*PoV Kiranti*
Hari ini hari kamis, beberapa hari lagi menjelang hari minggu. Yang artinya beberapa hari lagi menjelang pernikahanku dengan Om Erick. Aku lebih suka memanggilnya Om Erick atau Om Awen. Ketimbang embel embel lainnya. Entah itu mas atau kangmas sesuai daerah asalku.
Ataupun Koko sesuai asal usul si Om. Entahlah sudah jadi kesenangan bagiku memanggilnya Om. Walaupun secara umur si Om tidak tua tua amat. Baru 32 tahun sebentar lagi 33 tahun. Beberapa bulan lagi lah sesuai KTP si Om yang diperlihatkan padaku. Semalam aku sulit tidur. Gara gara keisengan si Om. Perkataannya memang hanya untuk mengusiliku. Tapi yang lain kan jadi salah paham. Belum lagi dari kamar misteri sebelah kamarku samar samar terdengar suara. Memang hanya terdengar samar tapi aku jadi takut. Mungkin hanya perasaanku saja.
Pagi ini aku kembali bangun seperti biasa. Langsung ke dapur setelah mandi dan merapikan kamarku. Ibu sudah di dapur bersama para ART sepertinya telah bersiap memasak. Aku memang sedikit terlambat hari ini.
Kami akan memasak kuetiau goreng sesuai keinginan Erick dan Papa yang disampaikan mereka waktu malam malam. Semalam aku sempat nonton tutorial memasaknya di youtube sebelum berbincang dengan Om. Seharusnya tidak begitu susah. Kuetiau dan bahan bahan sudah siap rupanya. Aku pun hanya perlu memasak saja. Tidak butuh waktu lama, Kuetiau goreng pun siap. Cuma aku tidak tahu enak atau tidak. Ini kan perdana aku masak kuetiau goreng. Kuetiau aku masukkan dalam mangkuk besar seharusnya cukup untuk sarapan 10 orang.
Om Erick, Papa, Mama, Yanto dan Ayah ternyata sudah di meja makan. Segera aku hidangkan kuetiau yang baru aku masak. Ku sendok memindahkan ke piring satu per satu. Sampai semuanya mendapat bagian sendiri. Tidak lupa juga bagian Ibu sudah aku siapkan. Yang terakhir baru aku menyendok bagianku. Masih tersisa banyak. Biarlah nanti kalau ada yang mau bisa nambah. Kalaupun sudah tidak ada yang mau. ART boleh memakannya.
Lagi sarapan terdengar handphone si Om bunyi. Dia pun segera mengangkatnya.
"Hallo pagi Nai. Ada perlu apa? "
"Kapan?"
"Pagi ini tidak bisa ada rapat. Nanti siang jam makan saja gimana?"
"Ok."
"Nanti saya usahakan minta Kiranti membuatkan untuk NaiNai lagi."
"Bye. Sampai jumpa nanti."
Itulah kalimat yang diucapkan Om Erick. Karena aku tidak mendengar suara dari seberang. Jadi aku tidak tahu yang diucapkan oleh NaiNai. Ya tebakanku yang menelepon adalah NaiNai. Karena Om sempat memanggil NaiNai di awal percakapan telepon. Om Erick mematikan telepon.
NaiNai ingin bertemu calon cucu menantunya. kata Om Erick.
"Ya sudah kamu bawa Kiranti ke rumah A Suk mu." sahut Papa.
" Iya nanti jam makan siang kami ke sana." kata Om Erick.
"Tidak ada masalah kan?" tanya Mama.
" Tidak. Hanya NaiNai minta dimasakkan soto ayam lagi. Seperti yang Papa dan Mama bawa hari senin kemarin. Kata NaiNai, Kiranti yang masak." ujar Om Erick.
"Iya. Aku yang masak." kataku.
"Oh. Tapi kenapa kamu tidak ikut Papa dan Mama pergi ke rumah NaiNai hari itu?" tanya si Om.
" Aku tidak enak badan setelah selesai masak. Sebenarnya sebelum masak sih sudah tidak enakan. Cuma tambah parah setelah masak. Akhirnya aku pergi tidur lagi. Malah ketiduran. Papa dan Mama sudah pergi." jawabku.
"Mungkin efek kemalaman dari acara lelang. Maaf ya kamu jadi tidak enak badan." ucap si Om.
"Tidak masalah Om." sahutku.
"Nanti siang setelah masak soto ayam. Kamu ke kantorku saja. Nanti diantar sama Mbak Sri saja. Dia tahu kok kantorku." kata si Om.
"Betul daripada bolak balik. Rumah NaiNai mu tidak searah dengan rumah ini. Kalau mesti jemput Kiranti jadi putar jauh dong." kata Mama.
Aku hanya menurut saja. Mau tahu aku rumah NaiNai. Jalanan kota ini saja aku masih bingung. Maklumlah masih pendatang baru di kota ini. Dan keluar belanja pun bareng si Om atau Papa Mama. Ataupun diantar Mbak Sri.
Selesai masak soto ayam. Aku lihat jam dinding. Jam 10.25. Aku masukkan soto ayam ke dalam rantang spesial untuk makanan berkuah. Sepertinya rantang ini dapat menjaga panas makanan dan anti tumpah. Setelah itu aku pun segera ke kamarku. Berganti pakaian dan berdandan sedikit. Wajar dong mau bertemu calon nenek mertua kan mesti beri kesan yang bagus. Apalagi ini perjumpaan pertama kami. Setelah siap, aku pamit pada kedua orang tuaku. Juga pamit pada Papa dan Mama. Aku menuju halaman parkiran mobil. Mbak Sri telah menunggu di mobil. Sepertinya sudah tahu aku akan ke kantor Om Erick. Aku masuk ke dalam mobil. Mobil pun melaju meninggalkan kediaman keluarga Gunawan.
Sampai di kantor Erick. Mbak Sri menunjukkan jalan ke lobby gedung kantor. Dia berpesan cukup bertanya pada resepsionis. Aku pun segera masuk gedung. Langsung ke lobby mencari resepsionis. Petugas resepsionis tersenyum ramah.
"Ada perlu apa Mbak? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan ramah.
"Saya mau ketemu Om Erick. Eh Pak Erick maksudnya." jawabku.
'Duh aku salah sebut panggilan deh. Ini kan kantor Om Erick' aku membatin.
"Sudah ada janji temu Mbak?" tanya si resepsionis.
Ku lihat name tagnya Larasati. Itu yang tertulis. Jadi namanya Larasati. batinku..
"Ada kok Mbak Laras." jawabku.
Kan memang aku diminta Om Erick datang menjelang tengah hari. Sekarang sudah jam 11.15. Seperti kebiasaanku datang ke tempat acara ataupun dulu sekolah lebih awal daripada waktu yang ditetapkan. Disiplin waktu itulah yang diajarkan oleh Ayah.
"Atas nama siapa Mbak?" tanyanya lagi.
"Kiranti, Mbak Laras." jawabku.
"Tunggu sebentar Mbak. Saya cek dulu." katanya.
"Panggil saya Kiranti saja Mbak Laras. Saya baru 19 tahun. Sepertinya lebih muda dari Mbak."
pintaku.
"Begitu. Baiklah Dek Kiranti." si resepsionis tersenyum ramah.
Dia memeriksa jadwal janji temu. Dan menemukan nama Kiranti di jadwal. Tapi waktunya hampir setengah jam lagi.
"Maaf Dek Kiranti. Jadwalnya 25 menit lagi. Saya coba telepon dulu ke sekretaris Pak Erick. Siapa tahu Pak Erick tidak sibuk sekarang."
Sang resepsionis pun menelepon.
Beberapa menit setelah selesai menelepon. Dia beralih ke Kiranti lagi.
"Maaf Dek Kiranti. Pak Erick sedang rapat dengan klien lain sekarang. Dek Kiranti bisa duduk di kursi ruang tunggu sebelah sana." kata Mbak Laras padaku.
Aku pun segera menuju ke ruang tunggu. Belum juga duduk Mbak Laras langsung datang setengah berlari. Dia memintaku untuk ikut ke ruang kantor Om Erick. Dan menuntun jalan ke ruang kantor Om Erick. Aku pun mengikutinya sampai ke depan pintu sebuah ruangan. Di sebelah pintu terdapat sebuah konter. Terlihat seorang wanita di belakang konter. Sang wanita mempersilahkan Mbak Laras meninggalkan kami. Wanita tersebut memperkenalkan diri.
"Selamat datang Bu. Saya Rina Puspita. Silahkan masuk dulu. Harap tunggu sebentar. Pak Erick akan segera selesai meeting." kata Rina.
"Terima kasih. Bu." ucapku.
Aku pun lalu masuk ke dalam ruangan kantor Om Erick. Melihat sekeliling isi ruangan kantor. Kemudian melangkah ke meja kerja. Aku yakin ini meja kerja Om Erick. Di atas meja terdapat beberapa pigura kecil. Di dalam nya terdapat foto Papa dan Mama. Pigura lain terdapat foto Karen. Kemudian Yanto. Dan sebuah foto gadis kecil mungkin berusia 9 atau 10 tahun. Siapa gadis kecil ini batinku. Aku tidak pernah melihatnya di rumah keluarga Gunawan. Sorot matanya terasa tidak asing bagiku. Kebetulan pula Rina masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu. Dia mengantarkan minuman untukku. Penasaran aku pun bertanya kepada Rina.
"Maaf Bu Rina. Ibu tahu siapa yang ada di foto ini?" tanyaku pula.
Agak ragu sebentar. Akhirnya dia merapatkan diri kepadaku. Setengah berbisik dia berkata kepadaku.
"Maaf jangan bilang saya yang cerita ke Ibu Kiranti. Pak Erick bisa marah kepada saya." jawab Rina.
'Saya janji tidak cerita. sahutku.
Yang di dalam foto itu adalah mendiang adik bungsu Pak Erick. Meninggal di usia 9 tahun. Kalau masih hidup mungkin seumuran anda." jelas Rina.
"Makasih Bu Rina. Saya janji tutup mulut." ucapku.
"Panggil Kak Rina saja. Saya belum terlalu tua untuk dipanggil Bu." sahut Rina.
"Kalau begitu panggil saya Kiranti saja. Jangan pakai Bu. Saya yakin saya lebih muda dari Kak Rina." ucapku.
Kami pun tertawa. Sejak itu setiap kali bertemu, dia akan memanggil saya Dek Kiranti. Saya memanggil dia Kak Rina. Tentu saja tidak di depan Om Erick. Takut si Om marah.
**PoV Erick**
Aku bangun pagi seperti biasa. Mandi dan mengenakan pakaian kerja. Terus turun ke ruang makan untuk sarapan. Terus terang sarapan pagi masakan Kiranti membuatku bersemangat. Sampai di ruang makan. Aku pun duduk menunggu. Papa, Mama dan Ayah telah duluan di ruang makan. Aku lihat Yanto datang juga ke ruang makan. Sejak Kiranti datang ke rumah ini. Yanto memang selalu pulang ke rumah ini. Katanya biar tidak repot bolak balik apartemen
dan rumah bila dibutuhkan untuk membantu persiapan pernikahanku. Apanya yang dia bantu. Dianya hanya sibuk menyusun skripsinya saja. Pulang juga sore kadang malam malah. Pagi sudah berangkat kuliah. Aku yakin hanya modus ngincar sarapan masakan Kiranti juga. Untung Kiranti masak banyak. Jadi semua selalu kebagian. Kiranti datang dengan masakannya. Pertama kali masak kuetiau goreng katanya. Setelah tersaji dipiringku. Aku pun langsung makan dengan sumpit. Enak juga rasanya padahal dia bilang baru pertama kali masak kuetiau goreng. Memang kalau orang berbakat masak. Pertama kali masak biasanya tetap enak. Mungkin hanya perlu merubah penampilan masakannya saja. Lagi makan NaiNai telepon. Terpaksa gue angkat.
"Hallo pagi Nai. Ada perlu apa?" sapaku sekalian menanyakan keperluannya.
"Iya, pagi. Aku mau ketemu Kiranti. Masa sampai sekarang aku belum pernah lihat calon istrimu itu." ketus NaiNai.
"Kapan?" tanyaku singkat.
"Pagi ini kalau bisa. Bawa dia ke rumahku." sahut NaiNai.
"Pagi ini tidak bisa ada rapat. Nanti siang jam makan saja gimana?" tanyaku.
"Bolehlah. Jangan lupa ya." kata NaiNai.
"Ok." balasku singkat.
"Bawakan aku soto ayam seperti buatan Kiranti kemarin." perintah NaiNai.
"Nanti saya usahakan minta Kiranti membuatkan untuk NaiNai lagi." balasku.
"Ku tunggu kedatangan kalian." kata NaiNai.
"Bye. Sampai jumpa nanti. "
Telepon kumatikan. Lanjut sarapan sebentar. Aku menjelaskan keinginan NaiNai untuk bertemu Kiranti dan makan soto ayam buatan Kiranti. Papa dan Mama mempersilahkan aku membawa Kiranti menemui NaiNai. Kiranti bersedia memasak soto ayam. Aku minta Kiranti ke kantor saja. Malas harus berputar jika menjemput Kiranti di rumah. Kiranti menyetujui. Aku pun berangkat ke kantor.
Sampai di kantor. Aku minta kepada Rina untuk menyusun ulang jadwalku hari ini. Aku mau pulang jam makan siang. Jadi setelah makan siang tidak mau terima kunjungan. Aku juga berpesan kepada Rina, apabila ada wanita bernama Kiranti jam 11 lewat datang ke sini. Langsung persilahkan masuk ruanganku. Aku pun masuk ruanganku. Berharap bisa menyelesaikan pekerjaanku sebelum rapat presentasi kerja dengan klien dari kota B.
Jam 9.30 para klien tiba. Aku segera menyambut mereka. Rapat pun segera dimulai. Kami menyampaikan materi bergantian. Jam 11 lewat rapat belum menunjukkan tanda kesepakatan. Aku gelisah karena sudah janji dengan Kiranti. Aku kirim pesan ke Rina via WA menanyakan apakah Kiranti sudah sampai. Awalnya Rina membalas belum. Aku pun berkirim pesan lagi, kalau Kiranti sudah sampai segera beritahu aku. 5 menit kemudian pesan dari Rina masuk Kiranti sudah dalam ruanganku. Untunglah semua urusan rapat beres sebelum jam 12. Mungkin sedikit terlambat sampai rumah NaiNai. Tidak masalah. Hanya cemas Kiranti menunggu kelamaan. Sampai di ruanganku. Kiranti sedang duduk manis sambil minum teh dan makan kue. Aku pun mengajak Kiranti ke rumah NaiNai.