Tie 68

2284 Words

Aku kembali. Dalam naungan langit senja, aku berdiri di atas trotoar sebuah kota tua di bawah cabang-cabang ranting dengan kelopak kuning. Ku tatap jauh jalan di depanku, memutar ingatanku ke belakang, menyusuri kembali bagaimana perjalanan yang telah ku tempuh hingga sampai ke sisi kehidupan ini. Rasanya seperti melintasi lorong gelap dan pengap, tak jelas ke mana perjalanan ini akan mengarah. Tak ada yang menarik perhatian selain suara jerit dan tangis yang memekakkan telinga, dan sorotan cahaya kecil jauh di sana -yang ku pikir hanya itu jalan ke luar yang ada. Seketika ingatanku berputar ke belakang dengan cepat, dan kenangan tentang kami berdua tumpah ruah dalam kepalaku. Aku ingat bagaimana dulu dia mendampingiku saat penelitian, menemaniku saat di perpustakaan, dengan tekun mendeng

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD