arsyana. Dan perlahan kehidupan Dewa akan hancur karena ulahnya sendiri. Arsyana pagi ini memilih berdiam diri di dalam kamarnya sambil menyembuhkan luka yang begitu menganga di dalam hati dan perasaannya. Arsyana begitu sakit hati sambil terus berdoa kepada sang ilahi untuk diberikan petunjuk atas sikap Dewa kepadanya. Tepat di hari ketiga surat sidang cerai dari Arsyana untuk Dewa akhirnya ke luar juga. Anak buah ditugaskan untuk mengantar surat cerai itu ke rumah ayah Idris ketika malam hari karena jika selain malam, ayah Idris sedang bekerja. Dewa tidak tahu jika Arsyana sudah mendaftarkan perceraian mereka ke pengadilan agama. “Siapa kamu? Dan ada keperluan apa kamu mencari saya?” tanya ayah Idris kepada anak buah papi Victor. “Saya salah satu anak buah tuan Victor, Tuan Idris. Dan saya ke sini ingin memberikan ini kepada Anda,” jawab sang anak buah sambil menaruh surat perceraian Arsyana dengan Dewa di atas meja “Surat apa ini?” tanya ayah Idris. “Anda bacalah sendiri,” jawabnya. Ayah Idris membaca lalu membukanya. Setelah tahu apa isinya, mata ayah Idris melotot lebar sekali. “Apa? Cerai!” seru dan teriak dari ayah Idris. “Tidak. Pasti ini salah,” kata ayah Idris. “Ini tidak salah, Tuan. Ini kenyataan,” jawab anak buah itu lagi. “Setahu saya rumah tangga mereka baik-baik saja.” Jawab ayah Idris. “Kata siapa baik-baik saja,” sahut papi Victor yang sudah bersembunyi sejak tadi. “Mas Victor,” sapa ayah Idris. “Saya tidak ridho dan tidak ikhlas putri saya masih menjadi istrinya Dewa!” tegas papi Victor. “Tunggu dulu, Mas. Apa yang sebenarnya terjadi?” ayah Idris sangat penasaran sekali. “Akan saya kasih tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Jawab papi Victor. “Arsyana. Masuklah,” panggil papi Victor lalu Arsyana yang tadi bersembunyi bersama papi Victor langsung ke luar. Mata ayah Idris melotot lebar melihat wajah Arsyana penuh dengan luka lebam. “Siapa yang melakukan itu kepadamu, Arsyana?” tanya khawatir dari ayah Idris. “Mas Dewa,” jujur Arsyana. “Tidak mungkin Dewa sampai main tangan kepadamu,” ayah Idris tidak percaya. “Mas Idris boleh tidak percaya. Sekarang katakan kepada saya, selama tiga hari ini di mana Dewa tinggal sedangkan saya sudah mengusirnya dari rumah,” kata papi Victor. “Mas Victor mengusirnya?” seru ayah Idris. “Tapi Dewa tidak pulang ke sini sejak kemarin,” kata ayah Idris. Tiba-tiba Maya datang. “Halah palingan itu sengaja dilakukannya sendiri supaya punya alasan untuk bercerai dengan mas Dewa.” Ucap pedas darinya. Arsyana yang tidak terima, lalu mendekatinya dan menamparnya. Plak! Suaranya nyaring sekali sampai membuat Maya menoleh ke samping. Bersambung ….
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD