Keramaian Persiapan Pernikahan

1701 Words
Sedikit berbeda di hari jumat ini. Hari ini Kiranti memasak 3 kali. Semua karena permintaan dari NaiNai. Aslinya sih bukan permintaan NaiNai. Tapi Kiranti membujuk NaiNai agar meminta Kiranti masak 3 kali. Pagi siang dan malam. Mama Sarah dan Papa Budiman tentu saja tidak bisa menolak permintaan NaiNai. Untuk sarapan pagi. Kiranti memasak nasi kuning. Tidak ada masalah karena Kiranti sudah sering memasaknya. Seperti biasa Kiranti menyajikan kemudian meyendokkan ke piring satu per satu. NaiNai terlihat menyukai cara pelayanan makan calon cucu menantunya. Berbeda dengan di rumah lama. Di sini NaiNai makan tanpa pelayanan pelayan. Walau tetap dengan etika makannya. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan hidupnya. Tapi disertai canda tawa dari anak menantu dan cucu cucunya. Walau sedikit keberatan karena tidak sesuai dengan etika makan NaiNai yang menuntut keheningan dalam bersantap. NaiNai membiarkan mereka bercanda tawa. Tapi dia sendiri tetap makan sarapan pagi dengan tenang. Memang beda generasi beda gaya. Tapi dia pun menikmati kebersamaan ini walau hanya mendengarkan canda tawa anak, menantu dan cucu cucu nya. Selesai sarapan dia memuji masakan Kiranti. Seusai sarapan pagi. Erick seperti biasa berangkat ke kantor. Yanto berangkat kuliah. Papa dan Mama ada keperluan keluar kota. Tidak lupa mereka mengajak Ayah dan Ibu ikut serta. Supaya tidak bosan di rumah saja. Dan akan pulang sore. Awalnya juga mengajak Kiranti dan NaiNai. Tapi Kiranti dan NaiNai menolak ikut. Tinggallah Kiranti dan NaiNai saja di rumah. Kiranti pun menemani NaiNai. Berbincang sambil memijat kaki NaiNai. NaiNai sangat menyukainya. Ada suatu rasa tersendiri menikmati kebersamaan seperti ini. Ketika menjelang makan siang. Kiranti memasak rawon disertai tumis kangkung plecing dan tempe goreng. Setelah siap dan disajikan. Mereka berdua makan dengan lahap. Setelah makan mereka melanjutkan perbincangan yang tertunda. NaiNai sedang menceritakan masa kecil Erick kepada Kiranti dengan penuh semangat. Kiranti mendengarkan dengan penuh seksama. Sampai NaiNai tertidur. Mungkin karena capek bercerita. Kiranti membetulkan posisi tidur NaiNai di sofa. Kemudian Kiranti ikut tertidur. Kepalanya di atas sofa. Badannya duduk menghadap NaiNai. Kakinya menjulur. Para ART hanya tersenyum melihat mereka. Sorenya Papa dan Mama disertai Ayah dan Ibu pulang. Mereka mendapati Kiranti dan NaiNai yang tertidur. Tetapi Kiranti terjaga dari tidurnya karena merasakan kehadiran beberapa orang. Setelah mengetahui siapa yang pulang. Kiranti segera bangkit dari posisinya. Sedikit tersenyum malu. NaiNai yang tidur berbaring di atas sofa pun ikut terjaga. Segera Kiranti pamit ke kamar membersihkan diri. Mengingat dia harus memasak makan malam. Kali ini Kiranti ingin mempersiapkan ikan bakar dan sayur lalapan ditemani sambal. Ketika siap dan disajikan. Erick dan Yanto telah bergabung di meja makan. NaiNai sedikit kaget karena menu malam ini lebih cocok dimakan dengan tangan kosong. Tidak menggunakan sendok dan garpu. Setelah mencuci tangan NaiNai makan menggunakan tangan saja. Makan malam berlangsung ceria. NaiNai juga ikut dalam perbincangan di meja makan. Kali ini dia masa bodo dengan etika tata cara makan selama ini. Sabtu sore Kiranti dan Ayah Ibu menjemput Andi di Bandara. Diantar oleh Mbak Sri. Sebenarnya semua melarang Kiranti ikut menjemput dikarenakan besok adalah hari pernikahan Erick dan Kiranti. Tapi Kiranti bersikeras ikut menjemput. Kan hanya duduk di mobil saja. Itu alasannya. Sebenarnya di Bandara, Kiranti dan keluarganya sempat berpasan dengan keluarga A Suk Baguna. Sepasang suami istri dengan 3 orang anaknya. Tetapi karena tidak saling mengenal mereka hanya lewat tanpa bertegur sapa. Ketika tiba di rumah keluarga Gunawan. Andi diperkenalkan kepada NaiNai. NaiNai menerima dengan senang hati adik dari calon cucu menantunya. Segera mereka berberes sebelum makan malam. Setelah makan malam semuanya segera beristirahat untuk menyambut hari pernikahan Erick dan Kiranti. Tetapi sebelum istirahat Kiranti meminta berbicara berdua dengan Erick sebentar saja. "Ada perlu apa?" tanya si Om. Kiranti kelihatan ragu sejenak. Dalam hati gugup. Dia menarik nafas panjang kemudian memberanikan diri. "Aku menyayangi mu Om." ucap Kiranti. Tanpa diduga oleh si Om. Kiranti memeluk si Om dan memberikan kecupan singkat di pipi si Om. Melepaskan pelukannya terhadap si Om. Dan berlari menuju kamarnya dengan wajah tertunduk yang tersipu malu. Sedangkan si Om hanya tertegun. Masih setengah sadar atas tindakan Kiranti. Mendengar bunyi pintu kamar Kiranti yang terbuka dan tertutup kembali.Barulah si Om tersadar. Hatinya merasa gembira atas pernyataan Kiranti. Memang bukan pernyataan cinta. Hanya pernyataan sayang. Tapi sudah cukup membuat hatinya berbunga. Di dalam kamar jantung Kiranti berdegup kencang. Dia sendiri tidak menyangka keberaniannya melakukan kecupan terhadap si Om. Sedangkan dia masih meragukan perasaannya terhadap si Om. Yang jelas perasaan sayang memang ada. Perasaan cinta masih tanda tanya. Kiranti berganti pakaian tidur. Dan memilih untuk tidur. Walau kejadian tadi masih membayang jelas di ingatannya. Membuatnya sedikit kesulitan memejamkan mata untuk beristirahat. Di kamar lain. Erick masih tersenyum senang sendirian. Akhirnya Kiranti berani berinisiatif untuk mengecupnya. Semoga ke depannya Kiranti sering melakukannya. Erick pun segera tertidur lelap dengan perasaan tanpa beban. Mengetahui bahwa setidaknya Kiranti juga mempunyai perasaan sayang terhadapnya. Diharapkan dapat tumbuh menjadi perasaan cinta. #### Subuh dini hari. Rumah keluarga Gunawan telah dipenuhi keramaian. Tante Sonia telah tiba dengan para asistennya. Lengkap dengan segala peralatan kerja mereka. Sudah siap bertugas dengan profesional. Sebagian dari mereka adalah penata rias. Atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan MUA. Beberapa dari mereka mulai menurunkan peralatan kerja. Juga pakaian dan gaun pengantin. Tidak lupa pakaian dan gaun keluarga pengantin. Semuanya terbungkus dalam plastik bening dan diberi label nama pemiliknya. Pekerjaan pun dimulai dengan membawa Kiranti ke kamarnya. Diawali dengan memandikan mempelai wanita dengan bahan bahan yang telah disiapkan. Bukan yang pertama kalinya bagi Kiranti dimandikan dengan perawatan khusus. Tetapi tetap saja dia risih. Walaupun perawatan dilakukan di kamar Kiranti. Tetapi para terapis yang profesional dan ahli mampu membuat Kiranti akhirnya merasa nyaman. Pijatan dan luluran mampu menenangkan pikiran Kiranti. Membuatnya lebih rileks dan tenang. Selesai dengan perawatan tubuh. Kiranti diminta untuk sarapan dulu. MUA mulai bertugas dibantu asistennya di saat Kiranti telah menghabiskan sarapannya. Khusus untuk Kiranti, Tante Sonia sendiri yang turun tangan sebagai MUA. Dengan ketrampilannya tidak butuh waktu lama sudah mulai terlihat hasil kerjanya. Riasan pun selesai. Kiranti mulai dipakaikan gaun pengantinnya. Tante Sonia mengawasi kedua asistennya yang memakaikan gaun pengantin Kiranti. Memberikan arahan dan bila perlu langsung mengerjakan sendiri. Mempelai wanita pun akhirnya siap. Kiranti terperangah seakan tidak percaya melihat dirinya sendiri melalui cermin besar yang dibawa Tante Sonia. Dirinya terlihat sangat berbeda. "Cantik sekali Bidadari ini." kata Tante Sonia memuji Kiranti. Benarkah secantik ini diriku batin Kiranti. "Terima kasih Tante. Hasil kerja Tante memang sangat bagus." Kiranti balas memuji keterampilan Tante Sonia. "Jangan sia siakan hasil kerjaku. Jadilah Ratu hari ini." ujar Tante Sonia. Kiranti pun mengangguk. Berjalan menuju pintu. Membuka pintu. Samar samar terdengar pembicaraan Erick dan Yanto di luar. Kiranti pun megurungkan niat keluar kamarnya. Dia penasaran dengan percakapan keduanya. "Akhirnya "meriam" koko tidak jadi karatan. Sebentar lagi bisa nembak sepuasnya." canda Yanto. " 'Meriam' ini sudah 3x nembak lho gara gara Kiranti." sahut si Om. "Jadi koko sudah 3x 'gituan' sama Kiranti?" tanya Yanto penasaran. " Tidaklah. Yang pertama 'solo karir' gara gara ngintip dia mandi. Yang kedua 'solo karir' gara gara men*l*nj*ngi dia semalam sebelum digrebek Ai Farah dan A Hui. Yang ketiga mimpi basah mungkin karena men*l*nj*ngi dia juga." jawab si Om sambil tersenyum kecil. Yanto pun tertawa mendengar pengakuan si Om. Ternyata aku masih perawan batin Kiranti. Pembicaraan kedua kakak adik itu tentu jujur dari dalam hati. Tapi tunggu dulu dia pernah mengintipiku sebelumnya kemudian 'solo karir'. Tidak mungkin waktu kutendang saat itu. Saat itu 'juniornya' pasti pingsan. Kiranti membatin dalam dirinya. Kiranti keluar dari kamar. "Jadi Om pernah ngintip aku t*l*nj*ang?" tanya Kiranti dengan nada tinggi penuh ancaman. Si Om menoleh ke arah Kiranti dan menelan ludah. Sedikit cemas. Namun segera tertegun melihat Bidadari turun dari kayangan di depannya. " Ehhnngggg Iya sih. Pernah. Maaf ya." jawab si Om jujur. Di lain pihak Yanto sudah kabur duluan. Tidak ingin jadi sasaran kemarahan Kiranti juga. Lebih baik cari selamat dulu. Si Om berjalan mendekati mendekati Kiranti. Menggandeng tangan Kiranti untuk diajak turun ke lantai bawah. Kiranti masih dalam mode kesal. Wajahnya cemberut tapi tidak mengurangi kecantikannya. Dia terpaksa menuruti keinginan si Om. Disebabkan oleh ini adalah hari pernikahannya. Di lantai bawah, semua terkesima melihat penampilan pasangan mempelai. Sangat serasi. Walau ada perbedaan usia yang lumayan. Tapi ketampanan seorang Erick tidak berkurang. Malah semakin matang di usia 30an. Sekarang semua anggota keluarga sudah bersiap untuk berangkat menuju Gereja. NaiNai, Papa Mama, Yanto, Karen dan keluarga kecil Karen telah bersiap. Ayah Ibu dan Andi pun telah bersiap. Rombongan keluarga pun berangkat menggunakan 3 mobil. Diiringi mobil Tante Sonia dan beberapa asistennya. Tante Sonia selain sebagai MUA akan menghadiri sebagai tamu. Rombongan sampai di Gereja. Tidak banyak tamu yang hadir. Pernikahan bersifat tertutup. Mereka belum ingin menunjukkan Kiranti ke muka umum sebagai menantu keluarga Gunawan. Bukan malu atau tidak suka kepada Kiranti. Hanya saja Kiranti memang belum siap untuk itu. Rencana Erick dan Papa pun memang disetujui Kiranti dan keluarganya. Jadi tidak akan ada resepsi setelah ini. Hanya ada acara keluarga dan reservasi kamar hotel untuk kedua mempelai. Kiranti awalnya hendak menolak reservasi kamar hotel. Tetapi Erick mengatakan bahwa itu diperlukan. Erick hendak menata ulang kamarnya dengan ranjang dan beberapa perabotan baru. Semua rupanya sudah dipersiapkan. Hanya perlu pengerjaannya saja. Selepas rombongan keluarga berangkat dari rumah, para karyawan dari perusahaan Erick segera mengerjakan penataan ulang kamar Erick. Erick beralasan sebagai pengantin baru tidaklah ingin dia memakai perabot lama. Terutama ranjang. Tamu yang hadir hampir semua adalah keluarga besar Erick. Dari keluarga Kiranti hanya dihadiri oleh Paman Satrio dan keluarganya. Satrio adalah adik dari Ibu. Sedangkan dari pihak Ayah tidak ada yang hadir. Bibi Suminah menolak hadir karena memusuhi Ayah. Walau sebenarnya Ayah tidak berbuat salah kepada kakaknya tersebut. Bibi Suminah menaruh dendam kepada Ayah. Dulu Bibi hendak meminjam uang untuk pengobatan Almarhum suaminya kepada Ayah. Ayah hanya memberikan pinjaman setengah dari yang diinginkan sang kakak. Karena hanya itulah yang dia mampu pinjamkan. Almarhum suaminya akhirnya meninggal karena kurangnya dana buat pengobatan. Bibi Suminah pun menyalahkan Ayah atas hal tersebut. Demikian juga anak anak Bi Suminah. Dari keluarga Gunawan telah hadir orang tua Tomi. Ai Farah dan keluarganya, tentu saja A Hui ikut di dalamnya. Tante Sonia beserta suami dan anaknya turut hadir. Ada juga Bayu beserta keluarga kecilnya. Dion dan seorang wanita berjilbab. Tapi Kiranti tidak mengenali semua yang hadir. Sementara keluarga A Suk Baguna dan keluarganya masih belum kelihatan. Padahal mereka berjanji hadir. Mereka pun menunggu keluarga A Suk tiba.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD