#14

1028 Words
Esok paginya Victory bangun begitu cepat, entah berapa jam ia tidur, hanya karena perihal undangan yang ada di tangannya saat ini ia rela bangun pagi dengan kantong matanya yang menghitam. Ia harus bangun pagi jika ingin bertemu dengan mama dan papanya, karena jika ia kesiangan maka ia tidak akan lagi menemukan mama dan papanya karena mereka workaholic saat hari kerja. Seringkali Vic tidak sempat bertemu orang tuanya di pagi hari karena kesiangan. Meski begitu saat weekend mereka akan tetap mementingkan kebersamaan keluarga dan tidak menyentuh pekerjaan apa pun dari perusahaan. Hal itu sudah menjadi komitmen Randy Kim dan Selena selaku orang tua Victory dan kakak perempuan Vic yang bernama Lauren. Bicara mengenai Lauren, kakak perempuan Vic itu sedang mengambil Master of Business di luar negeri. "Pagi... Ma... Pa..." sapa Victory pada ayah dan ibunya yang kini sedang duduk sarapan di meja makan. "Loh, Vic? Kenapa mata kamu? Kamu enggak tidur?" Panik Selena ketika melihat kantung mata anak bungsunya itu. Selena bergegas mengambil es batu dan mengisinya ke dalam kantong kompres. “Vic ini bukan lebam kan? Kamu enggak berantem kan?" Randy menghela napas lelah melihat kelakuan istrinya yang gampang panik itu. "Udahlah Mam... itu dia kurang tidur aja, kalo biru baru deh dia berantem sama orang..." Selena perlahan meletakkan kantong kompres itu di meja, masih menatap anak kesayangannya itu dengan wajah penasaran. "Terus ada apa, Vic? Kamu enggak lagi galau kan?" "Ih, Mama... enggak lah Ma... ya ampun. Aku ngerjain tugas sampe pagi kok Maaah... Paaa..." Sela Victory, padahal memang ia saja yang tidak bisa tidur nyenyak dan bukan mengerjakan tugas. "Manja bener deh ah, anak Mama..." Selena mencubit pipi Vic gemas. Vic mengambil selembar roti dan mulai mengolesinya dengan selai strawberry, ia sedang menunggu waktu yang tepat untuk menanyakan perihal undangan yang ada di saku celananya saat ini. "Oh iya, Pa... besok malam kan pesta di Golden Tower itu? Itu temen kamu kan? Yang istri pertamanya meninggal sewaktu anaknya masih kecil itu... inget ga? Kita juga ke pemakaman waktu itu..." Selena membuka topik. Dalam hati Vic berseru kegirangan, inilah topik yang ia tunggu-tunggu. Yes! Aku yakin nama orang di undangan itu adalah papanya Icha… sama persis dengan nama yang ada di data mahasiswa Icha. Gumam Vic dalam hati. Pada hari sebelumnya Vic menemani Monic mengurus administrasi untuk pindah universitas dan selama menunggu Vic malah menggali informasi tentang Icha dari salah satu karyawan administrasi. "Iya... namanya Pram, sudah lama juga tidak bertemu Pram. Kabar terakhir dia sibuk dengan bisnisnya yang di Dubai... sampe sekarang pun perusahaan kita masih ada kerja sama kok sama perusahaannya Pram." Jelas Randy. "Oh iya, Pa... aku nemuin undangan ini di depan. Ini undangan dari orang yang papa dan mama bahas sekarang kan?" Tanya Vic sok polos sembari menunjukkan undangan itu di atas meja makan. Randy mengangguk ketika melihat undangan dengan desain premium itu. "Iya benar, Vic." "Aku boleh ikut juga enggak, Pah? Anaknya Om yang mau nikahan ini temenku di kampus hehe..." Vic memasang wajah penuh harap. "Hmmm... boleh-boleh aja sih, ya kan Pah?" Selena mengiyakan namun kembali melempar pertanyaan itu ke Randy Sepertinya Selena menaruh sedikit kecurigaan pada Vic. Anak bungsunya itu tidak suka pergi ke pesta formal seperti itu, namun sekarang malah meminta ingin ikut. Terlebih Vic menyebut anak Pram adalah temannya di kampus, hal itu menambah poin rasa penasaran Selena. "Oke, kamu perlu setelan formal. Mungkin jas yang bagus..." Jawab Randy, ia menyetujuinya. "Tapi... mata kamu itu loh, kompres pakai apa kek, masa anak ganteng Papa pergi ke pesta dengan kantung mata begitu..." lanjut Randy, ia terbahak setelah menggoda anak lelakinya itu. "Oh my god! Iya pah..." Vic meletakkan kembali roti di tangannya lalu bergegas pergi ke kamarnya, entah apa yang akan dilakukannya dengan kantung mata itu. Sepeninggal Vic, Randy dan Selena hanya bisa saling pandang dan tertawa. Mereka mengakui bahwa anak lelaki mereka itu memang selalu bertingkah aneh. "Pa, anaknya Mas Pram itu cewek apa cowok sih?" tanya Selena kepada suaminya. Randy mengingat-ingat sejenak, "Setau aku cewek sih Ma... anaknya Pram cuma satu." Selena manggut-manggut dengan senyum tipisnya, tampak dari wajahnya ia ingin tau lebih banyak info lagi. "Ada apa ma? Kok kayak penasaran banget?" Tanya Randy. "Entahlah Pa, kayaknya Vic udah mulai suka sama cewek yang ini deh, inget kan gimana Vic enggak suka banget waktu kita jodohin sama anaknya Ardhan CEO Perusahaan East.Inc?" Selena mengingat-ingat. "Iya, Ma... aku pikir itu kesalahan terbesar kita sebagai orang tua. Demi bisnis malah mengorbankan Vic untuk tunangan, akhirnya enggak berhasil bukan? Vic jadi anak yang pemberontak... kamu merasa enggak? akhir-akhir ini Vic berubah kembali ramah..." Jelas Randy, ia mengusap keningnya pelan. Terlihat ada penyesalan dari raut wajahnya. Selena menepuk-nepuk bahu suaminya itu untuk menenangkannya. "Tidak usah dipikirkan lagi, Pa... semua udah berlalu juga, kita saja yang gegabah dan keadaan waktu itu ekonomi perusahaan sedang sulit." "Kamu tau nggak Ma? ternyata Pram yang invest dana buat kita waktu itu... makanya pas Vic bilang dia mau batalin pertunangan dengan Monic ya... aku oke-oke saja." Selena menarik napas panjang. "Menurut anak buah Papa, Monic pindah ke Elite University dan udah berapa hari menempel terus ke Vic.” "Ya sudah, Ma...biarin aja Vic mengurus masa mudanya dia saat ini... Papa yakin dia anak yang baik, dia pasti paham benar apa yang terbaik untuk dia," Randy meyakinkan Selena yang tampak murung. Selena pun hanya bisa menjawab penjelasan suaminya itu dengan anggukan. - Di kampus, Icha merasa aneh dengan tatapan warga kampus yang berpapasan dengannya. Dalam hati Icha jadi bertanya-tanya, ada apa gerangan? Kenapa mereka menatap Icha lalu berbisik-bisik satu sama lainnya. Ada apa ya? Memangnya ada yang salah? Batin Icha. Gadis itu bahkan mengecek tampilannya ketika melewati cermin besar di lobi universitas namun ia tidak menemukan keanehan apapun yang tampak disana. "Cha! Tunggu Cha!" itu suara Rere. "Loh, Reee kenapa? Kok ngos-ngosan gitu?" Icha pun ikut penasaran, apa yang membuat temannya sampai sebegitu paniknya. "Liat cha! Kamu ada di postingan website kampus..." jelas Rere. Dengan cepat Icha mengambil ponselnya lalu membuka website ELITE UNIVERSITY, dan benar saja namanya terpampang disana dengan tudingan sebagai penyebab batalnya pertunangan dua orang anak konglomerat yang paling top di seantero kampus. "Aruna Yeorisha, cewek yang menyebabkan pertunangan Victory dan Monic batal??? WHAT?!" Kaget Icha. "Ini gila banget sih Cha!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD