AKTING DEWA

1390 Words
Maya sangat tidak terima sekali ketika sudah ditampar oleh Arsyana. Tentu saja dia ingin membalasnya tapi bisa Arsyana tepis dengan mudah. “Sejak awal menikah dengan mas Dewa, saya tahu jika kamu sama sekali tidak menyukaiku karena mas Dewa lebih memilihku dibandingkan temanmu. Tapi apakah matamu buta tidak bisa membedakan mana yang saya lakukan sendiri atau dianiaya oleh mas-mu itu!” seru, tegas dan dingin ucapan Arsyana sambil menatapnya tanpa berkedip. “Perawatan, skincare dan semuanya untuk tubuhku saja perbulan sangat mahal sekali, lalu saya seenaknya sendiri melukai wajahku hanya demi bisa bercerai dengan mas Dewa. Bodoh kamu, Maya!” “Saya tidak sebodoh dirimu!” hina Arsyana. Arsyana menoel kepala Maya. “Makanya otak bodoh itu sejak dulu harus dibuang, bukannya disimpan terus!” sindirnya sangat pedas. Maya tersulut emosi, lalu dia berujar. “Iya. Saya memang tidak menyukaimu. Kamu sok cantik, sok kaya dan sok pintar!” teriaknya. “Memang saya kaya, cantik dan pintar!” jawab berteriak dari Arsyana. Arsyana tidak mau ditindas oleh Maya atau orang lain, selagi dia benar Arsyana akan mempertahankan segalanya. Karena suara teriakan mereka berdua membuat mama Juni ke luar dari dalam rumah. Mata mama Juni melotot melihat wajah Arsyana yang babak belur begitu. “Arsyana. Ada apa dengan wajahmu itu?” tanyanya. Arsyana menoleh ke arah sang mama mertua. “Jangan sok baik di hadapan Arsyana, Ma.” Ucapnya. “Kalian berdua sama saja. Mama selalu baik jika ada Ayah dan mas Dewa. Kalau tidak ada, Mama akan mencaci maki Arsyana karena Arsyana belum kunjung hamil sampai sekarang,” ujarnya dengan nada datar. Mama Juni terlihat ketakutan. “Apa yang kamu katakan, Arsyana.” “Semua itu tidak benar, Mama cuma khawatir dengan kalian berdua karena belum kunjung punya anak,” alasan mama Juni karena takut ada sang suami yang sedang memperhatikannya. “Stop, Ma. Stop!” bentak Arsyana membuat mama Juni terkejut. “Arsyana! Yang sopan dong sama Mama. Mama ini lebih tua darimu!” ucap Maya. “Maya!” bentak ayah Idris. “Kamu juga yang sopan sama Arsyana. Bagaimanapun juga Arsyana ini kakak iparmu!” tegur ayah Idris membuat Maya terdiam. “Arsyana, Mas Victor. Ayo kita duduk dulu dan bicarakan masalah ini dengan baik-baik,” ucap ayah Idris. Papi Victor menganggukkan kepalanya, lalu dia bersama Arsyana duduk bersebelahan. “Mau minum apa, Mas?” tanya ayah Idris. “Tidak perlu, saya tidak haus. Dan saya ke sini tidak ingin minta minum kepada kalian,” jawabnya dingin. “Kalau begitu saya mau menghubungi Dewa dulu untuk pulang ke rumah,” ucap ayah Idris dan papi Victor hanya mengangguk saja. “Kalian berdua jangan pergi. Duduk di sini dan diam saja!” tegas ayah Idris kepada Maya serta mama Juni. Ayah Idris lalu masuk ke dalam untuk menghubungi Dewa. Dewa sendiri saat ini sedang makan malam bersama Dwi. Pandangan Dewa teralihkan ke arah ponselnya. “Dari ayah,” ucapnya kepada Dwi. Dewa langsung mengangkatnya. “Assalamu’alaikum, Ayah.” “Wa’alaikumussalam. Dewa cepat ke rumah Ayah sekarang juga.” Perintahnya. “Dan sekalian ajak Arsyana, karena ada yang ingin Ayah sampaikan kepada kalian berdua,” ucapnya. Mendengar ucapan sang ayah, Dewa sangat kebingungan sekali karena sudah tiga hari dirinya diusir oleh Arsyana dan tidak bisa bertemu dengannya. “Lusa saja bagaimana, Yah?” pinta Dewa. “Tidak ada lusa. Sekarang dan malam ini juga Ayah tunggu di rumah. Awas saja jika kamu tidak datang, Ayah akan datang ke rumah kalian!” tegas ayah Idris. “Iya baiklah Dewa akan ke sana sekarang,” jawab pasrah dari Dewa. “Iya, Ayah tunggu,” jawab ayah Idris lalu sambungan teleponnya terputus. Dewa sangat takut sekali karena disuruh datang bersama Arsyana. “Mas mau pulang dulu. Ada yang ingin ayah bicarakan sama Mas,” pamitnya kepada Dwi. Dwi menganggukkan kepalanya. “Semoga saja ada pembagian harta warisan untuk Mas Dewa.” Ujarnya dan hanya harta yang Dwi inginkan. Dewa menghela nafasnya dan tidak mau menjawabnya lalu dia pergi meminjam mobil milik Dwi. Sedangkan ayah Idris tadi lalu ke luar dan duduk kembali di ruang tamu rumahnya. “Tunggu sebentar, Mas.” “Dewa sedang perjalanan ke sini,” ucapnya dan papi Victor hanya mengangguk saja. Selama munggu Dewa mereka berlima tidak ada yang berbicara sama sekali. Papi Victor diam santai sambil menyilangkan kedua tangannya di atas perut, Arsyana diam menunduk menahan rasa sakit semuanya. Dan untuk mama Juni serta Maya juga tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dengan pemikiran masing-masing. Sekitar empat puluh menit kemudian akhirnya Dewa sampai juga di rumah sang ayah. Dewa memperhatikan mobil mewah yang terparkir di halaman rumahnya. “Sepertinya aku kenal dengan mobil ini? Tapi milik siapa? Aku lupa,” gumamnya. Dewa terus melangkah dan masuk ke dalam rumah. “Assalamu … “ salam Dewa terhenti ketika melihat Arsyana dan papi mertuanya ada di ruang tamunya. Mata Dewa melotot lebar sekali melihat mereka berdua. “Duduk, Dewa!” seru ayah Idris. “Sayang. Kenapa dengan wajahmu?” tanya pura-pura dari Dewa sambil berjalan mendekatinya. Arsyana menepis tangan Dewa ketika dia akan menyentuh wajahnya. Arsyana begitu jijik sekali melihatnya. Arsyana semakin sakit hati melihat wajah tidak bersalahnya Dewa bahkan dia masih bisa pura-pura bertanya kepadanya. “Mas Dewa masih bertanya kenapa dengan wajahku?” ucap dingin dari Arsyana. “Mas ‘kan ke luar kota tiga hari, Sayang. Dan pulang tadi tidak melihatmu, lalu ditelepon sama Ayah untuk ke sini. Kamu kenapa?” Dewa benar-benar pintar memutar balikkan fakta. Arsyana menatap tidak percaya dengan laki-laki yang pernah sangat dicintainya itu. “Mas.” “Kenapa Mas Dewa pintar sekali berbicara!” seru Arsyana. “Sudahlah, Arsyana!” sahut Maya. “Lihat sendiri ‘kan apa kata Mas Dewa tadi. Kamu saja yang mengada-ngada,” kata Maya. “Maya. Rumah sakit buka dua puluh empat jam. Jika kamu tidak bisa sopan dengan Arsyana, saat ini juga saya akan menyuruh anak buah saya untuk membawamu ke ruang operasi supaya mulutmu dijahit rapat selamanya,” tenang, santai tapi dengan tatapan menusuk sudah membuat Maya terdiam dan nyalinya menciut. Mama Juni berbisik kepadanya. “Diamlah,” bisiknya pelan dan Maya tidak bisa berkutik. “Ayah. Apa yang sebenarnya terjadi?” Dewa memasang wajah polosnya yang seakan-akan dia tidak tahu apa-apa. “Darimana saja kamu selama tiga hari ini?” tanya ayah Idris. “Dewa ada ko’, Yah. Dewa ke luar kota karena ada pekerjaan. Dan baru saja sampai rumah tapi tidak melihat Arsyana di rumah,” jawabnya tenang tidak seperti sedang berbohong. “Bohong!” teriak Arsyana. “Jelas-jelas Mas Dewa sudah berbohong, Ayah!” ucap Arsyana lagi. “Sayang. Bohong apa sih yang kamu katakan?” tanya Dewa. “Selama ini Mas sudah bersabar lho dengan sikapmu yang berselingkuh di belakang Mas. Tapi Mas hanya diam saja dan mencoba mengalah menerimamu lagi.” Arsyana menggelengkan kepalanya sambil menahan rasa geramnya. “Kamu berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan Mas menurutinya.” “Sekarang Mas kamu tuduh yang bukan-bukan, apa Mas harus diam saja, Arsyana?” ujarnya membuat Arsyana semakin geram sekali. “Mas Dewa!” bentak Arsyana. “Aku menyesal sudah pernah mencintai Mas Dewa dan menikah dengan Mas Dewa!” teriaknya. “Memangnya kamu pikir Mas Dewa tidak menyesal menikah dengan w************n sepertimu yang suka sekali tidur dengan tuan Pendi!” jawab Dewa. Plak! Arsyana menampar Dewa sangat keras sekali. “Jaga mulut Mas Dewa!” “Seumur hidup hanya Mas Dewa laki-laki yang sudah menjamah dan melihat seluruh tubuh Arsyana,” ujarnya penuh penekanan. Dewa emosi. Ingin sekali menampar balik Arsyana tapi dia tahan sekuat tenaga. “Ayah,” panggil Arsyana. “Sudah lihat sendiri bagaimana sifat dan sikap putra kesayangan Ayah ini.” Arsyana menunjuk Dewa. “Jika Arsyana benar-benar berselingkuh darinya. Lantas kenapa Mas Dewa masih mempertahankan Arsyana?” ucapnya. “Lihatlah ini, Ayah.” Arsyana menaruh bukti yang dia temukan kemarin di pakaian kerjanya Dewa. “Itu bukti check-in dan bukti transferan atas nama Dwi.” “Selain itu Arsyana mendengar sendiri ada seorang perempuan yang menghubungi Mas Dewa dengan kata-kata begitu mesra sekali.” “Arsyana menyuruh Mas Dewa mengaku, bukannya mengaku tapi dia malah memukuli Arsyana sampai babak belur begini,” jelas Arsyana membuat ayah Idris terdiam. “Berkas visum dan perkaranya sudah masuk ke pengadilan dan pengacaranya Papi.” “Ini adalah surat cerai dariku!” Arsyana menunjukkan surat cerainya. Mata Dewa melotot lebar sekali ketika Arsyana menunjukkan surat perceraian darinya. Bersambung ….
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD