"KIRANA!" panggil seseorang dari belakang Kirana, Nisa dan Gita.
Mereka bertiga menoleh bersamaan, "Eh bang Digo," ucap Kirana.
Gita dan Nisa hanya saling pandang saja. "Kamu mau pulang kan aku antar ya karena biasa nya jam segini udah gak ada angkot," tawar Digo.
"Emmm ." Kirana tampak berpikir dia juga gak enak dengan kedua teman kerja nya yang baru dia jumpa.
"Maaf bang Kirana sama teman kerja Kirana aja naik Angkot atau grab bang," tolak halus Kirana.
"Eh Kirana kamu duluan aja kami gampang kok karena kita berdua searah satu kos lagi, justru kami berdua khawatir sama mu Kirana udah terima aja tawaran dari pak Digo," kata Nisa.
"Benar kalian gak papa nih aku tinggal?" tanya Kirana merasa gak enak dengan kedua teman kerja nya.
"Benar!" kompak Gita dan Nisa.
"Ya udah kalian hati- hati ya," ucap Kirana.
"Saya duluan Gita, Nisa, " pamit Digo.
"Iya pak, hati - hati juga kir," kata mereka berdua.
Digo pun membuka pintu mobil nya, Kirana langsung masuk ke dalam mobil tersebut.
Digo menurut pintu mobil dan berjalan masuk ke tempat duduk mengemudi. Gita dan Nisa memadang mobil atasan nya yang mulai menjauh dari pandang mereka.
"Gita gimana nih angkot tidak ada?" tanya Nisa.
"Oh tenang Besty kita naik motor di belakang tadi nya kukira bakal berdua eh ada Kirana gak enak dong harus nunggu angkot Kirana ada, tapi malah pak bos datang untuk tawarkan tumpangan ke Kirana. Yuk buruan gue ambil motor nya dulu Lo tunggu sini oke," ucap Gita.
Nisa menunggu Gita di depan pintu lobi, Gita datang dengan motor listrik milik hotel jika beli makanan untuk para staf hotel.
"TARAAA ini dia yang ku maksud." Gita memperlihatkan motor listrik ke Nisa.
"Keeeren." di anjungi jempol sana Nisa
"Yuk naik Nis," suruh Gita menuju jok bagian belakang.
Nisa pun naik ke motor listrik itu,"Dah Jum kita pergi." Gita meluncurkan motor listrik dengan kecepatan tinggi.
Di sisi lain Kirana yang berada di dalam mobil Digo. "Bagaimana tadi Kirana kerja nya nyaman gak?" tanya Digo memecahkan keheningan sesaat.
"Nyaman kok bang, sekali lagi Kirana terima kasih ya bang udah kasih kerjaan ini," ucap Kirana.
"Ya kalau nyaman syukurlah lagian aku cuman bantu teman dari sepupu ku jadi is oke," sahut Digo.
"Eh ini jalan ke kos kosan mu mana?" tanya Digo memperhatikan jalan.
"Itu ada kompleks S lurus aja ada persimpangan nah disitu nah belok kiri nah situ ada kos kosan di situ kos kosan Kirana," jawab Kirana menjelaskan alamat kos kosan nya.
Digo pun mengikuti intrusi dari penjelasan Kirana. Setelah beberapa menit kemudian Digo sampai di kos kosan Kirana.
Digo berhenti pas dekat kos kosan Kirana." Terima kasih ya bang udah antar Kirana," ucap mau buka pintu mobil.
"Iya sama - sama oh iya besok kamu pergi kerja kan mau di jemput?" tawar Digo.
"Gak usah bang karena kan Kirana pagi kuliah sedangkan baru siang pergi kerjanya. Abang pasti sibuk kan saat siang tiba?" tolak Kirana dengan halus.
Digo memikirkan perkataan Kirana." ya udah kalau gitu aku pulang dulu Kirana," pamit Digo.
Kirana sudah keluar dari mobil Digo.
Kirana pun berdiri sambil menunggu Digo pergi dari kos kosan nya. Selepas kepergian Digo Kirana masuk ke dalam kos kosan.
SEMINGGU KEMUDIAN
Banyak hal yang terjadi selama seminggu Kirana berkerja di hotel WINNER. Tapi dia bersyukur mendapatkan teman kerja yang sangat baik dan humoris.
Tak hanya itu aja beberapa kali kerap Digo berusaha mendekati Kirana. Kirana cukup risih tapi dia juga tidak peka terhadap niat Digo yang ingin mendekati nya.
Seperti hal nya saat makan siang kadang Digo menghampiri Kirana untuk mengajak nya makan siang. Kirana cukup kaget dia takut para karyawan hotel ini pada menilai nya yang tidak-tidak.
Tapi Kirana menolak semua yang di lakukan sama Digo ya Kirana menolak nya dengan halus.
Kirana yang sudah bersih- bersih lantai atas. Dia berniat untuk makan siang dengan teman kerjanya. "Loh tumben bang Digo gak kemari biasa nya ngebet banget mau makan siang dengan ku," gumam Kirana celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri mencari Digo biasa jam makan siang menghampiri nya.
"Alhamdulillah akhirnya dia nyerah juga harus banget ya ngebet gitu buat bisa makan siang bareng ku. Kayak nya ngadu ke Fera ads guna nya juga tapi aku merasa gak enak dengan bang Digo ah sudahlah mending aku makan dari pada mikirin bang Digo lagi buatlah itu jadi urusan nya Fera." dengan langkah riang Kirana berjalan menuju ke party untuk menemui teman kerjanya itu.
Langkah Kirana berhenti saat melihat banyak orang berbaris rapi di lobi dengan stelan jas. Kirana menebak orang-orang yang berbaris rapi memajang dari kedua sisi hingga menyisakan bagian tengah yang kosong dengan di gelar karpet merah.
"Ajegile ada apa nih kok pada berbaris rapi kayak mau nyambut presiden aja," gumam Kirana melihat para staf karyawan hotel WINNER berdiri depan lobi.
"Udah ah mending aku langsung ke ruangan party." Kirana berjalan menuju ke ruangan party tanpa memperdulikan sekitarnya.
Baru beberapa langkah Kirana berjalan sudah berhenti saat sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan pintu lobi hotel di luar.
Keluar lah seorang pria dengan stelan jas mewah bahkan harganya kisaran ratusan juta. Pria itu membetulkan kancing jas nya.
SELAMAT DATANG PAK CEO!" serempak mereka semua pada membungkuk hormat. Kirana bisa melihat Digo yang bercegrama dengan pria yang di sebutkan sebagai CEO di hotel ini.
"Apa bang Digo gak nyamperin aku karena dia sibuk nyambut CEO ini ya," menolog ke diri nya.
Pria itu berjalan dengan di samping pria bisa Kirana tebak sekertaris atau apa, Digo berada di belakang bersama tiga orang yang merupakan petinggi hotel WINNER.
Kirana seolah terhipnotis dengan ke tampan dari pria itu hingga dia enggan untuk berpaling sesaat. Semua Staf karyawan pada membungkuk hormat saat pria itu lewat memasuki lobi hotel.
Baru pria itu melangkah sudah berhenti di tegah- tegah jalan. Pria itu justru tiba- tiba menoleh ke arah nya.
SET
Seketika kedua manik mata Kirana dan pria itu bertemu. Digo, sekertaris dan ketiga petinggi hotel pada berhenti juga dan menoleh ke arah mana pria itu menoleh.
Digo melotot tak percaya bahwa CEO itu melihat ke arah Kirana. Digo dengan segera memberi kode agar Kirana membungkuk hormat. Kirana tersadar dari lamunannya dan dia melihat kode dari bang Digo langsung sepontan membungkuk hormat. Sesat kemudian baru pria itu lanjutkan jalan nya kembali.
Digo pun bernafas lega karena berhasil membuat Kirana terhindar dari masalah besar.