Kiranti mengikuti si Om menuju parkiran mobil. Walaupun merasa lapar dia tetap mengikuti si Om. Padahal sebelumnya di ruangan si Om dia sudah sempat makan 2 potong biskuit dan minum secangkir teh. Tapi memang kalau belum ketemu nasi susah kenyang. Sampai dalam mobil.
"Kita makan dulu Om?" tanya Kiranti.
"Tidak kita langsung ke rumah NaiNai. Kita makan di sana. Tahan dulu laparmu. Paling tidak sampai setengah jam." jawab si Om.
Kiranti mengangguk.
Mereka tiba di sebuah rumah yang cukup besar. Walaupun tidak sebesar rumah Papa. Seorang satpam membukakan pagar. Mobil diarahkan ke halaman rumah. Seorang asisten rumah tangga keluar menyambut mereka. Mempersilahkan mereka untuk mengikuti masuk ke dalam rumah.
Mereka pun mengekori pelayan masuk ke dalam rumah. Si asisten rumah tangga terus berjalan ke dalam ruangan. Setelah melewati ruang tamu. Ruangan yang dituju ternyata ruang keluarga dan ruang makan. Tampak seorang wanita sepuh duduk dengan anggun di kursi meja makan. Erick pun segera memeluknya.
"NaiNai." sapa Erick kemudian.
Lalu dia melepaskan pelukannya. Kiranti pun segera membungkukkan setengah badan.
"NaiNai." sapa Kiranti mengikuti sapaan Erick kepada wanita sepuh tersebut.
NaiNai menganggukkan kepala sebagai balasan sapaan Kiranti.
Wanita sepuh tersebut adalah nenek Erick. Ibu dari Papa Budiman. Erick dan kedua adiknya biasa memanggilnya NaiNai. Wanita sepuh dengan rambut memutih semua. Tapi masih tampak anggun dan elegan dalam balutan busana yang dikenakannya. Penampilannya memberikan aura yang menekan mental orang lain. Memang sangat berkelas. Maklum posisinya adalah Nyonya Besar keluarga Gunawan. Namanya Widya Sari Halim. Dapat diterka dari namanya berasal dari keluarga Halim dan menjadi menantu dari keluarga Gunawan.
"Jadi ini calon cucu menantuku." kata NaiNai.
Sementara mata NaiNai memindai Kiranti dari kepala sampai kaki. Kemudian tersenyum.
"Cantik" gumam NaiNai namun masih terdengar oleh Erick dan Kiranti.
"Terima kasih NaiNai.' balas Kiranti.
NaiNai sedikit tersipu saat menyadari gumamannya masih terdengar.
"Ehemm." dehem NaiNai mengusir rasa malunya tadi.
"Ayo kita makan dulu. Kalian pasti lapar." ajak NaiNai.
Sekaligus bermaksud mengalihkan perhatian dari kejadian sebelumnya.
Mereka segera duduk untuk menyantap makan siang yang sudah tersaji. Dengan 3 piring kosong di posisi masing masing.
Tidak lupa Kiranti menyerahkan rantang berisi soto ayam buatannya. Seorang asisten rumah tangga segera mengambilnya setelah diberi kode gerakan tangan oleh NaiNai. Kiranti hendak mengambil nasi untuk NaiNai dan Erick. Tapi seorang asisten rumah tangga lainnya dengan sigap mendahuluinya. Kiranti sedikit tercengang. NaiNai hanya tersenyum tipis melihat reaksi Kiranti.
"Kalian adalah tamuku saat ini. Jadi asisiten rumah tanggaku yang akan mengambilkan dan menghidangkan makanan untuk kita." jelas NaiNai.
"Dan terima kasih atas soto ayamnya. Jujur tempo hari saya sangat menikmatinya." ucap NaiNai berterima kasih.
Mereka pun makan dengan pelayanan dari asisten rumah tangga NaiNai. Kiranti malah bingung dengan cara makan seperti ini. Tapi dia wajib menyesuaikan diri. NaiNai hanya tersenyum melihat cara makan Kiranti. Dan melihat Kiranti yang belum mengerti tata cara makan berkelas. Sedangkan para asisten rumah tangga menahan senyum dan tawa mereka.
Acara makan siang selesai. Memang berbeda dengan di rumah Papa Mama yang terkesan bebas. Di rumah ini NaiNai memang masih agak kolot. Dengan cara masa lalunya. Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan hidup. Tetapi tidak dengan pemikiran NaiNai yang open minded. NaiNai menerima Kiranti sebagai cucu menantu dengan tangan terbuka. Tidak memandang asal usul seseorang.
Apalagi dia suka dengan prilaku Kiranti yang penuh dengan sopan santun. Tapi bagaimana pun dia merasa perlu mengenal Kiranti lebih jauh. Tidak mungkin mengenal sifat dan prilaku seseorang hanya dengan 1 atau 2 pertemuan saja.
Sekarang mereka bertiga duduk di ruang keluarga. Sebenarnya Kiranti hendak membereskan peralatan makan mereka. Tapi lagi lagi para asisten rumah tangga lebih cepat dalam bertindak. Ditambah sang Nyonya Besar Gunawan melarang. Kiranti pun hanya bisa diam. Melihat para asisten rumah tangga mengerjakan tugas mereka. Erick membuka percakapan.
"Su Suk dan Sing Sing mana Nai? Kok tidak kelihatan." tanya Erick.
"Lagi pergi ke Thailand, kamu sendirilah sifat A Suk mu dan keluarganya. Tahunya cuma menghabiskan uang, jalan jalan, foya foya saia. Giliran kerja langsung kabur." jawab NaiNai.
Hehehe.... Erick hanya cengengesan mendengar jawaban NaiNai. Dia juga tahu sifat A Suk nya. Pemalas yang hanya tahu minta uang hasil dari saham yang diwariskan Yeye nya Erick. Yeye nya Erick memang membagi saham kepada ASuk nya Erick sebelum meninggal. Tapi hanya 10% dari total saham perusahaan Gunawan Grup. Ditambah rumah yang ditempati NaiNai dan sejumlah uang yang harusnya cukup untuk biaya seumur hidup mereka. Jadi rumah yang ditempati NaiNai adalah hak milik A Suk Baguna. Tentu saja A Suk dan keluarganya juga tinggal rumah ini. Awalnya rumah ini akan diwariskan kepada Budiman Gunawan selaku putra sulung dari Selamat Gunawan. Tapi diminta oleh Baguna Gunawan. Budiman tidak keberatan dan memilih membangun sendiri rumah yang sekarang ditempati Papa Budiman dan keluarga. Dan sekarang Kiranti juga termasuk penghuni rumah tersebut.
Ada alasan khusus NaiNai memilih tetap tinggal di rumah ini. Selain kenangan akan sang suami. Juga untuk mengawasi tingkah laku Baguna Gunawan. Tapi ada kalanya NaiNai akan menginap di rumah Erick.
"A Suk mu sungguh keterlaluan. Sudah tahu kamu mau nikah malah pergi keluar negeri. Hari sabtu baru pulang. Sepertinya memang sengaja dia dan keluarganya. Mungkin takut dimintai bantuan tenaga sama kalian." kata NaiNai sedikit emosi.
"Kami tidak butuh bantuan dia Nai. Cukup kehadirannya dan keluarganya saja. Karena bagaimana pun dia masih keluarga. Tapi itulah aku tidak mengerti pola pikir mereka." kata Erick.
"Dasar Baguna yang tidak berguna. Entah apa salah NaiNai waktu mengandungnya?" kata NaiNai lagi.
"Sudahlah Nai. Asal tidak mengganggu kita saja sudah bagus." sahut Erick.
Kedua nenek dan cucu pun tertawa. Walau tidak lucu dan kesal. Lebih baik dibawa riang. Setelah tertawa kecil. NaiNai melihat ke arah Kiranti yang hanya
diam menyaksikan percakapan keduanya.
"Kamu kelihatannya jauh lebih muda daripada Awen. Berapa umurmu?" tanya NaiNai.
"19 tahun Nai." jawab Kiranti singkat.
" Jauh juga selisih umurnya. Kenapa kamu mau? Padahal masih banyak yang lebih muda daripada Awen." tanya NaiNai.
"Entahlah NaiNai. Waktu Om Erick melamar aku terima saja. Awalnya ingin menolak. Hanya mengikuti kata hati aku terima.Aku sendiri tidak tahu apakah mencintai Om Erick atau tidak." jawab Kiranti jujur.
"Begitukah? Ke sinilah duduk di bawah sini. Sandarkan kepalamu pada pahaku. Aku ingin mengelus rambutmu." perintah NaiNai.
Kiranti menuruti kemauan NaiNai.
NaiNai mengelus rambut Kiranti dengan lembut.
"Anak baik." ucap NaiNai senang.
Erick memperhatikan interaksi keduanya dengan senyum. Rupanya NaiNai menyukai Kiranti. Tidak seperti dugaan Erick sebelumnya. Awalnya Erick takut NaiNai menentang pernikahan mereka. Ini tidaklah sesulit dugaannya.
"Kamu manggil Awen Om? Kenapa?" tanya Nainai.
" Ehhmm karena dia memang cocok buat Kiranti panggil Om."
NaiNai tertawa kecil mendengar jawaban Kiranti. Anak ini memang jujur batin NaiNai.
"Iya. Awen memang pantas kamu panggil Om. Umurnya jauh di atasmu." sahut NaiNai sambil tersenyum mencibir Erick.
"Biar aku Om Om dia suka kok." ujar Erick yang tidak mau kalah.
"Ya jelas suka. Kalau tidak suka masa dia mau nikah sama kamu." sahut NaiNai sambil tersenyum kecil.
Wajah Kiranti memerah karena malu. Tapi hatinya berbunga mendengar candaan keduanya.
"Kamu temanilah Awen seumur hidupnya dalam pernikahan kalian. Teruslah bersama sampai ajal memisahkan kalian. NaiNai senang Awen mendapatkan jodohnya." pesan NaiNai kepada Kiranti.
Kiranti pun bangkit dari duduknya dan memeluk NaiNai dengan bahagia. NaiNai membalas pelukan Kiranti dan mengelus lembut rambut Kiranti.
"Terima kasih Nai mau menerima ku sebagai cucu menantu NaiNai." ucap Kiranti bahagia.
"Aku yang berterima kasih kepada mu nak. Akhirnya Awen laku juga." ucap NaiNa.
"NaiNai. Awen bukan barang." protes Erick dengan cemberut.
NaiNai dan Kiranti tertawa melihat wajah cemberut Erick. Suatu kebahagiaan tersendiri bercanda seperti ini. Apalagi bagi seorang NaiNai yang akan segera menyaksikan pernikahan cucu tertua keluarga Gunawan.
Mereka melanjutkan bincang ringan sampai sore. Ketika mereka pamitan pulang. NaiNai memberi kode kepada asisten rumah tangga dengan tangan. Asisten rumah tangga masuk ke dalam kamar NaiNai. Kemudian keluar dengan sebuah koper di tangan.
"Aku mau menginap di rumah kalian sampai selesai ritual pernikahan kalian. Bosan aku sendirian di rumah saja." pinta NaiNai.
Erick segera menyetujui permintaan NaiNai. Kemudian mengambil alih koper dari tangan asisten rumah tangga. Mereka menuju mobil dengan Erick menyeret koper. Bertiga mereka pulang ke rumah Papa Budiman.
Sampai di rumah Papa Budiman. NaiNai dan Kiranti turun dari mobil. Mereka berjalan beriringan sambil berangkulan. Hal ini tentu saja mengundang senyum dan tanda tanya dari keluarga Gunawan maupun Ayah dan Ibu.
Ada apa dan kenapa bisa seakrab itu. Tapi senang juga NaiNai dan calon cucu menantu bisa akrab. Padahal tidak ada yang spesial yang dilakukan Kiranti. Hanya bertindak sebagai cucu yang baik saja.
Erick membawa koper NaiNai ke kamar yang biasa ditempati NaiNai di rumah Papa Budiman. Sebenarnya masih ada banyak pakaian NaiNai dalam lemari di kamar itu. Tapi NaiNai memang suka membawa pakaian dalam koper. Biar seperti habis bepergian dari jauh. Walau sedikit aneh, tidak masalahlah dituruti. Asal NaiNai senang dan bahagia. Malam itu setelah selesai makan malam. Mereka berkumpul di ruang keluarga. Ikut serta juga Ayah dan Ibu Kiranti. Mereka semua berbincang akrab. Sampai ketika NaiNai seperti keceplosan bicara.
"Sorot mata Kiranti mirip...." ujar NaiNai tapi segera dia hentikan. Ini malah membuat Kiranti penasaran. Dia pun hendak menanyakan tapi terhenti oleh kepulangan Yanto. Yanto masuk ke dalam rumah setelah mengabarkan dia pulang. Melihat NaiNai langsung menyapa NaiNai dan memeluknya. Pertanyaan Kiranti pun tidak sempat ditanyakan. NaiNai merasa lega perhatian Kiranti teralihkan. Yanto lalu pamit ke kamarnya. Tapi pembicaraan sudah dialihkan ke topik lainnya. Kiranti pun hanya memendam rasa penasarannya. Tidak ada lagi yang bisa dia perbuat.