TERJAL
Luka dalam beradu
Berbentur santap sayang
Berbaring gurat lara
Menjejak rindu
Menangis pilu
Ku lelaki lara mencari cecap cinta
Tak kutemukan hanya hampa
Cinta yang ku cari ada pada nya
Dia yang terasuki
Dia yang kubenci
Entah... ini nafsu
Atau segenggam rindu dendam yang membuat aku panas
Setiap mereka yang memberiku tumpangan
Hanya dengan membayangmu saat terakhir lah
Dapat kuselesaikan perjalanan singkat ini
Sebotol Jack Daniels kosong terlempar ke ujung dipan, dan ini sudah botol keempat tapi pikiranku melayang entah kemana. Sore ini kuhitung sepuluh kali missed call dari Papa.
Tumben ? Tentu saja prof. dr. Hariyanto widad liem spkj tidak akan menelpon aku sang anak terbuang. Sang penenun mimpi semu, sang pemburu nafsu, yang memalukan keluarga besar Liem. Hati ini tiba-tiba bergerak resah.
Teringat apa yang kutinggalkan di Indonesia, bukan hanya Jakarta tapi hati ini sebagian tertinggal di Salatiga. Kota kenangan yang haru biru membuatku lebam-lebam. Mengingatnya darahku mendidih, sekaligus menggigil, sungguh, rindu dan benci teramat sangat. Tercampur jadi satu membuatku tersiksa sekaligus hampa.
"s**t," sesosok tubuh tinggi menendang botol-botol itu.
"I supposed to say that TJ, what the hell are you doin?" Tatapnya nyalang, sembari merutuk dalam gelap suara lelaki beraksen asia ini mencengkeram bajuku dan melemparkan hoodie yang terserak di lantai. "Dude, please get help"
Lagi, kutergugu dalam gamang, kenapa tak ada yang sepertinya? Ia perempuan sial namun tak jalang. Dan baru kusadari kemudian selama lamunanku tadi tanganku tetap bergerak menenggak tetes terakhir di botol, Ini ternyata yang membuatku semakin rakus dan haus. Lalu, dengan sisa sadarku mengingatnya, sebentuk rambut mayang terurai dibahunya senandung asmarandana mengalun lembut di kepalaku. Melatarbelakangi adegan alkohol memangsaku. Selintas, kulihat burung biru melayang di jendela seakan musim dingin di Los Angeles adalah rumahnya.
*********
Berkat botol-botol itu, aku dapat tidur pulas malam itu. Dalam mimpiku aku serasa berada di awang-awang. Tubuh ini ringan seringan kapas. Aku berjalan perlahan di undakan yang entah kenapa aku kenal betul. Suasana sepi nan bersahabat ini membangkitkan syaraf-syarafku. Undakan semen ini, seketika sepasang anak remaja berjalan melewatiku.
"Mas, ojo cepet-cepet.."
"Mas? Panggil koko apa abang dong masak mas?" Hahaha
"Gak ah aku ga biasa, emange mau kemana to?"
"Ni lho mo cari cahaya buat motret, ni klenteng bagus dipotret waktu sore ni"
Lalu si remaja ini mengeluarkan kamera analog merek kodak yang aku kenal betul. Seketika mataku terasa panas dan ulu hatiku terasa sangat nyeri. Aku kenal betul kamera itu, suasana sore itu.
Dengan sigap remaja lelaki ini bersiap memotret figur bangunan kuno ini, yang terasa agung dan lembut diguyur semburat lembayung senja. Seketika kameranya menangkap objek yang jauh lebih menarik. Suara klak klik kamera analognya tak mempengaruhi sang objek yang sedang cemberut. Remaja lelaki bertubuh tambun dan bermata sipit ini lalu tersenyum penuh arti.
Ingin aku berteriak jangan memotretnya, jangan berdiam disini terlalu lama. Jangan memandangnya terlalu lama, ingin aku berteriak mencegahnya. Namun suaraku hanya berhenti diujung mulut. Tubuhku terasa kaku dan aku terlambat..
Remaja perempuan berparas ayu ini menoleh dan tiba-tiba mata bulatnya bersinar-sinar. Tak hanya remaja lelaki itu aku pun terperangkap dalam momen ini. Akupun demikian, dengan latar belakang bangunan klenteng yang menggelap, wajah ayunya tersiram cahaya jingga. Sungguh indah, dia tersenyum dan menempelkan ujung jarinya ke bibir remaja lelaki itu ketika aku dan dia bergerak mendekatinya.
"Ssst, dengerin ini mas..sepuluh menit wae"
Entah kenapa kami berdua menurut. Apa yang kami dengar selanjutnya sungguh magis.
Di ujung timur kami dengar suara gamelan gendhing jawa di pendapa kecil tempat latihan tari jawa yang sudah terdengar sejak kami sampai. Setelah gong terakhir tanda selesai satu tarian, ganti bersautan suara lonceng gereja di sebelah barat mengalun lembut sebanyak lima kali dengan rentang jarak yang lama seakan sesuai dengan ritme setelah lonceng ke lima berdentang,tak lama bersaut suara kumandang adzan maghrib yang indah. Sungguh indah, kulihat remaja lelaki itu masih terdiam. Syahdu, lalu dengan pekikan kecilnya remaja perempuan itu menarik tanganya.
"Ini puncaknya mas, liat itu di Jakarta nggak ada lho" aku dan remaja ini mengikuti pandangannya ke ujung gapura klenteng dimana ada hiasan berbentuk burung berwarna merah seakan berubah warna ketika senja menyentuhnya.
"Burung Biru" desis kami bersamaan.
Si cantik itu bergerak lincah memutar tubuhnya menarik tangan remaja lelaki dan bergumam.
"Ayok aku traktir maem nasi godog".
Terlambat aku dan kamu telah jatuh cinta padanya.
********
Pelan aku menutup laci meja kamarku setelah aku mengambil passportku. Berjalan selangkah aku kemudian menutup walking closetku.
"Where are you goin"
Tatap Malik penuh selidik.
Aku meringis dan mengepulkan asap rokokku padanya.
"f**k, you smell like weed, man seriously get sober"
Dan aku memenuhi panggilan itu, menemui Burung Birukah? Atau sekedar mencari damai? Entahlah namun satu yang pasti aku bukan lagi remaja lelaki tambun bermata sipit yang ada di klenteng itu lagi