Tie 55

2269 Words

Di situ, kau selalu duduk di situ. Menatap ujung dari langit lembayung dengan batas pandang yang bertemu dalam satu titik horizon. Apakah sangat indah? Ah, Memang indah. Kau bahkan selalu datang. Air yang beriak-riak kecil seakan tertawa bersama lelucon angin. Sinar-sinar lembayung itu menambah cantiknya air danau, iya kan? Kau bilang, tidak ada hari yang lebih indah jika tidak menghabiskan waktu sore menikmati indahnya matahari yang mencium ujung horizon. Kembali bertugas pada belahan dunia yang lain. Menidurkan, resah yang menghantu setiap hari. Ya, terkadang memang masalah tak akan pernah berhenti mengetuk pintu dan meminta untuk segera dirampungkan. Tapi, kau, datang kesini dan ikut mencumbui lembayung dengan senyummu yang anggun, seakan kau tidak peduli akan rasa resah yang menghant

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD